Sekolah Kita Rumpin berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya karena kita mengedepankan pengajaran nilai dalam setiap materi ajar yang kami sampaikan di kelas. Materi ajar yang dibuat oleh para kakak pengajar harus sejalan dengan empat tujuan utama kurikulum

  1. Membangunkan empati dalam diri anak dan kakak pengajar
  2. Meningkatkan rasa percaya diri dalam anak dan kakak pengajar
  3. Menumbuhkan rasa ingin tahu anak dan kakak pengajar
  4. Menciptakan anak-anak dan kakak-kakak yang kreatif

piramida sekolah kita
1. Meningkatkan rasa percaya diri pada anak
Mengapa penting?

Keadaan sosio-ekonomi di perkampungan seringkali membuat anak-anak menjadi kurang percaya diri dan malu ketika bertemu dengan orang baru. Hanya sedikit dari anak-anak di Rumpin yang sering keluar dari kampung Cibitung, kebanyakan mereka hanya menetap di sana tanpa tahu dunia di luar Rumpin seperti apa. Belum lagi, anak-anak di Rumpin adalah korban sengketa tanah yang hingga saat ini tak kunjung selesai.

Hal ini telah meninggalkan trauma dan keadaan ekonomi yang jauh dari mencukupi untuk mereka. Rasa percaya diri sangatlah penting untuk ditumbuhkembangkan sejak dini. Rasa percaya diri lahir dari apresiasi atas diri kita sendiri. Hal ini penting, karena bagaimana kita bisa mengapresiasi orang lain ketika kita tidak bisa mengapresiasi diri kita sendiri?

Bagaimana caranya?

Metode yang digunakan tidak kompleks, bahkan sangat simpel. Pada dasarnya di Sekolah Kita mengaplikasi dua metode dasar: partisipasi aktif dan appreciative inquiry. Partisipasi aktif dilakukan melalui permainan, pengajaran, dan kegiatan yang melibatkan anak secara aktif, di mana mereka diajari untuk tampil di depan kelas sehingga perlahan terbiasa untuk tampil tanpa rasa malu. Metode ini bertujuan untuk melahirkan suatu keberanian dalam diri anak. Apabila anak berani, terutama dengan didukung motivasi dan semangat dari kakak pengajar dan teman-temannya, ia akan percaya diri.

Kedua, adalah appreciative inquiry. Metode baru ini mengedepankan pentingnya apresiasi dalam suatu hubungan. Seringkali kita diberitahu bahwa menjadi kritis itu sulit, dan memuji dan mengapresiasi orang lain itu mudah. Kita temukan hal sebaliknya. Memuji dan mengapresiasi adalah bukan hal yang mudah. Namun, dampak yang bisa terjadi pada anak ketika ia diapresiasi dan mulai terbiasa mengapresiasi sejak dini adalah besar. Ia akan tumbuh menjadi anak dengan pola pikir yang positif, solutif dan apresiatif.

Di Sekolah Kita Rumpin, kami mengaplikasikannya dalam Pekan Apresiasi dan amplop-amplop apresiasi.

 2.     Meningkatkan rasa keingintahuan dalam anak

Mengapa penting?

Curiosity, atau rasa keingintahuan itu sudah semestinya tumbuh sejak dini. Dengan rasa keingintahuan yang tinggi, anak akan ingin selalu belajar tanpa harus dipaksa oleh guru, orang tua, dan tidak mudah dibodohi dan ditipu oleh informasi yang sesat. Ia tidak akan menerima segala yang diberikan dunia padanya, tapi dia akan bertanya. Mencari tahu penjelasan di balik setiap fenomena yang terjadi di dunia. Rasa keingintahuan paling tepat ditumbuhkembangkan sejak kecil pada anak-anak. Di masa kecil, anak-anak adalah makhluk paling jujur yang pernah kita temui. Segala yang mereka temukan adalah hal baru, yang belum terikat dan terlapisi oleh prasangka dan kepentingan.

Dalam hal ini, kita berharap anak-anak di Sekolah Kita akan bertumbuh menjadi anak-anak yang selalu ingin tahu. Sehingga, walaupun mereka tidak bisa kita jamin akan kelanjutan pendidikan mereka setelah SMA, tapi mereka akan menjadi anak yang selalu ingin tahu dan ingin belajar. Harapannya, mereka bisa mengadvokasi masyarakat Rumpin dengan modal rasa ingin tahu yang kuat dan semangat yang tidak padam untuk menjunjung keadilan.

