Sekadar Keberanian Bicara di Depan

Rumpin

Oleh : Ananda Badudu

Kunjungan ke Rumpin kali ini dipenuhi dengan obrolan. Tentang Bu Neneng, keluarga, dan warga. Juga tentang tanah, pendidikan, kampung, dan kota.

Sabtu 26 Januari kemarin saya datang ke sana untuk menemani videografer Adhito Harinugroho mengambil gambar dan wawancara Bu Neneng. Dia berencana membuat semacam film dokumenter tentang Sekolah Kita. “Susah ambil gambar sambil wawancara, tak bisa sendiri,” kata Dhito suatu kali.

Kami datang kelewat malam, pukul 21.00 baru tiba. Maklum, tak tahu jalan. Biasanya ke Rumpin naik kereta, kali ini dengan sepeda motor. Sesampainya di sana Bu Neneng menjamu tetamu dengan air putih dan pisang setandan. Kebetulan, selain kami, ada tiga bapak-bapak lain yang sedang bertamu di sana.

Di ruang tengah rumah Bu Neneng kami meriung. Ditemani televisi kecil yang nyala tanpa suara, menayangkan Nassar KDI, menari-nari dan nyanyi di panggung MNC, riang karena anaknya yang diculik sudah kembali “Remotenya rusak, pencetannya enggak ada, enggak bisa dikerasin,” kata suami Bu Neneng. Obrolan dimulai dengan tema rute jalan menuju Rumpin. Bapak-bapak berdebat rute mana yang paling singkat.

Saya mengangguk-angguk saja karena tak paham medan, patokan-patokan jalan yang disebut bapak-bapak tak kebayang di kepala. “Seharusnya ambil dari Pamulang, nanti di air mancur BSD belok kanan,” kata si bapak. Di mana itu air mancur BSD? Saya tak tahu, saya yakin Dhito juga tak tahu, tapi saya lihat dia ngangguk-ngangguk juga.

Di sela obrolan, Ibunya Munir membagi beberapa gelas kopi dan dua piring martabak, disebar menjalar ke tetamu yang ada. Obrolan beranjak ke siaran televisi. Ada anaknya Nassar yang baru lepas dari tangan penculik, diwawancara live di studio MNC. “Kasihan itu anak mukanya lemas belum tidur, ditanya-tanya di tivi,” kata bapak tetangga bu Neneng.

“Saya ambil gambar bu Neneng boleh ya bu,” Dhito bertanya. “Oh, sekarang mau diwawancara?” Bu Neneng menjawab. Ia berjalan ke belakang mengambil kerudung, kemudian kembali ke ruang tengah. Kerudung sudah dikenakan, pertanda Bu Neneng siap diwawancara. Obrolan dengan Bu Neneng di rumahnya terpotong pukul 24.00 malam. Waktunya tidur.

Wawancara dilanjutkan pagi hari. Setelah Bu Neneng shalat subuh dan membaca Quran di rumah, ia menuntun kami mengelilingi kampung Cibitung hingga sampai ke sawah miliknya. Sepanjang wawancara, ia cerita tentang segala. Tentang dirinya, keluarga, dan warga. Juga tentang tanah, pendidikan, kampung, dan kota.

***

Tanah bagi Bu Neneng adalah penopang hidup keluarga. Tanah digunakan sebagai tempat membangun rumah, sisanya diolah jadi kebun dan sawah. Ibu Neneng sejak lahir tinggal di kampung Cibitung. Ia lahir tahun 1970-an. Ia tak tahu persis sejarah kepemilikan tanah tempat rumahnya berada. Yang ia tahu tanah itu adalah tanah warisan turun temurun entah dari buyut ke berapa. “Sudah dari zaman Jepang dan Belanda,” katanya.

Sebenarnya kampung Cibitung letaknya tak jauh dari kota. Di depan kampung ada komplek perumahan dengan jalan mulus. Satu kilometer dari sana tengah dibangun proyek perumahan super besar, area pengembangan hunian asri Bumi Serpong Damai.

Tapi kampung Cibitung terisolasi. Sejak Bu Neneng lahir hingga kini, tak pernah ada upaya pembangunan jalan aspal menuju kampungnya. Bu Neneng menduga beberapa musababnya. Pertama karena kampung Cibitung secara administratif berada di perbatasan Tangerang dan Kabupaten Bogor. Barangkali pemerintah bingung, pembangunan di kampungnya urusan siapa.

Kedua, tanah di sana berada dalam sengketa dengan tentara Angkatan Udara. Penyelesaian sengketa tentu tak mudah. Mesti ada political will yang besar dari pemerintah menuntaskan sengketa tanah warga dengan tentara. Di Jakarta, butuh seorang Jokowi untuk membuat kebijakan tanah yang pro rakyat kecil. Dia berjanji beri sertifikat lahan kampung yang sudah ditinggali lebih dari 20 tahun. Bupati Bogor? Siapa yang tahu. Apalagi urusannya dengan tentara.

Belum lagi faktor pengembangan hunian Bumi Serpong Damai (BSD) yang merambah ke wilayah-wilayah dekat kampung Cibitung, tempat tanah Bu Neneng berada. Jika berprasangka sedikit konspiratif, muncul pikiran kampung sengaja diisolasi dari pembangunan agar mudah mengusir warga jika BSD mau ekspansi nanti.

Cara pandang soal tanah memang jelas berbeda dengan cara pandang orang kota. Orang kota bisa hidup tanpa tanah. Mereka kerja lalu kalau sudah mampu beli tanah sekadar untuk ditinggali. Yang lebih beruntung mungkin beli untuk investasi. Bu Neneng mengolah tanah untuk hidup dan berharap hasil olahan tanah bisa memajukan anak-anaknya, bisa membawanya ke pendidikan yang lebih tinggi.

“Patut bangga Bu Neneng meski di kampung, tapi ibu punya tanah. Orang kota belum tentu punya,” kata saya sekenanya menimpali cerita Bu Neneng. “Iya, tapi orang kota punya pendidikan. Orang kayak kita cuma punya tanah?” Balasan Bu Neneng yang juga sekenanya ini sungguh jleb mengusik hati. “Lulusan SD seperti saya kalau ke kota ada kerja apa,” katanya.

