Jadwal Kakak Kita Angkatan I

Halo semua..
Berikut adalah jadwal terbaru bagi seluruh Kakak Kita Angkatan I yang baru saja terpilih.
Selamat membaca serta menyiapkan diri untuk Adik Kita yaaa..

Semangatmu, dan semangat mereka, adalah semangatku.

Koordinator Pengajar Kakak Kita : Nisa Rizki Poerwitasari

 

MINGGU III NOVEMBER: 18 November 2012

-) Kelas Padi

Kakak Kelas : Rara Rizal

Cynthia Febrina Maharani (jurnalis) + Harismaning Aulia (pengajar)

-) Kelas Bambu

Kakak Kelas : Lani Mariyanti

Sekar Krisnauli (jurnalis) + Christie Afriani (pengajar)

 

MINGGU IV NOVEMBER: 25 November 2012

-) Kelas Pisang

Kakak Kelas : Tiara Ayuwardhani

Prameswari Puspa Dewi (jurnalis) + Jessy Ismoyo (pengajar)

-) Kelas Padi

Kakak Kelas : Rara Rizal

Yuliana Bakti Pertiwi (jurnalis) + Heisa Khairunisa (Pengajar)

 

MINGGU I DESEMBER: 2 Desember 2012

-) Kelas Bambu

Kakak Kelas : Lani Mariyanti

Puri Kencana Putri (fotografer/videografer) + Christie Afriani (pengajar)

-) Kelas Tanah

Kakak Kelas : Eko Pujiyanto

Sekar Krisnauli (jurnalis) + Harismaning Aulia (pengajar)

 

MINGGU II DESEMBER: 9 Desember 2012

-) Kelas Pisang

Kakak Kelas : Tiara Ayuwardhani

Cynthia Febrina Maharani (jurnalis) + Gigay Citta Acikgenc (pengajar)

-) Kelas Tanah

Kakak Kelas : Eko Pujiyanto

Prameswari Puspa Dewi (jurnalis) + Heisa Khairunisa (pengajar)

 

MINGGU III DESEMBER: 16 Desember 2012

-) Kelas Pisang

Kakak Kelas : Tiara Ayuwardhani

Yuliana Bakti Pertiwi (jurnalis) + Christie Afriani (pengajar)

-) Kelas Padi

Kakak Kelas : Rara Rizal

Puri Kencana Putri (fotografer/videografer) + Jessy Ismoyo (pengajar)

 

MINGGU IV DESEMBER: 23 Desember 2012

-) Kelas Air

Kakak Kelas : Nuryadi

Prameswari Puspa Dewi (jurnalis) + Gigay Citta Acikgenc (pengajar)

-) Kelas Pisang

Kakak Kelas : Tiara Ayuwardhani

Sekar Krisnauli (jurnalis) + Heisa Khairunisa (pengajar)

 

NB : Daftar Nilai Mingguan serta Daftar Nilai Akhir akan dikirim secara personal via e-mail kepada tiap kakak kelas. Selanjutnya kakak kelas akan mendistribusikan daftar nilai tersebut pada kakak pengajar yang ia bawahi tiap minggunya.

PENGUMUMAN SELEKSI ANGKATAN I CALON KAKAK KITA

1. Rara Rizal (Kakak Pengajar Tetap)

2. Cynthia Febrina Maharani (Kakak Jurnalis Relawan)

3. Nisa Rizki Poerwitasari (Koordinator Kakak Pengajar Tetap-Relawan)

4. Gigay Citta Acikgenc (Kakak Pengajar Relawan)

5. Monicha Lelly (Kakak Koordinator Penggalang Dana)

6. Puri Kencana Putri (Fotografer/Videografer Relawan)

7. Tiara Ayuwardani  (Kakak Pengajar Tetap)

8. Angga Madinatus Salam (Kakak Web Design Relawan)

9. Jessy Ismoyo (Kakak Pengajar Relawan)

10. Heisa Khairunisa (Kakak Pengajar Relawan)

11. Prameswari Puspa Dewi (Kakak Jurnalis Relawan)

12. Lani Mariyanti (Kakak Pengajar Tetap)

13. Christie Afriani (Kakak Pengajar Relawan)

14. Sekar Tandjung (Kakak Jurnalis Relawan)

15. Risma Aulia (Kakak Pengajar Relawan)

16. Yuliana B. Pertiwi (Kakak Jurnalis Relawan)

NOTE: Bagi anda yang berminat bergabung, silahkan isi formulir di CARA BERGABUNG dan submit. Formulir anda akan diproses dan jika lolos, akan menjalani wawancara di SELEKSI ANGKATAN II CALON KAKAK KITA. Bagi Kakak Kita yang terpilih, kalian akan segera dihubungi via e-mail terkait jadwal serta tugas di posisi masing-masing.

