Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin: Tema Budaya Kita (September-Oktober 2014)

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin

Tema                           : Budaya Kita

Periode                        : Oktober 2014

 Di tahun 2014, tema ketiga dari kegiatan belajar di kelas umum Sekolah Kita Rumpin adalah ‘Budaya Kita’. Di tema ini, setiap kakak pengajar memberikan materi mengenai budaya, baik itu budaya dari dalam negeri, maupun luar negeri. Beberapa pengajar sudah mulai menerapkan penyampaian materi melalui proses bermain sambil belajar, sesuai dengan pelatihan yang baru saja diberikan kepada kakak-kakak pengajar di bulan September 2014. Berikut ini adalah kegiatan belajar yang sudah dilakukan di kelas umum:

 

  • Pengenalan budaya Indonesia melalui permainan Ular Tangga, kuis Famili 100.
  • Pengenalan permainan tradisional Indonesia dengan memainkan permainannya (permainan jaga benteng).
  • Latihan menari tari tradisional Indonesia (tari Piring-Minang, tari Yospan-Papua) dan menyanyi lagu-lagu tradisional serta lagu nasional Indonesia.
  • Pengenalan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari berbagai negara melalui kegiatan bermain peran.
  • Pengenalan tari tradisional, pakaian adat, dan rumah adat di Indonesia melalui kegiatan kuis (dibantu dengan laptop).
  • Menyelipkan kegiatan bermain kartu Uno.

 

Selanjutnya, berikut ini adalah kegiatan belajar yang telah dilakukan di kelas spesialis (sifatnya lebih bebas, tidak terikat dengan tema besar) :

Kelas Prakarya

  • Membuat kartu ucapan dengan teknik scrapbook.

Kelas Teater

  • Membuat film pendek.

Kelas Berani Bicara

  • Belajar mendeskripsikan suatu topik.
  • Belajar mengenai cerita wayang

 

Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat hal-hal positif yang muncul pada adik-adik SKR. Jika ditinjau dari empat landasan nilai SKR, nilai-nilai yang paling terlihat dan terasa berkembang pada adik-adik (secara berurutan) adalah percaya diri, kreativitas, rasa ingin tahu, dan empati. Berikut ini adalah hal-hal positif yang muncul ditinjau dari nilai-nilai SKR:

1. Percaya Diri

  • Adik-adik berani untuk mempraktekkan hasil belajar (contoh: berani untuk menarikan tari Yospan di hadapan kakak-kakak pengajarnya).
  • Adik-adik berani untuk berbicara di hadapan teman-temannya (contoh: saat kelas BB belajar mendeskripsikan diri).
  • Adik-adik berani menyapa kakak-kakak pengajar lebih dulu.
  • Adik-adik berani berkenalan dan berbaur dengan kakak pengajar baru.

 

2. Kreativitas

  • Adik-adik mau menyampaikan ide-idenya (contoh: saat pembuatan naskah film pendek di kelas teater).

 

3. Rasa Ingin Tahu

  • Antusiasme adik-adik meningkat (contoh: saat belajar materi baru, belajar dgn metode baru, yaitu menggunakan permainan ular tangga/menggunakan laptop).
  • Adik-adik mau bertanya lebih lanjut mengenai materi ajar (saat materi perbedaan kebiasaan di setiap negara).

 

4. Empati

  • Mendengarkan temannya yang sedang bercerita di depan kelas.

 

Selain perkembangan positif dari adik-adik, kakak-kakak pengajar pun memperoleh berbagai pembelajaran saat kegiatan belajar di SKR berlangsung,. Berdasarkan kegiatan belajar yang terlah berlangsung terdapat hal-hal yang sebaiknya dipertahankan dan ditingkatkan oleh kakak pengajar, diantaranya adalah:

Yang harus dipertahankan:

  • Menggunakan metode bermain dalam proses penyampaian materi ajar.
  • Memulai kelas dengan kegiatan yang bersifat motorik sebagai pemanasan sebelum materi inti diberikan.
  • Mengapresiasi performa adik-adik di kelas jika melakukan hal positif (berani bertanya, berani maju ke depan, bertutur kata yang baik, dll.).

 

Yang butuh ditingkatkan:

  • Eksplorasi jenis-jenis permainan yang bisa digunakan sebagai media ajar agar adik-adik tidak merasa bosan.
  • Menerapkan prinsip reward bagi adik-adik kelas PAUD-2 SD dengan menggunakan Papan Bintang Adik Kita.
  • Menyiapkan materi ajar yang tidak membutuhkan waktu lama dalam pembelajarannya (misalkan: di kelas prakarya, 1 topik untuk 2-3 pertemuan agar adik-adik tidak bosan dan lebih antusias lagi).
  • Konfirmasi kehadiran saat jadwal mengajar agar tidak ada kekurangan pengajar/pengajar yang hadir lebih mempersiapkan diri untuk mengajar dengan jumlah anak yang lebih banyak dari biasanya.