Soal kepemilikan tanah mulai terusik pada 2007, ketika tentara masuk berniat membangun fasilitas pelatihan. Bentrok fisik tentara dengan warga pecah pada Januari lalu. Laki-laki dikejar, ada satu warga yang tertembak di leher. “Warga menolak kehadiran tentara. Kami spontan beraksi bawa-bawa spanduk, teriak-teriak, sampai cium-cium sepatu tentara,” kata Bu Neneng.

Enam tahun setelah bentrok, persoalan tanah belum juga selesai. Masalah sengketa bukannya kian terang malah makin buram. Bu Neneng tak yakin sengketa tanah bisa selesai dalam waktu dekat. Bisa jadi, kata Bu Neneng, sengketa itu diteruskan ke generasi berikutnya.

Percakapan dengan Bu Neneng memberi perspektif baru kepada saya yang tak bisa dipungkiri termasuk dalam kelas pekerja kota. Pikiran pun melayang. Bukan tak mungkin ketika usia memasuki kepala lima nanti saya tergiur membeli satu unit hunian asri di Bumi Serpong Damai. Saya membayangkan diri saya menjabat tangan staff marketing pengembang sambil mengucap: “Terima kasih pak, jadi kapan bisa saya tempati?”

Tak tahunya rumah yang dibeli dibangun di atas tanah yang dulu ditinggali Bu Neneng dan buyut-buyutnya. Mereka terpaksa meninggalkan tanahnya karena tak bisa membela diri di hadapan tentara, Badan Pertanahan Nasional, dan sidang-sidang sengketa. 50 tahun kemudian tanahnya dibangun rumah oleh pengembang, kemudian ditempati “kelas menengah” seperti saya. Bu Neneng dan keluarganya? Siapa peduli.

Bu Neneng mengatakan ia tak berniat menjual tanah yang ia tinggali sejak lahir. “Saya perjuangkan, sampai kiamat,” katanya. Bentrok 2007 lalu menjadi titik balik bagi bu Neneng. Sejak itu ia menyadari pentingnya pengetahuan berorganisasi untuk membela tanah, dan juga pendidikan bagi anak-anak. “Dulu mana bisa saya bicara di depan seperti sekarang,” katanya. Bu Neneng pun mengakui pengaruh pendidikan untuk perubahan tak akan seketika terasa. Ada hal sederhana tapi menarik yang disampaikan Bu Neneng tentang pendidikan di tengah wawancara panjang itu. “Ya setidaknya nanti anak-anak berani bicara di depan,” katanya.

Sesi wawancara berakhir di sebuah warung di kompleks rumah seberang kampung Cibitung. Bu Neneng disuguhi dua botol air dingin, biskuit, dan roti oleh ibu pemilik warung. Si ibu menolak dibayar saking kenalnya dengan Bu Neneng. Saya pamit ke Jakarta karena masuk kerja. Bu Neneng dan Dhito duduk di sana menunggu kedatangan kakak-kakak Sekolah Kita. “Kasitau Nana, kita lagi di komplek Perum,” kata Bu Neneng.

Berkebun Bersama Adik-Adik kita

_DSC0107

Sebagai penutup dari rangkaian kelas “Sawah Kita”, dan juga sebagai pengawal tema besar berikutnya yaitu “Kebun Kita”, pada tanggal 23 Desember lalu, kakak-kakak bersama adik-adik Sekolah Kita menghabiskan waktunya tidak di dalam kelas, melainkan di luar kelas! Seru sekali :)

Di belakang rumah Ibu Neneng, kebetulan ada lahan yang cukup besar yang bisa digarap menjadi kebun kecil. Bergotong-royong kita membuat kebun Sekolah Kita dari 0. Ibu Neneng, yang juga bekerja sebagai ibu tani di Rumpin, mengajari kita banyak tentang tata cara bercocoktanam yang benar. Terlihat sekali, bagaimana dalam kegiatan tersebut lebih banyak belajar kakak-kakaknya ketimbang adik-adiknya! Hahaha.

Selain menanam cabe, adik-adik juga menanam bengkoang. Saat menggali tanah, adik-adik juga bertemu dengan banyak cacing. Cacing-cacing yang menggeliat keluar dari tanah oleh adik-adik tidak dibunuh (walau sempat ada yang histeris dan langsung refleks dilempar ke langit haha), melainkan dimasukkan kembali ke dalam tanah agar tidak kepanasan. Toh, adanya cacing dalam tanah menunjukkan tingkat kesuburan tanah Rumpin. Hihi.

Ini dia foto-foto beberapa adik-adik kita bersama benih yang mereka sudah tanam. Semoga terus dirawat dan disayang, agar kelak tumbuh menjadi kebun Sekolah Kita yang indah!

Salam,
Keluarga Sekolah Kita

PENGAJAR TETAP | PENGAJAR RELAWAN

Berikut adalah perbedaan mendasar antara posisi pengajar tetap dan pengajar relawan di Sekolah Kita Rumpin, berdasarkan Sistem Ajar 2014 :

1) Pengajar Tetap BERHAK memimpin kelas sendiri (sehingga mereka dapat dianggap sebagai wali kelas), sementara Pengajar Relawan hanya bertindak sebagai pendamping dan atau pengisi kekosongan kelas yang disasar tim ajarnya tatkala sang pengajar tetap berhalangan.

2) Durasi komitmen Pengajar Tetap minimal selama 18 bulan sementara bagi Pengajar Relawan minimal selama 12 bulan. Kedua jenis pengajar boleh memperpanjang komitmennya di akhir masa durasi dengan mengajukan pemberitahuan kepada Koordinator Pengajar.

Sekolah Kita Rumpin di Peringatan Hari Anak Universal

“Walaupun orang kampung tapi kita keren..”

Mungkin kakak-kakak masih ingat tulisan dari Kakak Kepala Sekolah kita, Ana Agustina tentang perayaan Hari Anak Universal tanggal 25 November silam.

Tadi sore, Kak Adhito Harinugroho baru selesai mengunggah sedikit dokumentasi video dari acara tersebut. Keren sekali! Rasanya tidak sabar untuk melihat versi lengkapnya.

Terima kasih banyak ya Kak Dhito, ditunggu karya-karya tulus lainnya bersama Sekolah Kita :)

 

cropped-banner_sekolahkita_2.jpg

Peringatan Hari Anak Universal

Walaupun orang kampung tapi kita keren…

Yak, itulah kata-kata yang keluar dari adik-adik kita di  Rumpin. Masih terngiang di telinga saya akan kata-kata itu. Rasa sakit hati yang timbul di hati mereka ketika harus mendengar salah satu ejekan teman dari komunitas lain tentang identitas mereka sebagai orang kampung.

