Tur (mini) Kita 4

tur compile

Oleh : Azmi Iik Firdhausi (Kakak Riset)


The best classroom and the richest clipboard is roofted by the sky
–Margaret McMillan

Hari ini adik-adik berkesempatan melakukan outdoor adventure education melalui permainan fisik sekaligus mengasah otak dan kreativitas. Pembelajaran di luar ini merupakan metode belajar yang berfokus pada suasana belajar di luar yang menyenangkan. Konsep adventure juga berarti journeying out to embrace the experience. Ya, experience atau pengalaman lah yang menjadi kunci utama. Pengalaman belajar di alam dan belajar dari alam.

Secara garis besar outdoor adventure education terdiri dari tiga komponen yang tergambar dalam diagram berikut.

e
Sumber: Outdoor Education : Authentic Learning in The Context of Landscapes (Higgins, P. and Nicol, R, 2002: 11)

Metode pembelajaran ini melibatkan outdoor activities dimana pergerakan fisik di luar ruangan yang ditonjolkan dan berbeda dengan kegiatan ketika di dalam kelas; environmental education dimana belajar di luar ruangan akan memiliki dampak adanya perasaan keterikatan dengan alam sehingga pembelajaran tentang lingkungan dapat optimal; terakhir personal and social development yang menekankan mengenai peran diri dalam tatanan sosial dengan mengajarkan nilai-nilai seperti kerja sama dan peduli.

Pembelajaran ini diawali dengan adik-adik dibagi menjadi dua tim—Tim Garuda dan Tim Cantik. Konsep permainannya hampir sama seperti amazing race yang terdiri dari pos-pos dan tiap peserta akan mendapat misi di setiap pos. Untuk dapat memenangkan permainan, adik-adik harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya ketika mengerjakan misi.

Pos Pertama adalah Pos Kibar Bendera. Pos ini merupakan modifikasi dari perlombaan pada acara perayaan 17 Agustus. Di dalam permainan tersebut orang pertama harus memberikan bendera kepada orang selanjutnya sampai dengan orang keempat. Namun setiap orang harus melakukan satu tugas. Orang pertama membawa kelereng menggunakan sendok; orang kedua balap trash bag; orang ketiga memasukkan pensil ke dalam botol; dan orang terakhir jalan jongkok dengan mata tertutup. Pos pertama ini dapat memberi pelajaran tentang kerjasama, bersikap sportif, percaya pada tim, peduli dan empati, dan belajar berjuang dengan sungguh-sunggu untuk mencapai tujuan.

Pos kedua adalah Pos Sampah. Adik-adik diminta untuk mengambil sticky note yang bertuliskan jenis sampah yang ditempelkan di pohon. Setelah itu berlari dan menampilkannya ke asturo yang sudah bertuliskan “organik” dan asturo lainnya bertuliskan “anorganik.” Pos ini bermaksud untuk memberikan pengetahuan tentang sampah: bahwa tidak semua sampah itu sama, bahaya dan manfaat sampah, memahami pentingnya mengelola sampah dan yang paling penting adalah bagaimana manusia memiliki peran sentral dan esensial untuk menjaga lingkungan. Salah satu hal terkecilnya adala aware dengan sampah disekitar dan mau memilahnya.

Pos ke-3 adalah pos binatang ternak. Adik-adik mengambil tiga kata kunci. Tiga kata kunci tersebut harus dikembangkan menjadi sebuah dongeng fabel. Dua cerita yang dibuat oleh kedua tim sangat menarik. Tim Garuda bercerita tentang legenda musuh bebuyutan yang terjadi antara Kerbau dan Sapi, sedangkan Tim Cantik bercerita tentang Lomba Fashion Show di hutan. Pos ini mencoba mengenalkan apa saja hewan ternak dan karakteristiknya, meningkatkan keterampilan verbal dengan menulis kreatif, menulis dan mendongengkan, serta memahami pentingnya peran individu sebagai agen dalam kegiatan penciptaan karya secara kolektif.

Pos ke-4 adalah Pos Danau. Adik-adik diminta untuk melukiskan manfaat danau di selembar kertas sketsa. Pos ini mengajarkan untuk mengenal alam sekitar , memahami manfaat alam untuk keberlangsungan hidup manusia, merefleksikan kembali hubugan manusia dengan alam, belajar mengejawantahkan ide menjadi bahasa visual dan juga belajar tentang makna dari bersyukur.

Begitulah petualangan adik-adik hari ini. Petualangan yang semoga dapat menyisakan perasaan magis dalam diri setiap adik-adik atas pembelajaran yang didapatnya hari ini. Namun yang juga penting adalah: adik-adik bisa memahami bahwa definisi belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas dan nilai di atas kertas.

Salam.

Catatanku untuk Semua

20160222063318

*Sebuah catatan dari Kak Ana Agustina selepas menjadi narasumber di acara Rembug Sosial yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Seperti biasa saat pagi tiba, kubuka jendela dan kuhirup udara sejuk yang menghembus masuk ke sudut ruang kamar yang membuat tubuh ini malas beranjak. Kubaca kembali bahan presentasiku untuk seminar hari itu di UPI Bandung. Selesai siap-siap, hari itu cukup cerah dan masih pagi sehingga perjalanan menuju ke UPI cukup lancar. Kali ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI mengundang Sekolah Kita Rumpin yang diwakili olehku untuk mengisi acara tersebut sebagai narasumber yang akan berdampingan dengan narasumber lainnya. Narasumber tersebut diantaranya Guru Besar UPI, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, perwakilan dari Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (KOPPAJA), serta perwakilan dari komunitas Taman Baca Binar. Topik seminarnya yaitu menyikapi pendidikan di Indonesia : optimisme dan realitas.