 

Pada tema ini, secara umum seluruh kakak pengajar cukup puas dengan performa mengajar dan kegiatan belajar yang sudah dilakukan. Rata-rata tingkat kepuasan proses mengajar pada tema ‘Budaya Kita’ adalah …. (kisaran 1-10). Dari hasil evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa kakak pengajar sebaiknya lebih mengeksplorasi lagi teknik mengajar dengan menggunakan metode bermain karena terlihat bahwa bermain sambil belajar dapat meningkatkan antusiasme belajar pada adik-adik. Selain itu, menyelipkan kegiatan motorik kasar sebelum, di sela-sela, atau setelah kegiatan belajar baik untuk menjaga semangat belajar adik-adik SKR.

Catatan Akhir 2014 – SKR

Tak terasa kini Sekolah Kita Rumpin sudah berdiri selama 32 bulan. Banyak sekali dinamika dan cerita yang menyertai perjalanannya, di mana sebuah kilas balik secara subjektif dari saya ini adalah sekelumit bagian dari keutuhan tersebut. Maka marilah kita melihat perjalanan setahun ke belakang terlebih dulu sebelum menyambut berbagai tantangan di 2015.

Di 2014 SKR mengalami beberapa evolusi :

1. Muncul kesadaran betapa kaya alternatif dokumentasi kegiatan via medium audio-visual

2. Dinamika pergerakan duo tim riset atas eksplorasi kelas (spesialis-umum) serta data sosio-ekonomi-kultur warga Kp. Cibitung (dan mayoritas Kp. Malahpar)

3. Inisiasi anggaran pendapatan dan belanja tahunan

4. Level seleksi yang meningkat terhadap beragam calon dukungan dari luar

5. Pelaksanaan PAT plus Panggung Kita

6. Pendekatan personal lebih lanjut pada adik-adik yang punya potensi besar

7. Antisipasi terukur guna menghadapi ancaman verbal-psikologis dari pemangku kepentingan dalam persoalan sengketa tanah

 

Pertama. Kesadaran akan kekayaan alternatif dokumentasi yang disuarakan pada rapat internal Divisi Promosi bulan Mei silam telah bermuara pada penghapusan facebook fanpage serta transisi metode dokumentasi =

visual statis (foto) à audio visual (video)

Konsep ini mampu bergerak dinamis sesuai kebutuhan sebab dalam beberapa kesempatan penggunaan foto tetap berperan penting di mana foto-foto tersebut langsung masuk ke pusat arsip.

Aktivitas akun Youtube SKR otomatis beranjak tinggi dengan akses yang jauh lebih mudah terhadap kegiatan mingguan bagi khalayak ramai.

 

Kedua. Tim Riset SKR di bawah Divisi Kurikulum terbagi menjadi 2 bagian besar :

Tim Pensil menangani seluruh bagian mengenai kelas dan proses kegiatan belajar yang ada di SKR sementara Tim Jendela merangsek ke tengah-tengah warga, mencari tahu kekurangan mereka, lalu memfasilitasi pembekalan jangka panjang.

Hasil gerakan Tim Jendela telah muncul di laporan tahunan 2014 SKR berupa profil komprehensif Kp. Cibitung + eksperimen wirausaha selama bulan puasa, sementara Tim Pensil masih terus menggodok LPAK (semacam pengganti rapor dengan alat ukur yang disesuaikan). Aksi nyata mereka terlihat saat penerapan sistem evaluasi pasca mengajar yang lebih mapan via rekaman suara sejak periode Oktober.

 

Ketiga. Inisiasi RAPBT SKR di 2014 menjadi sangat penting sebab mampu memberikan prediksi hingga proyeksi anggaran tiap rincian kegiatan-perlengkapan-program kerja sepanjang tahun. Tujuan akhirnya sangat gamblang à memastikan keseimbangan kas tetap terjaga.

Selain itu saya selalu mengibaratkan SKR sebagai negara mini yang punya dasar negara (4 nilai dasar), konstitusi (kurikulum dan struktur internal), GBHN (Realita 2014-2018), dan APBN.

Per 2015, SKR dipastikan memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahunan sendiri.

 

Keempat. Dari awal SKR berdiri, salah satu prinsip utama Divisi Promosi adalah melakukan tebang pilih terhadap semua calon dukungan/bantuan dari pihak luar. Hanya bantuan/dukungan yang paling matang, sesuai dengan kebutuhan saat bantuan/dukungan itu datang, serta berorientasi jangka panjang yang bakal diterima.

Prinsip ini memiliki turunan yang berwujud dalam konsep mitra komunitas.