Pada tanggal 25 November 2012 lalu, adik-adik Sekolah Kita mengikuti kegiatan di jakarta dengan adik-adik dari komunitas lain untuk bermain bersama, berlomba dengan gigih dan penuh harap agar bisa jadi juara. Perlombaan yang diikuti adalah perlombaan menyanyi, menggambar dan mewarnai, hasta karya, makan kerupuk, serta meniup balon.

Semua perlombaan itu diikuti oleh 2 komunitas dari latar belakang yang berbeda. Sekolah Kita yang berada di Rumpin Bogor, jauh dari pusat kota dan keramaian membuat daerah ini disebut kampung. Kehidupan sederhana dengan latarbelakang keluarga petani, buruh pabrik dan buruh bangunan membuat karakter mereka menjadi pemalu sehingga susah berkomunikasi dengan bahasa yang tak biasa mereka pakai. Sedangkan komunitas yang menjadi lawan berlomba berasal dari komunitas anak kota yang hidup di Jakarta. Aktif dan pemberani, itulah karakter mereka.

Ketika perlombaan dimulai, adik-adik Rumpin mulai berbaur dengan lawan bermainnya. Pada awalnya mereka tak saling bertukar nama. Interaksinya pun sangat minim, dan tak tampak niatan untuk saling mengenal. Untungnya, dari semua perlombaan, Sekolah Kita cukup unggul sebagai juara. Tibalah saat-saat pemberian hadiah untuk semua juara dan semua adik-adik yang mengikuti kegiatan. Sebelum dibagikan hadiah, panitia meminta semua adik-adik untuk berkenalan satu sama lain, supaya mereka punya kenang-kenangan dengan teman barunya. Seorang kakak pembimbing mengintruksikan agar adik-adik mencari teman baru minimal 5 orang dan mengetahui namanya.

Si kakak itu berkata, “Ayo adik-adik, cari teman baru kalian 5 orang sebelum hadiah ini dibagikan. Kakak ingin kalian punya 5 nama teman baru kalian itu.”

Tiba-tiba terdengar suara adik kecil yang bilang, “Ga mau!”, sambil berteriak kencang sepenuh tenaga. Adik-adik dari sekolah Kita pun menjawab, “Kita juga ga mau!”

Sampai akhirnya ada satu adik dari komunitas lain mengatakan, “Aku ga mau kenalan sama mereka, soalnya mereka itu hitam!”

Suasana mulai memanas karena adik-adik sekolah kita merasa kecewa dengan perkataan mereka hingga akhirnya mereka menjawab,

Kami hitam dan dari kampung, tapi kami keren.”

Saya berinisiatif menenangkan suasana dengan memberi kesempatan kepada semua anak untuk berkenalan satu sama lain. Mereka tetap menolak. Sekali lagi saya berteriak untuk mengintruksikan bahwa mereka harus berkenalan dengan teman dari komunitas lain, minimal sebanyak 5 orang. Lagi-lagi mereka tak sanggup hingga akhirnya saya pun bilang, “Jika tidak ada yang mau berkenalan, maka hadiah tidak akan kakak bagikan”.

Adik-adik mulai berpandangan satu sama lain, dan berpikir mungkin lebih baik berkenalan daripada hadiah tidak dibagikan. Sampai akhirnya semua berbondong-bondong mencari teman yang tidak mereka kenal untuk menanyakan siapa namanya.

Saya berteriak kembali, “Ingat ya kenalannya minimal 5 orang, dan harus hafal namanya.”

Proses perkenalan pun makin ramai dengan sorak-sorai dan saling memberitahu kalau masing-masing dari mereka sudah punya 5 nama teman yang baru saja mereka kenal. Saya kagum dengan proses perkenalan mereka yang cenderung mendadak menjelang acara selesai. Tidak hanya itu, adik-adik dari Sekolah Kita tidak merasa kecewa lagi setelah proses perkenalan tersebut. Rasa kecewa itu hilang begitu saja, dan semua akhirnya tertawa riang dengan mengingat-ingat nama yang sudah mereka dapatkan saat berkenalan.

Sebelum mereka berpisah, mereka tak lupa berpamitan satu sama lain. Dan tentunya berfoto bersama. Nice!

IMG00915-20121125-1240 (640x480)

Semua adik-adik komunitas lain kembali ke tempat asalnya masing-masing sementara adik-adik Sekolah Kita bersama saya dan Kak Lani berangkat ke Monas. Seru dan mengharukan ketika melihat mereka kegirangan bisa berkunjung ke Monas. Salah satu adik bilang, “Lain kali kita ke sini lagi ya kak!” Mendengar itu aku langsung bilang, “Iya, nanti semua adik-adik Sekolah Kita datang ke sini untuk masuk ke Monas.”

Acara kunjungan sore itu ditutup dengan foto bersama lagi.

IMG-20121125-00299 (480x640)

Sampai bertemu lagi di Monas adik-adik.

Salam semangat!

 

- Ana Agustina, Kepala Sekolah Kita -

Sekolah Kita: Ashoka Young Changemaker

Ubud

Perjalanan Ubud – Airport Ngurah Rai biasanya memakan waktu 1,5 jam paling lama. Anehnya, kali ini, di atas motor Pak Made, bapak kosanku, perjalanan terasa begitu lama. Entah, mungkin perasaan saja karena sepanjang jalan aku mendengarkan Dinah Washington.

Setelah sampai di airport, ternyata betul lama. Sehingga aku sampai mepet sekali dengan jadwal check in. Sesampainya di counter, antre sudah panjang. Aku berusaha memberi bli-bli yang mengurus bagian check in eye contact. Pesawatku pk. 20.30, pk. 19.45 aku masih antre di belakang bapak-bapak yang juga tak kunjung dilayani. Ah, pikirku. Mampus.

Akhirnya aku bilang ke bapak-bapak di depanku, “Permisi pak, boleh saya duluan? Pesawat saya jam 8.30.”

Bapaknya dengan tersenyum bilang, “Oh ya silakan, dek. Mbak tolong ya ini pesawatnya akan segera berangkat.”

