Moonrise Kingdom Pada Insiden Buah Dada

Beberapa hari yang lalu, salah satu pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, Kak Tiara Ayuwardani, mengirimkan tulisan di bawah ini pada saya :

Pada suatu Minggu siang ada keributan kecil di depan mushola, tepat sesaat sebelum aku memulai kelas. Ipit, murid kelas 5 SD, sedang menangis sesenggukan. Ia tidak menjawab saat kutanya mengapa menangis. Perhatianku seketika teralih ke kumpulan anak laki-laki yang sedang saling dorong sambil cekikikan.

“Kenapa Ipit nangis?”

Setelah saling tuduh, salah satu dari mereka berceletuk dalam istilah Sunda yang intinya : tadi ada yang meremas dada Ipit. Walaupun tak bisa melihat muka sendiri, tapi aku tahu air mukaku sontak berubah. Separuh kaget, separuh keki. Tindakan apa yang seharusnya kulakukan sebagai kakak pengajar dalam kejadian seperti ini? (jeng jeng) (zoom in 3x)

Apakah aku harus memarahi mereka? Menghukum? Hukuman seperti apa? Apakah mereka tahu kenapa Ipit jadi menangis? Sungguh aku kagok. Jadi langkah yang kuambil kemudian adalah : 1) Menanyakan alasan mereka melakukan itu, 2) Menanyakan kondisi Ipit, 3) Meminta si pelaku agar minta maaf ke Ipit.

Pertanyaan pertama dijawab dengan “tidak tahu, Kak”. Pertanyaan kedua yang berbunyi, “Ipit, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?” yang hanya dijawab dengan gelengan. Mungkin sebenarnya dia ingin menjawab, “SAKIT KAK SAKIT, HARGA DIRI AKU SAKIT”. Sungguh, aku yang masih kagok ini tidak handal dalam membuat orang merasa lebih baik. Lalu saat aku meminta mereka untuk minta maaf, mereka hanya menyentuh ujung-ujung jari Ipit sekilas sambil bilang “Hiii” seolah jijik, kemudian lari menjauh.

Aku tak tahu tindakanku saat itu tepat atau tidak. Yang kutahu, ini masalah penting.

Seksualitas adalah topik yang masih tabu. Suatu hal yang sebenarnya dimiliki oleh semua manusia ini lebih sering dibicarakan sembunyi-sembunyi, disamarkan, bahkan tidak pantas dibahas. Berapa banyak dari kita yang diajarkan untuk membahasakan alat kelamin kita sebagai penis dan vagina, bukan dengan nama binatang atau istilah ‘buatan’ lainnya? Padahal, apa bedanya vagina dan tangan? Sama-sama bagian dari tubuh manusia, namun salah satunya lebih sering disebut dengan istilah samaran. Agar tidak terlalu vulgar, katanya. Sesederhana penggunaan istilah masih sering membuat jengah, apalagi pembahasannya. Tidak banyak ruang yang aman dan nyaman untuk mendiskusikan seksualitas, apalagi untuk usia kanak-kanak. Padahal pubertas kadang sudah hadir sejak masih Sekolah Dasar.

Apa yang membuat seorang anak laki-laki kelas 5 SD dengan iseng memegang dada teman perempuannya di depan umum? Timbulnya rasa penasaran. Ia melihat ada perubahan di tubuh teman perempuannya, dan ia ingin tahu benda apa itu. Di umurnya yang memang belum mengalami pubertas, perubahan lebih awal yang terjadi pada perempuan menjadi hal baru buatnya. Dan aku tak yakin gurunya di sekolah atau orangtuanya di rumah sudah membekalinya dengan pengetahuan tentang perubahan biologis-fisiologis dalam dirinya atau lawan jenis.

Saya sedang belajar ilmu Kesehatan Masyarakat, dan menyosialisasikan pendidikan mengenai seksualitas yang sehat ini cukup rumit. Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain.

Selain insiden buah dada ini, ada satu waktu dimana saat aku mengajar, aku membagi kelas menjadi dua kelompok, perempuan dan laki-laki. “Kak, nanti kalau mau main games lagi kayak gini aja ya kak, cowok sama cewek beda kelompok aja,” ujar salah satu adik. Hmm.. sepertinya yang perempuan merasa risih dengan teman-temannya yang laki-laki. Karena yang laki-laki sering berisik, atau karena insiden buah dada tak hanya sekali terjadi?