Untuk 2014 sendiri di mana kesadaran kepada eksistensi SKR di ruang publik bertambah, kuantitas dukungan/bantuan yang diterima memang lebih sedikit dari yang ditolak, namun sisi kualitas mayoritas dukungan/bantuan yang lolos seleksi terbukti mampu menjadi solusi bagi masalah yang sedang dihadapi. Saya ambil contoh seperti donasi proyektor Kementerian PU maupun bantuan materiil penyelesaian bangunan Taman Baca oleh Tirto Utomo Foundation.

 

Kelima. PAT (Proyek Akhir Tema) adalah inovasi teranyar Divisi Kurikulum ketika merilis Silabus Ajar 2014. Konsep ini mewajibkan seluruh kelas menyelenggarakan PAT unik mereka di akhir tiap tema ajar dwibulanan, yang per 8 November 2014 berkembang menjadi tiap 6 bulan.

Salah satu PAT monumental menurut saya di 2014 adalah momen Panggung Kita yang baru saja berlangsung awal Desember kemarin. Adik-adik menampilkan berbagai pertunjukan seni (musikalisasi puisi, tari, grup nyanyi, hingga MC) – tolak ukur nyata yang menunjukkan peningkatan rasa percaya diri mereka. Di sisi lain saya turut merasakan keintiman kuat antara kakak dan adik, yang merupakan hasil komunikasi intens dalam jangka waktu panjang. Sesuatu yang diraih bukan lewat proses singkat dan berbuah instan.

 

Keenam. Bahasan tentang adik yang berpotensi dan adik yang hilang sebenarnya sudah ada pasca perayaan ultah SKR ke-2 April lalu, namun penurunan tingkat kehadiran murid menurut statistik beberapa bulan terakhir membuat bahasan tersebut bertambah intens. Puncaknya ketika Kakak Pengelola dan Kakak Kurikulum melaksanakan live-in, berdiskusi secara mendalam dengan orang tua dari adik yang selama ini menunjukkan konsistensi sekaligus potensi luar biasa.

Obrolan seputar passion pribadi sang adik, dukungan total keluarga, beasiswa, sampai pemilihan jurusan adalah topik utama live-in tersebut.

 

Terakhir. Setelah sekitar 19 bulan berada dalam kondisi ‘damai’, awal Oktober kemarin TNI AU kembali beraksi secara diam-diam. Mereka menggali tanah milik salah satu warga Kp. Malahpar seluas 5000 m2 secara ilegal di waktu-waktu tertentu dan hanya setelah menemukan tanahnya berpotensi baru mereka mengajukan penawaran pembelian tanah tersebut. Secara moral, cara ini busuk. Namun bila mengingat konflik bertahun-bertahun antara warga dan tentara, wajar mereka memilih cara demikian. Sebuah upaya pragmatis yang mampu memberi hasil instan tanpa banyak perlawanan fisik.

Hasil-hasil survey selama sebulan terakhir di lapangan menunjukkan taktik pergerakan TNI AU yang ternyata sudah cukup lama menyusupi bidang-bidang penting keseharian warga. Teorinya, dengan menguasai sisi sosio-ekonomi, akan mudah bagi mereka menyerang sisi psikologis. Taktik ini juga berbiaya sangat murah dan relatif cepat, bahkan sebenarnya beberapa oknum tentara bisa saja kaya mendadak.

Aktivitas TNI AU yang meningkat pasca pencaplokan tanah di Kp. Malahpar otomatis memancing kecurigaan, tak terkecuali bagi SKR yang berpusat di Kp. Cibitung. Di sini, salah dua sifat unik SKR sontak menjadi faktor krusial yang perlu dielaborasi lebih jauh, yakni :

a. Isolasi fisik = lokasi geografis SKR yang berada diantara segitiga Water Training-barak-Perum AURI

b. Isolasi politis = salah satu kesepakatan dasar Tim Inti pertama adalah bahwa SKR akan selalu bersikap apolitis. Sesuatu yang apolitis di tengah 2 pihak yang kental dengan unsur politis.

Berkaca pada pemaparan di atas, tak ayal SKR sekarang tampil sebagai komunitas alternatif nan jarang. Mengapa? Sebab dengan segala kompleksitas ancaman teritorialnya, SKR otomatis dituntut ekstra hati-hati dalam mempersiapkan ruang netral demi melaksanakan pendidikan dan pembekalan. Memilah-milah sembari memikirkan antisipasi terbaik ke depan.

 

Akhir kata, jelang tahun 2015 yang sarat dengan kata “wirausaha” berpadu dengan isu ancaman teritorial dan wacana pengokohan sistem internal, mungkin ini adalah momen tepat bagi saya untuk menyampaikan dukungan nyata kepada Tim Inti baru hasil regenerasi yang bakal mulai bekerja per Januari 2015.