Bagaimana caranya?

Bertanya, bertanya, dan bertanya. Kakak pengajar diharapkan dalam sesi ini terus bertanya, dan melemparkan pertanyaan stimulus agar anak terus bertanya. Pertanyaan-pertanyaan ini akan menumbuhkan pertanyaan baru, hingga suatu saat, anak-anak akan menemukan jawabannya sendiri atas pertanyaan tersebut. Kakak pengajar tidak boleh terlalu menjuruskan anak-anak kepada jawaban tertentu, agar proses self-discovery dapat terjadi dengan baik pada anak dalam proses belajar-mengajar di kelas.

3.     Meningkatkan kreativitas anak

Mengapa penting?

Imajinasi yang bebas dan tidak terbatas yang bisa menumbuhkan ide-ide orisinil adalah kreativitas yang kita maksudkan di sini. Kita ingin anak-anak mengeksplor kedalaman imajinasi dan tidak membatasi ruang ekspresi dan kreasi mereka. Menjadi kreatif juga berarti kritis terhadap suatu persoalan. Kritis terhadap diri sendiri dan mencoba mencari sebuah solusi terbaik dengan menggunakan kekuatan imajinasi dan ide. Kreativitas adalah suatu komponen krusial bagi anak untuk dapat melihat dunia dari perspektif yang baru, menjadi pemecah masalah dalam kehidupannya sendiri, juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan masyarakatnya.

Bagaimana caranya?

Kreativitas hanya bisa lahir ketika ruang untuk berkreasi dan berekspresi itu ada, sehingga Sekolah Kita akan hadir menjadi ruang itu. Permainan, kegiatan dan pembelajaran yang mengedepankan imajinasi, seni, dan ide akan selalu mengisi sesi kelas Sekolah Kita. Hal yang terpenting dalam pencapaian ini adalah tidak membatasi antara salah dan benar. Dalam dunia imajinasi dan ide, yang terbaik adalah bagaimana anak bisa mempresentasikan dan mengkritisi karyanya juga karya teman-temannya, untuk bisa terus menumbuhkan karya-karya baru.

4.     Menumbuhkan rasa empati dalam diri anak

Mengapa penting?

Empati, sebuah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain adalah yang menjadikan dunia ini sebuah tempat yang masih layak dan menyenangkan untuk ditinggali. Dengan empati, kita akan berpikir dua kali untuk berlaku sesuatu kepada orang lain karena adanya kesadaran dan pemahaman tentang perasaan orang lain tersebut. Empati sudah ada sejak kita lahir, hanya ketika tumbuh dewasa kita yang mengelabuinya dengan perasaan-perasaan dingin. Riset yang dilakukan neuroscientists 20 tahun silam membuktikan bagaimana manusia akan bereaksi secara spontan tatkala menyaksikan seseorang terluka, didorong oleh neuron dalam otak yang disebut ‘mirror neurons’.[1]  Penemuan neuron cermin ini merupakan terobosan signifikan karena menunjukkan bahwa otak kita telah berevolusi dengan cara yang memungkinkan kita untuk mengenali dan memahami emosi dan maksud orang lain – bukan hanya dengan berpikir tetapi juga merasa. Ini menghasilkan ripple effect melalui sejumlah disiplin ilmu dan menantang pemahaman kita tentang segala sesuatu dari bahasa dan filsafat psikoterapi – dan tentu empati. Maka dari itu, empati, tidak dapat dipelajari, tetapi dibangunkan.

Bagaimana caranya?

Feel. Imagine. Do. Share. Begitu salah satu metode membangunkan empati dalam diri anak menurut salah satu Ashoka Fellow, seorang ahli empati, Kiran Bir Sethi. Pada awalnya, anak-anak akan dibawa untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Hal ini tidak sulit, karena pada dasarnya setiap manusia dapat turut merasakan perasaan orang lain. Sensitivitas ini dapat dibangun di sela-sela pengajaran oleh kakak pengajar yang terus mengingatkan pentingnya merasakan perasaan orang lain sebelum bertindak. Imagine. Bayangkan apa yang terjadi apabila hal tersebut menimpa diri kita. Tahapan ini seringkali orang dewasa lewati dan membuat kita berhenti untuk berempati. Kita malas untuk membayangkan penderitaan dan perasaan orang. Dengan adanya imajinasi ini, akan memperkuat perasaan yang telah menjadi modal dasar anak-anak untuk dapat berempati.