 

(KAK JONA TOLONG SOS AKU BINGUNG ENDINGNYA NGENTANG -______-)

***

Setelah membaca tulisan itu, saya teringat pada sebuah film drama komedi romantis yang menuai banyak pujian dari kritikus sepanjang 2012 : Moonrise Kingdom. Film ini bersetting waktu September-Oktober 1965 di sebuah pulau fiksi bernama New Penzance. Karakter utamanya bernama Sam Shakusky dan Suzy Bishop, keduanya berumur 12 tahun namun bersikap serta berperilaku jauh lebih dewasa dari umur mereka, sama-sama introvert, sama-sama berasal dari keluarga “yang tak sempurna”. Mereka berkenalan tahun 1964 dan tak butuh waktu lama guna menjadi sahabat pena yang intim. Menyadari satu sama lain saling memendam perasaan lebih, keduanya memutuskan kabur dari “kenyataan hidup” masing-masing, membangun hidup baru di sebuah tempat yang mereka namai Moonrise Kingdom.

Terdapat beberapa scene (yang bagi manusia tradisionalis/konvesionalis akan sangat ekstrim) dimana Sam dan Suzy mengekspresikan romantisme mereka dengan berdansa ditemani lantunan karya Francoise Hardy, french kiss, bahkan di satu kesempatan Suzy meminta Sam memegang serta merasakan pertumbuhan buah dadanya. Menjelang akhir film, anda bakal disuguhi keputusan-keputusan “ajaib” lain dari sepasang anak manusia mabuk asmara ini. Hebatnya, mereka mengambil keputusan-keputusan itu dengan penuh tanggung jawab.

Anak umur 12 tahun ngelakuin itu? Di tahun 1965? Di Indonesia aja lagi rame G30S *eh*

Mengutip pernyataan Kak Tiara,

“Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain”,

Saya menggarisbawahi keengganan sistem sosial di Indonesia untuk secara terang-terangan menerima edukasi seksualitas. Argumen seputar anak yang sesudah belajar tentang seks langsung ingin melakukan masih butuh penelitian lebih lanjut. Banyak faktor yang melatarbelakangi (dan menghambat) itu seperti kecenderungan moralitas, norma-norma keluarga, dan pemahaman penghargaan terhadap tubuh teman yang berbeda jenis. Jangan lupa pula, keinginan tak selalu berujung pada aksi. Kalaupun aksi tetap muncul, anak tersebut sudah tahu harus bagaimana, tak lagi meraba-raba dalam kegelapan, serta lebih mampu menunjukkan sikap bertanggung jawab.

SKR sedang mengusahakan edukasi seksualitas, dengan harapan lebih banyak Suzy atau Sam baru yang muncul di tengah-tengah Adik Kita. Mungkin diantara para pembaca tulisan ini terdapat orang-orang yang berpengalaman serta bersedia bekerjasama atau malah sangat kontra dengan pendekatan ini. Anda kah yang saya maksud? Bisa jadi. Namun terlepas dari beragam pandangan subjektif yang hadir, saya rasa sebagian besar dari kita dapat sepakat bahwa edukasi seksualitas mutlak diperlukan.

Cerita dari Tur Kita (II) + Kegiatan Berkebun

Selamat pagi, teman-teman!

Berikut ini adalah sebuah narasi visual dari Kak Rara Sekar tentang kegiatan berkebun pada tanggal 23 Desember 2012, bertepatan dengan awal tema besar dwibulanan “Kebun Kita”.

Selain itu kami hadirkan pula sebuah dokumentasi singkat hasil kurasi karya Kak Prita Meilanitasari seputar program Tur Kita ke Museum Geologi serta Hutan Babakan Siliwangi, Bandung, pada tanggal 29 Juni 2013. Tak lupa ucapan terima kasih buat Kak Daud yang telah merangkainya!

Akhir kata, selamat menikmati!

Yudi Dan Kesenjangan Kualitas Pendidikan

Oleh : Gigay Citta Acikgenc

Bermula dari obrolan ringan dengan Yudi di teras rumah Bu Neneng. Yudi adalah anak laki-laki yatim umur sembilan tahun, kelas 2 di SD Negeri Mahlapar—sekolah formalnya hampir seluruh anak-anak di Sekolah Kita Rumpin. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci dan tiga saudaranya. Perawakannya kurus, namun lincah. Tidak malu-malu, meski saya adalah orang baru baginya. Kebetulan Yudi tidak berada di kelas PAUD yang saya ajar. Jadi, percakapan saat itu adalah interaksi pertama saya dengannya.

