Mini Workshop Sekolah Kita Rumpin

Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?

Ditulis oleh Kak Yasmine

image02

Pada hari Sabtu, 6 September 2014, tim riset dari Sekolah Kita Rumpin telah mengadakan mini workshop bertema “Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?” yang ditujukan bagi seluruh kakak pengajar dari SKR. Mini workshop diselenggarakan di salah satu studio di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Acara ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan para kakak pengajar mengenai metode ajar yang kreatif bagi para adik-adik kita. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi 1 mengenai “Learning through Play” dan sesi 2 mengenai “Metode Mengajar Kreatif yang Efektif”

Di sesi 1, sepasang suami istri, pencetus dari adanya permainan boardgame SMAKIIN BERDETAK yaitu Ibu Julie Tane dan Bapak Philip Triatna hadir sebagai narasumber. Keduanya berbagi kepada para kakak pengajar mengenai penggunaan media permainan untuk pembelajaran karakter bagi anak bangsa. Pasangan tersebut memiliki misi untuk membangun karakter positif dengan cara yang kreatif. Ibu Julie dan Pak Philip berkata, “tidak semua orang itu sistematis, tidak semua orang pintar ngajar. Anak juga dapat informasi dari berbagai sumber seperti orang tua, guru, dan media.” Maka dari itu, sebagai pengajar, dibutuhkan metode yang kreatif dalam mengajar agar dapat menarik perhatian anak dan anak dapat lebih menangkap materi ajar. Pembelajaran melalui media permainan, salah satunya dengan board games dapat dimanfaatkan untuk membantu proses belajar pada anak.

Menurut bu Julie dan pak Philip, bermain adalah kegiatan yang dapat diterima oleh banyak kalangan. Dengan bermain, anak tidak akan merasa dicekoki untuk belajar, tetapi mereka akan menikmatinya dan secara tidak langsung mendapatkan pelajaran dari permainan yang dilakukan. Pak Philip mengutip apa yang dikatakan oleh Plato, yaitu “Kalau mau mengajarkan orang dengan kata-kata perlu bertahun-tahun, tetapi kalau dengan bermain hanya butuh beberapa jam”. Dengan menggunakan metode bermain, terutama melalui media board game, anak-anak tidak akan merasa digurui, tetapi dapat belajar bersama. Adanya kebersamaan merupakan tujuan utama dari board game sehingga anak dapat saling mengajari dan mendapatkan pelajaran dari permainan tersebut. Dari sesi tanya jawab dengan Ibu Julie dan Pak Philip, para pengajar pun mendapatkan pengetahuan bahwa dalam proses belajar, mereka dapat menggunakan adanya kekuatan alat permainan. Dengan menciptakan sebuah alat permainan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, dapat membantu pengajar untuk menyampaikan materi pengajaran.

image00

 

 Selanjutnya, sesi dua mini workshop diisi oleh salah satu pengajar di Rumah Belajar Semi Palar, Bandung, Kak Wienny Siska Rahmawati. Di sesi 2, Kak Wienny berbagi pengalaman mengenai proses pengajaran di sekolah yang metode ajarnya menggunakan metode tematik. Proses belajarnya tidak sama dengan sekolah-sekolah konvensional yang ada. Kak Wienny berbagi cara mengenai pengajaran anak dengan menggunakan tema-tema besar yang kreatif dan imajinatif. Berdasarkan pengalaman Kak Wienny, terdapat beberapa poin penting untuk menjadi pengajar yang kreatif dan efektif bagi anak-anak. Berikut ini beberapa tips dari Kak Wienny:

  • Lepaskan jati diri sebagai orang dewasa yang merasa sudah tahu segala hal. Bukalah mata hati dan pikiran bahwa kita pun bisa belajar dari anak-anak.
  • Mengajarlah dengan keadaan hati yang positif karena energi yang ada pada diri kita akan sampai pada anak-anak. Dengan begitu, anak pun dapat menjadi lebih positif.

Menjadi contoh bagi anak. Jika kita ingin mengajarkan suatu kebiasaan baik pada anak, kita pun harus menjadi seperti itu terlebih dahulu.

  • Kenali karakter anak!
  • Bangun rasa percaya anak kepada kita. Itu adalah yang utama. Dengan adanya kepercayaan, anak akan menjadi lebih terbuka dan kita pun akan lebih bisa mengenali kebutuhan anak.
  • Ketika mengajar, carilah hal-hal yang lekat dengan kehidupan anak. Itu akan mempermudah anak untuk paham.

Selain itu, Kak Wienny pun memberikan saran kepada kakak pengajar mengenai penyusunan metode ajar yang kreatif. Seperti yang kak Wienny katakan, ketika membuat materi ajar, jangan batasi pikiran kita dan berpikirlah yang luas. Eksplor pikiranmu sendiri. Jika suda menemukan tema besar yang akan digunakan, eksplor mengenai topik tersebut dan tuliskan dalam bentuk mind map. Setelah itu, pengajar bisa menentukan bagian alur manakah yang tepat diberikan oleh anak-anak di usia, PAUD, SD, dan di atas SMP.

Itulah sekiranya materi yang didapat oleh para kakak pengajar di mini workshop yang diselenggarakan oleh tim riset Sekolah Kita Rumpin. Semoga para kakak pengajar bisa menciptakan materi ajar yang semakin kreatif dan efektif dan adik-adik kita semakin terpacu untuk belajar!

image01

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>