Acara dimulai pada pukul 09.00 pagi dengan berbagai sambutan terlebih dahulu dan penampilan teatrikal dari mahasiswa seni UPI. Setelah rangkaian acara silih berganti, selanjutnya pembawa acara memberikan kepada moderator untuk memulai acara seminarnya. Moderator membuka acara dengan menyampaikan tentang situasi Indonesia yang menurutnya mengalami krisis yang di antaranya krisis moral dan kesenjangan social terutama pendidikan. Setelah moderator memaparkan argumennya, salah satu Guru Besar UPI yang dipersilakan untuk memberikan presentasinya terlebih dahulu, beliau menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia sudah cukup berkembang dalam bidang pendidikan. Hal ini karena pendidikan Indonesia sudah diakui dunia. Menurut Bapak tersebut, Indonesia diakui dunia dalam hal keterlibatannya untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan dunia dan menurutnya juga tak jarang Indonesia mendapatkan medali. Beliau juga memberikan opininya tentang beberapa solusi untuk memajukan kwalitas pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kwalitas guru, memberikan referensi tentang metode pembelajaran aktif, membangun akses pendidikan yang mampu memberikan kemudahan bagi setiap pendidik dan anak didik (sarana dan prasarana kegiatan sekolah, alat transportasi, dan komunikasi), serta membuat kurikulum yang sesuai dengan potensi daerah sehingga tidak disamaratakan standarnya antara satu daerah dengan daerah lain.

Berbeda dengan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, beliau menjelaskan tentang prosedur pengelolaan pendidikan, tata cara melengkapi standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta pendidikan merupakan instrument bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Menurutnya, pendidikan itu dapat membangun manusia yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Beliau juga memaparkan bahwa kurikulum berubah terus adalah keniscayaan, karena ketika berganti menteri tentunya kurikulum juga akan mengikuti perkembangan sesuai kebijakan dari menterinya. Bapak sekretaris dinas ini juga lebih banyak bercerita tentang uji kompetensi guru, perekrutan guru, dan segala hal yang berbau administrasi dan kebijakan baku pemerintah yang susah dirubah.

Lain halnya dengan narasumber yang mewakili komunitas peduli pendidikan anak jalanan yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya yang diliput oleh berbagai media yang membuat nama komunitasnya meroket bak pesawat jet. Dia bercerita bahwa komunitasnya tersebut menggunakan metode pembelajaran yang menyesuaikan situasi lingkungan anak-anak jalanan yang sedang dibinanya. Dia juga bercerita tentang kontribusinya di dunia pendidikan yaitu sudah menjadikan anak-anak jalanan untuk tetap bersekolah dengan jaminan beasiswanya.

Hal kagum aku tunjukkan kepada narasumber terakhir yang mewakili komunitas taman baca yang berada di Cipanas-Cianjur ini. Mereka adalah komunitas yang mempunyai program pojok baca, bioskop sekolah, dan buku berjalan. Komunitas yang mereka organisir adalah komunitas yang benar-benar mandiri secara finansial. Menjual merchandise seperti kaos dan totebag, juga punya kelas sablon untuk anak-anak yang ada di daerah Cipanas tersebut. Bercerita dengan penuh kesederhanaan, hanya menggunakan binder catatan kecil, tanpa power point, tanpa banyak berkata-kata, sehingga membuat suasana sendu saat itu.

Aku sendiri bercerita tentang sejarah Sekolah Kita Rumpin, sistem, dan program yang sudah dilakukan dan akan dilakukan. Kurikulum Sekolah Kita Rumpin yang mengajak seluruh keluarga besar Sekolah Kita Rumpin untuk menumbuhkan rasa empati satu sama lain antara adik dan kakak, menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri adik-adik dan kakak-kakak, sehingga mampu tampil percaya diri di mana pun berada, dan menumbuhkan kreativitas. Selain itu, Sekolah Kita Rumpin juga diharapkan mampu menjadi tempat berbagi kisah setiap individu yang ada di dalamnya dan tempat belajar satu sama lain. Sebab setiap tempat adalah sekolah kita, belajar bisa di mana saja dan dengan siapa saja.

Kegiatan seminar kemarin berakhir dengan penutup dari moderator yang mengambil simpulan dari setiap pemaparan narasumber yang kemudian ia tambahkan bahwa pendidikan akan berkembang jika semua kalangan saling mendukung satu sama lain.

Tak hanya berhenti di situ, aku dan beberapa teman dari komunitas Taman Baca Binar ngobrol lebih lanjut tentang berbagai hal yang sekiranya bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bertukar ide, program yang dilakukan masing-masing, sehingga menyepakati untuk saling mengunjungi. Komunitas Taman Baca Binar keberadaannya sudah 6 tahun, tetapi mereka sendiri masih terus berproses untuk menjadi sebuah komunitas yang stabil secara sistem, dan sumber daya. Mungkin suatu saat nanti kami bisa menjalin kerjasama, entah tahun ini atau tahun depan, yang jelas kami akan terus saling belajar.

Hari itu, banyak cerita yang didapat.