Setelah berbagi sedikit tentang latar belakang keluarganya, saya iseng bertanya, “Main tebak-tebakan, yuk! Ayo, sekarang kita lagi di pulau apa?”

Sambil memainkan matanya, ia menjawab pelan, “Cibitung, kak.”

“Yakin, sekarang kita lagi di Pulau Cibitung? Bukan di Desa Cibitung?”

Yudi hanya tersenyum.

Sisa obrolan kami seolah terjadi di kelas geografi. Setelah saya klarifikasi bahwa kita sedang berada di Desa Cibitung, bukan Pulau Cibitung, saya beranjak ke anak tangga selanjutnya : di provinsi apa kita sedang berada, apa nama ibukota provinsi tersebut, apa nama ibukota Indonesia, dan apa saja lima pulau besar di Indonesia. Jawaban Yudi? Jawa Barat, Bandung, lewat, Jawa, Sumatera dan sisanya lewat. Saya kira Yudi hanya lupa. Ternyata dia memang belum tahu bahwa Jakarta—yang memakan waktu dua jam dari desanya—adalah ibukota negara beserta informasi tentang lima pulau besar di negaranya. Setelah saya beri jawaban yang tepat, ia masih menyebut Pulau Jakarta dan Kota Jawa. Asumsi saya, karena keduanya diawali oleh suku kata yang sama, Ja-, maka jawabannya kerap terbalik.

Saya pulang dengan satu kesimpulan baru : gap of knowledge yang tertulis di berita koran, terpampang di hasil penelitian, dan terucap di diskusi pendidikan maupun di rapat segelintir pejabat Kemendikbud kini punya “nama”. Ada sekumpulan subyek nyata diantara data angka statistika yang menggambarkan kualitas pembangunan yang tidak merata. Yudi adalah salah satu subyek nyata tersebut.

Sebagai pelengkap, percakapan itu terjadi pada bulan Juni. Selama Juli – Agustus saya cuti karena sedang tidak berkegiatan di Jakarta. Minggu kedua September saya kembali ke Rumpin, bertemu Yudi dan senyum lebarnya. Benar saja, seusai kelas, ia menghampiri saya, mengulurkan tangan hendak pamit pulang.

“Ayo sebutin dulu lima pulau besar di Indonesia!”

“Jawa, Sumatera, Ka…limantan, Su…lawesi, I…rian Jaya”

“Kalau ibukota Indonesia?”

“Jakarta!”

Mungkin Yudi menonton televisi dan mendengar seseorang menyebut pulau-pulau tersebut. Mungkin Yudi bertanya ke Bu Neneng ketika ia lupa apa nama ibukota kita. Yang utama, Yudi kini tahu bahwa Indonesia bukan hanya seluas desanya.

**

Status tertulis saya di Sekolah Kita Rumpin memang seorang pengajar. Namun, setelah resmi bergabung sejak akhir Oktober setahun silam, hari ini justru saya lebih merasa sebagai pembelajar. Kata kuncinya? Interaksi.

Bukan, ini bukan strategi promosi. Ini sekadar sebuah refleksi. Kecil memang, tapi saya harap bisa mencubit dengan keras.

Sindrom Rini

970997_418324068280583_1535817874_n

(perhatikan adik berkaus hitam tanpa kaca mata)

Pada kelas terakhir sebelum libur Lebaran tanggal 28 Juli silam, muncul sebuah fenomena menarik dari gabungan kelas 6 SD, SMP, serta SMK/SMA yang dipegang Kak Racil.

Seorang adik berumur 11 tahun duduk sendirian di teras mushola. Ia menolak bergabung di kelas teman-teman seusianya. Adalah Manda, salah satu fotografer relawan, yang pertama kali menemukan adik tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan kameranya, Manda berinisiatif memanggil saya.

Kak, lihat anak yang itu kan? Dia gak mau gabung.

Kenapa?

Katanya dia Kristen sendiri.

Setelah memanggil Racil sebentar, kami berdua pun berusaha membujuk si adik. Namanya Rini. Pelan-pelan ia mulai cerita bahwa hari itu pertama kalinya ia ke SKR atas ajakan temannya, Tita, yang lebih tua sekitar 2-3 tahun. Bujukan saya dan Racil nyaris sia-sia (Rini sempat mengiyakan kalau dia malu jadi satu-satunya anak yang tidak memakai jilbab di kelas seusianya) hingga akhirnya Tita dan beberapa adik SMP turut serta mengajaknya bergabung.

