TUHAN LES TAMAN GULA!

DSC_0126Je te souhaite un joyeux anniversaire à toi, Notre Ecole!”

Begitulah ucapan yang meluncur dari lubuk hati terdalam sang kambing di samping. Sesosok makhluk yang menjadi saksi hidup paling lama akan eksistensi sekolah alternatif ini. Jangan salah, mungkin saja beliau sudah meninggali kandang tersebut saat ide Sekolah Kita Rumpin pertama sekali tercetus.

Ngomong-ngomong, saya gatal hendak mengutip petuah terkenal dari seorang tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, yang berbunyi :

“Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.”

Dan tak lupa sedikit menambah perkataan seorang kakak yang pernah mengajar di Sekolah Kita,

“Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

***

Umumnya, setiap kali seseorang ulang tahun, ia mengenang kembali setahun ke belakang dan menyiapkan resolusi setahun ke depan. Tidak ada salahnya kalau saya juga menerapkan “ritual” serupa bagi komunitas ini.

Karena saya baru bergabung setengah tahun terakhir, jadi yang bisa saya reka ulang hanya perkembangan-perkembangan selama setengah tahun terakhir, tepatnya sejak bulan Oktober.

Waktu itu, blog ini masih berafiliasi ke blogspot dan belum seberaneka-ragam sekarang.

Belum ada kumpulan orang yang disebut “Kakak Kita”, bahkan proses penerimaannya saja baru akan dimulai.

Belum terpikir bikin Taman Baca dengan desain demikian. Perpustakaan B

 

 

 

Adik-adik belum punya kebun sendiri. Jumlah mereka bahkan masih dapat dihitung dengan jari.

IMG_0192    << Belum ada ide gokil hasil prakarya semacam ini

Atau ini >> design sekolah kita 5

 

 

 

Atau ketemu orang gila begini

Hanna

 

 

 

 

 

 

Setelah melihat seluruh tampilan di atas, apakah Sekolah Kita Rumpin telah mencapai sesuatu?

Saya bilang belum. Masih panjang dan lama perjalanan yang harus kami tempuh untuk mencapai sesuatu.

Sesuatu yang membuat adik-adik di Rumpin berani tampil beda, inovatif, penuh empati, serta berpola pikir kritis.

Sesuatu pengalaman memuaskan secara batin dan intelektual untuk seluruh Kakak Kita.

Sesuatu yang mengistimewakan kemanusiaan.

***

Terima kasih untuk segala doa, kritik, donasi, tenaga, waktu liburan, tweet, prakarya, foto-foto, video, hingga cinta monyet yang bersemi. Secara pribadi, resolusi saya gampang saja : bisa merayakan ultah lagi tahun depan, haha! Resolusi komunalnya mungkin agak-agak bijaksana dan dramatis biar berkesan oke, halah!

Semoga Sekolah Kita Rumpin makin tulus, makin solid, makin bertumbuh, makin kreatif. Tidak hanya menjadi fasilitator anak-anak korban sengketa, namun juga sebagai salah satu solusi nyata bagi kesenjangan pendidikan di Indonesia.

Selamat ulang tahun, Sekolah Kita! Semangatmu, dan semangat mereka, selalu jadi semangatku!

10 April 2012 – 10 April 2013

***

NB : Sekolah Kita bakal ngadain program Tur Kita buat adik-adik dengan destinasi ke berbagai tempat eksotis dan bersejarah di Bandung. Rencana pelaksanaan pada bulan Juni 2013. Untuk memenuhi kebutuhan administrasi kegiatan, kami mendaftarkan Tur Kita sebagai proyek crowdfunding di situs patungan.net

Silahkan mampir ke halaman proyek kami di sini, klik “DUKUNG” di kanan atas, log-in memakai e-mail atau facebook, kemudian transfer donasinya ke nomor rekening yang tertera di sana. Sebarkan juga pada kolega, teman-teman dekat, tetangga, hingga tukang ojek langganan, haha! Terima kasih semua!

Hidung, Batman, dan Post-postmodernisme

Beberapa waktu lalu, saya kebagian jatah mewawancarai seorang perempuan dari Bogor. Menurut data di formulir yang ia isi, saat ini ia sedang menuntut ilmu di IPB, tepatnya di jurusan pertanian. Sebelum membaca formulir itu, saya sudah tahu bahwa ia termasuk diantara belasan pelamar Penerimaan Angkatan I untuk Sekolah Kita. Tahu dari mana? Well, sederhana saja. Ia begitu bawel di e-mail maupun di blog, menanyakan kapan seleksi formulir selesai, kapan jadwal wawancara, kapan bisa ketemu kakak-kakak yang lain, kapan ini dan kapan itu. Haha..