Mencerna makna yang tersirat.

Berpikir terbuka dan menelaah rasa.

Untuk satu kesamaan, demi cita-cita.

Volunteering and Its Impact on Education : A Hybrid Model

*tulisan berikut rampung pada pertengahan 2014 dan telah dimuat di Count Me In, Jakarta Globe awal tahun 2015*

 

By : Tiara Ayuwardani & Josefhine Chitra

 

Why do we volunteer? The motives may vary. There are so many reasons on why someone would voluntarily sacrifice their time and effort in doing something without being paid.It might be the thirst of experience, the need to feel useful or just pure love and total dedication ; God only knows what your reason to volunteer really is.

The act of volunteering has been an incredibly helpful source to many social movements. For short term events, the quantity of helping hands can do wonder. But for a longer commitment, such as education reform, can volunteerism still create an impact? Or to be more specific, a sustainable one?

As a citizen, a volunteer-based community opens up the opportunity to participate in mitigating the challenges in education sector. When a volunteering-community agrees to tap in the education sector, it needs to concede that the actions will bring long-term impact to the students’ life.

The thing about purely volunteer-based community is the members enroll themselves based on their conscience while acknowledging the community does not have the obligation to pay any salary. Therefore, the commitment degree of the members may vary, which might lead to a high turnover of the members, whereas social worker-based community is a volunteering model which the structure and system are usually more rigid with appropriate sanctions and incentive. The members are hired as full-time professionals with clear recruitment procedure.

To attain sustainable programs in education reform, the later is seemingly more suitable because the competency of the members has been assured. But it will also require bigger budget for salary allocation, which not many social movement can afford.

 

Sekolah Kita Rumpin : A hybrid model of communities

Every Sunday morning, the kids in Cibitung, Rumpin, wake up early and walk in approximately 30-60 minutes distance to arrive at a small mushola where they will learn in Sekolah Kita Rumpin. Sekolah Kita Rumpin or SKR, is an alternative school for children in Cibitung village who were victims of land eviction case.

At its first establishment, the founders of SKR has realized the unsustainable issue that often faced byvolunteer-based community ; therefore they agree to adopt a hybrid model of community – a fusion of the volunteer-based and the social worker-based community. There are some indications to prove the adoption of the hybrid model.

First : Clear core values as the curriculum

As any other firstly established community, things where chaotic. Teacher positions were filled by random volunteer and the teachers changed every week ; no curriculum or even objective. Having realized the importance of education for Rumpin kids’ lives, Ana Agustina consulted with Rara Sekar – who later then becomes theHead of Curriculum. After considering the necessity and the situation in Rumpin, finally they found four core values of Sekolah Kita Rumpin, which comprises of empathy, curiosity, creativity, and confidence. All teachers must adhere their teaching materials to these four core values.

Second : Clear supervision and check-and-balance on the teaching materials

Unlike other alternative schools which give lesson in school-given subjects, the teaching topics in SKR vary bimonthly, from paddy fields to history of technology. The teachers have to submit their materials to the Head of Curriculum no later than a week before the topic starts. After receiving feedbacks and approval, then they can implement the materials in their scheduled class.

They will also need to submit the online post-teaching evaluation form, to see how the class actually went and compare best practice from other classes. This system will help to ensure the teaching materials are in line with the core values and measure the objectives. In addition to that, SKR also has research team whose job task is to evaluate the impact for the kids in Rumpin as well as finding local’s relative advantage that can be developed as entrepreneurships.

Third : Clear and fair recruitment procedure

SKR does not welcome any sudden volunteer who cannot commit for minimum of one year. The reason is because they do not want to have teachers who just go to the class once and disappear without any continuity. Therefore, any applicant will be rigorously examined through written test and interview like applications for professional social workers, but without the payment.

In SKR, we need to maintain volunteerism both in quality and quantity because education is the root of everything. It will affect children forever. So, having pity or just want to add this as one of “social activity experience” in their CVis not enough. We need their ideas and commitment to achieve the sustainable impact for kids in Rumpin,” explained the Head of Curriculum.

Fourth : Empowerment of local people to be self-reliant in the future

SekolahKita aims to move out from Rumpin by 2018 after accomplishing two main targets : independent financial capability among the society and teachers regeneration from its own local people. To pave the way until 2018, SKR has 5-years plan as organization’s policy guideline. SKR also believes in entrepreneurship as a means to empower their financial capability. Stable entrepreneurship program may result to increasing the revenue of Cibitung village. To regenerate the teachers, Curriculum Division and Teachers Division will also prepare the students who have graduated from vocational or high school to be the next teachers for SKR. Through this way, the sustainable impact can be maintained.

Annisa dan Palu Pemecah Tembok

Suatu minggu di pertengahan tahun 2013, aku berkesempatan mengajar adik-adik kelas SMP-SMK. Waktu itu SKR belum menganut sistem ajar berbasis tim (karena konsep itu baru kupresentasikan, dan diterima secara aklamasi, pada sesi terakhir Kemah Kita di tahun yang sama), sehingga pembagian jadwal ajar mingguan masih menilik status individu sang Kakak Kita : ia pengajar tetap atau seorang pengajar relawan.

