Posts

Moonrise Kingdom Pada Insiden Buah Dada

Beberapa hari yang lalu, salah satu pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, Kak Tiara Ayuwardani, mengirimkan tulisan di bawah ini pada saya :

Pada suatu Minggu siang ada keributan kecil di depan mushola, tepat sesaat sebelum aku memulai kelas. Ipit, murid kelas 5 SD, sedang menangis sesenggukan. Ia tidak menjawab saat kutanya mengapa menangis. Perhatianku seketika teralih ke kumpulan anak laki-laki yang sedang saling dorong sambil cekikikan.

“Kenapa Ipit nangis?”

Setelah saling tuduh, salah satu dari mereka berceletuk dalam istilah Sunda yang intinya : tadi ada yang meremas dada Ipit. Walaupun tak bisa melihat muka sendiri, tapi aku tahu air mukaku sontak berubah. Separuh kaget, separuh keki. Tindakan apa yang seharusnya kulakukan sebagai kakak pengajar dalam kejadian seperti ini? (jeng jeng) (zoom in 3x)

Apakah aku harus memarahi mereka? Menghukum? Hukuman seperti apa? Apakah mereka tahu kenapa Ipit jadi menangis? Sungguh aku kagok. Jadi langkah yang kuambil kemudian adalah : 1) Menanyakan alasan mereka melakukan itu, 2) Menanyakan kondisi Ipit, 3) Meminta si pelaku agar minta maaf ke Ipit.

Pertanyaan pertama dijawab dengan “tidak tahu, Kak”. Pertanyaan kedua yang berbunyi, “Ipit, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?” yang hanya dijawab dengan gelengan. Mungkin sebenarnya dia ingin menjawab, “SAKIT KAK SAKIT, HARGA DIRI AKU SAKIT”. Sungguh, aku yang masih kagok ini tidak handal dalam membuat orang merasa lebih baik. Lalu saat aku meminta mereka untuk minta maaf, mereka hanya menyentuh ujung-ujung jari Ipit sekilas sambil bilang “Hiii” seolah jijik, kemudian lari menjauh.

Aku tak tahu tindakanku saat itu tepat atau tidak. Yang kutahu, ini masalah penting.

Seksualitas adalah topik yang masih tabu. Suatu hal yang sebenarnya dimiliki oleh semua manusia ini lebih sering dibicarakan sembunyi-sembunyi, disamarkan, bahkan tidak pantas dibahas. Berapa banyak dari kita yang diajarkan untuk membahasakan alat kelamin kita sebagai penis dan vagina, bukan dengan nama binatang atau istilah ‘buatan’ lainnya? Padahal, apa bedanya vagina dan tangan? Sama-sama bagian dari tubuh manusia, namun salah satunya lebih sering disebut dengan istilah samaran. Agar tidak terlalu vulgar, katanya. Sesederhana penggunaan istilah masih sering membuat jengah, apalagi pembahasannya. Tidak banyak ruang yang aman dan nyaman untuk mendiskusikan seksualitas, apalagi untuk usia kanak-kanak. Padahal pubertas kadang sudah hadir sejak masih Sekolah Dasar.

Apa yang membuat seorang anak laki-laki kelas 5 SD dengan iseng memegang dada teman perempuannya di depan umum? Timbulnya rasa penasaran. Ia melihat ada perubahan di tubuh teman perempuannya, dan ia ingin tahu benda apa itu. Di umurnya yang memang belum mengalami pubertas, perubahan lebih awal yang terjadi pada perempuan menjadi hal baru buatnya. Dan aku tak yakin gurunya di sekolah atau orangtuanya di rumah sudah membekalinya dengan pengetahuan tentang perubahan biologis-fisiologis dalam dirinya atau lawan jenis.

Saya sedang belajar ilmu Kesehatan Masyarakat, dan menyosialisasikan pendidikan mengenai seksualitas yang sehat ini cukup rumit. Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain.

Selain insiden buah dada ini, ada satu waktu dimana saat aku mengajar, aku membagi kelas menjadi dua kelompok, perempuan dan laki-laki. “Kak, nanti kalau mau main games lagi kayak gini aja ya kak, cowok sama cewek beda kelompok aja,” ujar salah satu adik. Hmm.. sepertinya yang perempuan merasa risih dengan teman-temannya yang laki-laki. Karena yang laki-laki sering berisik, atau karena insiden buah dada tak hanya sekali terjadi?

