Sekolah Kita: Ashoka Young Changemaker

Ubud

Perjalanan Ubud – Airport Ngurah Rai biasanya memakan waktu 1,5 jam paling lama. Anehnya, kali ini, di atas motor Pak Made, bapak kosanku, perjalanan terasa begitu lama. Entah, mungkin perasaan saja karena sepanjang jalan aku mendengarkan Dinah Washington.

Setelah sampai di airport, ternyata betul lama. Sehingga aku sampai mepet sekali dengan jadwal check in. Sesampainya di counter, antre sudah panjang. Aku berusaha memberi bli-bli yang mengurus bagian check in eye contact. Pesawatku pk. 20.30, pk. 19.45 aku masih antre di belakang bapak-bapak yang juga tak kunjung dilayani. Ah, pikirku. Mampus.

Akhirnya aku bilang ke bapak-bapak di depanku, “Permisi pak, boleh saya duluan? Pesawat saya jam 8.30.”

Bapaknya dengan tersenyum bilang, “Oh ya silakan, dek. Mbak tolong ya ini pesawatnya akan segera berangkat.”

Si mbak-mbak di counter menatapku dengan muka ketus. Tanpa senyum, lipstick sudah mulai pudar, tanpa salam, dia langsung mencoret tiketku dan bilang, “Maaf ya mbak, sudah tidak bisa naik pesawat. Mbak telat check in.” Sungguh sial. Rasanya mau protes pun sudah tidak ada tenaga. Bapak-bapak yang aku salip tadi berusaha membelaku. Justru dia yang sibuk adu mulut dengan penjaga counter. Pikiranku sudah berjalan jauh, harus segera beli tiket baru.

Akhirnya, dengan mengocek kantong uangku lagi, aku dapat penerbangan selanjutnya, pk. 22.30. Malam memang, tapi apa daya, ga mungkin keberangkatan ini ditunda. Besok pagi, aku harus presentasi tentang Sekolah Kita untuk seleksi Ashoka Young Changemaker.

Singkat cerita, aku akhirnya sampai juga di bandara Soetta, aku berlari menuju halte Damri. Menunggu di halte Damri tengah malam ternyata banyak kejadian aneh-aneh ya haha. Banyak sekali mas-mas nawarin ini itu, hahaha tapi aku tetap setia menunggu bus. Cepat datang, aku terus berharap. Semakin malam, semakin susah dapat angkot di Bekasi nih soalnya.

Tiba-tiba ada bapak-bapak di sebelahku, dia bertanya, “Mau ke mana, de?” “Bekasi, pak. Kampung Rambutan” “Oh sama.”

“Loh kamu yang tadi ditolak pas check in kan?”

Ternyata dia adalah bapak-bapak yang aku salip sebelumnya! Haha. Akhirnya kami mengobrol sambil menunggu bus datang. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, sesekali dia memberi nasihat. “Kamu mengingatkan saya dengan anak saya.” Awalnya aku sempet deg-degan, kalimat ini tipikal om-om jahat ga sih? Haha tapi aku tepis jauh-jauh pikiran itu. Lagian, bapak ini sepertinya ramah dan baik. (mudah terbeli)

Selama perjalanan menuju Kampung Rambutan, ia terus memberi nasihat, “Saya ngerti kamu pekerja LSM yang sering ke sana dan ke sini. Tapi ingat, kamu itu perempuan. Perempuan jalan sendiri di tengah malam seperti ini, nanti di Kampung Rambutan pula, itu berbahaya dek. Kamu harus tau rasanya orang tua kalau tau anak perempuannya jalan sendiri seperti kamu. Hati-hati ya kamu.”

Sempat tersedak juga dengar kata-katanya. Mungkin ini doa Ibu dan Bapaku yang sampai kepadaku melalui seorang yang tidak kukenal. Entahlah, tapi aku tetap mendengarkan si bapak ini dengan setia. Sepertinya dia benar-benar orang baik.

Saatnya bayar Bus Damri. Kebetulan uangku 100 ribu, kata bapaknya, “Sudah, sama saya saja.” Lalu dia membayar. Aku berulang-ulang menolak, tapi bapak itu malah seperti tidak mengacuhkan aku ketika aku berusaha menolak. Percakapan akhirnya berlanjut, biaya Bus Damri tidak pernah terungkit lagi.

