Yudi Dan Kesenjangan Kualitas Pendidikan

Oleh : Gigay Citta Acikgenc

Bermula dari obrolan ringan dengan Yudi di teras rumah Bu Neneng. Yudi adalah anak laki-laki yatim umur sembilan tahun, kelas 2 di SD Negeri Mahlapar—sekolah formalnya hampir seluruh anak-anak di Sekolah Kita Rumpin. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci dan tiga saudaranya. Perawakannya kurus, namun lincah. Tidak malu-malu, meski saya adalah orang baru baginya. Kebetulan Yudi tidak berada di kelas PAUD yang saya ajar. Jadi, percakapan saat itu adalah interaksi pertama saya dengannya.

Setelah berbagi sedikit tentang latar belakang keluarganya, saya iseng bertanya, “Main tebak-tebakan, yuk! Ayo, sekarang kita lagi di pulau apa?”

Sambil memainkan matanya, ia menjawab pelan, “Cibitung, kak.”

“Yakin, sekarang kita lagi di Pulau Cibitung? Bukan di Desa Cibitung?”

Yudi hanya tersenyum.

Sisa obrolan kami seolah terjadi di kelas geografi. Setelah saya klarifikasi bahwa kita sedang berada di Desa Cibitung, bukan Pulau Cibitung, saya beranjak ke anak tangga selanjutnya : di provinsi apa kita sedang berada, apa nama ibukota provinsi tersebut, apa nama ibukota Indonesia, dan apa saja lima pulau besar di Indonesia. Jawaban Yudi? Jawa Barat, Bandung, lewat, Jawa, Sumatera dan sisanya lewat. Saya kira Yudi hanya lupa. Ternyata dia memang belum tahu bahwa Jakarta—yang memakan waktu dua jam dari desanya—adalah ibukota negara beserta informasi tentang lima pulau besar di negaranya. Setelah saya beri jawaban yang tepat, ia masih menyebut Pulau Jakarta dan Kota Jawa. Asumsi saya, karena keduanya diawali oleh suku kata yang sama, Ja-, maka jawabannya kerap terbalik.

Saya pulang dengan satu kesimpulan baru : gap of knowledge yang tertulis di berita koran, terpampang di hasil penelitian, dan terucap di diskusi pendidikan maupun di rapat segelintir pejabat Kemendikbud kini punya “nama”. Ada sekumpulan subyek nyata diantara data angka statistika yang menggambarkan kualitas pembangunan yang tidak merata. Yudi adalah salah satu subyek nyata tersebut.

Sebagai pelengkap, percakapan itu terjadi pada bulan Juni. Selama Juli – Agustus saya cuti karena sedang tidak berkegiatan di Jakarta. Minggu kedua September saya kembali ke Rumpin, bertemu Yudi dan senyum lebarnya. Benar saja, seusai kelas, ia menghampiri saya, mengulurkan tangan hendak pamit pulang.

“Ayo sebutin dulu lima pulau besar di Indonesia!”

“Jawa, Sumatera, Ka…limantan, Su…lawesi, I…rian Jaya”

“Kalau ibukota Indonesia?”

“Jakarta!”

Mungkin Yudi menonton televisi dan mendengar seseorang menyebut pulau-pulau tersebut. Mungkin Yudi bertanya ke Bu Neneng ketika ia lupa apa nama ibukota kita. Yang utama, Yudi kini tahu bahwa Indonesia bukan hanya seluas desanya.

**

Status tertulis saya di Sekolah Kita Rumpin memang seorang pengajar. Namun, setelah resmi bergabung sejak akhir Oktober setahun silam, hari ini justru saya lebih merasa sebagai pembelajar. Kata kuncinya? Interaksi.

Bukan, ini bukan strategi promosi. Ini sekadar sebuah refleksi. Kecil memang, tapi saya harap bisa mencubit dengan keras.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>