Materi yang kubawakan hari itu adalah Penyelam Cartesian = perlombaan memakai medium air dalam botol mineral memanfaatkan beberapa pemberat plastik, pengait, dan tabung plasma ukuran mini. Aturan mainnya sederhana :

1. Isi tabung plasma dengan air secukupnya hingga tabung melayang dalam botol

2. Ikat pengait ke ujung tabung

3. Angkat pemberat sebanyak mungkin dari dasar tabung.

4. Pemain yang paling banyak mengangkat pemberat adalah pemenangnya.

Sepintas permainan itu terdengar gampang, padahal tidak. Dari sebelas adik yang bermain, hanya dua orang yang sukses mengangkat lebih dari satu pemberat. Salah satunya adalah Annisa.

Cerita berikutnya datang tatkala ia bersama Atika meminta diajarkan cara membuat akun surat elektronik. Kali ini latar waktunya adalah awal 2014. Mereka berdua adalah siswa kelas 2 SMK yang sedang menyiapkan segala sesuatu guna memulai praktik kerja lapangan di bidang kesekretariatan dan hari itu Angga bertepatan membawa Mac pribadinya. Di sela-sela mengajar, momen ini jadi pengalaman perdana bagiku ngobrol panjang lebar dengan Annisa. Tentang sekolah, tentang teman, tentang rumah.

Kita pindah ke Starbucks Setiabudi One di bulan November 2014, lokasi pertemuanku dengan Kak Lani dan Mbak Kika, teman lama yang jadi narasumber workshop menulis kreatif bulan Mei silam. Kami berbagi tugas penyuntingan untuk konsep buku kompilasi tulisan para Adik Kita yang mengikuti workshop tersebut. Aku sendiri kebagian tanggung jawab mengkreasi salah satu bab yang kelak memuat tulisan Annisa.

Cerita teranyar berasal dari Desember 2014. Aku sudah mundur dari posisi Kakak Promotor namun tetap sering berkunjung ke Kp. Malahpar, memantau kondisi terbaru pasca insiden pencaplokan tanah 2 bulan sebelumnya. Persentase murid SKR dari Kp. Malahpar yang menanjak terus dari tahun ke tahun membuatku merasa perlu memasukkan lingkungan sekitar mereka sebagai salah satu prioritas pengamatan. Tapi sejujurnya, walau sering berkeliling kampung dan komplek perumahan di sekitar landasan udara Atang Sandjaja, baru kali itu aku sempat menginap di rumah Annisa. Kebetulan Ana dan Rara Sekar juga memiliki niat yang sama sebab mereka ingin membahas lebih dalam prospek kelanjutan sekolah Annisa (baca http://sekolahkitarumpin.com/untuk-ani/).

Tulisan Rara itu tak pelak memicu cerita-cerita lain dari balik layar seputar Annisa. Cerita-cerita yang tak akan pernah kalian dapatkan di kelas-kelas mingguan. Cerita-cerita yang berperan sebagai palu, memecah tembok pertentangan antara kecintaan pada komunitas vs kecintaan pada sasaran komunitas. Cerita-cerita yang mungkin bakal memaksa kamu yang membaca artikel ini guna berpikir ulang : bahwa sejatinya berbagi kisah, walau cuma satu malam, sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan kedekatan. Dan kedekatan dengan mereka sesungguhnya adalah mesin penggerak terkuat komunitas.

****

Dalam beberapa kesempatan, aku berulang kali bilang bahwa menunjuk Jojo sebagai penerus adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil selama jadi Kakak Promotor. Kapabilitasnya secara profesional selalu terpercaya, maka fokusku hampir tak pernah terbagi antara “menuntun penerus” dan “hal-hal selanjutnya di Dewan Pembina”. Penyebab utama konsistensi kapabilitas ini mungkin berasal dari status “ahli waris” Kakak Promotor yang sudah jelas sejak Maret 2014 sehingga aku punya waktu bersih setengah tahun menyiapkan doi. Rancangan yang rapi membuat proses delegasi berjalan santai.

Fokus yang hampir selalu total berdampak besar terhadap efisiensi penanganan prioritas berikutnya pasca lengser. Dalam konteksku, prioritas berikutnya adalah pengamatan mendalam terhadap Kp. Malahpar (geografis, sosio-ekonomi, tarik ulur relasi kuasa antara warga dan tentara). Bantuan survei fisik dan komunikasi yang sangat baik dengan perwakilan Tim Jendela turut meringankan rencana-rencanaku saat turlap. Koordinasi rutin ini membuatku tak pernah ketinggalan info sekecil dan seremeh apapun, tak terkecuali soal Annisa.

Pasca kunjungan bertiga pada bulan Desember 2014 itu, grup internal Dewan Pembina beserta Ana beberapa kali diisi dengan diskusi-diskusi seputar pendanaan. Puncaknya saat Yayasan Gemilang, sebuah organisasi sejenis Tunas Cendekia, menawarkan bantuan pendanaan penuh. Tawaran mereka sangat menarik : menanggung biaya kuliah, biaya tempat tinggal, serta biaya hidup Annisa sampai ia lulus asalkan Annisa bersedia bekerja dengan mereka selama liburan atau waktu-waktu luang lain yang tak mengganggu kegiatan kuliah. Tak disangka, lobi berjalan sangat mulus hingga akhirnya kesepakatan lisan tercapai dalam waktu kurang dari 2 minggu. Pada titik ini, kami praktis tinggal menunggu status baru Annisa sebagai mahasiswi serta pengesahan kontrak kerja tertulis antara SKR, orang tua Annisa, dan Yayasan Gemilang sebelum sebuah mimpi baru resmi terealisasi.