Di kelas yang dipimpin Racil tersebut, Rini duduk di samping Tita. Saya “terpaksa” *padahal rela banget* meninggalkan pos pendamping Kak Ana mengajari adik-adik kelas 3-5 SD atas nama penasaran. Tak butuh waktu lama mendapatkan info baru bahwa Tita adalah tetangga rumah Rini sehingga wajar Rini merasa paling nyaman bersama Tita.

Belum genap 10 menit ngobrol di sela-sela memperhatikan Racil dan adik-adik SMP/SMK bermain “Teman Baik”, Rini sudah mengeluarkan pernyataan lantang.

“Aku tahu kakak Kristen. Beda soalnya.”

*alien dong gue* *brb manggil awan kington* *apeu*

Setelah merespon pernyataannya, saya mengajukan tantangan baru.

“Kalau agama Kak Racil, tahu gak apa?” *iseng kumat di sini*

Rini menggeleng. Mendapat angin segar, saya meningkatkan level tantangan.

“Berani nanya langsung gak ke Kak Racilnya?” *iseng level Kaiju kategori 7* *ter-Pacific Rim*

Tiba-tiba, bermodal semangat Jaeger ’45, Rini bertanya dengan keras.

“Kak Racil agamanya apa?”

***

Tema besar Juli-Agustus 2013 adalah “AGAMA KITA”. Pokok tema ini adalah pensyukuran + perayaan keragaman serta penanaman pentingnya toleransi beragama. Salah satu metode ajarnya adalah meminta adik-adik menyebutkan teman mereka yang ‘beda’ (SARA, fisik, IQ, kondisi ekonomi, dll) lalu mereka dituntun memahami cognitive empathy lewat ajakan untuk “membayangkan bagaimana bila mereka menjadi teman yang ‘beda’ itu”.

Tanpa terduga, Rini hadir sebagai contoh hidup dari lingkungan keseharian mereka.

Sebagai kaum minoritas, keengganan Rini berbaur di awal menjadi konsekuensi sangat logis. Mau tak mau, ia pasti tampil mencolok. Bila ia adalah warga asli Kampung Cibitung yang terpencil dan keluarganya masih menyimpan efek trauma psikologis dari sengketa tanah yang berlarut-larut, tingkat kepercayaan dirinya bisa dibilang sangat-sangat rendah.

Trauma + minder karena orang kampung + minoritas karena lahir di keluarga Kristen.

Hattrick bencana inferior.

Sekonyong-konyong, nilai Percaya Diri serta Empati di Kurikulum Kita terasa tak pernah sepenting ini.

***

Berkaitan dengan jangkauan SKR yang telah mencapai desa-desa tetangga Kampung Cibitung, secara pribadi saya yakin masih banyak kasus bertema serupa bakal muncul di waktu-waktu mendatang. Deskripsinya sangat beragam : korban bully, karakter introvert akut, lokasi geografis tempat tinggal paling jauh, dll. Hal-hal ini berpotensi membuat anak-anak yang mengalaminya merasakan keminoritasan yang juga dialami Rini, bahkan tak menutup kemungkinan respon yang mereka tunjukkan jauh lebih defensif dari apa yang telah diekspresikan Rini.

Lambat laun inferioritas tak lagi menjadi milik eksklusif dari anak-anak non-Muslim atau non-Sunda di sana. Efek negatifnya bakal menyebar cepat seperti virus, apalagi dalam pikiran anak-anak yang masih gampang sekali tercemar. Alasan-alasan meminoritaskan seseorang bakal berkembang biak, termasuk dari pengetahuan-pengetahuan baru yang diajarkan oleh Kakak Kita setiap minggu.

Pengetahuan baru selalu punya dua wajah. Terkadang wajah yang diremehkan mampu meremukkan wajah yang diagungkan.

Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi perkembangan SKR, khususnya bagi kakak-kakak pengajar. Satu lagi prioritas penting telah dibukakan demi mewujudkan kemandirian Kampung Cibitung, Rumpin, di tahun 2018. Aspek kemandirian dalam konteks kasus demikian bersifat vital sebab menyangkut kedewasaan serta kekuatan mental. Bila digugah sejak dini, aspek kemandirian tersebut bakal menjadi nilai krusial bagi peningkatan kualitas hidup oknum bersangkutan.