Namun yang berhasil menarik perhatian saya tentang dia bukanlah kebawelannya, melainkan jawabannya untuk salah satu pertanyaan di formulir pendaftaran online. Di kolom itu ia menjawab singkat dan tegas, diakhiri dengan kalimat :

Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

*spontan megang hidung* *hidung Asmirandah* *eh* :p

Well, lewat hidung, anda bisa membedakan mana racun dan mana air cuka.

Lewat hidung, anda dapat segera menjauhkan molekul gliserol dari perapian atau melarang anak kecil membeli permen yang bungkusnya berlapis merkuri.

Yang suka mabuk, anda mampu menentukan anggur dengan kualitas terbaik cukup dari botol atau baunya.

Yang paling penting, anda sanggup membedakan pembohong atau orang jujur via tekstur kembang-kempis lubang hidungnya serta apakah ia menggaruk hidungnya secara konstan ketika menjawab pertanyaan.

Dan bodohnya saya, mata saya tertutup rapat sekali selama ini, sehingga baru sekarang ini saya menyadari sepenuhnya makna dari slogan Sekolah Kita : “Sebab setiap tempat adalah sekolah…termasuk hidung masing-masing..

Di atas segalanya, hidung memang begitu menguntungkan, namun hidung juga dapat menjadi sumber pertama kehancuran.

***

Dalam Batman Begins (2005), seorang tokoh idealis yang memegang prinsip “Justice Is Balance” bernama Ra’s Al Ghul berniat menghancurkan kota Gotham dengan senjata pemusnah massal paling ekonomis : pelarutan racun stimulus kepanikan dalam sistem aliran air kota yang berpadu dengan konsep penguapan sederhana (peran hidung muncul di sini). Singkat cerita, ambisinya digagalkan oleh sosok misterius berjuluk “Batman”.

Anak-anak (yang menonton) di seluruh dunia kemudian sontak berteriak girang, “YEEAAAY… KITA MENANG!!”

Masalahnya, apakah Batman benar adalah seorang pahlawan? Apalagi bagi anak-anak yang gemar meniru idolanya?

Bagi saya, Batman versi Bruce Wayne sangat jauh dari definisi pahlawan. Ia cuma keturunan terakhir dari keluarga terkaya di Gotham yang anarkis, seorang pria dengan jiwa tercabik-cabik (jadi ingat konsep Voldemort dengan Horcrux-nya) yang diberikan “jalan baru” oleh sang mentor agar ia tak “hilang” di sisa hidupnya. Dia selalu merasa bersalah bahkan ketika dia benar. Dia egois, anti-sosial, serta narsis.

Tapi dibalik segala kekurangannya, Bruce berhasil dengan sangat gemilang mengangkat alter-egonya menjadi sebuah simbol abadi dan elemental. Ia begitu sukses mencurahkan hidupnya serta mentransformasi kenangan pahit kematian orangtuanya menjadi senjata ampuh melawan “sikap abai, fanatisme kosong, kegelisahan terselubung”. Semangatnya tak tertandingi (“Batman has no limits“), sehingga lambat laun berbuah simbol harapan, simbol perlawanan, simbol kebangkitan, juga simbol anti-apatis murni. Hal ini yang membedakannya dengan Spiderman yang terkungkung lingkungan egaliter, Iron-Man yang proletar abis, Superman yang takut sama dirinya sendiri, Detektif Conan yang autis, atau Captain America yang kental sekali pengaruh post-war dalam sepak terjangnya.

Bruce Wayne tak punya lingkungan sosial. Ia beberapa tingkat di atas proletar. Kelelawar adalah hewan yang paling ia takuti sekaligus benci. Ia pemalas. Ia selalu memulai perang.

Dan yang terpenting, Batman versi Bruce Wayne tak bisa sombong. Mengapa? Sebab kesombongannya telah habis diolah menjadi kemarahan demi menutupi rasa bersalahnya. Ia karakter paling kaya yang paling miskin.

Jadi ketika anak-anak meneriakkan kata “Batman” sebagai idolanya, kita bisa membimbing mereka untuk mengikuti teladan simbolik itu. Tak semua orang bisa jadi Spiderman (capek bok bikin mesin penembak jaringnya..), Iron Man (bok, masa jantung ijk dibolongin dulu), Superman (mabuk udara, sob.. maapkeun..), Detektif Conan (hidup bukan cuma buat kaca pembesar), Captain America (berat ya perisainya….lo coba bawa sini!!), tapi siapapun orangnya, ia bisa menjadi Batman. Batman bagi Indonesia, bukan hanya Rumpin.