 

(KAK JONA TOLONG SOS AKU BINGUNG ENDINGNYA NGENTANG -______-)

***

Setelah membaca tulisan itu, saya teringat pada sebuah film drama komedi romantis yang menuai banyak pujian dari kritikus sepanjang 2012 : Moonrise Kingdom. Film ini bersetting waktu September-Oktober 1965 di sebuah pulau fiksi bernama New Penzance. Karakter utamanya bernama Sam Shakusky dan Suzy Bishop, keduanya berumur 12 tahun namun bersikap serta berperilaku jauh lebih dewasa dari umur mereka, sama-sama introvert, sama-sama berasal dari keluarga “yang tak sempurna”. Mereka berkenalan tahun 1964 dan tak butuh waktu lama guna menjadi sahabat pena yang intim. Menyadari satu sama lain saling memendam perasaan lebih, keduanya memutuskan kabur dari “kenyataan hidup” masing-masing, membangun hidup baru di sebuah tempat yang mereka namai Moonrise Kingdom.

Terdapat beberapa scene (yang bagi manusia tradisionalis/konvesionalis akan sangat ekstrim) dimana Sam dan Suzy mengekspresikan romantisme mereka dengan berdansa ditemani lantunan karya Francoise Hardy, french kiss, bahkan di satu kesempatan Suzy meminta Sam memegang serta merasakan pertumbuhan buah dadanya. Menjelang akhir film, anda bakal disuguhi keputusan-keputusan “ajaib” lain dari sepasang anak manusia mabuk asmara ini. Hebatnya, mereka mengambil keputusan-keputusan itu dengan penuh tanggung jawab.

Anak umur 12 tahun ngelakuin itu? Di tahun 1965? Di Indonesia aja lagi rame G30S *eh*

Mengutip pernyataan Kak Tiara,

“Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain”,

Saya menggarisbawahi keengganan sistem sosial di Indonesia untuk secara terang-terangan menerima edukasi seksualitas. Argumen seputar anak yang sesudah belajar tentang seks langsung ingin melakukan masih butuh penelitian lebih lanjut. Banyak faktor yang melatarbelakangi (dan menghambat) itu seperti kecenderungan moralitas, norma-norma keluarga, dan pemahaman penghargaan terhadap tubuh teman yang berbeda jenis. Jangan lupa pula, keinginan tak selalu berujung pada aksi. Kalaupun aksi tetap muncul, anak tersebut sudah tahu harus bagaimana, tak lagi meraba-raba dalam kegelapan, serta lebih mampu menunjukkan sikap bertanggung jawab.

SKR sedang mengusahakan edukasi seksualitas, dengan harapan lebih banyak Suzy atau Sam baru yang muncul di tengah-tengah Adik Kita. Mungkin diantara para pembaca tulisan ini terdapat orang-orang yang berpengalaman serta bersedia bekerjasama atau malah sangat kontra dengan pendekatan ini. Anda kah yang saya maksud? Bisa jadi. Namun terlepas dari beragam pandangan subjektif yang hadir, saya rasa sebagian besar dari kita dapat sepakat bahwa edukasi seksualitas mutlak diperlukan.

Yudi Dan Kesenjangan Kualitas Pendidikan

Oleh : Gigay Citta Acikgenc

Bermula dari obrolan ringan dengan Yudi di teras rumah Bu Neneng. Yudi adalah anak laki-laki yatim umur sembilan tahun, kelas 2 di SD Negeri Mahlapar—sekolah formalnya hampir seluruh anak-anak di Sekolah Kita Rumpin. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci dan tiga saudaranya. Perawakannya kurus, namun lincah. Tidak malu-malu, meski saya adalah orang baru baginya. Kebetulan Yudi tidak berada di kelas PAUD yang saya ajar. Jadi, percakapan saat itu adalah interaksi pertama saya dengannya.

Setelah berbagi sedikit tentang latar belakang keluarganya, saya iseng bertanya, “Main tebak-tebakan, yuk! Ayo, sekarang kita lagi di pulau apa?”

Sambil memainkan matanya, ia menjawab pelan, “Cibitung, kak.”

“Yakin, sekarang kita lagi di Pulau Cibitung? Bukan di Desa Cibitung?”

