Untuk Ani

Setiap tahun, biasanya Kak Ana dan aku menyempatkan waktu untuk live-in di Rumpin. Tahun ini, kami memiliki beberapa misi, aku sendiri ingin merapikan isi Taman Baca Kita yang hampir rampung, melihat keadaan MCK terdekat sekolah, mengumpulkan lembar evaluasi adik-adik tentang kegiatan belajar setahun ini, dan silaturahmi kepada warga dan orang tua murid. Sedangkan Kak Ana mengajakku untuk menginap di rumah salah satu adik kita yang begitu semangat belajar hingga tak terasa, tahun depan ia akan lulus SMK. Apakah yang akan menjadi langkah berikutnya?

Namanya Anisa. Biasa dipanggil oleh orang tuanya Ani. Walau sudah kelas 3 SMK, badannya tidak tinggi, tapi tidak juga mungil. Sore itu, ketika kami sedang duduk-duduk ngobrol di rumah Bu Neneng, Ani menghampiri kami bersama adiknya, Sari. Sari juga sangat menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Cita-citanya menjadi presiden atau petinju perempuan. Katanya, “Kan jarang Kak di Indonesia petinju perempuan. Sari mah kepengen jadi petinju.” Ia terangkan dengan wajah yang serius. Sari memiliki karakter yang sangat unik dan lucu, tapi mungkin aku harus dedikasikan sebuah cerita tersendiri di kesempatan berikutnya.

Setelah makan malam bersama di rumah Bu Neneng, Ani dan Sari mengantar kami ke rumahnya yang terletak sekitar 20 menit dari sekolah kita. Kami disambut dengan sangat hangat oleh orang tua Ani dan beberapa tentangga yang sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Kami duduk di ruang tamu Ani yang juga adalah warung berjualan rokok, minuman sachet, tolak angin, dan obat nyamuk.

 

“Jadi begini, Ibu. Kami sangat bangga dengan Ani dan Sari. Karena mereka berdua begitu aktif dan menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Seperti yang Ibu tahu, Ani kan sekarang sudah kelas 3 SMK dan kami sudah ngobrol dengan Ani. Ani ingin sekali melanjutkan kuliah. Tapi kami juga ingin tahu dulu, bagaimana pendapat Ibu mengenai ini. Karena kalau nanti Ani kuliah, Ani harus pindah dan tinggal di kota lain, tidak di kampung lagi.” Kak Ana membuka pembicaraan serius dengan nada yang lembut.

Ibunya Ani menyambut baik, ia sangat mendukung Ani untuk melanjutkan sekolah. “Tapi ya Kak, semua terhambat masalah ekonomi aja. Bapanya Ani kan penghasilannya cuma Rp 300.000/minggu. Jadi ya pas-pasan buat hidup.” Kata Ibunya Ani, sambil menggendong Alisa, anak ketiganya yang begitu menggemaskan.

Kak Ana lalu memanggil Bapanya Ani yang tampak sedang duduk-duduk di luar. “Dia mah emang sok maluan Kak.” Celetuk Ibunya. Tapi akhirnya, Bapanya Ani masuk dan duduk bersama kami, bersama Ani, Sari dan Alisa juga.

Bapanya Ani memiliki rambut hitam legam yang panjang. Badannya kurus dan kulit wajahnya matang seperti tersengat matahari. Sehari-hari ia bekerja sebagai security di sebuah minimart di daerah Palmerah. Ia mengaku tidak pulang setiap hari ke rumahnya di Rumpin. “Cuma kalau Ani sms minta uang jajan aja saya pulang.” Ada kegigihan dan sebuah cinta yang tulus yang bisa kami tangkap di antara kata-kata yang terlontar dari Bapanya Ani. “Kalau pulang biasanya naik kereta. Tapi seringkali, kalau baru pulang kerja jam 12 malam, tidak ada kereta lagi. Saya harus jalan kaki, dari Stasiun Cisauk ke rumah. Atau kadang, dari Stasiun Palmerah ke rumah saya jalan kaki ikuti jalur rel. Bisa sekitar 2-3 jam baru sampai rumah. Saya selalu pakai sepatu bot saya.” Aku bisa melihat Kak Jona secara refleks menundukkan kepalanya. Perjuangan yang selama ini kami gembor-gemborkan apalah artinya ketimbang perjuangan seorang Bapa untuk menafkahi ketiga anak istrinya ini. Aku merasakan haru campur malu.

