Hidung, Batman, dan Post-postmodernisme

Beberapa waktu lalu, saya kebagian jatah mewawancarai seorang perempuan dari Bogor. Menurut data di formulir yang ia isi, saat ini ia sedang menuntut ilmu di IPB, tepatnya di jurusan pertanian. Sebelum membaca formulir itu, saya sudah tahu bahwa ia termasuk diantara belasan pelamar Penerimaan Angkatan I untuk Sekolah Kita. Tahu dari mana? Well, sederhana saja. Ia begitu bawel di e-mail maupun di blog, menanyakan kapan seleksi formulir selesai, kapan jadwal wawancara, kapan bisa ketemu kakak-kakak yang lain, kapan ini dan kapan itu. Haha..

Namun yang berhasil menarik perhatian saya tentang dia bukanlah kebawelannya, melainkan jawabannya untuk salah satu pertanyaan di formulir pendaftaran online. Di kolom itu ia menjawab singkat dan tegas, diakhiri dengan kalimat :

Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

*spontan megang hidung* *hidung Asmirandah* *eh* :p

Well, lewat hidung, anda bisa membedakan mana racun dan mana air cuka.

Lewat hidung, anda dapat segera menjauhkan molekul gliserol dari perapian atau melarang anak kecil membeli permen yang bungkusnya berlapis merkuri.

Yang suka mabuk, anda mampu menentukan anggur dengan kualitas terbaik cukup dari botol atau baunya.

Yang paling penting, anda sanggup membedakan pembohong atau orang jujur via tekstur kembang-kempis lubang hidungnya serta apakah ia menggaruk hidungnya secara konstan ketika menjawab pertanyaan.

Dan bodohnya saya, mata saya tertutup rapat sekali selama ini, sehingga baru sekarang ini saya menyadari sepenuhnya makna dari slogan Sekolah Kita : “Sebab setiap tempat adalah sekolah…termasuk hidung masing-masing..

Di atas segalanya, hidung memang begitu menguntungkan, namun hidung juga dapat menjadi sumber pertama kehancuran.

***

Dalam Batman Begins (2005), seorang tokoh idealis yang memegang prinsip “Justice Is Balance” bernama Ra’s Al Ghul berniat menghancurkan kota Gotham dengan senjata pemusnah massal paling ekonomis : pelarutan racun stimulus kepanikan dalam sistem aliran air kota yang berpadu dengan konsep penguapan sederhana (peran hidung muncul di sini). Singkat cerita, ambisinya digagalkan oleh sosok misterius berjuluk “Batman”.

Anak-anak (yang menonton) di seluruh dunia kemudian sontak berteriak girang, “YEEAAAY… KITA MENANG!!”

Masalahnya, apakah Batman benar adalah seorang pahlawan? Apalagi bagi anak-anak yang gemar meniru idolanya?

Bagi saya, Batman versi Bruce Wayne sangat jauh dari definisi pahlawan. Ia cuma keturunan terakhir dari keluarga terkaya di Gotham yang anarkis, seorang pria dengan jiwa tercabik-cabik (jadi ingat konsep Voldemort dengan Horcrux-nya) yang diberikan “jalan baru” oleh sang mentor agar ia tak “hilang” di sisa hidupnya. Dia selalu merasa bersalah bahkan ketika dia benar. Dia egois, anti-sosial, serta narsis.

Tapi dibalik segala kekurangannya, Bruce berhasil dengan sangat gemilang mengangkat alter-egonya menjadi sebuah simbol abadi dan elemental. Ia begitu sukses mencurahkan hidupnya serta mentransformasi kenangan pahit kematian orangtuanya menjadi senjata ampuh melawan “sikap abai, fanatisme kosong, kegelisahan terselubung”. Semangatnya tak tertandingi (“Batman has no limits“), sehingga lambat laun berbuah simbol harapan, simbol perlawanan, simbol kebangkitan, juga simbol anti-apatis murni. Hal ini yang membedakannya dengan Spiderman yang terkungkung lingkungan egaliter, Iron-Man yang proletar abis, Superman yang takut sama dirinya sendiri, Detektif Conan yang autis, atau Captain America yang kental sekali pengaruh post-war dalam sepak terjangnya.

Bruce Wayne tak punya lingkungan sosial. Ia beberapa tingkat di atas proletar. Kelelawar adalah hewan yang paling ia takuti sekaligus benci. Ia pemalas. Ia selalu memulai perang.