Karena kita sama-sama tahu ‘ombak’ di tahun depan akan jauh lebih kejam.

Dan karena kita sama-sama sadar bahwa semua pencapaian besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh dukungan, baik kasat mata maupun tidak.

Untuk Ani

Setiap tahun, biasanya Kak Ana dan aku menyempatkan waktu untuk live-in di Rumpin. Tahun ini, kami memiliki beberapa misi, aku sendiri ingin merapikan isi Taman Baca Kita yang hampir rampung, melihat keadaan MCK terdekat sekolah, mengumpulkan lembar evaluasi adik-adik tentang kegiatan belajar setahun ini, dan silaturahmi kepada warga dan orang tua murid. Sedangkan Kak Ana mengajakku untuk menginap di rumah salah satu adik kita yang begitu semangat belajar hingga tak terasa, tahun depan ia akan lulus SMK. Apakah yang akan menjadi langkah berikutnya?

Namanya Anisa. Biasa dipanggil oleh orang tuanya Ani. Walau sudah kelas 3 SMK, badannya tidak tinggi, tapi tidak juga mungil. Sore itu, ketika kami sedang duduk-duduk ngobrol di rumah Bu Neneng, Ani menghampiri kami bersama adiknya, Sari. Sari juga sangat menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Cita-citanya menjadi presiden atau petinju perempuan. Katanya, “Kan jarang Kak di Indonesia petinju perempuan. Sari mah kepengen jadi petinju.” Ia terangkan dengan wajah yang serius. Sari memiliki karakter yang sangat unik dan lucu, tapi mungkin aku harus dedikasikan sebuah cerita tersendiri di kesempatan berikutnya.

Setelah makan malam bersama di rumah Bu Neneng, Ani dan Sari mengantar kami ke rumahnya yang terletak sekitar 20 menit dari sekolah kita. Kami disambut dengan sangat hangat oleh orang tua Ani dan beberapa tentangga yang sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Kami duduk di ruang tamu Ani yang juga adalah warung berjualan rokok, minuman sachet, tolak angin, dan obat nyamuk.

 

“Jadi begini, Ibu. Kami sangat bangga dengan Ani dan Sari. Karena mereka berdua begitu aktif dan menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Seperti yang Ibu tahu, Ani kan sekarang sudah kelas 3 SMK dan kami sudah ngobrol dengan Ani. Ani ingin sekali melanjutkan kuliah. Tapi kami juga ingin tahu dulu, bagaimana pendapat Ibu mengenai ini. Karena kalau nanti Ani kuliah, Ani harus pindah dan tinggal di kota lain, tidak di kampung lagi.” Kak Ana membuka pembicaraan serius dengan nada yang lembut.

Ibunya Ani menyambut baik, ia sangat mendukung Ani untuk melanjutkan sekolah. “Tapi ya Kak, semua terhambat masalah ekonomi aja. Bapanya Ani kan penghasilannya cuma Rp 300.000/minggu. Jadi ya pas-pasan buat hidup.” Kata Ibunya Ani, sambil menggendong Alisa, anak ketiganya yang begitu menggemaskan.

Kak Ana lalu memanggil Bapanya Ani yang tampak sedang duduk-duduk di luar. “Dia mah emang sok maluan Kak.” Celetuk Ibunya. Tapi akhirnya, Bapanya Ani masuk dan duduk bersama kami, bersama Ani, Sari dan Alisa juga.

Bapanya Ani memiliki rambut hitam legam yang panjang. Badannya kurus dan kulit wajahnya matang seperti tersengat matahari. Sehari-hari ia bekerja sebagai security di sebuah minimart di daerah Palmerah. Ia mengaku tidak pulang setiap hari ke rumahnya di Rumpin. “Cuma kalau Ani sms minta uang jajan aja saya pulang.” Ada kegigihan dan sebuah cinta yang tulus yang bisa kami tangkap di antara kata-kata yang terlontar dari Bapanya Ani. “Kalau pulang biasanya naik kereta. Tapi seringkali, kalau baru pulang kerja jam 12 malam, tidak ada kereta lagi. Saya harus jalan kaki, dari Stasiun Cisauk ke rumah. Atau kadang, dari Stasiun Palmerah ke rumah saya jalan kaki ikuti jalur rel. Bisa sekitar 2-3 jam baru sampai rumah. Saya selalu pakai sepatu bot saya.” Aku bisa melihat Kak Jona secara refleks menundukkan kepalanya. Perjuangan yang selama ini kami gembor-gemborkan apalah artinya ketimbang perjuangan seorang Bapa untuk menafkahi ketiga anak istrinya ini. Aku merasakan haru campur malu.

