Sindrom Rini

970997_418324068280583_1535817874_n

(perhatikan adik berkaus hitam tanpa kaca mata)

Pada kelas terakhir sebelum libur Lebaran tanggal 28 Juli silam, muncul sebuah fenomena menarik dari gabungan kelas 6 SD, SMP, serta SMK/SMA yang dipegang Kak Racil.

Seorang adik berumur 11 tahun duduk sendirian di teras mushola. Ia menolak bergabung di kelas teman-teman seusianya. Adalah Manda, salah satu fotografer relawan, yang pertama kali menemukan adik tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan kameranya, Manda berinisiatif memanggil saya.

Kak, lihat anak yang itu kan? Dia gak mau gabung.

Kenapa?

Katanya dia Kristen sendiri.

Setelah memanggil Racil sebentar, kami berdua pun berusaha membujuk si adik. Namanya Rini. Pelan-pelan ia mulai cerita bahwa hari itu pertama kalinya ia ke SKR atas ajakan temannya, Tita, yang lebih tua sekitar 2-3 tahun. Bujukan saya dan Racil nyaris sia-sia (Rini sempat mengiyakan kalau dia malu jadi satu-satunya anak yang tidak memakai jilbab di kelas seusianya) hingga akhirnya Tita dan beberapa adik SMP turut serta mengajaknya bergabung.

Di kelas yang dipimpin Racil tersebut, Rini duduk di samping Tita. Saya “terpaksa” *padahal rela banget* meninggalkan pos pendamping Kak Ana mengajari adik-adik kelas 3-5 SD atas nama penasaran. Tak butuh waktu lama mendapatkan info baru bahwa Tita adalah tetangga rumah Rini sehingga wajar Rini merasa paling nyaman bersama Tita.

Belum genap 10 menit ngobrol di sela-sela memperhatikan Racil dan adik-adik SMP/SMK bermain “Teman Baik”, Rini sudah mengeluarkan pernyataan lantang.

“Aku tahu kakak Kristen. Beda soalnya.”

*alien dong gue* *brb manggil awan kington* *apeu*

Setelah merespon pernyataannya, saya mengajukan tantangan baru.

“Kalau agama Kak Racil, tahu gak apa?” *iseng kumat di sini*

Rini menggeleng. Mendapat angin segar, saya meningkatkan level tantangan.

“Berani nanya langsung gak ke Kak Racilnya?” *iseng level Kaiju kategori 7* *ter-Pacific Rim*

Tiba-tiba, bermodal semangat Jaeger ’45, Rini bertanya dengan keras.

“Kak Racil agamanya apa?”

***

Tema besar Juli-Agustus 2013 adalah “AGAMA KITA”. Pokok tema ini adalah pensyukuran + perayaan keragaman serta penanaman pentingnya toleransi beragama. Salah satu metode ajarnya adalah meminta adik-adik menyebutkan teman mereka yang ‘beda’ (SARA, fisik, IQ, kondisi ekonomi, dll) lalu mereka dituntun memahami cognitive empathy lewat ajakan untuk “membayangkan bagaimana bila mereka menjadi teman yang ‘beda’ itu”.

Tanpa terduga, Rini hadir sebagai contoh hidup dari lingkungan keseharian mereka.

Sebagai kaum minoritas, keengganan Rini berbaur di awal menjadi konsekuensi sangat logis. Mau tak mau, ia pasti tampil mencolok. Bila ia adalah warga asli Kampung Cibitung yang terpencil dan keluarganya masih menyimpan efek trauma psikologis dari sengketa tanah yang berlarut-larut, tingkat kepercayaan dirinya bisa dibilang sangat-sangat rendah.

Trauma + minder karena orang kampung + minoritas karena lahir di keluarga Kristen.

Hattrick bencana inferior.

Sekonyong-konyong, nilai Percaya Diri serta Empati di Kurikulum Kita terasa tak pernah sepenting ini.

***

Berkaitan dengan jangkauan SKR yang telah mencapai desa-desa tetangga Kampung Cibitung, secara pribadi saya yakin masih banyak kasus bertema serupa bakal muncul di waktu-waktu mendatang. Deskripsinya sangat beragam : korban bully, karakter introvert akut, lokasi geografis tempat tinggal paling jauh, dll. Hal-hal ini berpotensi membuat anak-anak yang mengalaminya merasakan keminoritasan yang juga dialami Rini, bahkan tak menutup kemungkinan respon yang mereka tunjukkan jauh lebih defensif dari apa yang telah diekspresikan Rini.

Lambat laun inferioritas tak lagi menjadi milik eksklusif dari anak-anak non-Muslim atau non-Sunda di sana. Efek negatifnya bakal menyebar cepat seperti virus, apalagi dalam pikiran anak-anak yang masih gampang sekali tercemar. Alasan-alasan meminoritaskan seseorang bakal berkembang biak, termasuk dari pengetahuan-pengetahuan baru yang diajarkan oleh Kakak Kita setiap minggu.

Pengetahuan baru selalu punya dua wajah. Terkadang wajah yang diremehkan mampu meremukkan wajah yang diagungkan.

Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi perkembangan SKR, khususnya bagi kakak-kakak pengajar. Satu lagi prioritas penting telah dibukakan demi mewujudkan kemandirian Kampung Cibitung, Rumpin, di tahun 2018. Aspek kemandirian dalam konteks kasus demikian bersifat vital sebab menyangkut kedewasaan serta kekuatan mental. Bila digugah sejak dini, aspek kemandirian tersebut bakal menjadi nilai krusial bagi peningkatan kualitas hidup oknum bersangkutan.

Mari kita sambut adik-adik penderita “Sindrom Rini” selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang. Entah di Rumpin, entah di tempat lain. Entah sekarang, entah 5 atau 10 tahun lagi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>