Si mbak-mbak di counter menatapku dengan muka ketus. Tanpa senyum, lipstick sudah mulai pudar, tanpa salam, dia langsung mencoret tiketku dan bilang, “Maaf ya mbak, sudah tidak bisa naik pesawat. Mbak telat check in.” Sungguh sial. Rasanya mau protes pun sudah tidak ada tenaga. Bapak-bapak yang aku salip tadi berusaha membelaku. Justru dia yang sibuk adu mulut dengan penjaga counter. Pikiranku sudah berjalan jauh, harus segera beli tiket baru.

Akhirnya, dengan mengocek kantong uangku lagi, aku dapat penerbangan selanjutnya, pk. 22.30. Malam memang, tapi apa daya, ga mungkin keberangkatan ini ditunda. Besok pagi, aku harus presentasi tentang Sekolah Kita untuk seleksi Ashoka Young Changemaker.

Singkat cerita, aku akhirnya sampai juga di bandara Soetta, aku berlari menuju halte Damri. Menunggu di halte Damri tengah malam ternyata banyak kejadian aneh-aneh ya haha. Banyak sekali mas-mas nawarin ini itu, hahaha tapi aku tetap setia menunggu bus. Cepat datang, aku terus berharap. Semakin malam, semakin susah dapat angkot di Bekasi nih soalnya.

Tiba-tiba ada bapak-bapak di sebelahku, dia bertanya, “Mau ke mana, de?” “Bekasi, pak. Kampung Rambutan” “Oh sama.”

“Loh kamu yang tadi ditolak pas check in kan?”

Ternyata dia adalah bapak-bapak yang aku salip sebelumnya! Haha. Akhirnya kami mengobrol sambil menunggu bus datang. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, sesekali dia memberi nasihat. “Kamu mengingatkan saya dengan anak saya.” Awalnya aku sempet deg-degan, kalimat ini tipikal om-om jahat ga sih? Haha tapi aku tepis jauh-jauh pikiran itu. Lagian, bapak ini sepertinya ramah dan baik. (mudah terbeli)

Selama perjalanan menuju Kampung Rambutan, ia terus memberi nasihat, “Saya ngerti kamu pekerja LSM yang sering ke sana dan ke sini. Tapi ingat, kamu itu perempuan. Perempuan jalan sendiri di tengah malam seperti ini, nanti di Kampung Rambutan pula, itu berbahaya dek. Kamu harus tau rasanya orang tua kalau tau anak perempuannya jalan sendiri seperti kamu. Hati-hati ya kamu.”

Sempat tersedak juga dengar kata-katanya. Mungkin ini doa Ibu dan Bapaku yang sampai kepadaku melalui seorang yang tidak kukenal. Entahlah, tapi aku tetap mendengarkan si bapak ini dengan setia. Sepertinya dia benar-benar orang baik.

Saatnya bayar Bus Damri. Kebetulan uangku 100 ribu, kata bapaknya, “Sudah, sama saya saja.” Lalu dia membayar. Aku berulang-ulang menolak, tapi bapak itu malah seperti tidak mengacuhkan aku ketika aku berusaha menolak. Percakapan akhirnya berlanjut, biaya Bus Damri tidak pernah terungkit lagi.

Sebelum turun, bapak itu bilang, “Kamu jangan naik angkot jam segini. Sudah tidak ada. Mending kamu naik taksi, kalau ga express, ya bluebird. Jangan yang lain.” Sebenernya aku agak geli dengernya, sebegitu pedulinya ya si bapak ini. Dengan perasaan bingung, aku turun dari bus.

Bapak itu menemani aku sampai aku dapat taksi. Sebelum aku masuk taksi, bapak itu sempat bilang ke supir taksi seperti ini, “Pak, ini anak saya. Titip ya. Antarkan dia ke Rumah Perubahan, Ashoka. Tau kan Pak di mana?” Pak supir taksi mengiyakan. Lalu bapak menyelipkan 50 ribu ke tanganku, “Ini kamu pakai bayar taksi.” Aku jelas menolak. “Pak, ga usah. Beneran. Ga perlu.” Bapak ini tau ga ya aku ini udah 22 tahun? Sempet aku bertanya dalam hati. Masih bingung gimana cara nolak dengan baik.

“Udah kamu pake, dan jangan lama-lama. Sudah malam. Hati-hati ya.”

Lalu kami berpisah.

Sampai saat ini, aku tidak pernah tahu nama bapak itu siapa.

Image

Keesokan harinya adalah seleksi panel Ashoka Young Changemaker di Rumah Perubahan. Sekolah Kita mendapat giliran ke 4. Sebetulnya, pada saat pertama kali kami dihubungi oleh Ashoka Indonesia melalui email, kami kaget bukan kepalang. Aku dan Ana teriak-teriak (jarak jauh tentunya, Ana di Jakarta dan aku di Ubud) saking kegirangannya. Bukan girang saja, tapi juga kaget. Dari mana orang bisa tahu tentang Sekolah Kita? Walau kegiatan sudah berjalan dari awal tahun, baru launching website baru-baru ini.

Pada saat seleksi panel, banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh para panelis yang terdiri dari tokoh-tokoh pengembangan masyarakat. Ada keinginan yang besar dari para panelis untuk mereplikasi model kurikulum Rumpin. Pada saat itu aku menjawab bahwa kami belum siap untuk replikasi. Berbicara tentang pendidikan itu kompleks. Ia bukan sesuatu yang instan. Kurikulum Rumpin dibuat khusus untuk anak-anak Rumpin dan bahkan, masih bisa dikembangan seiring kita berjalan. Aku punya prinsip seperti ini, bahwa suksesnya kegiatan sosial itu tidak harus bergantung pada kuantitas. Merubah hidup satu orang saja itu sudah sangat berarti. Tak perlu kita selalu berambisi untuk merubah hidup masyarakat se-Indonesia kalau perubahan itu hanya di atas permukaan saja.

Selain pertanyaan-pertanyaan tentang kurikulum, pertanyaan mengenai konflik tanah dan TNI juga muncul. Jujur, di sinilah alasan kenapa Sekolah Kita tidak ingin gembar gembor ke media untuk mendapatkan pengakuan. Isu sengketa tanah itu sensitif, terutama apabila bergesrekan dengan aparat Negara. Yang kami inginkan adalah mengembangkan adik-adik di Rumpin, bukan membuat masyarakat Rumpin terus konflik dengan TNI. Justru, dengan warga yang lebih cerdas dan berwawasan luas, aku berharap akan menjadi modal resolusi konflik di masa depan. Menempatkan masyarakat Rumpin di posisi yang tidak selalu dirugikan dan juga tidak melandaskan aksinya pada kekerasan.

