Sebab setiap tempat adalah sekolah, dan belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja. Termasuk di sebuah mushola kecil dan taman baca mini nan sejuk di tengah Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Anak-anak kecil serta merta mengerubung. Sebagian ditemani ibunya, sebagian datang sendiri jalan kaki. Di kelas mingguan itu mereka berkumpul untuk belajar tentang apa saja. Kehadiran perpustakaan dengan koleksi ragam buku yang terus meningkat dari bulan ke bulan turut mendukung suasana hangat. Dan jangan lupakan pula kontribusi ketiga kelas spesialis dalam mengasah bakat ranum muridnya masing-masing : prakarya, teater, serta berani bicara.

Barangsiapa hirau akan masalah sengketa tanah mungkin pernah mendengar nama Kecamatan Rumpin. Di salah satu desanya, Kampung Cibitung, rumah warga berbatasan langsung dengan lahan milik Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah.

Kampung Cibitung letaknya memang tak seberapa jauh dari pusat kota (BSD, apalagi Jakarta), namun rute jalan utama bagi kendaraan ke sana mayoritas tak beraspal. Akses terhadap air bersih juga tak cukup dengan memutar keran saja sebab mesti menimba. Coba bayangkan sebuah desa dikelilingi sawah beserta jalan berbatu yang setiap hujan turun berubah menjadi kubangan lumpur. Kambing, kerbau, ayam bebas berseliweran. Anak-anak kecil ramai lari-lari atau main sepeda, jauh dari hingar bingar Playstation dan Blackberry. Di sana lah Sekolah Kita Rumpin berada.

Kini sudah memasuki tahun keempat Sekolah Kita Rumpin mengisi hari Minggu adik-adik dari Kampung Cibitung. Kasus sengketa memang belum selesai, namun setidaknya situasi lebih kondusif dan tak lagi menampilkan sisi kekerasan yang membuat trauma. Kelas-kelas kini menjadi lebih ramai sejak bergabungnya adik-adik dari kampung sekitar, salah satunya Kampung Malahpar : mereka yang juga bersinggungan dengan kasus sengketa namun memberi respon lebih lembut dan acuh serta menunjukkan sikap antusias yang tinggi setiap kali tiba waktunya belajar bersama.

Sekali setahun, kombinasi adik dari kedua kampung ini berkesempatan mengunjungi daerah lain di luar lingkungannya sehari-hari. Mereka sudah melihat realita TPA Bantar Gebang, jalan-jalan mengitari komplek Istana Merdeka-Negara, bahkan berwisata sejauh 230 km ke Museum Geologi dan berpose di depan hamparan mural ajaib Babakan Siliwangi di kota Bandung.

Sekolah Kita Rumpin tentu berbeda dengan sekolah formal biasa. Di sini semua Kakak Kita adalah relawan namun kami sama-sama mengembangkan pola pikir dan kinerja dengan standar profesional. Di sini juga tak ada kewajiban membuat anak semakin pintar dan paham pelajaran sekolah di luar kepala. Tapi lebih dari itu, setiap kakak pengajar di Sekolah Kita Rumpin wajib membuat peserta kelas tertawa lepas dan gembira, baik yang mengajar di Kelas Umum maupun Kelas Spesialis.

Para pengajar juga wajib membantu anak-anak menjadi seorang pemberani yang percaya diri. Mengarahkan mereka menjadi anak kecil yang perasa dan mampu berempati pada teman atau keluarga di sebelahnya. Yang terakhir, membiasakan anak-anak berkolaborasi serta berinovasi bersama-sama. Caranya bagaimana? Mari kita pikirkan bersama hingga proyeksi SKR selesai pada tahun 2018.

Di Sekolah Kita Rumpin, kami percaya anak-anak adalah generasi penerus. Kami juga percaya bahwa ilmu yang kita punya akan memperoleh manfaat paling hakiki jika dibagi dengan mereka yang kehausan. Oleh karena itu, mari teman-teman sekalian turut serta bermain dan bergembira bersama di Sekolah Kita Rumpin.

Kultur Organisasi SKR

1. Berangkat dari kesadaran humanis yang empatik
2. Memahami, menerima, dan merayakan keberagaman
3. Didukung oleh azas kesetaraaan
4. Untuk bekerja dalam situasi partisipatif
5. Menumbuhkan semangat belajar yang menyenangkan kepada seluruh pihak terkait dalam atmosfer yang saling melengkapi
6. Guna mencapai sebuah kultur berbagi

 

Salam,

Sekolah Kita Rumpin

206681_10151159170015976_1993303962_n