Sebab Setiap Tempat Adalah Sekolah

Image

Sebab setiap tempat adalah sekolah, dan belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja. Mushala sempit dan pengap di tengah kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, setiap akhir pekan disulap jadi kelas.

Anak-anak kecil serta merta mengerubung. Sebagian ditemani ibunya, sebagian datang sendiri jalan kaki. Di sana, di kelas dadakan itu mereka berkumpul untuk belajar tentang apa saja, di “Sekolah Kita” namanya.

Barangsiapa hirau akan masalah sengketa tanah mungkin pernah mendengar nama Rumpin. Di sana rumah warga kampung berbatasan langsung dengan tanah tentara Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah. Timbullah sengketa.

Beberapa kali gesekan meruncing, bahkan ada yang berujung bentrok. Seolah tak ada pilihan, anak-anak Rumpin harus terima hidup bersandingan dengan sengketa dan konflik dengan tentara. “Kami tak tahu kapan sengketa akan selesai, mungkin sampai anak-anak kami besar konflik masih ada,” kata Ibu Neneng kepala “Sekolah Kita”.

Kampung Cibitung letaknya memang tak seberapa jauh dari pusat kota. Tapi jalan ke sana tak beraspal. Mendapat air juga tak cukup dengan memutar kran saja, mesti menimba. Bayangkanlah sebuah desa, dikelilingi sawah tak seberapa luas, jalan di mana-mana tanah. Kambing, kerbau, ayam, bebas seliweran. Anak-anak kecil Rumpin ramai lari-lari atau main sepeda, jauh dari hingar bingar game Playstation dan Blackberry. Di sana lah “Sekolah Kita” berada.

Sekolah Kita tentu beda dengan sekolah formal biasa. Di sini tak ada kewajiban bagi pengajar membuat anak semakin pintar dan paham pelajaran sekolah di luar kepala. Tapi, lebih dari itu, siapapun pengajar di Sekolah Kita wajib membuat peserta kelas bisa tertawa lepas dan gembira. Meski kadang ada satu dua anak nangis karena ibunya tak tampak mata.

Wajib juga membuat anak-anak yang tumbuh di pusaran sengketa menjadi seorang pemberani yang percaya diri. Pengajar juga wajib membuat mereka menjadi anak kecil yang perasa, berempati pada teman atau keluarga di sebelahnya. Dan terakhir, membuat anak-anak biasa bekerja bersama-sama. Caranya bagaimana? Mari pikirkan bersama.

Sekolah kita mengajak teman-teman untuk ikut bergabung menjadi pengajar. Mau jadi pengajar tetap atau berkala terserah pada pilihan teman-teman. Saat ini Sekolah Kita kekurangan pengajar tetap. Jumlahnya hanya ada tiga atau empat saja. Pengajar sukarela juga tak seberapa.

Sebab kami percaya anak-anak adalah generasi penerus. Dan ilmu yang kita punya akan ada manfaat hanya jika dibagi. Mari kami ajak anda untuk turut serta bermain dan bergembira bersama di Sekolah Kita.

Salam,

Sekolah Kita

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>