Posts

Refleksi Ultah I

Tumpeng Ulang Tahun Sekolah Kita

Sabtu lalu, kak Gea, salah satu kakak pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, membagikan sebuah artikel berjudul “Gerakan Sosial Sebagai Pemimpin” buah tangan Bukik Setiawan. Artikelnya dapat kalian baca di sini, dan dimaksudkan sebagai bahan refleksi bagi seluruh elemen yang ada dan aktif dalam Sekolah Kita Rumpin, terutama bagi Kakak Kita.

Paragraf pembuka artikel tersebut menyatakan bahwa gerakan sosial harus berangkat dari persoalan sosial nyata yang dialami masyarakat serta harus mampu melepaskan diri dari persoalan sosial tersebut guna melahirkan inovasi sosial plus tak terjebak lingkaran setan problematika. Gerakan sosial nihil visi akan selalu mencari musuh, selesai satu problem maka akan langsung mencari problem baru.

Menurut Mas Bukik pula, gerakan sosial umumnya memandang masyarakat dampingannya sebagai persoalan itu sendiri. Seakan-akan masyarakat tersebut sudah “nasibnya” tak bisa mandiri sehingga selalu tergantung pada “bantuan dari langit”, ibarat riwayat cerita orang Israel yang menanti-nanti datangnya roti manna dari surga ketika mereka berkelana menuju tanah Kanaan.

Salah satu solusi yang Mas Bukik tawarkan dalam artikel tersebut adalah pendekatan Appreciative Inquiry. Pendekatan ini menonjolkan sisi potensial dan karakteristik unik kesatuan masyarakat itu. Bagaimanapun juga, mereka yang mendiami wilayah tempat tinggal mereka, sehingga mereka pasti lebih mengenal sifat wilayah itu dari siapapun jua. Jika potensi individu plus karakteristik komunal mereka termaksimalkan, maka akan lahir sebuah persamaan sosial :

Pengenalan Lingkungan Menyeluruh + Visi Hidup + Kekuatan Karakter Unik Masyarakat = Inovasi Sosial

Dengan demikian, perubahan bukan lagi angan-angan, melainkan adalah budaya hidup, tradisi turun-temurun. Di akhir artikelnya, mas Bukik menekankan krusialnya transformasi gerakan sosial menjadi pemimpin sosial yang menggalang kekuatan sehingga kelemahan tak lagi relevan. Nah, mengapa artikel yang bagus sekali ini layak menjadi bahan refleksi bagi Sekolah Kita Rumpin?

***

Sekolah Kita Rumpin memiliki visi yang sangat jelas bahkan hanya dengan membaca definisinya saja (sekolah alternatif gratis yang memfasilitasi anak-anak korban sengketa tanah di Rumpin). Visi ini dilengkapi dengan empat tujuan besar : peningkatan kepercayaan diri, memicu rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan menumbuhkan rasa empati. Hal ini tak hanya berlaku bagi anak-anak murid, namun juga bagi warga Desa Cibitung di Kecamatan Rumpin. Walau saat ini perwujudannya baru sebatas skala anak, tapi dalam waktu 3-4 tahun ke depan, diharapkan visi ini sudah menjangkau tingkatan orang tua dan para pemuda.

Anak-anak dibimbing untuk menjadi generasi solutif dan kritis, mampu berkreasi demi mencapai kemandirian (finansial + pikiran + moral) secara pribadi serta peningkatan kualitas hidup sehari-hari di level keluarga. Mereka juga disiapkan menjadi generasi yang sanggup membela diri sendiri secara hukum dan diplomasi damai dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Orang tua dan para pemuda di lain sisi mendapat pembekalan wirausaha serta kemampuan mengajar. Tak lupa penanaman pentingnya bertoleransi serta pelebaran cakrawala berpikir terhadap berbagai hal, terlebih bila hal tersebut berhubungan langsung dengan masa depan anak-anak mereka. Mungkin dalam waktu 10-15 tahun mendatang, warga desa Cibitung kecamatan Rumpin, kabupaten Bogor telah mumpuni dan bangga memiliki sejarah kesatuan dan karya nyata sosial yang dapat terus mereka renungkan dan aplikasikan, lagi dan lagi.

