Tulisan dari Adik Kita

Beberapa waktu lalu, adik-adik dari kelas SMK belajar mengenai blogging di tema besar dwibulanan Teknologi Kita. Adik-adik diajarkan cara membuat blog, namun karena keterbatasan teknologi, mereka menulis di kertas terlebih dahulu. Tulisan-tulisan berikut telah mengalami pengetikan ulang dan suntingan tanpa mengurangi esensinya. Berikut adalah hasil kurasi terhadap tulisan mereka. Selamat menyimak!

 

Cerita Annisa

Hai! Namaku Annisa. Aku kelas 11 SMK Jurusan Multimedia di SMK Bina Insani Cisauk. Aku tinggal di kampung yang bernama Malahpar, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara.

Di sekolah aku punya geng namanya “The Embers” yang terdiri dari aku, April, Atika, dan Risma. Tapi “The Embers” selalu main dengan teman-teman yang lain juga. Kenapa dinamakan “The Embers”? Awalnya Atika sedang berkumpul di kelas bersama teman-teman sekelas. Aku dan teman-teman yang lain sedang bercanda sambil ketawa-ketiwi, sementara Atika senyum-senyum sendiri melihat handphone-nya. Ternyata dia sedang smsan dengan temannya. Aku dan teman-teman yang lain curiga dan berinisiatif untuk ngerjain Atika dengan cara mengambil handphone-nya dan menunjukkan isi smsnya ke teman-teman. Saat itu juga teman-teman sekelas bilang, “Dasar emang ember kalian,” sambil tertawa. Aku dan teman-temanku berpikir, boleh juga nama Ember jadi nama geng kami.

Karena sekarang aku kelas 11 SMK, sekolah menugaskan untuk melaksaakan tugas praktekin (Praktek Kerja Indutsri) ke suatu perusahaan selama dua bulan. Bertempatlah saya di sebuah kelurahan Cisauk, meski tidak sama dengan jurusan multimedia. Di sana aku salah satunya mengerjakan buat KTP. Ternyata harus mengisi formulir (master KTP) dengan syarat:
1. Bawa surat pengantar KTP
2. Foto copy KTP lam
3. Pas foto ukuran 2×3 (2 lembar)

Selain sekolah di SMK Bna Insani Cisauk, aku juga sekolah di hari Minggu di Sekolah Kita Rumpin (SKR) yang didirikan oleh para mahasiswa. Semenjak aku sekolah di SKR, aku merasa lebih percaya diri untuk berpendapat dan jadi tahu luar dari Rumpin, seperti Jakarta dan Bandung.

Pada tanggal 13 april 2014, aku , Sari, Nuryani, Rohadi, Azapir, Risma, dan Fitri pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara KADO (Karya Anak Indonesia) di Jakarta Kota. Kami didampingi oleh Kak Lita, Kak Puspa, Kak Tiara, dan Kak Hanna. Di kereta aku bertemu dengan orang yang muka dan tubuhnya dipenuhi benjolan seperti kutil tetapi sebesar tomat. Aku memberanikan diri untuk bertanya ke Kak Puspa. “Kak, kakak lihat orang yang duduk di gerbong sana?” tanyaku.
“Ooh, mungkin orang itu tadinya memiliki penyakit kulit biasa yang menurut dia tidak berbahaya, namun lama kelamaan makin besar dan bertambah banyak.”
“Kok dia gak malu sih, kak? Apakah dia bisa sembuh lagi?”
“Ya mungkin dia malu, tapi kalau dia malu saja, kapan dia bisa maju dan sembuh. Bisa sembuh, tapi biasanya harus dioperasi terlebih dahulu.”
“Ooh, jadi begitu, Kak.”
“Iya, jadi kalian bila ada penyakit sekecil apapun jangan diabaikan, bisa-bisa jadi seperti itu lhoo,” pesan Kak Puspa.

Sesampai di tempat acara, aku terkejut dengan banyaknya teman-teman dari sekolah lainnya.

 

Kakak yang Hebat
Oleh: Eha

Mila adalah anak yang pintar di kelasnya. Tapi sayang, Mila tidak meneruskan kuliahnya karena tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah. Ayah dan ibunya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Mila mencari uang untuk adiknya dan untuk makan dengan bekerja sebagai kuli cuci. Kadang Mila dan adiknya tidak makan karena tidak punya uang untuk membeli makanan, namun Mila tidak patah semangat

Tiga tahun kemudian…

Mila ingin ke Jakarta ingin mencari pekerjaan. Tetapi sang adik tidak mengijinkannya karena dia takut kesepian. Pada akhirnya Mila nekat ke Jakarta, karena ia yakin sesampainya disana akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Sang adik pun mengijinkan Mila, walaupun dia akan kesepian.

