Sindrom Rini

970997_418324068280583_1535817874_n

(perhatikan adik berkaus hitam tanpa kaca mata)

Pada kelas terakhir sebelum libur Lebaran tanggal 28 Juli silam, muncul sebuah fenomena menarik dari gabungan kelas 6 SD, SMP, serta SMK/SMA yang dipegang Kak Racil.

Seorang adik berumur 11 tahun duduk sendirian di teras mushola. Ia menolak bergabung di kelas teman-teman seusianya. Adalah Manda, salah satu fotografer relawan, yang pertama kali menemukan adik tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan kameranya, Manda berinisiatif memanggil saya.

Kak, lihat anak yang itu kan? Dia gak mau gabung.

Kenapa?

Katanya dia Kristen sendiri.

Setelah memanggil Racil sebentar, kami berdua pun berusaha membujuk si adik. Namanya Rini. Pelan-pelan ia mulai cerita bahwa hari itu pertama kalinya ia ke SKR atas ajakan temannya, Tita, yang lebih tua sekitar 2-3 tahun. Bujukan saya dan Racil nyaris sia-sia (Rini sempat mengiyakan kalau dia malu jadi satu-satunya anak yang tidak memakai jilbab di kelas seusianya) hingga akhirnya Tita dan beberapa adik SMP turut serta mengajaknya bergabung.

Di kelas yang dipimpin Racil tersebut, Rini duduk di samping Tita. Saya “terpaksa” *padahal rela banget* meninggalkan pos pendamping Kak Ana mengajari adik-adik kelas 3-5 SD atas nama penasaran. Tak butuh waktu lama mendapatkan info baru bahwa Tita adalah tetangga rumah Rini sehingga wajar Rini merasa paling nyaman bersama Tita.

Belum genap 10 menit ngobrol di sela-sela memperhatikan Racil dan adik-adik SMP/SMK bermain “Teman Baik”, Rini sudah mengeluarkan pernyataan lantang.

“Aku tahu kakak Kristen. Beda soalnya.”

*alien dong gue* *brb manggil awan kington* *apeu*

Setelah merespon pernyataannya, saya mengajukan tantangan baru.

“Kalau agama Kak Racil, tahu gak apa?” *iseng kumat di sini*

Rini menggeleng. Mendapat angin segar, saya meningkatkan level tantangan.

“Berani nanya langsung gak ke Kak Racilnya?” *iseng level Kaiju kategori 7* *ter-Pacific Rim*

Tiba-tiba, bermodal semangat Jaeger ’45, Rini bertanya dengan keras.

“Kak Racil agamanya apa?”

***

Tema besar Juli-Agustus 2013 adalah “AGAMA KITA”. Pokok tema ini adalah pensyukuran + perayaan keragaman serta penanaman pentingnya toleransi beragama. Salah satu metode ajarnya adalah meminta adik-adik menyebutkan teman mereka yang ‘beda’ (SARA, fisik, IQ, kondisi ekonomi, dll) lalu mereka dituntun memahami cognitive empathy lewat ajakan untuk “membayangkan bagaimana bila mereka menjadi teman yang ‘beda’ itu”.

Tanpa terduga, Rini hadir sebagai contoh hidup dari lingkungan keseharian mereka.

Sebagai kaum minoritas, keengganan Rini berbaur di awal menjadi konsekuensi sangat logis. Mau tak mau, ia pasti tampil mencolok. Bila ia adalah warga asli Kampung Cibitung yang terpencil dan keluarganya masih menyimpan efek trauma psikologis dari sengketa tanah yang berlarut-larut, tingkat kepercayaan dirinya bisa dibilang sangat-sangat rendah.

Trauma + minder karena orang kampung + minoritas karena lahir di keluarga Kristen.

Hattrick bencana inferior.

Sekonyong-konyong, nilai Percaya Diri serta Empati di Kurikulum Kita terasa tak pernah sepenting ini.

***

Berkaitan dengan jangkauan SKR yang telah mencapai desa-desa tetangga Kampung Cibitung, secara pribadi saya yakin masih banyak kasus bertema serupa bakal muncul di waktu-waktu mendatang. Deskripsinya sangat beragam : korban bully, karakter introvert akut, lokasi geografis tempat tinggal paling jauh, dll. Hal-hal ini berpotensi membuat anak-anak yang mengalaminya merasakan keminoritasan yang juga dialami Rini, bahkan tak menutup kemungkinan respon yang mereka tunjukkan jauh lebih defensif dari apa yang telah diekspresikan Rini.