Yudi hanya tersenyum.

Sisa obrolan kami seolah terjadi di kelas geografi. Setelah saya klarifikasi bahwa kita sedang berada di Desa Cibitung, bukan Pulau Cibitung, saya beranjak ke anak tangga selanjutnya : di provinsi apa kita sedang berada, apa nama ibukota provinsi tersebut, apa nama ibukota Indonesia, dan apa saja lima pulau besar di Indonesia. Jawaban Yudi? Jawa Barat, Bandung, lewat, Jawa, Sumatera dan sisanya lewat. Saya kira Yudi hanya lupa. Ternyata dia memang belum tahu bahwa Jakarta—yang memakan waktu dua jam dari desanya—adalah ibukota negara beserta informasi tentang lima pulau besar di negaranya. Setelah saya beri jawaban yang tepat, ia masih menyebut Pulau Jakarta dan Kota Jawa. Asumsi saya, karena keduanya diawali oleh suku kata yang sama, Ja-, maka jawabannya kerap terbalik.

Saya pulang dengan satu kesimpulan baru : gap of knowledge yang tertulis di berita koran, terpampang di hasil penelitian, dan terucap di diskusi pendidikan maupun di rapat segelintir pejabat Kemendikbud kini punya “nama”. Ada sekumpulan subyek nyata diantara data angka statistika yang menggambarkan kualitas pembangunan yang tidak merata. Yudi adalah salah satu subyek nyata tersebut.

Sebagai pelengkap, percakapan itu terjadi pada bulan Juni. Selama Juli – Agustus saya cuti karena sedang tidak berkegiatan di Jakarta. Minggu kedua September saya kembali ke Rumpin, bertemu Yudi dan senyum lebarnya. Benar saja, seusai kelas, ia menghampiri saya, mengulurkan tangan hendak pamit pulang.

“Ayo sebutin dulu lima pulau besar di Indonesia!”

“Jawa, Sumatera, Ka…limantan, Su…lawesi, I…rian Jaya”

“Kalau ibukota Indonesia?”

“Jakarta!”

Mungkin Yudi menonton televisi dan mendengar seseorang menyebut pulau-pulau tersebut. Mungkin Yudi bertanya ke Bu Neneng ketika ia lupa apa nama ibukota kita. Yang utama, Yudi kini tahu bahwa Indonesia bukan hanya seluas desanya.

**

Status tertulis saya di Sekolah Kita Rumpin memang seorang pengajar. Namun, setelah resmi bergabung sejak akhir Oktober setahun silam, hari ini justru saya lebih merasa sebagai pembelajar. Kata kuncinya? Interaksi.

Bukan, ini bukan strategi promosi. Ini sekadar sebuah refleksi. Kecil memang, tapi saya harap bisa mencubit dengan keras.

Sindrom Rini

970997_418324068280583_1535817874_n

(perhatikan adik berkaus hitam tanpa kaca mata)

Pada kelas terakhir sebelum libur Lebaran tanggal 28 Juli silam, muncul sebuah fenomena menarik dari gabungan kelas 6 SD, SMP, serta SMK/SMA yang dipegang Kak Racil.

Seorang adik berumur 11 tahun duduk sendirian di teras mushola. Ia menolak bergabung di kelas teman-teman seusianya. Adalah Manda, salah satu fotografer relawan, yang pertama kali menemukan adik tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan kameranya, Manda berinisiatif memanggil saya.

Kak, lihat anak yang itu kan? Dia gak mau gabung.

Kenapa?

Katanya dia Kristen sendiri.

Setelah memanggil Racil sebentar, kami berdua pun berusaha membujuk si adik. Namanya Rini. Pelan-pelan ia mulai cerita bahwa hari itu pertama kalinya ia ke SKR atas ajakan temannya, Tita, yang lebih tua sekitar 2-3 tahun. Bujukan saya dan Racil nyaris sia-sia (Rini sempat mengiyakan kalau dia malu jadi satu-satunya anak yang tidak memakai jilbab di kelas seusianya) hingga akhirnya Tita dan beberapa adik SMP turut serta mengajaknya bergabung.