Namun, diskusi yang cukup panas di ruang panelis diakhiri dengan dua pertanyaan yang membuat hatiku terenyuh. Hampir aku dibuat menangis di dalam ruangan. Mengakhiri sesi tanya jawab, dua panelis bertanya kepadaku, “Boleh saya jadi kakak relawan di Sekolah Kita?”

Aku kehabisan kata-kata.

-

Kalau ditanya apakah aku grogi mempresentasikan Sekolah Kita, jujur tidak. Aku selalu merasa kegiatan yang kami lakukan sepenuhnya adalah sebuah ketulusan untuk berbagi saja. Kesempatan untuk presentasi di depan panelis Ashoka menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan Sekolah Kita ke depannya, terlepas kami diterima atau ditolak.

Inisiatif yang baik adalah inisiatif yang bergerak atas dasar nurani, bukan penghargaan atau pujian. Maka dari itu, aku tanamkan baik-baik dalam pikiranku sebelum masuk ruang seleksi bahwa semua yang akan terjadi hari itu, memang yang terbaik untuk Sekolah Kita. Lolos atau tidak, itu memang bagian dari perjalanan hidup.

Tak disangka, pada saat pengumuman, diumumkanlah Sekolah Kita lolos seleksi Ashoka Young Changemaker!

ashokaycm

Langsung aku buru-buru kasitau Ana tentang kabar baik itu. Dari Rumah Perubahan di Bekasi aku segera menuju KontraS untuk ketemu Ana dan cerita lebih banyak tentang seleksi panel tadi. Seketemunya dengan Ana kami langsung berpelukan saling memberi selamat. :D

Dari awal, pilihanku untuk bergabung dengan Sekolah Kita adalah karena Ana. Aku merasa tertampar dengan pribadinya, semangatnya, ketulusannya. Ana itu adalah perempuan yang luar biasa. Jujur, belum pernah aku melihat orang dengan tujuan dan daya juang setinggi Ana. Setiap minggu, ketika Sekolah Kita belum punya kakak relawan seperti sekarang, Ana pergi sendiri ke Rumpin, atau terkadang ditemani satu teman atau dua, bergantung pada mood mereka. Jauhnya perjalanan ia selalu tempuh, penuh komitmen, penuh semangat, tanpa mengeluh sedikitpun.

Ana tidak pernah pamer di twitter, atau di facebook tentang jauhnya perjalanan, atau serunya kegiatan di Rumpin, ia hanya kadang bercerita sesekali di jam-jam istirahat di kantor. Atau terkadang lewat telepon.

Dedikasi dan ketulusan yang murni inilah yang membuat aku luluh juga sekaligus tertampar begitu keras. Begitu banyak aku kenal teman-teman yang juga ingin merubah dunia, bahkan Indonesia, tapi mereka begitu sombong, begitu mengumbar-umbar, begitu pamer. Mungkin, aku juga seperti itu.

Maka haruslah aku belajar dari Ana. Aku belajar dari dan bersama Sekolah Kita. Tentang kesederhanaan, tentang kerja sama, tentang indahnya berbagi tanpa mengharapkan pujian sebagai kembali. Sekolah Kita terus menjadi pengingat buatku tentang perjuangan-perjuangan yang tak perlu pengakuan untuk merasa berguna. Sekolah Kita mengingatkan aku untuk selalu berbagi ilmu dan pengetahuan yang kita miliki kepada teman-teman kita dan tak lagi beri ruang untuk jadi orang yang pelit ilmu atau ingin pintar sendiri.

Penghargaan bergabungnya Sekolah Kita dengan Ashoka Young Changemaker sesungguhnya adalah penghargaan untuk Ana, adik-adik Rumpin, Ibu Neneng, dan semua kakak-kakak keluarga kita. Tugasku di Sekolah Kita hanya untuk membantu. Selayaknya setiap manusia terlahir di dunia ini, adalah untuk saling membantu.

Image

dan juga saling membahagiakan.

Namun aku berharap, penghargaan ini bukan menjadi alasan untuk kita menjadi besar hati dan sombong diri, justru seharusnya menjadi semangat yang terus mengingatkan bahwa apa yang kita kerjakan bersama di Rumpin menurut para ahli adalah sebuah kegiatan yang membahagiakan dan inspiratif. Dengan apresiasi seperti ini, kita harus lebih semangat menjalani perjalanan jauh setiap minggunya, lebih serius mempersiapkan materi kelas sebelum mengajar, dan lebih terpacu untuk terus mengembangkan Sekolah Kita.

Sebab semua ini sejujurnya tidak hanya untuk adik-adik di Rumpin, namun juga untuk kita semua yang tergabung dalam Sekolah Kita.

Perjalanan masih panjang. Perjalanan justru baru kita mulai.

Tetap semangat kakak-kakak. Bel sudah berbunyi, saatnya kita masuk kelas untuk belajar bersama di Sekolah Kita.

Salam,

Image

Kakak Kurikulum
Rara Sekar Larasati

Renungan…

Dua orang pria baru saja selesai menonton pertandingan sepakbola di televisi. Keduanya berbagi beberapa kemiripan : sama-sama kalah taruhan dan sama-sama melamar menjadi kakak pengajar di Sekolah Kita Rumpin. Untuk menghibur diri pasca “kebangkrutan”, mereka menyingkir ke sebuah bar.

Setelah menghabiskan beberapa “shot” tequila, pria A dan B membuka topik pembicaraan mengenai keraguan seputar pilihan mereka mengisi form pendaftaran online di blog SKR. Pria A masih bimbang apakah dapat berkomitmen secara utuh, sementara pria B tampak sangat mantap membual dengan berbagai konsep serta metode pengajaran yang telah ia siapkan…………..dalam otak. Obrolan tak berlangsung mulus, sehingga pada akhirnya kedua pria ini berkelahi sebelum dilerai oleh bartender yang melayani mereka. Sang bartender pun memberi peringatan agar mereka menjaga perilakunya kalau tidak ingin diusir dari bar itu.

***

Dua puluh menit berselang..