“Kakak, jangan lupakan aku, yah. Kalau kakak sudah sukses di sana. Tolong beri aku kabar yah kak, jangan lupakan aku,“ kata adik Mila
“Iya dik, nanti kalau kakak sudah sukses di sana, kakak akan mengajak kamu ke sana tinggal bersama kakak,” kata Mila.
“Ya sudah. Hati-hati ya, Kak,” kata adik

Sesampainya Mila di sana, tiba-tiba ada ibu-ibu yang sedang kesakitan. Mila pun menolong ibu itu langsung dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mila menunggu ibu itu.
“Kondisi ibu sudah membaik,” kata dokter
Mila pun langsung masuk ke dalam ruangan.

“Terima kasih ya dik sudah menolong saya,” kata Ibu yang sedang terbaring di atas kasur
“Iya Bu,” kata Mila
“Kamu dari kampung yah?” kata ibu.
“Iya, saya ke Jakarta ingin mencari pekerjaan, Bu,” kata Mila.
“Oh, memang kamu lulusan apa?,” kata ibu.
“Saya lulusan SMA Bu,” kata Mila.
“Oh, kebetulan saya sedang mencari pegawai wanita lulusan SMA,” kata ibu.
“Memangnya kerja apa Bu?,” kata Mila.
“Jadi karyawan kamu mau nggak?,” kata ibu.
“Iya, saya mau Bu,” kata Mila
“Nih, kartu nama Ibu, besok kamu mulai kerja yah,” kata ibu lagi.
“Iya, Bu,” jawab Mila
“Oh ya, kamu belum punya tempat tinggal kan,” kata ibu itu
“Iya Bu,” kata Mila
“Ya sudah kamu tinggal di rumah Ibu saja ya, kebetulan di rumah Ibu ada kamar kosong,” kata ibu itu
“Ya Bu, terimakasih Bu,” kata Mila

Akhirnya Mila pun dapat pekerjaan. Hari pertama Mila kerja Mila senang sekali tiba-tiba ada yang menghampiri Mila.
“Mila, kamu kerjanya sangat bagus,” kata bapak.
“Iya, makasih Pak,” kata Mila.
“Iya, pertahankan ya prestasimu,” kata bapak.
“Iya Pak,” kata Mila
“Kalau kamu memertahankan prestasimu, kamu bisa naik pangkat,” kata bapak.
“Iya Pak,” kata Mila.

Satu tahun kemudian…

Mila naik pangkat dari yang tadinya karyawan, sekarang sudah mempunyai perusahaannya sendiri. Mila langsung menelpon adiknya yang di kampung.
“Halo, dik,” kata Mila.
“Halo,” kata adik Mila.
“Bagaimana keadaanmu? Ini kakak,” kata Mila.
“Baik kak, kakak gimana? “
“Baik, dek. Besok kakak akan pulang ke kampung,”
“Oh ya?”
“Iya, kakak sudah sukses di Jakarta. Sesuai dengan janji kakak, kakak pengen ngajak kamu tinggal di Jakarta”
“Iya kak, aku mau tinggal di Jakarta. Apalagi sama kakak,” kata adik Mila.
“Besok kakak jemput ya!” kata Mila.

Keesokan harinya, Mila pulang ke kampung halamannya dan menjemput adiknya. Sesampainya di rumah Mila, adik Mila sangat terkejut melihat rumah kakaknya yang sangat besar
“Wah, besar banget Kak,” kata adik Mila
“Iya dong. Yuk, sekarang kita masuk,” ujar Mila
Mila dan adiknya kini tidak kesusahan lagi dan akhirnya mereka pun bahagia.

 

Payung Harapan
Oleh: Eha

Kutemukan kalian
Masih berseragam
Payung mengembang
Menatap penuh harap
Kaki telanjang

Mencumu aroma kilat
Mengikat hujan lebat
Merangkai impian
Menggapai angan
Mencicipi hidup yang penuh harap

 

Permata Hati
Oleh: Eha

Tapak-tapak kaki kecil
Berlarian menyambut hangat
Luluh runtuh semua letihku
Berganti sejuta bahagia

Binar bola matamu
Indah bagai sinar pelangi senja
Celoteh riang mulut mungilmu
Bagai senandung pipit pagi hari
Bagai tetesan embun pagi
Sejuk menyirami relung hati

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>