Perjalanan “Bertema” di Sekolah Kita

Perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Selain berangkat sendiri karena kakak-kakak yang lain masih belum bisa bangun pagi, aku mengawali hari itu dengan penuh semangat. Karena di akhir bulan kemarin, aku menutup tema belajar dwi bulanan “KEBUN KITA” dengan berkarya. Ya, hari itu adalah Minggu, 24 Februari 2013. Tak terasa perjalanan naik kopaja hingga naik angkot jurusan Cicangkal sudah kulalui dan jarum jam menunjuk pada angka 9. Wah masih pagi! Hehehe. Di dalam angkot, aku sendiri.

Berawal dari iseng menanyakan kondisi banyaknya perumahan yang dibangun di sekitar jalanan menuju Rumpin kepada bapak sopir, aku mendapatkan banyak hal yang tak kusangka.

Pak Sopir : “bagi saya bukan malah menguntungkan, tetapi kami sebagai warga yang rumahnya dekat dengan komplek perumahan tersebut sekarang terancam digusur. Mereka tidak melihat bagaimana kami tinggal, bagaimana kami akan hidup berdampingan dengan mereka, karena yang penting buat para pembuat perumahan ini adalah uang.”

Tanpa disadari kami ngobrol panjang lebar perihal bagaimana para pemilik modal akan membangun berbagai rumah hunian bagi mereka yang kelas ekonominya menengah ke atas. Posisi bangunan yang timpang dengan hunian warga asli membuat warga yang sudah lebih awal tinggal di daerah itu terancam. Walaupun belum terjadi penggusuran, tapi kemungkinan pembelian tanah mereka oleh pihak kontraktor dengan harga yang sangat murah bisa terjadi.

Tak sadar aku pun sudah sampai di komplek Suradita, perumahan yang pasti aku lewati ketika melakukan perjalanan ke Rumpin. Dalam perjalanan menuju Sekolah Kita, aku berpikir bahwa apa yang dialami pak sopir tidak jauh berbeda dengan warga Rumpin yang masih terancam oleh pihak “penguasa water training”. Aku dan tim Sekolah Kita tidak bisa menjamin bahwa tanah warga Rumpin bisa lolos dari sengketa. Kami hanya bisa berupaya menyiapkan anak-anak yang percaya diri dan mampu tampil di depan umum membela keluarga serta daerahnya.

Tak terasa kami melakukan kegiatan ini sudah hampir setahun. Menakjubkan! Dari mulai sendiri, bertiga, sampai akhirnya tim Sekolah Kita lebih dari 15 orang. Perjalanan ini tidak pernah mudah. Komunikasi yang terbatas antara kakak-kakak dan adik-adik dikarenakan pertemuan hanya seminggu sekali membuat proses kegiatan kita masih terhitung lambat. Tapi aku sangat senang ketika kemarin menutup tema Kebun Kita dengan membuat karya yang menurutku tidak biasa. Mereka yang awalnya terpatok pada hal-hal yang gambar atau karyanya sebatas yang mereka lihat tetapi kemarin mereka membuat lebih dari itu. Imajinatif, penuh warna, sambil memanfaatkan kertas, bahkan ada yang membuat tempat sampah dari ember miliknya bu Neneng yang sudah usang. Hehe.

Sebagai Kakak Pengelola Sekolah Kita, aku hanya berharap bahwa tidak hanya aku saja, melainkan seluruh warga Rumpin bersedia bekerja sama. Itu yang terpenting. Dengan begitu mereka mampu mandiri membangun kampungnya sendiri. Terima kasih pula kepada kakak-kakak yang masih setia terlibat. Juga pada adik-adik yang selalu menanti kedatangan kita sehingga semangat itu terus ada, walaupun aku harus berangkat dari Bandung dengan waktu yang sangat terbatas.

Minggu, 3 Maret 2013, aku dan tim kakak Sekolah Kita mengadakan rapat bersama orang tua Adik Kita di mushalla tempat belajar. Sangat mengharukan dan tersipu melihat antusiasme mereka mengikuti rapat tersebut dan mendukung kegiatan ini. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung. Sebagai penutup, kita sekarang punya kebun, karena bibit yang ditanam itu sudah tumbuh loh!

,,,,,,

 

 

 

 

 

 

Salam,
Ana Si Kakak Pengelola yang Imut

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>