Lalu, setiap pengajaran dalam sesi empati akan mendorong anak untuk melakukan yang bisa membantu mereka yang menderita. Setiap tindakan akan menjadi lemah apabila tidak didasarkan pada kesadaran dan pemahaman. Maka dengan melalui dua tahapan awal yakni feel dan imagine, anak-anak semakin yakin untuk berbuat baik dengan sesama.

Terakhir, adalah share atau berbagi. Seperti ilmu, inspirasi dan nilai-nilai kehidupan sudah sepatutnya dibagikan kepada sesama. Dengan begitu, empati tidak hanya bangun di dalam diri satu orang anak saja, tapi, empati akan menjadi suatu nilai yang dibangunkan menjadi rumah bersama di Sekolah Kita.

Berdasarkan kepada 4 tujuan di atas, Sekolah Kita Rumpin menurunkan :

Tema Dwi-bulanan Sekolah Kita Rumpin 2014 

Dengan landasan empat tujuan ini, untuk tahun 2014, telah dipersiapkan tema-tema dwibulanan baru sebagai lanjutan dari tema-tema dwibulanan tahun lalu. Tema ini berguna untuk memberi panduan materi ajar para kakak pengajar kelas umum baik spesialis dalam berkreasi di kelas, juga memberikan sebuah kedalaman dalam pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan di kelas.

Berikut adalah urutan tema dwibulanan sepanjang tahun 2014:

 

Januari – Februari

 

 

Tema Bebas Kita

Mengawali tahun 2014 dengan membebaskan para pengajar berkarya sekreatif mungkin. Memberikan waktu penyesuaian kepada para pengajar yang baru diterima sebagai angkatan III.

 

 

 

Maret – April

 

 

Teknologi Kita

Mempelajari ragam macam teknologi dimulai yang sederhana hinggal yang rumit, dan bagaimana peran teknologi dalam membantu kehidupan manusia

 

Mei – Juni

 

Sejarah Kita

Mengenal beberapa potongan sejarah dunia, bumi, Indonesia, Jawa Barat sampai Rumpin lebih dalam untuk dapat memahami peran masa lalu untuk masa kini, juga peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat.

 

 

Juli – Agustus

 

Agama Kita

Mengenal, memahami dan merayakan keberagaman di Sekolah Kita Rumpin. Diadakan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

 

September – Oktober

 

Budaya-budaya Kita

Berkenalan lebih dekat dengan beragam budaya pribumi di Indonesia, sekaligus melahirkan apreasi terhadap perbedaan dan persamaan yang ada di antaranya.

 

 

November – Desember

 

Panggung Kita

Pentas seni tari, nyanyi, puisi, visual, dan teater merayakan akhir tahun di Sekolah Kita Rumpin. Baik adik-adik, kakak-kakak, dan orang tua murid turut berpartisipasti dalam acara ini.

 

 

 

Penjelasan per Tema

 1. Januari – Februari 2014 : Tema Bebas Kita

(Karena jadwal yang berubah, tema ini hanya berlaku untuk tanggal 26 Januari, untuk Kakak Pengajar Kelas Umum)

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar untuk Kakak Pengajar Kelas Umum : 22 Januari 2014

Standar kompentensi yang ingin dicapai : Kebebasan berekpresi dan bereksplorasi kakak-kakak pengajar lama dan baru dalam merumuskan materi ajar di kelas.

Ringkasan : Dengan adanya kakak-kakak pengajar angkatan baru di awal 2014, adalah bijaksana untuk memberikan waktu adaptasi kepada mereka untuk menyesuaikan diri dengan ritme kerja Sekolah Kita Rumpin. Dalam tema kali ini, para tim pengajar akan dibebaskan menentukan materi ajar di kelas asalkan sesuai dengan tujuan kurikulum Sekolah Kita Rumpin.

Materi diharapkan dapat menjadi kesegaran di awal tahun, juga penyemangat untuk memulai kegiatan belajar di tahun 2014.