Sesudah menenggak cukup banyak Mix-Max, mereka menemukan bahan bahasan baru : jenis kelamin partner baru mereka di SKR nantinya. Pria B langsung membayangkan wanita bohai dengan wajah seumpama Aishwarya Rai. Di sisi lain, pria A tak sabar segera bertukar nomor kontak dengan segerombolan videografer tampan yang notabene adalah saudara jauh Brad Pitt………..lain nenek. Interaksi ini lagi-lagi berakhir dengan pergumulan di atas meja bar dan dipisahkan secara susah payah oleh sang bartender. Tak ada ampun tersisa, mereka berdua pun terusir secara nista.

***

Lima menit berlalu..

Kedua jagoan kita berada di jalanan sepi tengah malam. Pria A menengadah ke langit, mendapati sebentuk bola bercahaya dengan lantang menantang kegelapan di bawahnya. Ia terlihat bingung, kemudian ia bertanya pada pria B.

Pria A : “Bola terang di langit itu apa ya?”

Pria B : “Matahari.”

Pria A : “Matahari dari Hong Kong. Matahari itu adanya siang, dodol.” *berpikir* “Kayaknya sih itu bulan.”

Pria B : “Itu matahari.”

Pria A : “Bulan ah..”

Pria B : “Matahari!”

Pria A : “Bulan!!”

Pria B : “MATAHARI!”

*seorang murid SKR melintas naik sepeda*

Pria A : “Dek…dek!! Ke sini sebentar deh.. Itu bola terang di langit namanya apa?”

Pria B : “Iya, dek. Nanti kalau kami berantem, diusir lagi sama bartender itu.”

Si murid pun berpikir keras…….

Dan…

Murid SKR : “Maaf mas, saya juga gak tahu. Soalnya saya baru datang ke sini. Mohon maklum, ini pertama kalinya jalan-jalan keluar dari Rumpin.”

Hidung, Batman, dan Post-postmodernisme

Beberapa waktu lalu, saya kebagian jatah mewawancarai seorang perempuan dari Bogor. Menurut data di formulir yang ia isi, saat ini ia sedang menuntut ilmu di IPB, tepatnya di jurusan pertanian. Sebelum membaca formulir itu, saya sudah tahu bahwa ia termasuk diantara belasan pelamar Penerimaan Angkatan I untuk Sekolah Kita. Tahu dari mana? Well, sederhana saja. Ia begitu bawel di e-mail maupun di blog, menanyakan kapan seleksi formulir selesai, kapan jadwal wawancara, kapan bisa ketemu kakak-kakak yang lain, kapan ini dan kapan itu. Haha..

Namun yang berhasil menarik perhatian saya tentang dia bukanlah kebawelannya, melainkan jawabannya untuk salah satu pertanyaan di formulir pendaftaran online. Di kolom itu ia menjawab singkat dan tegas, diakhiri dengan kalimat :

Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

*spontan megang hidung* *hidung Asmirandah* *eh* :p

Well, lewat hidung, anda bisa membedakan mana racun dan mana air cuka.

Lewat hidung, anda dapat segera menjauhkan molekul gliserol dari perapian atau melarang anak kecil membeli permen yang bungkusnya berlapis merkuri.

Yang suka mabuk, anda mampu menentukan anggur dengan kualitas terbaik cukup dari botol atau baunya.

Yang paling penting, anda sanggup membedakan pembohong atau orang jujur via tekstur kembang-kempis lubang hidungnya serta apakah ia menggaruk hidungnya secara konstan ketika menjawab pertanyaan.

Dan bodohnya saya, mata saya tertutup rapat sekali selama ini, sehingga baru sekarang ini saya menyadari sepenuhnya makna dari slogan Sekolah Kita : “Sebab setiap tempat adalah sekolah…termasuk hidung masing-masing..

Di atas segalanya, hidung memang begitu menguntungkan, namun hidung juga dapat menjadi sumber pertama kehancuran.

***

Dalam Batman Begins (2005), seorang tokoh idealis yang memegang prinsip “Justice Is Balance” bernama Ra’s Al Ghul berniat menghancurkan kota Gotham dengan senjata pemusnah massal paling ekonomis : pelarutan racun stimulus kepanikan dalam sistem aliran air kota yang berpadu dengan konsep penguapan sederhana (peran hidung muncul di sini). Singkat cerita, ambisinya digagalkan oleh sosok misterius berjuluk “Batman”.

Anak-anak (yang menonton) di seluruh dunia kemudian sontak berteriak girang, “YEEAAAY… KITA MENANG!!”

Masalahnya, apakah Batman benar adalah seorang pahlawan? Apalagi bagi anak-anak yang gemar meniru idolanya?

Bagi saya, Batman versi Bruce Wayne sangat jauh dari definisi pahlawan. Ia cuma keturunan terakhir dari keluarga terkaya di Gotham yang anarkis, seorang pria dengan jiwa tercabik-cabik (jadi ingat konsep Voldemort dengan Horcrux-nya) yang diberikan “jalan baru” oleh sang mentor agar ia tak “hilang” di sisa hidupnya. Dia selalu merasa bersalah bahkan ketika dia benar. Dia egois, anti-sosial, serta narsis.

Tapi dibalik segala kekurangannya, Bruce berhasil dengan sangat gemilang mengangkat alter-egonya menjadi sebuah simbol abadi dan elemental. Ia begitu sukses mencurahkan hidupnya serta mentransformasi kenangan pahit kematian orangtuanya menjadi senjata ampuh melawan “sikap abai, fanatisme kosong, kegelisahan terselubung”. Semangatnya tak tertandingi (“Batman has no limits“), sehingga lambat laun berbuah simbol harapan, simbol perlawanan, simbol kebangkitan, juga simbol anti-apatis murni. Hal ini yang membedakannya dengan Spiderman yang terkungkung lingkungan egaliter, Iron-Man yang proletar abis, Superman yang takut sama dirinya sendiri, Detektif Conan yang autis, atau Captain America yang kental sekali pengaruh post-war dalam sepak terjangnya.

Bruce Wayne tak punya lingkungan sosial. Ia beberapa tingkat di atas proletar. Kelelawar adalah hewan yang paling ia takuti sekaligus benci. Ia pemalas. Ia selalu memulai perang.