Tak heran ketika Kak Ana bertanya kepada Ani dan Sari, “Menurut kalian Bapa kalian tuh gimana sih?” “Bapa itu… pahlawan.” Aku setuju. Kami semua setuju.

Kak Ana dan Bapanya Ani akhirnya mengobrol dengan Bahasa Sunda agar lebih santai dan luwes. Pada dasarnya, Bapanya Ani pun sangat sangat mendukung Ani untuk bisa kuliah. Tapi lagi-lagi, terhambat keterbatasan dana. Aku pribadi sangat senang mendengar dukungan ini, karena berarti tidak ada hambatan kultural yang akan menghalangi Ani untuk mewujudkan mimpinya. Terkadang aku menyempatkan refleksi di tengah mendengarkan kata-kata Bapanya Ani, aku tak pernah menyangkan bisa menjadi bagian sebuah situasi yang seringkali terjadi di film-film saja: seorang anak yang pintar dengan sebuah mimpi yang kuat, keluarga yang miskin, dan anak-anak muda yang ingin membantu.

“Ya Ibu dan Bapak, Ani, kami senang sekali mendengar bahwa Ibu dan Bapa mendukung Ani untuk lanjut kuliah. Kami tidak bisa janji apa-apa, kami hanya bisa bilang bahwa kami akan berusaha sebisa kami untuk mencarikan beasiswa untuk Ani. Membantu Ani persiapan pendaftaran kuliah. Tapi yang terpenting, Ani harus semangat. Kapanpun rezeki Ani datang untuk kuliah, berarti itu memang waktu yang paling tepat untuk Ani kuliah. Ani sendiri sukanya belajar apa?”

“Aku pengennya jadi dokter atau presenter. Tapi kalau belajar, sukanya yang bikin puisi dan cerpen Kak. Bahasa.”

“Wah, iya puisi kamu itu bagus-bagus sekali loh! Bisa juga kuliahnya Sastra Indonesia. Siapa tau bisa jadi presenter juga nantinya.”

Ani tersenyum. Sari, adiknya, ikut tertawa sekali-kali melihat respon kakaknya yang sering malu-malu. “Si Ani itu cerpen-cerpennya lumayan loh Kak, aku suka baca.” Kami semua mengiyakan. Wajah Bapa dan Ibunya Ani tampak bersinar. Sesaat aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang meski sederhana, begitu membebaskan.

 

Perbincangan dengan keluarga Ani berlanjut dengan hangat. Ruang tamu yang juga adalah warung itu seperti diinjeksi dengan hawa hangat dari matahari. Tetapi malam ini, Matahari itu adalah Ani dan keluarganya.

 

Sebelum tidur, Kak Ana dan aku berdiskusi lama tentang rencana kami untuk Ani. Mungkinkah kami mendapatkan beasiswa untuk Ani? Beasiswa apa? Kampus apa? Nanti Ani tinggal di mana kalau di Jakarta? Apakah Ani akan kembali untuk membantu Sekolah Kita setelah sibuk kuliah? Apakah suatu hari Sekolah Kita Rumpin bisa memiliki skema beasiswanya sendiri? Kami menutup mata penuh harap malam itu.

 

Saat ini, tidak ada yang bisa kami janjikan. Hanya usaha dan doa yang bisa mengiringi Ani, Sari, dan semua adik-adik Sekolah Kita Rumpin agar mereka bisa mewujudkan apa yang mereka citakan. Bahkan, tak semua Kakak Kita juga sudah mencapai cita-cita mereka. Sambil terus bekerja bersama-sama, aku akan selalu mengingat puisimu Ani, sebuah mimpi yang kamu tulis,

 

“Bukalah mata.

Lihat dunia dan genggamlah harapan.

Teguhkan pada satu pohon.

Ketika ku tau itu indah.

Terbukalah fikiranku

Melayang-layang di tengah laut.

Batu terhantam tak berarti.

Darah-darah kenangan

Tertiup angin kebahagiaan.

Bagaikan Pohon berbunga,

Yang menanti sinarnya.

Salju abadi dan suci,

Mengangkat derajat.”

 

6 Desember 2014

Anisa

Adik Sekolah Kita Rumpin

 

IMG_5541

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak dan sepatu ‘bot’ kesayangan Bapanya Ani.

 

Salam hangat,

Rara Sekar

Kakak Kurikulum

Selamat datang di keluarga besar Sekolah Kita Rumpin!

Di penghujung tahun 2014 ini, Sekolah Kita Rumpin kehadiran beberapa wajah baru yang baru saja menjadi Kakak Kita Angkatan IV.