Usulan Kakak Kurikulum : Mengingat begitu banyaknya kakak-kakak yang direkrut dari beragam latar belakang pendidikan dan profesi, akan sangat menarik apabila materi ajar disesuaikan dengan keahlian kakak-kakak. Sehingga materi yang diajar dapat dikembangkan sedalam dan semenarik mungkin. Contohnya, kakak-kakak calon dokter berencana memberikan penyuluhan kesehatan kepada adik-adik di tema kali ini.

Karena tema kali ini bebas, subtema pun dibebaskan. Adapun beberapa usulan yang dapat dikembangkan :

-      Kuliner Kita (membahas ragam macam makanan di Indonesia, bisa diselingi dengan masak-masak bersama di Rumpin.)

-      Rumpin Fashion Week (berkreasi dengan pakaian yang ada, baik pakaian muslim pakaian sehari-hari, ataupun kreasi avant garde dari kertas, koran, kardus, dll, di akhir membuat sebuah fashion show seru bersama-sama)

Bahan pendukung:

-      Buku-buku kuliner sederhana, buku masak ibu kita sendiri, dan video-video kuliner dan demo masak via Youtube.

-      Bahan-bahan rujukan tentang tren tradisional maupun kontemporer

 

2. Maret – April 2014 : Teknologi Kita

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar : 24 Februari 2014

Standar kompetensi yang ingin dicapai : Pemahaman akan ragam macam teknologi dimulai dari yang sederhana hingga yang rumit, serta bagaimana peran teknologi dalam membantu kehidupan manusia.

Ringkasan : Banyak teknologi diciptakan manusia untuk membantu dan memudahkan hidup, namun seringkali kita menerima keberadaan mereka tanpa rasa ingin tahu atau sikap kritis. Dalam tema kali ini, kita ingin mendobrak kebiasaan lama di mana setiap orang tidak begitu memahami asal muasal teknologi, bagaimana cara kerja sebenarnya, dan bagaimana peran teknologi tersebut dalam memudahkan hidup masyarakat.

Pilihan subtema :

  1. Teknologi sederhana : telepon, tv, lampu, kompor, sel surya, PLTU, PLTS, dll.
  2. Teknologi yang lebih rumit : roket, internet, teknologi di bidang kesehatan, dll.

Proyek Akhir Tema (PAT) : Teknologi Sederhanaku

Untuk adik-adik kelas besar (5SD, 6SD dan SMP/SMK), diharapkan dibimbing oleh kakak-kakak untuk membuat proyek teknologi sederhana per kelompok. Contohnya adalah teknologi sederhana penjernih air (menggunakan pasir, arang, kerikil, ijuk, dll) atau mencoba menciptakan energi listrik dari buah, dll. Dan masih banyak contoh lain yang bisa didapatkan di internet dan teman-teman dengan latar belakang pendidikan teknik.

 

3. Mei – Juni 2014 : Sejarah Kita

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar : 25 April 2014

Standar kompetensi yang ingin dicapai : Pemahaman menyeluruh mengenai konsep serta kisah-kisah sejarah yang diharapkan berimbas pada pemahaman masa lalu untuk masa kini dan peran bermasyarakat (social inquiry).

Ringkasan : Masa lalu adalah bagian yang penting untuk bisa memposisikan diri di hari ini. Pemahaman ini sudah sepatutnya tumbuh dalam diri seseorang. Namun, pelajaran sejarah di sekolah selama ini hanya berpatok kepada tanggal, hafalan, dan pahlawan yang sesungguhnya tidak pernah kita bener-benar kenal baik juga. Maka dalam tema kali ini kita akan membedah sejarah, dimulai dari yang besar : sejarah dunia, manusia, Indonesia, Jawa Barat hingga nantinya ke Rumpin sendiri dengan cara yang berbeda. Kita akan menggali nilai serta bagaimana pemahaman kritis tentang sejarah dapat memberi pengertian terhadap hidup yang lebih baik di hari ini.

Kita akan mencari potongan-potongan sejarah sederhana tapi sarat nilai dan kita akan lemparkan kepada adik-adik untuk mereka bedah dan telaah bersama secara kritis, kreatif, dan menyeluruh.

Pilihan subtema : Diharapkan materi-materi yang dibagi di kelas berkaitan dengan hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan, atau nilai implisitnya dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Semisal, membahas kemerdekaan tahun 1945. Selain reka ulang peristiwa yang dikemas dalam cerita menarik, bisa juga melempar suasana menjadi sebuah studi kasus. Salah satu anak SMP menjadi Soekarno, temannya menjadi Hatta, dan mereka akan mencoba menyelesaikan permasalahan dengan cara mereka sendiri.