Mari kita sambut adik-adik penderita “Sindrom Rini” selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang. Entah di Rumpin, entah di tempat lain. Entah sekarang, entah 5 atau 10 tahun lagi.

Cerita dari Tur Kita

Kamis 27 Juni 2013, saya berangkat menuju kota Bandung guna mempersiapkan Tur Sekolah Kita Rumpin yang akan dilaksanakan pada 29 Juni 2013. Dua hari sebelum saya ke Bandung, saya diberitahu pihak yang mengkoordinir transportasi Tur Kita bahwa bis yang sudah dipesan membatalkan secara sepihak. Mereka memberi alasan kalau bis yang kita pesan sudah diborong perusahaan lain. Sontak saja saya shock dan bingung. Saya menghubungi lebih dari 7 perusahaan penyedia bis pariwisata dan semua full book. Akhirnya ada satu perusahaan yang bisa menyewakan bis dengan kapasitas 59 kursi namun non-AC. Tanpa berpikir panjang, saya langsung pesan bis tersebut.

Tanggal 28 Juni, saya berangkat dari Bandung menuju Rumpin. Tiba di Rumpin pukul 14.20 WIB, saya langsung istirahat di rumah Bu Neneng. Seperti biasa, di rumah Bu Neneng warga ramai berkumpul. Mereka sedang mempersiapkan bahan makanan ringan buat bekal di jalan. Sederhana sih makanannya, tapi kebersamaan dari para orang tua adik-adik sangat tampak. Ketika malam tiba, beberapa adik datang ke rumah Bu Neneng sekedar bertemu saya dan bertegur sapa.

“Saya sudah tak sabar pengen cepat-cepat besok, kak!” kata salah satu adik. Senyum mereka membuat saya juga ikut tak sabar menanti hari esok.

Keesokan harinya, Sabtu 29 Juni, saya dan keluarga Bu Neneng sudah bangun sejak pukul 04.00 pagi untuk berkemas. Tak lama setelah saya selesai bersiap-siap, tiba-tiba terdengar suara “Assalamualaikum” dari luar rumah. Saya buka pintu dan ternyata adik-adik beserta orang tua mereka sudah siap sedia, lengkap dengan t-shirt “sebab setiap tempat adalah sekolah kita plus barang-barang bawaan mereka masing-masing. Saya lihat jam dinding ternyata baru pukul 05.00. WOW, pagi sekali! J Kami pun berjalan kaki menuju jalan besar menanti kedatangan bis. Setibanya di jalan besar ternyata bis sudah standby, tetapi baru satu unit. Ketika ditanya kepada pak sopir, ternyata bis satu lagi kesasar. Hmmmm..

Pukul 08.15, bis yang kesasar pun tiba. Tanpa menunggu lama, kami langsung menaiki bis. Perjalanan ternyata tak semulus perkiraan. Kami terjebak macet di tol Cikampek. Selama itu pula saya sangat tidak tenang sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, sedangkan Museum Geologi akan tutup tepat pukul 14.00. Namun kekhawatiran saya tak terjadi. Kami tiba di depan Museum Geologi pukul 13.30. Uhhhh lega!

Salah satu Kakak Kita membeli tiket sesuai dengan jumlah adik-adik, orang tua, serta kakak-kakak yang datang. Semua langsung masuk ke museum dan dipandu oleh pemandu museum. Terlihat senyum lebar dari mereka walau tak sedikit yang muntah-muntah sepanjang perjalanan tadi. Tak terasa jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka 2, tanda saatnya kami harus meninggalkan museum. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya kami berfoto bersama terlebih dahulu.

Setelah dari museum, kami melanjutkan perjalanan ke hutan terkenal kota Bandung yakni Babakan Siliwangi. Cukup senang dan membuat saya serta kakak-kakak terharu melihat keceriaan adik-adik dan orang tua yang sangat menikmati waktu mereka di sana. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada kami semua.

Pengalaman ini sungguh menegangkan dan mengagumkan. Tak lupa sebelum saya tutup tulisan ini, saya dan seluruh keluarga Sekolah Kita ingin berterima kasih kepada semua donatur dan masyarakat yang telah mendukung program ini hingga terlaksana.