Sekolah Kita Rumpin selalu percaya bahwa dedikasi seseorang di komunitas sosial, khususnya dalam bidang pendidikan anak, haruslah berkelanjutan. Oleh karena itu, kami selalu mengadakan seleksi untuk memilih mana relawan yang serius untuk berkontribusi dan tahan banting untuk berdedikasi minimal selama setahun ke depan.

Setelah mengikuti seleksi essay di tahap pertama dan tahap wawancara via Skype atau telepon di tahap kedua, nama-nama di bawah ini adalah kakak-kakak yang terpilih untuk berkarya mulai Januari 2015
Kelas Pengajar Kelas Berani Berbicara :

Muthi’ah Khairunnisa
Kakak Relawan Kelas Pengajar umum :
Safira Andhani

Kakak Relawan Kelas Pengajar umum :
Renny Junita

Kakak Relawan Kelas Pengajar umum :
Wanda Arifandi Liauw

Kakak Pengajar Kelas Prakarya :
Lia Pangesty Noegraha

Kakak Riset Tim Pensil :
Christmastuti Destriyani

Kakak Riset Tim Pensil:
Peny Rahmadhani

Kakak Riset Tim jendela :
Ben Kristian Citto Laksana Tambunan

Kakak Riset Tim Jendela :
Retna Ayu Mustikarini Kencanasari

Kakak Riset Tim Jendela :
Pradikta Dwi Anthony

Mini Workshop Sekolah Kita Rumpin

Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?

Ditulis oleh Kak Yasmine

image02

Pada hari Sabtu, 6 September 2014, tim riset dari Sekolah Kita Rumpin telah mengadakan mini workshop bertema “Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?” yang ditujukan bagi seluruh kakak pengajar dari SKR. Mini workshop diselenggarakan di salah satu studio di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Acara ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan para kakak pengajar mengenai metode ajar yang kreatif bagi para adik-adik kita. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi 1 mengenai “Learning through Play” dan sesi 2 mengenai “Metode Mengajar Kreatif yang Efektif”

Di sesi 1, sepasang suami istri, pencetus dari adanya permainan boardgame SMAKIIN BERDETAK yaitu Ibu Julie Tane dan Bapak Philip Triatna hadir sebagai narasumber. Keduanya berbagi kepada para kakak pengajar mengenai penggunaan media permainan untuk pembelajaran karakter bagi anak bangsa. Pasangan tersebut memiliki misi untuk membangun karakter positif dengan cara yang kreatif. Ibu Julie dan Pak Philip berkata, “tidak semua orang itu sistematis, tidak semua orang pintar ngajar. Anak juga dapat informasi dari berbagai sumber seperti orang tua, guru, dan media.” Maka dari itu, sebagai pengajar, dibutuhkan metode yang kreatif dalam mengajar agar dapat menarik perhatian anak dan anak dapat lebih menangkap materi ajar. Pembelajaran melalui media permainan, salah satunya dengan board games dapat dimanfaatkan untuk membantu proses belajar pada anak.

Menurut bu Julie dan pak Philip, bermain adalah kegiatan yang dapat diterima oleh banyak kalangan. Dengan bermain, anak tidak akan merasa dicekoki untuk belajar, tetapi mereka akan menikmatinya dan secara tidak langsung mendapatkan pelajaran dari permainan yang dilakukan. Pak Philip mengutip apa yang dikatakan oleh Plato, yaitu “Kalau mau mengajarkan orang dengan kata-kata perlu bertahun-tahun, tetapi kalau dengan bermain hanya butuh beberapa jam”. Dengan menggunakan metode bermain, terutama melalui media board game, anak-anak tidak akan merasa digurui, tetapi dapat belajar bersama. Adanya kebersamaan merupakan tujuan utama dari board game sehingga anak dapat saling mengajari dan mendapatkan pelajaran dari permainan tersebut. Dari sesi tanya jawab dengan Ibu Julie dan Pak Philip, para pengajar pun mendapatkan pengetahuan bahwa dalam proses belajar, mereka dapat menggunakan adanya kekuatan alat permainan. Dengan menciptakan sebuah alat permainan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, dapat membantu pengajar untuk menyampaikan materi pengajaran.

image00

 

 Selanjutnya, sesi dua mini workshop diisi oleh salah satu pengajar di Rumah Belajar Semi Palar, Bandung, Kak Wienny Siska Rahmawati. Di sesi 2, Kak Wienny berbagi pengalaman mengenai proses pengajaran di sekolah yang metode ajarnya menggunakan metode tematik. Proses belajarnya tidak sama dengan sekolah-sekolah konvensional yang ada. Kak Wienny berbagi cara mengenai pengajaran anak dengan menggunakan tema-tema besar yang kreatif dan imajinatif. Berdasarkan pengalaman Kak Wienny, terdapat beberapa poin penting untuk menjadi pengajar yang kreatif dan efektif bagi anak-anak. Berikut ini beberapa tips dari Kak Wienny:

  • Lepaskan jati diri sebagai orang dewasa yang merasa sudah tahu segala hal. Bukalah mata hati dan pikiran bahwa kita pun bisa belajar dari anak-anak.
  • Mengajarlah dengan keadaan hati yang positif karena energi yang ada pada diri kita akan sampai pada anak-anak. Dengan begitu, anak pun dapat menjadi lebih positif.