Sebelum turun, bapak itu bilang, “Kamu jangan naik angkot jam segini. Sudah tidak ada. Mending kamu naik taksi, kalau ga express, ya bluebird. Jangan yang lain.” Sebenernya aku agak geli dengernya, sebegitu pedulinya ya si bapak ini. Dengan perasaan bingung, aku turun dari bus.

Bapak itu menemani aku sampai aku dapat taksi. Sebelum aku masuk taksi, bapak itu sempat bilang ke supir taksi seperti ini, “Pak, ini anak saya. Titip ya. Antarkan dia ke Rumah Perubahan, Ashoka. Tau kan Pak di mana?” Pak supir taksi mengiyakan. Lalu bapak menyelipkan 50 ribu ke tanganku, “Ini kamu pakai bayar taksi.” Aku jelas menolak. “Pak, ga usah. Beneran. Ga perlu.” Bapak ini tau ga ya aku ini udah 22 tahun? Sempet aku bertanya dalam hati. Masih bingung gimana cara nolak dengan baik.

“Udah kamu pake, dan jangan lama-lama. Sudah malam. Hati-hati ya.”

Lalu kami berpisah.

Sampai saat ini, aku tidak pernah tahu nama bapak itu siapa.

Image

Keesokan harinya adalah seleksi panel Ashoka Young Changemaker di Rumah Perubahan. Sekolah Kita mendapat giliran ke 4. Sebetulnya, pada saat pertama kali kami dihubungi oleh Ashoka Indonesia melalui email, kami kaget bukan kepalang. Aku dan Ana teriak-teriak (jarak jauh tentunya, Ana di Jakarta dan aku di Ubud) saking kegirangannya. Bukan girang saja, tapi juga kaget. Dari mana orang bisa tahu tentang Sekolah Kita? Walau kegiatan sudah berjalan dari awal tahun, baru launching website baru-baru ini.

Pada saat seleksi panel, banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh para panelis yang terdiri dari tokoh-tokoh pengembangan masyarakat. Ada keinginan yang besar dari para panelis untuk mereplikasi model kurikulum Rumpin. Pada saat itu aku menjawab bahwa kami belum siap untuk replikasi. Berbicara tentang pendidikan itu kompleks. Ia bukan sesuatu yang instan. Kurikulum Rumpin dibuat khusus untuk anak-anak Rumpin dan bahkan, masih bisa dikembangan seiring kita berjalan. Aku punya prinsip seperti ini, bahwa suksesnya kegiatan sosial itu tidak harus bergantung pada kuantitas. Merubah hidup satu orang saja itu sudah sangat berarti. Tak perlu kita selalu berambisi untuk merubah hidup masyarakat se-Indonesia kalau perubahan itu hanya di atas permukaan saja.

Selain pertanyaan-pertanyaan tentang kurikulum, pertanyaan mengenai konflik tanah dan TNI juga muncul. Jujur, di sinilah alasan kenapa Sekolah Kita tidak ingin gembar gembor ke media untuk mendapatkan pengakuan. Isu sengketa tanah itu sensitif, terutama apabila bergesrekan dengan aparat Negara. Yang kami inginkan adalah mengembangkan adik-adik di Rumpin, bukan membuat masyarakat Rumpin terus konflik dengan TNI. Justru, dengan warga yang lebih cerdas dan berwawasan luas, aku berharap akan menjadi modal resolusi konflik di masa depan. Menempatkan masyarakat Rumpin di posisi yang tidak selalu dirugikan dan juga tidak melandaskan aksinya pada kekerasan.

Namun, diskusi yang cukup panas di ruang panelis diakhiri dengan dua pertanyaan yang membuat hatiku terenyuh. Hampir aku dibuat menangis di dalam ruangan. Mengakhiri sesi tanya jawab, dua panelis bertanya kepadaku, “Boleh saya jadi kakak relawan di Sekolah Kita?”

Aku kehabisan kata-kata.

-

Kalau ditanya apakah aku grogi mempresentasikan Sekolah Kita, jujur tidak. Aku selalu merasa kegiatan yang kami lakukan sepenuhnya adalah sebuah ketulusan untuk berbagi saja. Kesempatan untuk presentasi di depan panelis Ashoka menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan Sekolah Kita ke depannya, terlepas kami diterima atau ditolak.