Mimpi yang kumaksud di atas bukan hanya mimpi Annisa untuk lanjut sekolah, namun juga mimpi Ana lewat sistem sekolah alternatif yang ia dirikan. Model penanganan bertahap terhadap Annisa ini, buatku, adalah purwarupa jika di masa depan SKR menghadapi kasus serupa. Bagaimana mendalami keinginan hakiki si adik dan memantapkan pilihannya, kemudian memenangkan hati orang tuanya, naik tingkat lagi ke pembekalan material secara sistematis serta konsisten jelang ujian seleksi masuk, dan terakhir berkampanye mencari partner pendanaan yang serius berkomitmen. Bayangkan bila model penanganan tersebut mereplikasi diri ke Adik Kita lainnya yang memang bercita-cita mengenyam pendidikan setinggi yang mereka mampu. Maka lumrah saja bila tahun 2018 nanti, jelang akhir ‘hayat’nya, SKR sudah memiliki skema beasiswa yang terintegrasi dalam sistem organisasi dan terakomodasi via status badan hukumnya pasca 2018.

Berkaca dari budaya lokal Desa Sukamulya yang teramat biasa menikahkan remaja perempuan usia 14-16 tahun dan terkadang mencemooh permintaan si anak untuk terus mencari ilmu ke tempat-tempat baru, SKR jelas butuh secercah simbol elemental guna menyeimbangkan dinamika sosial itu. Silakan menikah sedini mungkin, asalkan memang si anak sendiri yang benar-benar berniat menikah alih-alih melanjutkan sekolah. Eki Jaelani adalah contoh sederhana seorang adik yang tak berminat melanjut ke SMP. Begitu lulus SD bulan Juni nanti, ia memilih bekerja sebagai kurir proyek bangunan di kampungnya maupun kampung-kampung tetangga.

Sekarang saja, di tengah-tengah persiapan Annisa, aku dan Ana sudah menemukan segelintir adik lain yang berpotensi mengikuti jejaknya. Yang pertama jelas Ismatu Soleha atau biasa disapa Eha (kelas 3 SMP), adik penyuka novel dan doyan merangkai cerpen (belakangan menulis naskah teater untuk pentas Kelas Spesialis Teater) yang ingin masuk SMA tapi ditentang sang bapak lewat alibi “kan dibiayai saudara” serta “belajar agama lebih penting” (mirip dengan dokumenter Layu Sebelum Berkembang ; beberapa kakak yang ikut nonton masih ingat dong).

Dari sisi perkembangan intrapersonal, aku sudah sering menyatakan ketidaksetujuanku pada isu Annisa/Sari-sentris. Pembiaran terhadap isu itu hanya akan merugikan hubungan antar adik lantas berimbas ke SKR. Aku sendiri sudah ngobrol langsung dengan mereka berdua, Sari terutama, mengenai pentingnya tiap kakak berlaku objektif ketika mengajar, mengisi waktu luang bersama adik-adik, maupun menghabiskan waktu menginap di rumahnya. Mereka dapat menerima argumenku termasuk solusi yang kutawarkan guna mengenyahkan isu itu : menjadikan mereka patron inklusif di rentang usianya masing-masing. Cara terdekat adalah menunjuk Sari sebagai salah satu koordinator program Ojek Baca SKR.

Kita tilik pula sudut pandang branding komunitas. Bila Annisa berhasil melangkah lebih jauh dengan meraih status baru sebagai mahasiswi, ia serta perjuangannya adalah cerita sukses nyata perjuangan SKR. Tapi buatku pribadi, terlepas lulus seleksi ataupun belum, ia sudah menjelma menjadi simbol yang SKR butuhkan. Simbol yang aku dan Ana cari selama ini.

Menutup sekelumit cerita mengenai Annisa ini, aku berharap palu pemecah tembok itu tampil gamblang di hadapan kalian yang meluangkan waktu membaca.

Tembok bernama ‘terlalu fokus pada perumusan materi-metode ajar lantas melupakan kemanusiaan sasarannya’ (bukan begitu, Kak Tiara? :)).

Tembok berjudul sense of belonging toward community-based school.

Tembok bertajuk : Dilarang menembus zona terlarang menginap di rumah adik-adik. Peringatan : ancaman kesehatan, kotoran kerbau di telapak sepatu, serta (katanya) degradasi intelektual.

Re-imagine Learning Through DASA

Bagi kamu yang minimal bisa bermain catur, konten video di atas pasti bakal cepat kamu pahami.

DASA, diambil dari sebutan angka “10″ dalam bahasa Sansekerta, adalah sebuah permainan termodifikasi. Benar bahwa ia tak sepenuhnya orisinil, namun ia memiliki kompleksitas kerjasama tim yang absen dari permainan catur biasa.

Di level standar, DASA dimainkan oleh 10 orang yang masing-masing mengemban posisi : 3 Prajurit (Pawn), 1 Ksatria (Knight), 1 Prabu (Raja), 1 Mahapatih (Queen), 1 Patih (Bishop), 1 Adipati (Rook), serta tambahan 1 Diplomat (Negotiator/Peacemaker) dan 1 Pedagang (Trader). Pada level lebih tinggi, salah satu prajurit diganti dengan Malaikat (Angel) atau Algojo (Executioner) dengan ketentuan kedua posisi unik ini tidak boleh berada dalam tim yang sama + penempatan awalnya bebas selama sebaris dengan Diplomat/Pedagang.