Salam dari saya dan adik-adik Rumpin yang selalu memberi senyuman manis yang tulus. :)

 

IMG-20130630-WA0000

Ana Agustina
Kakak Pengelola
Sekolah Kita
Sebab setiap tempat adalah sekolah kita

Catatan Kecil Dari Olimpiade Taman Baca Anak 2013

Sebelas adik-adik Sekolah Rumpin mengawali 23 Juni 2013 jauh lebih awal dari biasanya. Pukul 4 pagi mereka bangun, shalat, dan bersiap pergi ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan Olimpiade Taman Baca Anak (OTBA) 2013 yang diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, mereka didampingi oleh Bu Neneng dan Ana yang tadi malam menginap di Rumpin. Saya sampai ke lokasi lebih awal dari rombongan untuk mendaftarkan nama Adik Kita serta mengambil kaos dan tanda pengenal.

Adik-adik mengikuti 2 lomba di OTBA 2013, yaitu lomba maraton mencari harta karun dan lomba kreativitas merakit mainan. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, berlanjut dengan kata sambutan, pertunjukan angklung, dan beberapa acara lainnya. Sementara menunggu lomba dimulai, adik-adik bisa berkeliling mengunjungi stand berbagai komunitas di sekitar panggung seperti Taman Bacaan Pelangi, 1001 Buku, Goodreads Indonesia, Sahabat Anak, Historia, Indonesia Menyala, WWF, dan lain-lain.

Perlombaan dimulai pukul 10:30 WIB; untuk lomba maraton adik-adik didampingi oleh Ana dan Widya sementara di lomba kreativitas oleh Giany dan saya. Rohadi menarik perhatian saya di kelompok lomba kreativitas, dia begitu cekatan dan bisa mengarahkan teman-temannya. Secara keseluruhan mereka mampu bekerjasama dengan baik dan tetap tenang menyelesaikan labirin kelereng dalam waktu yang relatif singkat.

Adik-adik yang mengikuti lomba maraton mencari harta karun juga tidak kalah serunya. Mereka harus melewati 6 pos yang dinamai dengan nama pulau-pulau besar di Indonesia untuk mendapatkan harta karun. Di setiap pos mereka akan diberikan beberapa pertanyaan terkait daerah di Indonesia seperti membaca peta buta, menebak lagu daerah dari liriknya dan menyanyikannya. Setelah mereka berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, mereka akan melewati berbagai macam permainan yang menguji kekompakan dan kecepatan mereka : bakiak, memindahkan air menggunakan batok kelapa yang dibolongi bawahnya, dan sebagainya. Adik-adik berlari dan tidak berhenti tertawa. Seeing those happy faces was priceless.

Jeda waktu selama 5 jam antara selesai lomba dan pengumuman kami habiskan dengan makan, ngobrol, serta kembali mengunjungi stand-stand komunitas sembari menonton acara tersisa. Di stand lukis wajah, Sari membuat saya dan Giany terbahak-bahak saat dia meminta wajahnya dilukis lantas bilang, “maunya gambar ular Kobra!”

Akhirnya saat pengumuman pemenang pun tiba, dimulai dari lomba drama, kreativitas, dan maraton. Hadiahnya adalah piala dan paket buku yang diberikan oleh para sponsor acara ini. Sekolah Rumpin belum berhasil membawa pulang kedua hadiah tersebut.

Herdiansyah melempar tanda pengenal OTBAnya setelah semua pemenang diumumkan. Saya memilih tidak mencegahnya mengungkapkan kekecewaannya karena perasaan itu manusiawi. Kemudian saya tersenyum lebar di depan Herdiansyah seraya menyodorkan tangan untuk tos dengannya, sambil bilang, “tahun depan kita ikut lagi ya!” Dia pun mengiyakan dan tersenyum balik.

Meskipun Sekolah Rumpin tidak memenangkan perlombaan OTBA 2013, saya tidak kecewa dan bersedih. Sesaat sebelum pengumuman 3 besar juara lomba maraton, ada kejadian yang membuat saya tersenyum puas bahkan membuat saya tak peduli lagi dengan nama pemenang yang akan disebutkan oleh pembawa acara.

Saat itu, untuk mengambil perhatian anak-anak yang mulai resah karena hari sudah cukup sore, salah satu pembawa acara berseru ke arah mereka, “siapa yang mau jadi juara 3?”, lalu saya melihat ada satu adik Sekolah Rumpin yang mengangkat tangannya. Kemudian seruan itu berlanjut dengan, “Oke, sekarang siapa yang mau jadi juara 2?” Kali ini ada sekitar tiga tangan yang terangkat. “Nah, siapa yang mau jadi juara 1?”. Kesebelas adik kita mengangkat tangannya dan berteriak, “SAYA!”