Di kelas yang dipimpin Racil tersebut, Rini duduk di samping Tita. Saya “terpaksa” *padahal rela banget* meninggalkan pos pendamping Kak Ana mengajari adik-adik kelas 3-5 SD atas nama penasaran. Tak butuh waktu lama mendapatkan info baru bahwa Tita adalah tetangga rumah Rini sehingga wajar Rini merasa paling nyaman bersama Tita.

Belum genap 10 menit ngobrol di sela-sela memperhatikan Racil dan adik-adik SMP/SMK bermain “Teman Baik”, Rini sudah mengeluarkan pernyataan lantang.

“Aku tahu kakak Kristen. Beda soalnya.”

*alien dong gue* *brb manggil awan kington* *apeu*

Setelah merespon pernyataannya, saya mengajukan tantangan baru.

“Kalau agama Kak Racil, tahu gak apa?” *iseng kumat di sini*

Rini menggeleng. Mendapat angin segar, saya meningkatkan level tantangan.

“Berani nanya langsung gak ke Kak Racilnya?” *iseng level Kaiju kategori 7* *ter-Pacific Rim*

Tiba-tiba, bermodal semangat Jaeger ’45, Rini bertanya dengan keras.

“Kak Racil agamanya apa?”

***

Tema besar Juli-Agustus 2013 adalah “AGAMA KITA”. Pokok tema ini adalah pensyukuran + perayaan keragaman serta penanaman pentingnya toleransi beragama. Salah satu metode ajarnya adalah meminta adik-adik menyebutkan teman mereka yang ‘beda’ (SARA, fisik, IQ, kondisi ekonomi, dll) lalu mereka dituntun memahami cognitive empathy lewat ajakan untuk “membayangkan bagaimana bila mereka menjadi teman yang ‘beda’ itu”.

Tanpa terduga, Rini hadir sebagai contoh hidup dari lingkungan keseharian mereka.

Sebagai kaum minoritas, keengganan Rini berbaur di awal menjadi konsekuensi sangat logis. Mau tak mau, ia pasti tampil mencolok. Bila ia adalah warga asli Kampung Cibitung yang terpencil dan keluarganya masih menyimpan efek trauma psikologis dari sengketa tanah yang berlarut-larut, tingkat kepercayaan dirinya bisa dibilang sangat-sangat rendah.

Trauma + minder karena orang kampung + minoritas karena lahir di keluarga Kristen.

Hattrick bencana inferior.

Sekonyong-konyong, nilai Percaya Diri serta Empati di Kurikulum Kita terasa tak pernah sepenting ini.

***

Berkaitan dengan jangkauan SKR yang telah mencapai desa-desa tetangga Kampung Cibitung, secara pribadi saya yakin masih banyak kasus bertema serupa bakal muncul di waktu-waktu mendatang. Deskripsinya sangat beragam : korban bully, karakter introvert akut, lokasi geografis tempat tinggal paling jauh, dll. Hal-hal ini berpotensi membuat anak-anak yang mengalaminya merasakan keminoritasan yang juga dialami Rini, bahkan tak menutup kemungkinan respon yang mereka tunjukkan jauh lebih defensif dari apa yang telah diekspresikan Rini.

Lambat laun inferioritas tak lagi menjadi milik eksklusif dari anak-anak non-Muslim atau non-Sunda di sana. Efek negatifnya bakal menyebar cepat seperti virus, apalagi dalam pikiran anak-anak yang masih gampang sekali tercemar. Alasan-alasan meminoritaskan seseorang bakal berkembang biak, termasuk dari pengetahuan-pengetahuan baru yang diajarkan oleh Kakak Kita setiap minggu.

Pengetahuan baru selalu punya dua wajah. Terkadang wajah yang diremehkan mampu meremukkan wajah yang diagungkan.

Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi perkembangan SKR, khususnya bagi kakak-kakak pengajar. Satu lagi prioritas penting telah dibukakan demi mewujudkan kemandirian Kampung Cibitung, Rumpin, di tahun 2018. Aspek kemandirian dalam konteks kasus demikian bersifat vital sebab menyangkut kedewasaan serta kekuatan mental. Bila digugah sejak dini, aspek kemandirian tersebut bakal menjadi nilai krusial bagi peningkatan kualitas hidup oknum bersangkutan.

Mari kita sambut adik-adik penderita “Sindrom Rini” selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang. Entah di Rumpin, entah di tempat lain. Entah sekarang, entah 5 atau 10 tahun lagi.