Dan yang terpenting, Batman versi Bruce Wayne tak bisa sombong. Mengapa? Sebab kesombongannya telah habis diolah menjadi kemarahan demi menutupi rasa bersalahnya. Ia karakter paling kaya yang paling miskin.

Jadi ketika anak-anak meneriakkan kata “Batman” sebagai idolanya, kita bisa membimbing mereka untuk mengikuti teladan simbolik itu. Tak semua orang bisa jadi Spiderman (capek bok bikin mesin penembak jaringnya..), Iron Man (bok, masa jantung ijk dibolongin dulu), Superman (mabuk udara, sob.. maapkeun..), Detektif Conan (hidup bukan cuma buat kaca pembesar), Captain America (berat ya perisainya….lo coba bawa sini!!), tapi siapapun orangnya, ia bisa menjadi Batman. Batman bagi Indonesia, bukan hanya Rumpin.

If you make yourself more than just a man, if you devote yourself to an ideal, and if they can’t stop you, then you’ll become something else entirely. Legend, Mr. Wayne.” – Ra’s Al Ghul

If you want to take action, just wear a mask. Not for you, but for the people you love most.” – Bruce Wayne

Nah, soal topeng-topengan ini agak ambigu nih kak. Gimana tuh maksudnya??

***

Batman berasal dari luar sistem. Ia mereparasi sistem dengan caranya sendiri, bertumpu pada kebrilianan pikiran (wawasan luas + kapasitas kreatif) dan prinsip batu karang (melawan, tapi tak membunuh).

Di dunia pada masa generasi kita, perang sesungguhnya itu bukan antara Israel vs Palestina, tapi pada kebenaran tunggal vs relativitas, keinginan menonjolkan sense vs keraguan akan sense itu sendiri, antara harapan vs sentimen temporer, tulus vs ironi, pengetahuan ilmiah vs sikap naif. Kalau subjek yang dihadapkan pada situasi demikian dituntut untuk memilih sisi tertentu tanpa mempunyai modal pribadi yang kokoh, maka ia akan senantiasa terombang-ambing.

Manusia, sepintar atau sealim atau setegas apapun dirinya, pasti dapat diabaikan dan dihancurkan. Namun ketika ia mentransformasi dirinya menjadi sebuah simbol, ia menjadi mengerikan di mata manusia lain yang berseberangan. Ia tak bisa labil, cepat atau lambat akan selalu diperhitungkan, serta hampir tak mungkin berkarat.

Siapa yang berani mengatakan Isaac Newton sebagai penipu, bahkan ketika ada indikasi kuat bahwa ia cuma “meminjam” ide dasar sesama ilmuwan di salah satu kedai kopi di selatan London lalu mengembangkannya menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai teori Gravitasi?

Siapa yang mampu dengan lantang mengatakan bahwa Yudas Iskariot adalah korban sepihak dari cerita sepanjang zaman mengenai penyaliban Yesus Kristus, bahkan ketika buku-buku tentang dia telah beredar luas?

Atau paling gampang, ada yang bersedia mengklaim Soeharto sebagai komunis, tak ubahnya Dipa Negara Aidit?

Simbol terbentuk secara alami dari pemahaman tertinggi dengan keputusan terdalam nurani. Simbol membantu sang subjek untuk yakin menuju satu titik konkret serta menyebarkan pengaruhnya pada subjek lain yang belum menemukan “titik konkret” mereka. Hal ini menimbulkan konsekuensi alamiah bagi orang-orang terdekat si subjek. Maka, ketika simbol telah terbentuk, penyamaran atau bahkan penyangkalan identitas asli menjadi wajib hukumnya. Itu adalah harga yang harus seseorang bayar ketika ia berkomitmen mencurahkan hidupnya untuk sebuah bentuk ideal. Penyamaran itu bisa berupa apa saja, tak harus topeng belaka. Jika topeng telah siap dipakai, langkah selanjutnya tinggal beraksi..

Dalam konteks anak-anak yang masih sangat dapat “dibentuk” dan “diarahkan”, peran kakak-kakak pengajar dalam mengenalkan simbol lewat idola mereka atau panutan si kakak itu sendiri menjadi sangat krusial.

Dari sini timbullah pertanyaan berikut :

Kakak-kakak pengajar sudah punya simbol ideal belum?

- Seseorang yang belum menjadi simbol -

Banda Neira, Sorgemagz dan Sekolah Kita

Minggu lalu, Sekolah Kita kedatangan tamu. Kali ini, pengajar tamu datang jauh dari Bali, Bandung dan Jakarta (kalau ini tidak terlalu jauh ya) untuk meramaikan kelas Minggu siang di Rumpin.

Mereka adalah Ananda Badudu, pedagang berita di Koran Tempo yang juga menyambi sebagai pemain gitar amatir di Banda Neira, Rara Sekar, Kakak Penyusun Kurikulum Sekolah Kita yang akhirnya bisa juga terbang dari Bali untuk menyempatkan mengajar di Sekolah Kita, juga Adhito Harinugroho atau Dhito, videografer handal dari Sorgemagz.

Pada mulanya, adik-adik terlihat agak malu-malu, terutama karena mereka bertiga adalah orang baru dan tak lupa Dhito selalu membawa kamera videonya yang sebesar gajah itu. Tapi, setelah sesi pembacaan cerita “Abu Nawas dan Semut” oleh Kak Ananda, adik-adik di Rumpin terlihat lebih santai dan bahkan, sangat senang! Terutama setiap kali Kak Ananda meminta adik-adik untuk menyuarakan suara binatang yang ada di dalam cerita seperti kucing, kerbau, monyet, semut (?), mereka tampak antusias untuk bergerak dan meniru suara binatang-binatang yang ada, bahkan ada yang sampai monyong-monyong. Kak Ana pun tidak bisa menahan ketawanya. Hahaha.

Sesi Kak Rara siang itu dimulai dengan bernyanyi “Topi Saya Bundar” dari tempo yang lambat hingga sangat cepat. Seru sekali! Bahkan Kakak-kakak Sekolah Kita malah yang salah-salah.. Setelah sesi pemanasan, suasana menjadi sangat hangat dengan ledakan tawa dimana-mana.