Menyaksikan hal itu membuat saya tercengang. Ah.. Mereka memang tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Kilatan mata dan teriakan mereka menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi bahwa mereka pantas untuk menjadi pemenang. Seluruh tangan yang  terangkat adalah bukti bahwa mereka tidak mau merasa cukup dengan menjadi yang ketiga dan kedua. Juara, bukanlah mengenai jumlah piala dan hadiah yang kamu bawa pulang, melainkan tentang mentalitas. Buat saya, hari ini, adik-adik Sekolah Kita telah menang.

Kids, I’ve said it, and I would never get bored to say it all over again, “I’m beyond proud of you”.

 

Lani Mariyanti
Kakak Koordinator Pengajar Tetap-Relawan
Sekolah Kita
Sebab setiap tempat adalah sekolah kita

“Kak, emang bener jawabannya begitu?”

oleh Lani Mariyanti

 

Hari Minggu, 3 Maret 2013, saya seperti biasa datang ke Rumpin untuk bermain dan belajar dengan adik-adik Sekolah Kita.

Kali ini saya memutuskan untuk mengajar Matematika untuk kelas 6 SD karena sebentar lagi mereka akan menempuh Ujian Nasional.

Seperti biasa pula, saya memulai kelas dengan menyapa mereka satu persatu, bertanya mengenai persiapan ujian, dan menuliskan beberapa pertanyaan Matematika di papan tulis.

Tepat di saat saya merasa semuanya akan biasa saja seperti minggu-minggu lalu, beberapa anak mengangkat tangannya bertanya lantang, “Kak Lani, yang ini gimana sih caranya?”

Mungkin bagi kalian di luar sana, hal ini sangat umum terjadi di sekolah manapun. Namun tidak di sini, tadinya.

Beberapa bulan lalu, mereka masih malu-malu, bahkan terkesan minder. Setiap kali saya melontarkan pertanyaan, mereka akan diam dan menggelengkan kepala. Lain waktu saat saya menunjuk mereka untuk menjawab pertanyaan, mereka menunduk dan bilang tidak bisa. Ini kondisi ceteris paribus anak-anak Sekolah Kita sebelumnya.

Sehingga wajarlah begitu mereka bertanya lebih dulu, serta-merta saya kaget dan senang secara bersamaan. Ada kemajuan, gumam saya dalam hati.

Ternyata kejutan belum cukup sampai di situ. Kelas ini sekali lagi berhasil membuat saya terpaku ketika seorang anak berani menantang saya dengan berkata, “Kak, emang bener jawabannya begitu?”

Untuk pertama kalinya saya tersadar bahwa anak-anak ini telah mengalami kemajuan pesat. Keberanian mereka untuk bertanya dan menyanggah membuktikan rasa ingin tahu dan percaya diri mereka telah tumbuh serta berakibat ruang belajar ini menjadi komunikatif. Hal ini merupakan salah satu momen terbaik dalam hidup saya.

Jika kalian bertanya mengenai pencapaian Sekolah Kita, maka saya ingin mengajak kalian untuk tidak mengukurnya dengan nilai rapor adik-adik di sekolah formal.

Sekolah Kita memberikan perspektif baru, di mana kami percaya bahwa seorang anak harus memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, kreatif, serta tak lupa berempati kepada sesamanya.

Hari ini, jika ada yang bertanya Sekolah Kita sudah sampai mana kemajuannya, saya akan menjawab dengan bangga, “Adik-adik Sekolah Kita sudah berani bertanya dan menantang jawaban kami.”

Kids, I’m beyond proud of you.

Refleksi Ultah I

Tumpeng Ulang Tahun Sekolah Kita

Sabtu lalu, kak Gea, salah satu kakak pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, membagikan sebuah artikel berjudul “Gerakan Sosial Sebagai Pemimpin” buah tangan Bukik Setiawan. Artikelnya dapat kalian baca di sini, dan dimaksudkan sebagai bahan refleksi bagi seluruh elemen yang ada dan aktif dalam Sekolah Kita Rumpin, terutama bagi Kakak Kita.

Paragraf pembuka artikel tersebut menyatakan bahwa gerakan sosial harus berangkat dari persoalan sosial nyata yang dialami masyarakat serta harus mampu melepaskan diri dari persoalan sosial tersebut guna melahirkan inovasi sosial plus tak terjebak lingkaran setan problematika. Gerakan sosial nihil visi akan selalu mencari musuh, selesai satu problem maka akan langsung mencari problem baru.