Saat ini mari kita fokus pada penjabaran level standar.

1. Luas area yang diperlukan guna memainkannya berkisar dari 5×6 hingga 5×8 kotak. Bagi pemula sebaiknya mencoba dari area terkecil terlebih dahulu.

2. Tiap anak bebas bergerak mengikuti kehendak pribadinya sesuai gerakan posisi yang ia emban.

3. Saat timnya tertekan, Diplomat berhak mengajukan REMIS bila ia sanggup mengklaim ‘Kunci Mati‘ terhadap Prabu lawan hanya dalam 2x giliran. Hak istimewa ini sebaiknya dipergunakan ketika Prabu tim sendiri sedang terancam klaim Kunci Mati pada giliran lawan berikutnya.

4. Saat dirinya terkunci/terancam, Pedagang berhak meminta barter atas nyawanya dengan mengorbankan nyawa teman setimnya yang lain kecuali Prabu atau memberi giliran ekstra bagi tim lawan secara cuma-cuma.

5. Selama berkonsolidasi, usahakan agar tim lawan tak mengetahui kode-kode komunikasi atau strategi yang dipakai ketika menyerang.

Beberapa probabilitas yang muncul dari permainan ini :

1. Oleh sebab tiap anak bebas bergerak atas kemauannya sendiri, ia boleh mengabaikan strategi tim. Pengabaian tersebut bisa membawa kemenangan atau justru awal dari kekalahan timnya.

2. Anak-anak yang pasif akan terdorong secara otomatis untuk mempertahankan diri dan mencari jalan keluar baik bagi dirinya sendiri maupun bagi timnya secara umum.

3. Posisi Diplomat secara khusus melatih anak mengembangkan daya pikir kritis dan analisis rasional, sementara posisi Pedagang menguji ketahanan prinsip hingga kesetiaan pengembannya.

4. Tiap anak dapat terlibat dalam perumusan strategi menyerang maupun bertahan melalui proses diskusi serta komunikasi berkelanjutan, bahkan saat permainan berlangsung. Semakin banyak skenario strategi disiapkan, semakin baik kerjasama tim menghadapi kondisi aktual di area permainan.

Berangkat dari analisis di atas, DASA sejatinya mendorong terciptanya iklim bermain yang mengedepankan kerjasama tim, kepercayaan diri, kreativitas, daya pikir kritis, empati/oportunis, loyalitas, hingga pentingnya berkomunikasi secara rutin.

Akhir kata, silakan mampir ke laman proyek SKR ini di http://www.changemakers.com/project/dasa lalu mainkan bersama teman-teman kamu. :)

Workshop Menulis Kreatif

Halo!

Tanggal 4-18 Mei 2014 silam adalah masa pelaksanaan workshop menulis kreatif di SKR oleh Kak Kika Dhersy Putri. Adik Kita dari berbagai usia mendapat pembekalan dasar mengenai hal menggali kreativitas menulis terutama tulisan fiksi.

Saat ini hasil tulisan Adik Kita sedang memasuki proses kurasi guna menyaring karya-karya terbaik nan relevan yang nantinya akan bersatu dalam sebuah buku <– bagian dari program wirausaha kreatif tentunya.

Sambil menunggu kurasi berjalan, silakan menikmati video rangkuman kegiatan workshop hari terakhir berikut, satu karya lagi dari Kak Elizabeth Karina.

Pentas Perdana Kelas Spesialis Teater

Minggu, 4 Mei 2014, sebuah sejarah baru terjadi.

Kelas Spesialis Teater SKR mempersembahkan pentas lokal perdana mereka dengan tajuk “Bu Rini Uring-Uringan”.

Video berikut berisi pementasan secara utuh yang ditangkap oleh Kak Nuri Moeladi dengan apik :

 

Pasca pementasan, salah satu pelakon bernama Meisy Audina (6 SD) menyanyikan 2 buah lagu guna menghibur para penonton, diiringi musik seadanya oleh Kak Agung Utama :

 

Sejarah-sejarah lainnya telah menanti. Namun untuk saat ini, selamat menikmati!

Tuhan Les Taman Gula ke-2!

 

vlcsnap-2014-04-15-01h43m01s114

Buat saya, ada 2 hal yang terbersit dalam benak maupun batin saat SKR genap memasuki usia 2 tahun.

Pertama, tersisa 4 tahun menuju perwujudan misi utama : kemandirian wirausaha warga Kp. Cibitung dan sekitarnya serta regenerasi internal pengajar pendatang ke adik-adik alumni SKR.

Kedua, senyum lebar. Terhadap apa atau siapa? Serta apa pula sebabnya?

Standar sistem semakin tinggi –> seleksi alam Kakak Kita –> standar individual Kakak Kita meningkat –> kualitas performa serta evaluasi naik –> ragam bahan riset bertambah –> pengarsipan berlapis dan kaya materi –> terbentuknya pengukuran dampak secara signifikan plus tahan uji, baik terhadap Adik Kita, orang tua mereka, maupun warga kampung secara umum.

Seorang pengajar angkatan III pernah bilang (walau dia ngakunya lupa-lupa ingat) begini :

Mungkin lo pengen Kakak Kita ini pada upgrade diri, dari emas ke titanium.