If you make yourself more than just a man, if you devote yourself to an ideal, and if they can’t stop you, then you’ll become something else entirely. Legend, Mr. Wayne.” – Ra’s Al Ghul

If you want to take action, just wear a mask. Not for you, but for the people you love most.” – Bruce Wayne

Nah, soal topeng-topengan ini agak ambigu nih kak. Gimana tuh maksudnya??

***

Batman berasal dari luar sistem. Ia mereparasi sistem dengan caranya sendiri, bertumpu pada kebrilianan pikiran (wawasan luas + kapasitas kreatif) dan prinsip batu karang (melawan, tapi tak membunuh).

Di dunia pada masa generasi kita, perang sesungguhnya itu bukan antara Israel vs Palestina, tapi pada kebenaran tunggal vs relativitas, keinginan menonjolkan sense vs keraguan akan sense itu sendiri, antara harapan vs sentimen temporer, tulus vs ironi, pengetahuan ilmiah vs sikap naif. Kalau subjek yang dihadapkan pada situasi demikian dituntut untuk memilih sisi tertentu tanpa mempunyai modal pribadi yang kokoh, maka ia akan senantiasa terombang-ambing.

Manusia, sepintar atau sealim atau setegas apapun dirinya, pasti dapat diabaikan dan dihancurkan. Namun ketika ia mentransformasi dirinya menjadi sebuah simbol, ia menjadi mengerikan di mata manusia lain yang berseberangan. Ia tak bisa labil, cepat atau lambat akan selalu diperhitungkan, serta hampir tak mungkin berkarat.

Siapa yang berani mengatakan Isaac Newton sebagai penipu, bahkan ketika ada indikasi kuat bahwa ia cuma “meminjam” ide dasar sesama ilmuwan di salah satu kedai kopi di selatan London lalu mengembangkannya menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai teori Gravitasi?

Siapa yang mampu dengan lantang mengatakan bahwa Yudas Iskariot adalah korban sepihak dari cerita sepanjang zaman mengenai penyaliban Yesus Kristus, bahkan ketika buku-buku tentang dia telah beredar luas?

Atau paling gampang, ada yang bersedia mengklaim Soeharto sebagai komunis, tak ubahnya Dipa Negara Aidit?

Simbol terbentuk secara alami dari pemahaman tertinggi dengan keputusan terdalam nurani. Simbol membantu sang subjek untuk yakin menuju satu titik konkret serta menyebarkan pengaruhnya pada subjek lain yang belum menemukan “titik konkret” mereka. Hal ini menimbulkan konsekuensi alamiah bagi orang-orang terdekat si subjek. Maka, ketika simbol telah terbentuk, penyamaran atau bahkan penyangkalan identitas asli menjadi wajib hukumnya. Itu adalah harga yang harus seseorang bayar ketika ia berkomitmen mencurahkan hidupnya untuk sebuah bentuk ideal. Penyamaran itu bisa berupa apa saja, tak harus topeng belaka. Jika topeng telah siap dipakai, langkah selanjutnya tinggal beraksi..

Dalam konteks anak-anak yang masih sangat dapat “dibentuk” dan “diarahkan”, peran kakak-kakak pengajar dalam mengenalkan simbol lewat idola mereka atau panutan si kakak itu sendiri menjadi sangat krusial.

Dari sini timbullah pertanyaan berikut :

Kakak-kakak pengajar sudah punya simbol ideal belum?

- Seseorang yang belum menjadi simbol -

Banda Neira, Sorgemagz dan Sekolah Kita

Minggu lalu, Sekolah Kita kedatangan tamu. Kali ini, pengajar tamu datang jauh dari Bali, Bandung dan Jakarta (kalau ini tidak terlalu jauh ya) untuk meramaikan kelas Minggu siang di Rumpin.

Mereka adalah Ananda Badudu, pedagang berita di Koran Tempo yang juga menyambi sebagai pemain gitar amatir di Banda Neira, Rara Sekar, Kakak Penyusun Kurikulum Sekolah Kita yang akhirnya bisa juga terbang dari Bali untuk menyempatkan mengajar di Sekolah Kita, juga Adhito Harinugroho atau Dhito, videografer handal dari Sorgemagz.