Bisa dilihat jelas bekas jejak metode appreciative inquiry dari dua poin di atas. Faktanya, metode ini bukan barang baru bagi Sekolah Kita Rumpin. Sejak inisiasi sampai Kakak Kita Angkatan I aktif, Rara Sekar, Kakak Kurikulum, sudah seringkali mengangkat metode ini dalam obrolan-obrolannya. Begitu juga dengan kak Racil, pengajar tetap lainnya, yang bahkan telah menuliskan metode ini saat mengisi form pendaftaran online calon Kakak Kita.

Namun mayoritas teori di atas baru sebatas wacana. Inilah persoalan sesungguhnya. Jalan menuju realisasi masih sangat berliku dan panjang. Harapan terdekat bagi Kakak Kita beserta segenap elemen pendukung Sekolah Kita Rumpin adalah tetap menjaga komitmen dan konsistensi serta meningkatkan kualitas komunikasi ke dalam dan ke luar, tahun demi tahun, pelan tapi pasti.

Mungkin saat perayaan ulang tahun II di 2014, kita bisa sama-sama menikmati buah refleksi bersama ini..

Renungan…

Dua orang pria baru saja selesai menonton pertandingan sepakbola di televisi. Keduanya berbagi beberapa kemiripan : sama-sama kalah taruhan dan sama-sama melamar menjadi kakak pengajar di Sekolah Kita Rumpin. Untuk menghibur diri pasca “kebangkrutan”, mereka menyingkir ke sebuah bar.

Setelah menghabiskan beberapa “shot” tequila, pria A dan B membuka topik pembicaraan mengenai keraguan seputar pilihan mereka mengisi form pendaftaran online di blog SKR. Pria A masih bimbang apakah dapat berkomitmen secara utuh, sementara pria B tampak sangat mantap membual dengan berbagai konsep serta metode pengajaran yang telah ia siapkan…………..dalam otak. Obrolan tak berlangsung mulus, sehingga pada akhirnya kedua pria ini berkelahi sebelum dilerai oleh bartender yang melayani mereka. Sang bartender pun memberi peringatan agar mereka menjaga perilakunya kalau tidak ingin diusir dari bar itu.

***

Dua puluh menit berselang..

Sesudah menenggak cukup banyak Mix-Max, mereka menemukan bahan bahasan baru : jenis kelamin partner baru mereka di SKR nantinya. Pria B langsung membayangkan wanita bohai dengan wajah seumpama Aishwarya Rai. Di sisi lain, pria A tak sabar segera bertukar nomor kontak dengan segerombolan videografer tampan yang notabene adalah saudara jauh Brad Pitt………..lain nenek. Interaksi ini lagi-lagi berakhir dengan pergumulan di atas meja bar dan dipisahkan secara susah payah oleh sang bartender. Tak ada ampun tersisa, mereka berdua pun terusir secara nista.

***

Lima menit berlalu..

Kedua jagoan kita berada di jalanan sepi tengah malam. Pria A menengadah ke langit, mendapati sebentuk bola bercahaya dengan lantang menantang kegelapan di bawahnya. Ia terlihat bingung, kemudian ia bertanya pada pria B.

Pria A : “Bola terang di langit itu apa ya?”

Pria B : “Matahari.”

Pria A : “Matahari dari Hong Kong. Matahari itu adanya siang, dodol.” *berpikir* “Kayaknya sih itu bulan.”

Pria B : “Itu matahari.”

Pria A : “Bulan ah..”

Pria B : “Matahari!”

Pria A : “Bulan!!”

Pria B : “MATAHARI!”

*seorang murid SKR melintas naik sepeda*

Pria A : “Dek…dek!! Ke sini sebentar deh.. Itu bola terang di langit namanya apa?”

Pria B : “Iya, dek. Nanti kalau kami berantem, diusir lagi sama bartender itu.”

Si murid pun berpikir keras…….

Dan…

Murid SKR : “Maaf mas, saya juga gak tahu. Soalnya saya baru datang ke sini. Mohon maklum, ini pertama kalinya jalan-jalan keluar dari Rumpin.”