Saya bilang bukan mungkin, tapi memang itu tujuannya. Standar tinggi membutuhkan manusia yang tak cepat puas dan bersedia mengeksplorasi potensinya terus-menerus. Bagi mereka yang tak bersedia naik tingkat, marilah kita sepakat untuk tak sepakat.

Sebagai komunitas serius yang mengedepankan kekokohan sistem internal – disiplin komitmen dan kontribusi – kebebasan berekspresi – metode ajar terpadu – pentingnya riset dan arsip, cepat atau lambat SKR bakal butuh Kakak Kita bertipe titanium, bukan lagi emas. Hal ini bisa terjadi tahun depan, dua tahun lagi, enam bulan lagi, atau bahkan besok. Jika anda tak bersiap dari sekarang, anda pasti ketinggalan jauh di belakang.

Di lain kesempatan, seorang kakak riset angkatan III melontarkan pernyataan :

“Wahh udah umur dua.. Ayo kita ajak SKR belajar jalan…”

Saya jawab :

“Telat. SKR cuma sampe 6 tahun. Sekarang harusnya udah belajar lari.”

 

Maka, selamat ulang tahun ke-2, Sekolah Kita Rumpin!

Selamat belajar berlari dan selamat melesat meninggalkan mereka yang tak mau ikut serta….jauh di belakang!

vlcsnap-2014-04-15-01h49m01s176

- Jonathan Manullang, Kakak Promotor -

 

Tentang Mimpi, Rumpin, dan Paris

oleh: Lani Mariyanti (@LaniThong)
Kakak Koordinator Pengajar Sekolah Kita Rumpin

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!”. Seberapa sering kamu mendengar kalimat ini? Saat saya masih sekolah, saya sering sekali mendengar kalimat ini keluar dari para guru untuk mengajak murid-muridnya bermimpi besar dan membuatnya jadi kenyataan.

Apa mimpi masa kecilmu?

Mimpi saya adalah menjalani hidup dengan mudah. Tidak harus bekerja setiap hari namun tetap mampu membayar semua tagihan kartu kredit saya. Saya sadari ternyata mimpi itu terasa sangat egois dan tidak lagi menarik.

Di masa kuliah, ada satu kejadian yang mengubah drastis cara pandang dan menggeser mimpi-mimpi saya. Suatu siang, sepulang dari kampus, saya menonton televisi yang sedang memutar liputan tentang anak-anak putus sekolah. Kebanyakan dari mereka bekerja untuk membantu orang tuanya sebagai pedagang asongan di pinggir jalanan Jakarta. Beberapa relawan berinisiatif untuk mengajar mereka di bawah kolong jembatan dan mengusahakan agar anak-anak ini bisa tetap ikut Ujian Akhir Nasional (UAN). Namun, mereka masih harus membayar untuk sekadar mengikuti UAN di tengah ketidakmampuannya. Saya tertohok. Liputan itu meninggalkan perasaan sedih dan marah atas ketidakadilan yang terjadi pada anak-anak tersebut. Hal ini membuat saya bermimpi membangun sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Kenapa sekolah? Menurut saya, pendidikan adalah kunci pengubah masa depan seseorang dengan merealisasikan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya yang kemudian akan memberikan perubahan positif kepada lingkungan sekitar, bahkan negara.

Tak terasa sudah hampir dua tahun Sekolah Kita Rumpin (SKR) berupaya untuk membangun empati, rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan kreativitas di dalam diri anak-anak Kampung Cibitung dan Malahpar, Rumpin. Keempat nilai ini memang terdengar abstrak, sulit dinilai, dan tidak banyak yang menyadari bahwa mereka adalah fondasi terpenting dalam hidup manusia sehingga sering luput diajarkan di sekolah formal. SKR percaya bahwa penanaman nilai-nilai ini harus terus-menerus dilakukan. Selain itu, kami juga ingin agar adik-adik SKR berani bermimpi besar di tengah segala keterbatasannya.

Masih jelas di ingatan saya, di bulan-bulan awal kelas SKR dimulai, seorang kakak pengajar bertanya kepada adik-adik tentang cita-cita dan mimpi mereka.

“Menjadi tukang jus mangga,” tulis seorang anak.

Saya terkejut. Realita yang mereka hadapi setiap hari telah merenggut kemampuan seorang anak kecil untuk bermimpi.

Hari Minggu, 5 Mei 2013, seperti biasa, saya datang ke Sekolah Kita Rumpin untuk bermain dan berbagi ilmu dengan adik-adik. Saat itu, saya mengajarkan pentingnya menabung dengan menggunakan permainan ular tangga yang saya buat sendiri. Di akhir permainan, saya meminta mereka menuliskan pendapat tentang pentingnya menabung dan jika tabungannya sudah banyak mau digunakan untuk apa. Setelah mereka selesai, saya membaca jawaban mereka satu-persatu. Semuanya sepakat bahwa menabung itu penting, sedangkan jawaban untuk pertanyaan lainnya beragam. Banyak dari mereka menjawab tabungannya akan dipakai untuk membantu orang tua, membeli keperluan sekolah, membeli baju baru, serta mainan. Di antara semua jawaban itu, ada seorang anak yang membuat saya tersenyum lebar dan terharu. Jawaban dia, “kalau tabungannya sudah banyak, aku ingin pakai buat jalan-jalan ke Paris dan naik haji sama keluarga.”