Bisa pula mengadakan sesi diskusi, mengapa Indonesia harus merdeka. Diskusi ini akan berakhir pada pertanyaan, apakah semua manusia pada dasarnya merdeka atau kemerdekaan harus diperoleh melalui perjuangan? (Agak ke ranah filosofis, kontemplatif)

Adapun beberapa pilihan subtema yang dapat dipilih (di luar ini juga boleh) :

  1. Sejarah bumi
  2. Sejarah manusia
  3. Sejarah Indonesia
  4. Sejarah Jawa Barat
  5. Sejarah Rumpin

Proyek Akhir Tema (PAT) : Museum Rumpin

Setelah menggali pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai sejarah-sejarah di luar Rumpin, saatnya menggali sejarah tentang Kampung Cibitung sendiri. Anak-anak akan dibagi per kelompok kemudian menerima tugas mewawancara, mendokumentasi, serta meneliti kampungnya sendiri. Pengajar bebas memberikan sudut pandang riset. Setelah itu penemuan adik-adik akan dipresentasikan dalam bentuk karya apapun : tulisan, poster, gambar, foto, nyanyian, rekaman, dll. Koleksi ini akan diabadikan menjadi Museum Rumpin (Taman Baca yang dihias sementara).

 

4. Juli – Agustus 2014 : Agama Kita

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar : 23 Juni 2014

Standar kompetensi yang ingin dicapai : Pemahaman dan perayaan keberagaman di Sekolah Kita Rumpin. Diadakan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

Ringkasan : Indonesia adalah negara multikultural dan multireligius. Keragaman tersebut tidak hanya memberikan keunikan yang menarik namun juga dapat menimbulkan konflik. Beberapa konflik dan kekerasan mewarnai perjalanan negeri ini. Itu semua muncul akibat adanya rasa sentimen dan egoisme agama, etnis, ras, suku, serta golongan tertentu dalam mengakui kebenaraannya terhadap golongan lain.

Pendidikan yang menanamkan toleransi dan berwawasan multikultural merupakan langkah strategis untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia akan signifikansi dari pentingnya toleransi. Hal ini bertujuan agar toleransi diimplementasikan dalam bentuk interaksi kehidupan sosial sehari-hari. Salah satu kekurangan pendidikan toleransi adalah minimnya exposure nyata terhadap aspek-aspek perbedaan seperti perayaan hari besar agama tertentu maupun individu yang berbeda keyakinan.

Oleh sebab minimnya exposure tersebut, siswa akan sulit mengimplementasikan apa yang telah mereka pelajari di kelas. Di sinilah Sekolah Kita Rumpin dengan kakak pengajarnya yang berlatar belakang berbagai macam agama, ras, suku, dan budaya dapat menjadi katalis bagi mereka agar secara perlahan membuka diri terhadap individu yang berbeda dengannya. Diharapkan lewat hadirnya keterbukaan tersebut ditambah kakak pengajar yang menjadi panutan moral, para siswa dapat melihat dan memahami bahwa individu lain yang berbeda agama, ras, suku, budaya harus dihormati. Bahwa kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari agama, ras, suku, atau tradisi yang ia pegang. Dari pemahaman inilah perayaan serta penghargaan atas keberagaman bermula.

Pilihan subtema :

-      Kakak-kakak berbagi wawasan tentang agamanya masing-masing

-      Sesi berbagi tentang pengalaman spiritual yang menyentuh, menggali apa dan kenapa

-      Berdiskusi intim mengenai makna puasa dan mempresentasikan hasil diskusi tersebut dalam bentuk-bentuk kreatif, lagu, poster, foto, tarian, drama, dll.

-      Mendiskusikan nilai-nilai universal yang terdapat di dalam ajaran agama, dan mendiskusikan juga apa saja nilai yang telah kita lakukan dan aplikasikan dalam hidup.

Proyek Akhir Tema (PAT) : Pohon Surat Untuk Tuhan Kita

Setiap anak menuliskan surat untuk Tuhan tentang apapun (terutama keberagaman – boleh berupa protes, harapan, impian, atau lainnya), dan akan dipajang di poster berbentuk pohon. Tujuannya untuk mengenal lebih jauh hubungan adik dengan Tuhannya.

