Tentang Mimpi, Rumpin, dan Paris

oleh: Lani Mariyanti (@LaniThong)
Kakak Koordinator Pengajar Sekolah Kita Rumpin

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!”. Seberapa sering kamu mendengar kalimat ini? Saat saya masih sekolah, saya sering sekali mendengar kalimat ini keluar dari para guru untuk mengajak murid-muridnya bermimpi besar dan membuatnya jadi kenyataan.

Apa mimpi masa kecilmu?

Mimpi saya adalah menjalani hidup dengan mudah. Tidak harus bekerja setiap hari namun tetap mampu membayar semua tagihan kartu kredit saya. Saya sadari ternyata mimpi itu terasa sangat egois dan tidak lagi menarik.

Di masa kuliah, ada satu kejadian yang mengubah drastis cara pandang dan menggeser mimpi-mimpi saya. Suatu siang, sepulang dari kampus, saya menonton televisi yang sedang memutar liputan tentang anak-anak putus sekolah. Kebanyakan dari mereka bekerja untuk membantu orang tuanya sebagai pedagang asongan di pinggir jalanan Jakarta. Beberapa relawan berinisiatif untuk mengajar mereka di bawah kolong jembatan dan mengusahakan agar anak-anak ini bisa tetap ikut Ujian Akhir Nasional (UAN). Namun, mereka masih harus membayar untuk sekadar mengikuti UAN di tengah ketidakmampuannya. Saya tertohok. Liputan itu meninggalkan perasaan sedih dan marah atas ketidakadilan yang terjadi pada anak-anak tersebut. Hal ini membuat saya bermimpi membangun sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Kenapa sekolah? Menurut saya, pendidikan adalah kunci pengubah masa depan seseorang dengan merealisasikan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya yang kemudian akan memberikan perubahan positif kepada lingkungan sekitar, bahkan negara.

Tak terasa sudah hampir dua tahun Sekolah Kita Rumpin (SKR) berupaya untuk membangun empati, rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan kreativitas di dalam diri anak-anak Kampung Cibitung dan Malahpar, Rumpin. Keempat nilai ini memang terdengar abstrak, sulit dinilai, dan tidak banyak yang menyadari bahwa mereka adalah fondasi terpenting dalam hidup manusia sehingga sering luput diajarkan di sekolah formal. SKR percaya bahwa penanaman nilai-nilai ini harus terus-menerus dilakukan. Selain itu, kami juga ingin agar adik-adik SKR berani bermimpi besar di tengah segala keterbatasannya.

Masih jelas di ingatan saya, di bulan-bulan awal kelas SKR dimulai, seorang kakak pengajar bertanya kepada adik-adik tentang cita-cita dan mimpi mereka.

“Menjadi tukang jus mangga,” tulis seorang anak.

Saya terkejut. Realita yang mereka hadapi setiap hari telah merenggut kemampuan seorang anak kecil untuk bermimpi.

Hari Minggu, 5 Mei 2013, seperti biasa, saya datang ke Sekolah Kita Rumpin untuk bermain dan berbagi ilmu dengan adik-adik. Saat itu, saya mengajarkan pentingnya menabung dengan menggunakan permainan ular tangga yang saya buat sendiri. Di akhir permainan, saya meminta mereka menuliskan pendapat tentang pentingnya menabung dan jika tabungannya sudah banyak mau digunakan untuk apa. Setelah mereka selesai, saya membaca jawaban mereka satu-persatu. Semuanya sepakat bahwa menabung itu penting, sedangkan jawaban untuk pertanyaan lainnya beragam. Banyak dari mereka menjawab tabungannya akan dipakai untuk membantu orang tua, membeli keperluan sekolah, membeli baju baru, serta mainan. Di antara semua jawaban itu, ada seorang anak yang membuat saya tersenyum lebar dan terharu. Jawaban dia, “kalau tabungannya sudah banyak, aku ingin pakai buat jalan-jalan ke Paris dan naik haji sama keluarga.”

Tentang Mimpi, Rumpin dan Paris

Bagi ukuran anak seorang petani yang seumur hidupnya dihabiskan di kampung, hanya pernah 2-3 kali ke kota, impian tadi luar biasa. Ia berani bemimpi besar, jauh mengatasi semua keterbatasan yang ada. Saya bangga.

Misi SKR sekarang adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada adik-adik untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tentu saja kalian, para pembaca tulisan ini, juga dapat membantu merealisasikan harapan mereka.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>