Tentang Mimpi, Rumpin dan Paris

Bagi ukuran anak seorang petani yang seumur hidupnya dihabiskan di kampung, hanya pernah 2-3 kali ke kota, impian tadi luar biasa. Ia berani bemimpi besar, jauh mengatasi semua keterbatasan yang ada. Saya bangga.

Misi SKR sekarang adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada adik-adik untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tentu saja kalian, para pembaca tulisan ini, juga dapat membantu merealisasikan harapan mereka.

2014 : Riset Terpadu, Sistem Internal, Hirarki Pendidikan

main-banner-sekolah-kita-rumpin-1

 

Halo semuanya!

Saya sangat antusias menyambut tahun 2014. Selain karena masa memilih pemimpin baru Indonesia akhirnya tiba, pengejawantahan hal-hal rinci dari konsep sistem organisasi yang dikembangkan di Sekolah Kita Rumpin akan berlangsung pada tahun ini.

Pertama-tama, sebagai sekolah non-formal yang memfasilitasi pendidikan alternatif, saya sangat senang mengetahui bahwa SKR telah memulai program riset terpadunya. Berawal dari gagasan Kakak Kurikulum yang menekankan pentingnya pelaksanaan riset, kini telah terbentuk 2 tim Kakak Riset :
-) Tim Pensil, bertugas mengobservasi perkembangan adik, performa tiap pengajar, rekomendasi pemutakhiran materi ajar, serta mengukur dampak materi-metode ajar pada adik2.
-) Tim Jendela, bertugas melaksanakan riset jangka pendek (eksperimental-insidental) dalam aspek pendidikan-psikologi-sosial-ekonomi serta menemukan potensi lokal masyarakat lalu mengembangkan usaha bersama yang sesuai dengan potensi lokal tersebut.

Perhatikan kata pengantar yang terdapat pada Program Kerja Tim Riset berikut :

Seperti teman-teman ketahui, banyak sekali kegiatan sosial, relawan, ataupun gerakan pemuda lainnya yang ada di Indonesia. Berjamur setiap tahunnya. Namun boleh dibilang, tidak banyak yang berani melakukan kritik diri untuk terus mengembangkan performa dari organisasi atau gerakan tersebut. Seringkali semua terlena dengan pujian-pujian di permukaan yang diperoleh dari media sosial serta pengakuan di konferensi-konferensi nasional bahkan internasional.

Tetapi tidak di Sekolah Kita Rumpin. Berkecimpung langsung di dunia pendidikan, walau non-formal, kami sadari adalah peran yang begitu krusial sebab berhubungan langsung dengan masa lalu, masa kini, serta masa depan adik-adik yang kita bina. Bagaimana caranya agar semua kakak yang tergabung dalam Sekolah Kita Rumpin bisa terus memberikan yang terbaik untuk adik-adik? Tidak terbuai dengan status quo? Dengan terus mengevaluasi diri.

Di sinilah peran teman-teman yang tergabung dalam Tim Riset berperan. Teman-teman adalah bagian yang sangat penting dalam memajukan Sekolah Kita Rumpin karena teman-temanlah yang akan membantu menemukan kekuatan, mendiagnosis kelemahan, dan mencari solusi untuk perkembangan kurikulum dan metode pengajaran di Sekolah Kita Rumpin melalui laporan-laporan berkala, publikasi riset yang menarik, hingga pemutakhiran materi dan alat ajar. Selain itu, Tim Riset juga akan membantu menggali potensi masyarakat lokal Rumpin sehingga nantinya SKR tidak hanya berdampak langsung pada adik-adik, namun juga kepada masyarakat Rumpin pada umumnya.

Bersama-sama kita belajar membuat Sekolah Kita Rumpin menjadi organisasi muda yang berkembang secara dewasa.
Sekali lagi, selamat datang, dan selamat belajar bersama di Sekolah Kita Rumpin

*merinding*

Kedua, konsolidasi internal. Ini adalah tema utama Rencana 2014 SKR. Dengan sistem yang semakin teruji lewat pengalaman-pengalaman di lapangan, saya berharap Kultur Organisasi SKR (baca menu Tentang Kita) segera menapak di permukaan. Masing-masing Kakak Kita paham benar serta menjalankan bagiannya dengan sebaik-baiknya, menguatkan budaya kerjasama tim serta saling menjunjung tinggi kebebasan berpikir/berpendapat/berkreasi.

Tanpa sistem internal yang solid, citra sehebat/sekeren apapun di luar sana sia-sia saja kan?

Terakhir, saya hendak mengutip kata-kata beberapa kakak pengajar tetap di bawah ini.

Apa yang ingin kuubah? Hirarki dalam pendidikan. Semua orang masih berpendapat bahwa IPA lebih tinggi daripada IPS dan IPS bahkan lebih tinggi daripada Bahasa dan Olahraga. Hal-hal ini, menurutku, membatasi minat sehingga tidak berani mengejar impian pribadi (misalnya ingin jadi seorang pelukis) karena orang menganggap itu sebelah mata, gak potensial lah, gak lebih bagus daripada kalau kerja sebagai insinyur.
- Tiara Ayuwardani (salah satu materi dokumenter Sekolah Kita Rumpin)

Cara pandang pasca revolusi industri yang bikin hal-hal yang sejatinya nir-hirarki menjadi terklasifikasi dalam hirarki
- Gigay Citta Acikgenc

Salam,

Kakak Promotor Sekolah Kita Rumpin