Inisiatif yang baik adalah inisiatif yang bergerak atas dasar nurani, bukan penghargaan atau pujian. Maka dari itu, aku tanamkan baik-baik dalam pikiranku sebelum masuk ruang seleksi bahwa semua yang akan terjadi hari itu, memang yang terbaik untuk Sekolah Kita. Lolos atau tidak, itu memang bagian dari perjalanan hidup.

Tak disangka, pada saat pengumuman, diumumkanlah Sekolah Kita lolos seleksi Ashoka Young Changemaker!

ashokaycm

Langsung aku buru-buru kasitau Ana tentang kabar baik itu. Dari Rumah Perubahan di Bekasi aku segera menuju KontraS untuk ketemu Ana dan cerita lebih banyak tentang seleksi panel tadi. Seketemunya dengan Ana kami langsung berpelukan saling memberi selamat. :D

Dari awal, pilihanku untuk bergabung dengan Sekolah Kita adalah karena Ana. Aku merasa tertampar dengan pribadinya, semangatnya, ketulusannya. Ana itu adalah perempuan yang luar biasa. Jujur, belum pernah aku melihat orang dengan tujuan dan daya juang setinggi Ana. Setiap minggu, ketika Sekolah Kita belum punya kakak relawan seperti sekarang, Ana pergi sendiri ke Rumpin, atau terkadang ditemani satu teman atau dua, bergantung pada mood mereka. Jauhnya perjalanan ia selalu tempuh, penuh komitmen, penuh semangat, tanpa mengeluh sedikitpun.

Ana tidak pernah pamer di twitter, atau di facebook tentang jauhnya perjalanan, atau serunya kegiatan di Rumpin, ia hanya kadang bercerita sesekali di jam-jam istirahat di kantor. Atau terkadang lewat telepon.

Dedikasi dan ketulusan yang murni inilah yang membuat aku luluh juga sekaligus tertampar begitu keras. Begitu banyak aku kenal teman-teman yang juga ingin merubah dunia, bahkan Indonesia, tapi mereka begitu sombong, begitu mengumbar-umbar, begitu pamer. Mungkin, aku juga seperti itu.

Maka haruslah aku belajar dari Ana. Aku belajar dari dan bersama Sekolah Kita. Tentang kesederhanaan, tentang kerja sama, tentang indahnya berbagi tanpa mengharapkan pujian sebagai kembali. Sekolah Kita terus menjadi pengingat buatku tentang perjuangan-perjuangan yang tak perlu pengakuan untuk merasa berguna. Sekolah Kita mengingatkan aku untuk selalu berbagi ilmu dan pengetahuan yang kita miliki kepada teman-teman kita dan tak lagi beri ruang untuk jadi orang yang pelit ilmu atau ingin pintar sendiri.

Penghargaan bergabungnya Sekolah Kita dengan Ashoka Young Changemaker sesungguhnya adalah penghargaan untuk Ana, adik-adik Rumpin, Ibu Neneng, dan semua kakak-kakak keluarga kita. Tugasku di Sekolah Kita hanya untuk membantu. Selayaknya setiap manusia terlahir di dunia ini, adalah untuk saling membantu.

Image

dan juga saling membahagiakan.

Namun aku berharap, penghargaan ini bukan menjadi alasan untuk kita menjadi besar hati dan sombong diri, justru seharusnya menjadi semangat yang terus mengingatkan bahwa apa yang kita kerjakan bersama di Rumpin menurut para ahli adalah sebuah kegiatan yang membahagiakan dan inspiratif. Dengan apresiasi seperti ini, kita harus lebih semangat menjalani perjalanan jauh setiap minggunya, lebih serius mempersiapkan materi kelas sebelum mengajar, dan lebih terpacu untuk terus mengembangkan Sekolah Kita.

Sebab semua ini sejujurnya tidak hanya untuk adik-adik di Rumpin, namun juga untuk kita semua yang tergabung dalam Sekolah Kita.

Perjalanan masih panjang. Perjalanan justru baru kita mulai.

Tetap semangat kakak-kakak. Bel sudah berbunyi, saatnya kita masuk kelas untuk belajar bersama di Sekolah Kita.

Salam,

Image

Kakak Kurikulum
Rara Sekar Larasati

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>