Siang itu sebenarnya, Kak Rara ingin mengedepankan tiga hal di kelas, kreativitas, percaya diri dan sebuah metode baru yang bernama appreciative inquiry. Metode yang baru ini, kata Kak Rara, ingin mengajarkan kita untuk belajar saling menghargai. Banyak yang bilang kalau menjadi orang kritis itu sulit, dan menghargai dan memuji orang lain itu mudah. Namun seringkali, kasusnya adalah sebaliknya. Rasanya terkadang itu sulit sekali untuk kita saling memuji. Selain itu, Kak Rara juga melihat bagaimana metode ini bisa meningkatkan rasa percaya diri pada anak, mengingat adik-adik di Rumpin juga adalah korban, membangun rasa percaya diri sangat dibutuhkan untuk hari ini serta masa depan mereka kelak.

Walau penjelasan di atas terkesan berat, sesungguhnya apa yang dilakukan di kelas Sekolah Kita siang itu sangatlah sederhana dan menyenangkan. Adik-adik dibagi 6 kelompok dan setiap kelompok harus menampilkan sebuah pertunjukkan apapun, baik menyanyi, menari, drama, dangdutan, bebas.

Sebelumnya setiap murid juga telah dibagikan sebuah amplop untuk mereka tulis nama dan gambar diri mereka. Amplop ini lalu ditempel di dinding oleh Kakak-kakak Sekolah Kita. Tujuan amplop ini apa ya? Ternyata, ketika setiap kelompok maju untuk tampil, setiap anak diminta untuk menuliskan pada secarik kertas pujian untuk teman mereka yang sedang tampil. Setelah itu, kertas-kertas pujian itu dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang ada di dinding kelas.

Di akhir kelas, amplop-amplop itu dibagikan sebagai hadiah untuk adik-adik Rumpin, untuk mengingatkan bahwa setiap kita itu berharga, spesial, dan unik. Tampak ada beberapa murid yang usianya sudah lebih dewasa menganggukkan kepalanya ketika Kak Rara menerangkan arti amplop tersebut. Dengan tersenyum, satu per satu menerima amplop mereka. Tak disangka, hanya dengan satu amplop, secarik kertas dan bolpen, kita bisa membuat seseorang tahu bahwa dirinya sangat berharga :)

Perjalanan Minggu lalu bersama Kak Ananda dan Kak Rara yang adalah personil band minimalis-nelangsa-pop Banda Neira diliput oleh Kak Dhito, sang videografer berdedikasi tinggi. Selain teman-teman bisa melihat bagaimana Ibu Neneng dan Kak Ana sedikit bercerita tentang Sekolah Kita, di akhir video, Kak Ananda dan Kak Rara juga sempat menyanyikan lagu mereka yang berjudul “Rindu” yang adalah musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo, bersama dengan adik-adik Rumpin! Kak Dhito mengaku bahwa bulu kuduknya berdiri ketika adik-adik ikut bernyanyi siang itu. Begitupula dengan Banda Neira. Memang pengalaman yang luar biasa hari itu.

Maka untuk mengakhiri tulisan ini, Sekolah Kita ingin mengutip kata-kata Kak Ananda di Sorgemagz,

“Terimakasih semua yang hadir di kelas hari itu. Ada banyak sekali tak bisa disebut satu-satu. Tanpa perlu berbuat apa-apa kalian berhasil bikin kami yang bertamu di sana merasa bahagia. Semoga kalian pun sama.”

[youtube=http://youtu.be/sa2_Hjqw73g]

Salam,

Sekolah Kita

Sebab Setiap Tempat Adalah Sekolah

Image

Sebab setiap tempat adalah sekolah, dan belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja. Mushala sempit dan pengap di tengah kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, setiap akhir pekan disulap jadi kelas.

Anak-anak kecil serta merta mengerubung. Sebagian ditemani ibunya, sebagian datang sendiri jalan kaki. Di sana, di kelas dadakan itu mereka berkumpul untuk belajar tentang apa saja, di “Sekolah Kita” namanya.

Barangsiapa hirau akan masalah sengketa tanah mungkin pernah mendengar nama Rumpin. Di sana rumah warga kampung berbatasan langsung dengan tanah tentara Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah. Timbullah sengketa.

Beberapa kali gesekan meruncing, bahkan ada yang berujung bentrok. Seolah tak ada pilihan, anak-anak Rumpin harus terima hidup bersandingan dengan sengketa dan konflik dengan tentara. “Kami tak tahu kapan sengketa akan selesai, mungkin sampai anak-anak kami besar konflik masih ada,” kata Ibu Neneng kepala “Sekolah Kita”.

Kampung Cibitung letaknya memang tak seberapa jauh dari pusat kota. Tapi jalan ke sana tak beraspal. Mendapat air juga tak cukup dengan memutar kran saja, mesti menimba. Bayangkanlah sebuah desa, dikelilingi sawah tak seberapa luas, jalan di mana-mana tanah. Kambing, kerbau, ayam, bebas seliweran. Anak-anak kecil Rumpin ramai lari-lari atau main sepeda, jauh dari hingar bingar game Playstation dan Blackberry. Di sana lah “Sekolah Kita” berada.

Sekolah Kita tentu beda dengan sekolah formal biasa. Di sini tak ada kewajiban bagi pengajar membuat anak semakin pintar dan paham pelajaran sekolah di luar kepala. Tapi, lebih dari itu, siapapun pengajar di Sekolah Kita wajib membuat peserta kelas bisa tertawa lepas dan gembira. Meski kadang ada satu dua anak nangis karena ibunya tak tampak mata.

Wajib juga membuat anak-anak yang tumbuh di pusaran sengketa menjadi seorang pemberani yang percaya diri. Pengajar juga wajib membuat mereka menjadi anak kecil yang perasa, berempati pada teman atau keluarga di sebelahnya. Dan terakhir, membuat anak-anak biasa bekerja bersama-sama. Caranya bagaimana? Mari pikirkan bersama.

Sekolah kita mengajak teman-teman untuk ikut bergabung menjadi pengajar. Mau jadi pengajar tetap atau berkala terserah pada pilihan teman-teman. Saat ini Sekolah Kita kekurangan pengajar tetap. Jumlahnya hanya ada tiga atau empat saja. Pengajar sukarela juga tak seberapa.

Sebab kami percaya anak-anak adalah generasi penerus. Dan ilmu yang kita punya akan ada manfaat hanya jika dibagi. Mari kami ajak anda untuk turut serta bermain dan bergembira bersama di Sekolah Kita.

Salam,

Sekolah Kita