Banda Neira, Sorgemagz dan Sekolah Kita

Minggu lalu, Sekolah Kita kedatangan tamu. Kali ini, pengajar tamu datang jauh dari Bali, Bandung dan Jakarta (kalau ini tidak terlalu jauh ya) untuk meramaikan kelas Minggu siang di Rumpin.

Mereka adalah Ananda Badudu, pedagang berita di Koran Tempo yang juga menyambi sebagai pemain gitar amatir di Banda Neira, Rara Sekar, Kakak Penyusun Kurikulum Sekolah Kita yang akhirnya bisa juga terbang dari Bali untuk menyempatkan mengajar di Sekolah Kita, juga Adhito Harinugroho atau Dhito, videografer handal dari Sorgemagz.

Pada mulanya, adik-adik terlihat agak malu-malu, terutama karena mereka bertiga adalah orang baru dan tak lupa Dhito selalu membawa kamera videonya yang sebesar gajah itu. Tapi, setelah sesi pembacaan cerita “Abu Nawas dan Semut” oleh Kak Ananda, adik-adik di Rumpin terlihat lebih santai dan bahkan, sangat senang! Terutama setiap kali Kak Ananda meminta adik-adik untuk menyuarakan suara binatang yang ada di dalam cerita seperti kucing, kerbau, monyet, semut (?), mereka tampak antusias untuk bergerak dan meniru suara binatang-binatang yang ada, bahkan ada yang sampai monyong-monyong. Kak Ana pun tidak bisa menahan ketawanya. Hahaha.

Sesi Kak Rara siang itu dimulai dengan bernyanyi “Topi Saya Bundar” dari tempo yang lambat hingga sangat cepat. Seru sekali! Bahkan Kakak-kakak Sekolah Kita malah yang salah-salah.. Setelah sesi pemanasan, suasana menjadi sangat hangat dengan ledakan tawa dimana-mana.

Siang itu sebenarnya, Kak Rara ingin mengedepankan tiga hal di kelas, kreativitas, percaya diri dan sebuah metode baru yang bernama appreciative inquiry. Metode yang baru ini, kata Kak Rara, ingin mengajarkan kita untuk belajar saling menghargai. Banyak yang bilang kalau menjadi orang kritis itu sulit, dan menghargai dan memuji orang lain itu mudah. Namun seringkali, kasusnya adalah sebaliknya. Rasanya terkadang itu sulit sekali untuk kita saling memuji. Selain itu, Kak Rara juga melihat bagaimana metode ini bisa meningkatkan rasa percaya diri pada anak, mengingat adik-adik di Rumpin juga adalah korban, membangun rasa percaya diri sangat dibutuhkan untuk hari ini serta masa depan mereka kelak.

Walau penjelasan di atas terkesan berat, sesungguhnya apa yang dilakukan di kelas Sekolah Kita siang itu sangatlah sederhana dan menyenangkan. Adik-adik dibagi 6 kelompok dan setiap kelompok harus menampilkan sebuah pertunjukkan apapun, baik menyanyi, menari, drama, dangdutan, bebas.

Sebelumnya setiap murid juga telah dibagikan sebuah amplop untuk mereka tulis nama dan gambar diri mereka. Amplop ini lalu ditempel di dinding oleh Kakak-kakak Sekolah Kita. Tujuan amplop ini apa ya? Ternyata, ketika setiap kelompok maju untuk tampil, setiap anak diminta untuk menuliskan pada secarik kertas pujian untuk teman mereka yang sedang tampil. Setelah itu, kertas-kertas pujian itu dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang ada di dinding kelas.