Menjadi contoh bagi anak. Jika kita ingin mengajarkan suatu kebiasaan baik pada anak, kita pun harus menjadi seperti itu terlebih dahulu.

  • Kenali karakter anak!
  • Bangun rasa percaya anak kepada kita. Itu adalah yang utama. Dengan adanya kepercayaan, anak akan menjadi lebih terbuka dan kita pun akan lebih bisa mengenali kebutuhan anak.
  • Ketika mengajar, carilah hal-hal yang lekat dengan kehidupan anak. Itu akan mempermudah anak untuk paham.

Selain itu, Kak Wienny pun memberikan saran kepada kakak pengajar mengenai penyusunan metode ajar yang kreatif. Seperti yang kak Wienny katakan, ketika membuat materi ajar, jangan batasi pikiran kita dan berpikirlah yang luas. Eksplor pikiranmu sendiri. Jika suda menemukan tema besar yang akan digunakan, eksplor mengenai topik tersebut dan tuliskan dalam bentuk mind map. Setelah itu, pengajar bisa menentukan bagian alur manakah yang tepat diberikan oleh anak-anak di usia, PAUD, SD, dan di atas SMP.

Itulah sekiranya materi yang didapat oleh para kakak pengajar di mini workshop yang diselenggarakan oleh tim riset Sekolah Kita Rumpin. Semoga para kakak pengajar bisa menciptakan materi ajar yang semakin kreatif dan efektif dan adik-adik kita semakin terpacu untuk belajar!

image01

 

Sebab itu kami ada

Sebab-itu-kami-ada-sekolah-kita-rumpin

Kemah kita merupakan moment yang sangat penting bagi komunitas kami. Kemah Kita dirancang untuk memberikan ruang diskusi bagi para kakak sebagai keluarga besar Sekolah Kita Rumpin dalam meningkatkan pemahaman konsep, sejarah dan keterlibatannya selama bergabung. Biasanya kegiatan ini menceritakan sejarah berdirinya komunitas, kurikulum, culture, evaluasi sistem komunitas, kegiatan belajar mengajar, dan paling penting adalah saat kami membuka diri untuk saling mengapresiasi dan memberikan masukan satu sama lain.

Kami sadar bahwa dalam prosesnya, kami masih banyak kekurangan dan masih jauh untuk bisa disebut sebagai komunitas yang sudah mempunyai sistem yang baik dan solid. Sistem internal kami masih terus berupaya memberikan yang terbaik bagi adik kita, donatur dan para kakak kita sebagai pendidik yang tak pernah menyerah oleh jarak dan waktu.

Semua hal ini kami sadari karena kami masih dibutuhkan dan mau berbagi bersama mereka. Banyak cerita dari setiap kakak ketika berkunjung untuk mengajar dan belajar bersama adik-adik di Sekolah Kita Rumpin. Belajar merupakan sebuah kata kunci yang menjadi acuan kami untuk tidak merasa menggurui adik-adik di sana. Bukan hanya belajar bersama adik kita, tetapi kami pun saling belajar antara satu kakak dengan kakak yang lain. Perbedaan karakter, basic pendidikan, lingkungan keluarga, suku dan agama bahkan budaya membuat kami tak pernah menyerah untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain. Semoga ke depannya kami makin solid dan akan terus menjadi orang yang bisa berguna untuk bangsa dan negara. Sebab itu kami akan terus ada untuk berbagi dan menginspirasi. Semoga…

Terima kasih semua Kakak Kita dari angkatan pertama sampai angkatan ketiga yang masih bergabung hingga saat ini maupun yang sudah beraktivitas di luar lingkaran Sekolah Kita Rumpin. Semoga semangat itu akan terus ada di jiwa para manusia yang sangat peduli akan semesta ini. Sampai bertemu lagi di Kemah Kita tahun depan.

 

Salam dari Bandung,
Ana Agustina
Kakak Pengelola Sekolah Kita Rumpin

 

Re-imagine Learning Through DASA

Bagi kamu yang minimal bisa bermain catur, konten video di atas pasti bakal cepat kamu pahami.

DASA, diambil dari sebutan angka “10″ dalam bahasa Sansekerta, adalah sebuah permainan termodifikasi. Benar bahwa ia tak sepenuhnya orisinil, namun ia memiliki kompleksitas kerjasama tim yang absen dari permainan catur biasa.