Tak heran ketika Kak Ana bertanya kepada Ani dan Sari, “Menurut kalian Bapa kalian tuh gimana sih?” “Bapa itu… pahlawan.” Aku setuju. Kami semua setuju.

Kak Ana dan Bapanya Ani akhirnya mengobrol dengan Bahasa Sunda agar lebih santai dan luwes. Pada dasarnya, Bapanya Ani pun sangat sangat mendukung Ani untuk bisa kuliah. Tapi lagi-lagi, terhambat keterbatasan dana. Aku pribadi sangat senang mendengar dukungan ini, karena berarti tidak ada hambatan kultural yang akan menghalangi Ani untuk mewujudkan mimpinya. Terkadang aku menyempatkan refleksi di tengah mendengarkan kata-kata Bapanya Ani, aku tak pernah menyangkan bisa menjadi bagian sebuah situasi yang seringkali terjadi di film-film saja: seorang anak yang pintar dengan sebuah mimpi yang kuat, keluarga yang miskin, dan anak-anak muda yang ingin membantu.

“Ya Ibu dan Bapak, Ani, kami senang sekali mendengar bahwa Ibu dan Bapa mendukung Ani untuk lanjut kuliah. Kami tidak bisa janji apa-apa, kami hanya bisa bilang bahwa kami akan berusaha sebisa kami untuk mencarikan beasiswa untuk Ani. Membantu Ani persiapan pendaftaran kuliah. Tapi yang terpenting, Ani harus semangat. Kapanpun rezeki Ani datang untuk kuliah, berarti itu memang waktu yang paling tepat untuk Ani kuliah. Ani sendiri sukanya belajar apa?”

“Aku pengennya jadi dokter atau presenter. Tapi kalau belajar, sukanya yang bikin puisi dan cerpen Kak. Bahasa.”

“Wah, iya puisi kamu itu bagus-bagus sekali loh! Bisa juga kuliahnya Sastra Indonesia. Siapa tau bisa jadi presenter juga nantinya.”

Ani tersenyum. Sari, adiknya, ikut tertawa sekali-kali melihat respon kakaknya yang sering malu-malu. “Si Ani itu cerpen-cerpennya lumayan loh Kak, aku suka baca.” Kami semua mengiyakan. Wajah Bapa dan Ibunya Ani tampak bersinar. Sesaat aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang meski sederhana, begitu membebaskan.

 

Perbincangan dengan keluarga Ani berlanjut dengan hangat. Ruang tamu yang juga adalah warung itu seperti diinjeksi dengan hawa hangat dari matahari. Tetapi malam ini, Matahari itu adalah Ani dan keluarganya.

 

Sebelum tidur, Kak Ana dan aku berdiskusi lama tentang rencana kami untuk Ani. Mungkinkah kami mendapatkan beasiswa untuk Ani? Beasiswa apa? Kampus apa? Nanti Ani tinggal di mana kalau di Jakarta? Apakah Ani akan kembali untuk membantu Sekolah Kita setelah sibuk kuliah? Apakah suatu hari Sekolah Kita Rumpin bisa memiliki skema beasiswanya sendiri? Kami menutup mata penuh harap malam itu.

 

Saat ini, tidak ada yang bisa kami janjikan. Hanya usaha dan doa yang bisa mengiringi Ani, Sari, dan semua adik-adik Sekolah Kita Rumpin agar mereka bisa mewujudkan apa yang mereka citakan. Bahkan, tak semua Kakak Kita juga sudah mencapai cita-cita mereka. Sambil terus bekerja bersama-sama, aku akan selalu mengingat puisimu Ani, sebuah mimpi yang kamu tulis,

 

“Bukalah mata.

Lihat dunia dan genggamlah harapan.

Teguhkan pada satu pohon.

Ketika ku tau itu indah.

Terbukalah fikiranku

Melayang-layang di tengah laut.

Batu terhantam tak berarti.

Darah-darah kenangan

Tertiup angin kebahagiaan.

Bagaikan Pohon berbunga,

Yang menanti sinarnya.

Salju abadi dan suci,

Mengangkat derajat.”

 

6 Desember 2014

Anisa

Adik Sekolah Kita Rumpin

 

IMG_5541

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak dan sepatu ‘bot’ kesayangan Bapanya Ani.

 

Salam hangat,

Rara Sekar

Kakak Kurikulum

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>