Menurut Mas Bukik pula, gerakan sosial umumnya memandang masyarakat dampingannya sebagai persoalan itu sendiri. Seakan-akan masyarakat tersebut sudah “nasibnya” tak bisa mandiri sehingga selalu tergantung pada “bantuan dari langit”, ibarat riwayat cerita orang Israel yang menanti-nanti datangnya roti manna dari surga ketika mereka berkelana menuju tanah Kanaan.

Salah satu solusi yang Mas Bukik tawarkan dalam artikel tersebut adalah pendekatan Appreciative Inquiry. Pendekatan ini menonjolkan sisi potensial dan karakteristik unik kesatuan masyarakat itu. Bagaimanapun juga, mereka yang mendiami wilayah tempat tinggal mereka, sehingga mereka pasti lebih mengenal sifat wilayah itu dari siapapun jua. Jika potensi individu plus karakteristik komunal mereka termaksimalkan, maka akan lahir sebuah persamaan sosial :

Pengenalan Lingkungan Menyeluruh + Visi Hidup + Kekuatan Karakter Unik Masyarakat = Inovasi Sosial

Dengan demikian, perubahan bukan lagi angan-angan, melainkan adalah budaya hidup, tradisi turun-temurun. Di akhir artikelnya, mas Bukik menekankan krusialnya transformasi gerakan sosial menjadi pemimpin sosial yang menggalang kekuatan sehingga kelemahan tak lagi relevan. Nah, mengapa artikel yang bagus sekali ini layak menjadi bahan refleksi bagi Sekolah Kita Rumpin?

***

Sekolah Kita Rumpin memiliki visi yang sangat jelas bahkan hanya dengan membaca definisinya saja (sekolah alternatif gratis yang memfasilitasi anak-anak korban sengketa tanah di Rumpin). Visi ini dilengkapi dengan empat tujuan besar : peningkatan kepercayaan diri, memicu rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan menumbuhkan rasa empati. Hal ini tak hanya berlaku bagi anak-anak murid, namun juga bagi warga Desa Cibitung di Kecamatan Rumpin. Walau saat ini perwujudannya baru sebatas skala anak, tapi dalam waktu 3-4 tahun ke depan, diharapkan visi ini sudah menjangkau tingkatan orang tua dan para pemuda.

Anak-anak dibimbing untuk menjadi generasi solutif dan kritis, mampu berkreasi demi mencapai kemandirian (finansial + pikiran + moral) secara pribadi serta peningkatan kualitas hidup sehari-hari di level keluarga. Mereka juga disiapkan menjadi generasi yang sanggup membela diri sendiri secara hukum dan diplomasi damai dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Orang tua dan para pemuda di lain sisi mendapat pembekalan wirausaha serta kemampuan mengajar. Tak lupa penanaman pentingnya bertoleransi serta pelebaran cakrawala berpikir terhadap berbagai hal, terlebih bila hal tersebut berhubungan langsung dengan masa depan anak-anak mereka. Mungkin dalam waktu 10-15 tahun mendatang, warga desa Cibitung kecamatan Rumpin, kabupaten Bogor telah mumpuni dan bangga memiliki sejarah kesatuan dan karya nyata sosial yang dapat terus mereka renungkan dan aplikasikan, lagi dan lagi.

Bisa dilihat jelas bekas jejak metode appreciative inquiry dari dua poin di atas. Faktanya, metode ini bukan barang baru bagi Sekolah Kita Rumpin. Sejak inisiasi sampai Kakak Kita Angkatan I aktif, Rara Sekar, Kakak Kurikulum, sudah seringkali mengangkat metode ini dalam obrolan-obrolannya. Begitu juga dengan kak Racil, pengajar tetap lainnya, yang bahkan telah menuliskan metode ini saat mengisi form pendaftaran online calon Kakak Kita.

Namun mayoritas teori di atas baru sebatas wacana. Inilah persoalan sesungguhnya. Jalan menuju realisasi masih sangat berliku dan panjang. Harapan terdekat bagi Kakak Kita beserta segenap elemen pendukung Sekolah Kita Rumpin adalah tetap menjaga komitmen dan konsistensi serta meningkatkan kualitas komunikasi ke dalam dan ke luar, tahun demi tahun, pelan tapi pasti.

Mungkin saat perayaan ulang tahun II di 2014, kita bisa sama-sama menikmati buah refleksi bersama ini..