Di level standar, DASA dimainkan oleh 10 orang yang masing-masing mengemban posisi : 3 Prajurit (Pawn), 1 Ksatria (Knight), 1 Prabu (Raja), 1 Mahapatih (Queen), 1 Patih (Bishop), 1 Adipati (Rook), serta tambahan 1 Diplomat (Negotiator/Peacemaker) dan 1 Pedagang (Trader). Pada level lebih tinggi, salah satu prajurit diganti dengan Malaikat (Angel) atau Algojo (Executioner) dengan ketentuan kedua posisi unik ini tidak boleh berada dalam tim yang sama + penempatan awalnya bebas selama sebaris dengan Diplomat/Pedagang.

Saat ini mari kita fokus pada penjabaran level standar.

1. Luas area yang diperlukan guna memainkannya berkisar dari 5×6 hingga 5×8 kotak. Bagi pemula sebaiknya mencoba dari area terkecil terlebih dahulu.

2. Tiap anak bebas bergerak mengikuti kehendak pribadinya sesuai gerakan posisi yang ia emban.

3. Saat timnya tertekan, Diplomat berhak mengajukan REMIS bila ia sanggup mengklaim ‘Kunci Mati‘ terhadap Prabu lawan hanya dalam 2x giliran. Hak istimewa ini sebaiknya dipergunakan ketika Prabu tim sendiri sedang terancam klaim Kunci Mati pada giliran lawan berikutnya.

4. Saat dirinya terkunci/terancam, Pedagang berhak meminta barter atas nyawanya dengan mengorbankan nyawa teman setimnya yang lain kecuali Prabu atau memberi giliran ekstra bagi tim lawan secara cuma-cuma.

5. Selama berkonsolidasi, usahakan agar tim lawan tak mengetahui kode-kode komunikasi atau strategi yang dipakai ketika menyerang.

Beberapa probabilitas yang muncul dari permainan ini :

1. Oleh sebab tiap anak bebas bergerak atas kemauannya sendiri, ia boleh mengabaikan strategi tim. Pengabaian tersebut bisa membawa kemenangan atau justru awal dari kekalahan timnya.

2. Anak-anak yang pasif akan terdorong secara otomatis untuk mempertahankan diri dan mencari jalan keluar baik bagi dirinya sendiri maupun bagi timnya secara umum.

3. Posisi Diplomat secara khusus melatih anak mengembangkan daya pikir kritis dan analisis rasional, sementara posisi Pedagang menguji ketahanan prinsip hingga kesetiaan pengembannya.

4. Tiap anak dapat terlibat dalam perumusan strategi menyerang maupun bertahan melalui proses diskusi serta komunikasi berkelanjutan, bahkan saat permainan berlangsung. Semakin banyak skenario strategi disiapkan, semakin baik kerjasama tim menghadapi kondisi aktual di area permainan.

Berangkat dari analisis di atas, DASA sejatinya mendorong terciptanya iklim bermain yang mengedepankan kerjasama tim, kepercayaan diri, kreativitas, daya pikir kritis, empati/oportunis, loyalitas, hingga pentingnya berkomunikasi secara rutin.

Akhir kata, silakan mampir ke laman proyek SKR ini di http://www.changemakers.com/project/dasa lalu mainkan bersama teman-teman kamu. :)

Workshop Menulis Kreatif

Halo!

Tanggal 4-18 Mei 2014 silam adalah masa pelaksanaan workshop menulis kreatif di SKR oleh Kak Kika Dhersy Putri. Adik Kita dari berbagai usia mendapat pembekalan dasar mengenai hal menggali kreativitas menulis terutama tulisan fiksi.

Saat ini hasil tulisan Adik Kita sedang memasuki proses kurasi guna menyaring karya-karya terbaik nan relevan yang nantinya akan bersatu dalam sebuah buku <– bagian dari program wirausaha kreatif tentunya.

Sambil menunggu kurasi berjalan, silakan menikmati video rangkuman kegiatan workshop hari terakhir berikut, satu karya lagi dari Kak Elizabeth Karina.

Pentas Perdana Kelas Spesialis Teater

Minggu, 4 Mei 2014, sebuah sejarah baru terjadi.

Kelas Spesialis Teater SKR mempersembahkan pentas lokal perdana mereka dengan tajuk “Bu Rini Uring-Uringan”.

Video berikut berisi pementasan secara utuh yang ditangkap oleh Kak Nuri Moeladi dengan apik :

 

Pasca pementasan, salah satu pelakon bernama Meisy Audina (6 SD) menyanyikan 2 buah lagu guna menghibur para penonton, diiringi musik seadanya oleh Kak Agung Utama :

 

Sejarah-sejarah lainnya telah menanti. Namun untuk saat ini, selamat menikmati!