Di akhir kelas, amplop-amplop itu dibagikan sebagai hadiah untuk adik-adik Rumpin, untuk mengingatkan bahwa setiap kita itu berharga, spesial, dan unik. Tampak ada beberapa murid yang usianya sudah lebih dewasa menganggukkan kepalanya ketika Kak Rara menerangkan arti amplop tersebut. Dengan tersenyum, satu per satu menerima amplop mereka. Tak disangka, hanya dengan satu amplop, secarik kertas dan bolpen, kita bisa membuat seseorang tahu bahwa dirinya sangat berharga :)

Perjalanan Minggu lalu bersama Kak Ananda dan Kak Rara yang adalah personil band minimalis-nelangsa-pop Banda Neira diliput oleh Kak Dhito, sang videografer berdedikasi tinggi. Selain teman-teman bisa melihat bagaimana Ibu Neneng dan Kak Ana sedikit bercerita tentang Sekolah Kita, di akhir video, Kak Ananda dan Kak Rara juga sempat menyanyikan lagu mereka yang berjudul “Rindu” yang adalah musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo, bersama dengan adik-adik Rumpin! Kak Dhito mengaku bahwa bulu kuduknya berdiri ketika adik-adik ikut bernyanyi siang itu. Begitupula dengan Banda Neira. Memang pengalaman yang luar biasa hari itu.

Maka untuk mengakhiri tulisan ini, Sekolah Kita ingin mengutip kata-kata Kak Ananda di Sorgemagz,

“Terimakasih semua yang hadir di kelas hari itu. Ada banyak sekali tak bisa disebut satu-satu. Tanpa perlu berbuat apa-apa kalian berhasil bikin kami yang bertamu di sana merasa bahagia. Semoga kalian pun sama.”

[youtube=http://youtu.be/sa2_Hjqw73g]

Salam,

Sekolah Kita

Sebab Setiap Tempat Adalah Sekolah

Image

Sebab setiap tempat adalah sekolah, dan belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja. Mushala sempit dan pengap di tengah kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, setiap akhir pekan disulap jadi kelas.

Anak-anak kecil serta merta mengerubung. Sebagian ditemani ibunya, sebagian datang sendiri jalan kaki. Di sana, di kelas dadakan itu mereka berkumpul untuk belajar tentang apa saja, di “Sekolah Kita” namanya.

Barangsiapa hirau akan masalah sengketa tanah mungkin pernah mendengar nama Rumpin. Di sana rumah warga kampung berbatasan langsung dengan tanah tentara Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah. Timbullah sengketa.

Beberapa kali gesekan meruncing, bahkan ada yang berujung bentrok. Seolah tak ada pilihan, anak-anak Rumpin harus terima hidup bersandingan dengan sengketa dan konflik dengan tentara. “Kami tak tahu kapan sengketa akan selesai, mungkin sampai anak-anak kami besar konflik masih ada,” kata Ibu Neneng kepala “Sekolah Kita”.

Kampung Cibitung letaknya memang tak seberapa jauh dari pusat kota. Tapi jalan ke sana tak beraspal. Mendapat air juga tak cukup dengan memutar kran saja, mesti menimba. Bayangkanlah sebuah desa, dikelilingi sawah tak seberapa luas, jalan di mana-mana tanah. Kambing, kerbau, ayam, bebas seliweran. Anak-anak kecil Rumpin ramai lari-lari atau main sepeda, jauh dari hingar bingar game Playstation dan Blackberry. Di sana lah “Sekolah Kita” berada.

Sekolah Kita tentu beda dengan sekolah formal biasa. Di sini tak ada kewajiban bagi pengajar membuat anak semakin pintar dan paham pelajaran sekolah di luar kepala. Tapi, lebih dari itu, siapapun pengajar di Sekolah Kita wajib membuat peserta kelas bisa tertawa lepas dan gembira. Meski kadang ada satu dua anak nangis karena ibunya tak tampak mata.

Wajib juga membuat anak-anak yang tumbuh di pusaran sengketa menjadi seorang pemberani yang percaya diri. Pengajar juga wajib membuat mereka menjadi anak kecil yang perasa, berempati pada teman atau keluarga di sebelahnya. Dan terakhir, membuat anak-anak biasa bekerja bersama-sama. Caranya bagaimana? Mari pikirkan bersama.

Sekolah kita mengajak teman-teman untuk ikut bergabung menjadi pengajar. Mau jadi pengajar tetap atau berkala terserah pada pilihan teman-teman. Saat ini Sekolah Kita kekurangan pengajar tetap. Jumlahnya hanya ada tiga atau empat saja. Pengajar sukarela juga tak seberapa.

Sebab kami percaya anak-anak adalah generasi penerus. Dan ilmu yang kita punya akan ada manfaat hanya jika dibagi. Mari kami ajak anda untuk turut serta bermain dan bergembira bersama di Sekolah Kita.

Salam,

Sekolah Kita