 

 5. September – Oktober 2014 : Budaya-budaya Kita

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar : 29 Agustus 2014

Standar kompetensi yang ingin dicapai : Pemahaman tentang ragam budaya pribumi di Indonesia dan lahirnya apresiasi terhadap perbedaan serta persamaan yang ada di antaranya.

Ringkasan : Kebudayaan tradisonal di Indonesia begitu banyak. Masing-masing menyimpan kesamaan dan perbedaan. Dalam tema kali ini, kita akan menggali lebih dalam beberapa pilihan budaya yang ada untuk memperluas wawasan dan pemahaman adik-adik tentang Indonesia. Kebudayaan yang dipilih bisa berupa apapun = norma, ritual, karya seni, bahkan kepercayaan.

Dalam tema ini, diharapkan juga kita menggunakan media kreatif seperti film, video, poster, baju daerah, dll dalam menerangkan materi ajar sehingga adik-adik dapat memahami lewat pengalaman gerak, audio maupun visual.

Pilihan subtema :

-         Kebudayaan di Jawa Barat : Ciptagelar, Sunda Wiwitan, Baduy dalam

-         Kebudayaan di Jawa Tengah : Keraton Jogjakarta, Keraton Solo, Dataran Tinggi Dieng

-         Kebudayaan Jawa Timur : Suku Samin, Upacara Kasoso di Bromo, Reog Ponorogo, karapan sapi, dll

-         Kebudayaan Sumatera : Padang, Padang Pariaman Kota Tabuik, Aceh, Suku Rimba, Suku Anak Dalam, Suku Batak, Karo, dll

-         Kebudayaan di Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Papua, Maluku.

Proyek Akhir Tema (PAT) : Aku Adalah Kamu *tentatif*

Aku Adalah Kamu, sebuah kolaborasi antara pengajar dengan tim fotografer dan riset dimana kita mengadakan sesi foto/video per kelompok yang mengadopsi identitas suatu suku di Indonesia. Menjadi suku lain tidak harus menggunakan baju daerah, tapi juga dapat membacakan dongeng, membuat poster, membuat miniatur rumah adat, dll.

 

 6. November – Desember 2014 : Panggung Kita

Tenggat waktu pengumpulan materi ajar : 29 Oktober 2014

Standar kompetensi yang ingin dicapai : Partisipasi aktif adik-adik, kakak-kakak, dan orang tua murid dalam pementasan seni.

Ringkasan : Seringkali adik-adik dan kakak-kakak berkreasi di Sekolah Kita Rumpin, namun belum pernah ada suatu panggung yang menyatukan karya-karya tersebut dan membungkusnya menjadi pesta perayaan akhir tahun nan seru. Panggung Kita adalah tema dwibulanan pertama sejak Sekolah Kita Rumpin berdiri yang memberi kesempatan perdana bagi kita semua guna mementaskan karya serta berpesta bersama di Rumpin.

Pilihan pembagian kelompok pentas :

-        Pementasan boleh dibagi kelompok, disesuaikan dengan kelas spesialis

-        Boleh juga membentuk kelompok bebas atas nama kelas, menampilkan apa saja, dibimbing oleh tim pengajar

-        Boleh juga lintas kelas, asalkan memiliki pembimbing (bisa dari kakak fotografer, riset, penggalang dana, humas, atau tim inti)

-        Boleh juga kolaborasi adik dan kakak (duet, grup, keroyokan, dll)

-        Antar kakak, sangat dianjurkan.

-        Gabungan adik, kakak dan orang tua, akan lebih seru lagi.

Pilihan sub-tema :

Bebas. Bentuk pementasan rancang sekreatif mungkin. Tak lupa menampilkan pameran poster, foto, prakarya, dekorasi, serta karya visual lainnya untuk mengisi panggung.

Proyek Akhir Tema (PAT) : Pesta Rakyat Rumpin *menggunakan kepanitiaan khusus*

Kebebasan berekspresi yang tertuang dalam bentuk seni tari, seni suara, puisi, visual, teater, dan masih banyak lagi oleh adik-adik, kakak-kakak, bahkan orang tua murid.

 

[1] Cells that read mind. New York Times.  Diakses Oktober 31, 2012, http://www.nytimes.com/2006/01/10/science/10mirr.html?pagewanted=all&_r=0