Pada mulanya, adik-adik terlihat agak malu-malu, terutama karena mereka bertiga adalah orang baru dan tak lupa Dhito selalu membawa kamera videonya yang sebesar gajah itu. Tapi, setelah sesi pembacaan cerita “Abu Nawas dan Semut” oleh Kak Ananda, adik-adik di Rumpin terlihat lebih santai dan bahkan, sangat senang! Terutama setiap kali Kak Ananda meminta adik-adik untuk menyuarakan suara binatang yang ada di dalam cerita seperti kucing, kerbau, monyet, semut (?), mereka tampak antusias untuk bergerak dan meniru suara binatang-binatang yang ada, bahkan ada yang sampai monyong-monyong. Kak Ana pun tidak bisa menahan ketawanya. Hahaha.

Sesi Kak Rara siang itu dimulai dengan bernyanyi “Topi Saya Bundar” dari tempo yang lambat hingga sangat cepat. Seru sekali! Bahkan Kakak-kakak Sekolah Kita malah yang salah-salah.. Setelah sesi pemanasan, suasana menjadi sangat hangat dengan ledakan tawa dimana-mana.

Siang itu sebenarnya, Kak Rara ingin mengedepankan tiga hal di kelas, kreativitas, percaya diri dan sebuah metode baru yang bernama appreciative inquiry. Metode yang baru ini, kata Kak Rara, ingin mengajarkan kita untuk belajar saling menghargai. Banyak yang bilang kalau menjadi orang kritis itu sulit, dan menghargai dan memuji orang lain itu mudah. Namun seringkali, kasusnya adalah sebaliknya. Rasanya terkadang itu sulit sekali untuk kita saling memuji. Selain itu, Kak Rara juga melihat bagaimana metode ini bisa meningkatkan rasa percaya diri pada anak, mengingat adik-adik di Rumpin juga adalah korban, membangun rasa percaya diri sangat dibutuhkan untuk hari ini serta masa depan mereka kelak.

Walau penjelasan di atas terkesan berat, sesungguhnya apa yang dilakukan di kelas Sekolah Kita siang itu sangatlah sederhana dan menyenangkan. Adik-adik dibagi 6 kelompok dan setiap kelompok harus menampilkan sebuah pertunjukkan apapun, baik menyanyi, menari, drama, dangdutan, bebas.

Sebelumnya setiap murid juga telah dibagikan sebuah amplop untuk mereka tulis nama dan gambar diri mereka. Amplop ini lalu ditempel di dinding oleh Kakak-kakak Sekolah Kita. Tujuan amplop ini apa ya? Ternyata, ketika setiap kelompok maju untuk tampil, setiap anak diminta untuk menuliskan pada secarik kertas pujian untuk teman mereka yang sedang tampil. Setelah itu, kertas-kertas pujian itu dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang ada di dinding kelas.

Di akhir kelas, amplop-amplop itu dibagikan sebagai hadiah untuk adik-adik Rumpin, untuk mengingatkan bahwa setiap kita itu berharga, spesial, dan unik. Tampak ada beberapa murid yang usianya sudah lebih dewasa menganggukkan kepalanya ketika Kak Rara menerangkan arti amplop tersebut. Dengan tersenyum, satu per satu menerima amplop mereka. Tak disangka, hanya dengan satu amplop, secarik kertas dan bolpen, kita bisa membuat seseorang tahu bahwa dirinya sangat berharga :)

Perjalanan Minggu lalu bersama Kak Ananda dan Kak Rara yang adalah personil band minimalis-nelangsa-pop Banda Neira diliput oleh Kak Dhito, sang videografer berdedikasi tinggi. Selain teman-teman bisa melihat bagaimana Ibu Neneng dan Kak Ana sedikit bercerita tentang Sekolah Kita, di akhir video, Kak Ananda dan Kak Rara juga sempat menyanyikan lagu mereka yang berjudul “Rindu” yang adalah musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo, bersama dengan adik-adik Rumpin! Kak Dhito mengaku bahwa bulu kuduknya berdiri ketika adik-adik ikut bernyanyi siang itu. Begitupula dengan Banda Neira. Memang pengalaman yang luar biasa hari itu.

Maka untuk mengakhiri tulisan ini, Sekolah Kita ingin mengutip kata-kata Kak Ananda di Sorgemagz,

“Terimakasih semua yang hadir di kelas hari itu. Ada banyak sekali tak bisa disebut satu-satu. Tanpa perlu berbuat apa-apa kalian berhasil bikin kami yang bertamu di sana merasa bahagia. Semoga kalian pun sama.”

[youtube=http://youtu.be/sa2_Hjqw73g]

Salam,

Sekolah Kita