Dan yang terpenting, Batman versi Bruce Wayne tak bisa sombong. Mengapa? Sebab kesombongannya telah habis diolah menjadi kemarahan demi menutupi rasa bersalahnya. Ia karakter paling kaya yang paling miskin.

Jadi ketika anak-anak meneriakkan kata “Batman” sebagai idolanya, kita bisa membimbing mereka untuk mengikuti teladan simbolik itu. Tak semua orang bisa jadi Spiderman (capek bok bikin mesin penembak jaringnya..), Iron Man (bok, masa jantung ijk dibolongin dulu), Superman (mabuk udara, sob.. maapkeun..), Detektif Conan (hidup bukan cuma buat kaca pembesar), Captain America (berat ya perisainya….lo coba bawa sini!!), tapi siapapun orangnya, ia bisa menjadi Batman. Batman bagi Indonesia, bukan hanya Rumpin.

If you make yourself more than just a man, if you devote yourself to an ideal, and if they can’t stop you, then you’ll become something else entirely. Legend, Mr. Wayne.” – Ra’s Al Ghul

If you want to take action, just wear a mask. Not for you, but for the people you love most.” – Bruce Wayne

Nah, soal topeng-topengan ini agak ambigu nih kak. Gimana tuh maksudnya??

***

Batman berasal dari luar sistem. Ia mereparasi sistem dengan caranya sendiri, bertumpu pada kebrilianan pikiran (wawasan luas + kapasitas kreatif) dan prinsip batu karang (melawan, tapi tak membunuh).

Di dunia pada masa generasi kita, perang sesungguhnya itu bukan antara Israel vs Palestina, tapi pada kebenaran tunggal vs relativitas, keinginan menonjolkan sense vs keraguan akan sense itu sendiri, antara harapan vs sentimen temporer, tulus vs ironi, pengetahuan ilmiah vs sikap naif. Kalau subjek yang dihadapkan pada situasi demikian dituntut untuk memilih sisi tertentu tanpa mempunyai modal pribadi yang kokoh, maka ia akan senantiasa terombang-ambing.

Manusia, sepintar atau sealim atau setegas apapun dirinya, pasti dapat diabaikan dan dihancurkan. Namun ketika ia mentransformasi dirinya menjadi sebuah simbol, ia menjadi mengerikan di mata manusia lain yang berseberangan. Ia tak bisa labil, cepat atau lambat akan selalu diperhitungkan, serta hampir tak mungkin berkarat.

Siapa yang berani mengatakan Isaac Newton sebagai penipu, bahkan ketika ada indikasi kuat bahwa ia cuma “meminjam” ide dasar sesama ilmuwan di salah satu kedai kopi di selatan London lalu mengembangkannya menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai teori Gravitasi?

Siapa yang mampu dengan lantang mengatakan bahwa Yudas Iskariot adalah korban sepihak dari cerita sepanjang zaman mengenai penyaliban Yesus Kristus, bahkan ketika buku-buku tentang dia telah beredar luas?

Atau paling gampang, ada yang bersedia mengklaim Soeharto sebagai komunis, tak ubahnya Dipa Negara Aidit?

Simbol terbentuk secara alami dari pemahaman tertinggi dengan keputusan terdalam nurani. Simbol membantu sang subjek untuk yakin menuju satu titik konkret serta menyebarkan pengaruhnya pada subjek lain yang belum menemukan “titik konkret” mereka. Hal ini menimbulkan konsekuensi alamiah bagi orang-orang terdekat si subjek. Maka, ketika simbol telah terbentuk, penyamaran atau bahkan penyangkalan identitas asli menjadi wajib hukumnya. Itu adalah harga yang harus seseorang bayar ketika ia berkomitmen mencurahkan hidupnya untuk sebuah bentuk ideal. Penyamaran itu bisa berupa apa saja, tak harus topeng belaka. Jika topeng telah siap dipakai, langkah selanjutnya tinggal beraksi..

Dalam konteks anak-anak yang masih sangat dapat “dibentuk” dan “diarahkan”, peran kakak-kakak pengajar dalam mengenalkan simbol lewat idola mereka atau panutan si kakak itu sendiri menjadi sangat krusial.

Dari sini timbullah pertanyaan berikut :

Kakak-kakak pengajar sudah punya simbol ideal belum?

- Seseorang yang belum menjadi simbol -

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>