Lambat laun inferioritas tak lagi menjadi milik eksklusif dari anak-anak non-Muslim atau non-Sunda di sana. Efek negatifnya bakal menyebar cepat seperti virus, apalagi dalam pikiran anak-anak yang masih gampang sekali tercemar. Alasan-alasan meminoritaskan seseorang bakal berkembang biak, termasuk dari pengetahuan-pengetahuan baru yang diajarkan oleh Kakak Kita setiap minggu.

Pengetahuan baru selalu punya dua wajah. Terkadang wajah yang diremehkan mampu meremukkan wajah yang diagungkan.

Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi perkembangan SKR, khususnya bagi kakak-kakak pengajar. Satu lagi prioritas penting telah dibukakan demi mewujudkan kemandirian Kampung Cibitung, Rumpin, di tahun 2018. Aspek kemandirian dalam konteks kasus demikian bersifat vital sebab menyangkut kedewasaan serta kekuatan mental. Bila digugah sejak dini, aspek kemandirian tersebut bakal menjadi nilai krusial bagi peningkatan kualitas hidup oknum bersangkutan.

Mari kita sambut adik-adik penderita “Sindrom Rini” selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang. Entah di Rumpin, entah di tempat lain. Entah sekarang, entah 5 atau 10 tahun lagi.

Cerita dari Tur Kita

Kamis 27 Juni 2013, saya berangkat menuju kota Bandung guna mempersiapkan Tur Sekolah Kita Rumpin yang akan dilaksanakan pada 29 Juni 2013. Dua hari sebelum saya ke Bandung, saya diberitahu pihak yang mengkoordinir transportasi Tur Kita bahwa bis yang sudah dipesan membatalkan secara sepihak. Mereka memberi alasan kalau bis yang kita pesan sudah diborong perusahaan lain. Sontak saja saya shock dan bingung. Saya menghubungi lebih dari 7 perusahaan penyedia bis pariwisata dan semua full book. Akhirnya ada satu perusahaan yang bisa menyewakan bis dengan kapasitas 59 kursi namun non-AC. Tanpa berpikir panjang, saya langsung pesan bis tersebut.

Tanggal 28 Juni, saya berangkat dari Bandung menuju Rumpin. Tiba di Rumpin pukul 14.20 WIB, saya langsung istirahat di rumah Bu Neneng. Seperti biasa, di rumah Bu Neneng warga ramai berkumpul. Mereka sedang mempersiapkan bahan makanan ringan buat bekal di jalan. Sederhana sih makanannya, tapi kebersamaan dari para orang tua adik-adik sangat tampak. Ketika malam tiba, beberapa adik datang ke rumah Bu Neneng sekedar bertemu saya dan bertegur sapa.

“Saya sudah tak sabar pengen cepat-cepat besok, kak!” kata salah satu adik. Senyum mereka membuat saya juga ikut tak sabar menanti hari esok.

Keesokan harinya, Sabtu 29 Juni, saya dan keluarga Bu Neneng sudah bangun sejak pukul 04.00 pagi untuk berkemas. Tak lama setelah saya selesai bersiap-siap, tiba-tiba terdengar suara “Assalamualaikum” dari luar rumah. Saya buka pintu dan ternyata adik-adik beserta orang tua mereka sudah siap sedia, lengkap dengan t-shirt “sebab setiap tempat adalah sekolah kita plus barang-barang bawaan mereka masing-masing. Saya lihat jam dinding ternyata baru pukul 05.00. WOW, pagi sekali! J Kami pun berjalan kaki menuju jalan besar menanti kedatangan bis. Setibanya di jalan besar ternyata bis sudah standby, tetapi baru satu unit. Ketika ditanya kepada pak sopir, ternyata bis satu lagi kesasar. Hmmmm..

Pukul 08.15, bis yang kesasar pun tiba. Tanpa menunggu lama, kami langsung menaiki bis. Perjalanan ternyata tak semulus perkiraan. Kami terjebak macet di tol Cikampek. Selama itu pula saya sangat tidak tenang sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, sedangkan Museum Geologi akan tutup tepat pukul 14.00. Namun kekhawatiran saya tak terjadi. Kami tiba di depan Museum Geologi pukul 13.30. Uhhhh lega!

Salah satu Kakak Kita membeli tiket sesuai dengan jumlah adik-adik, orang tua, serta kakak-kakak yang datang. Semua langsung masuk ke museum dan dipandu oleh pemandu museum. Terlihat senyum lebar dari mereka walau tak sedikit yang muntah-muntah sepanjang perjalanan tadi. Tak terasa jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka 2, tanda saatnya kami harus meninggalkan museum. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya kami berfoto bersama terlebih dahulu.

Setelah dari museum, kami melanjutkan perjalanan ke hutan terkenal kota Bandung yakni Babakan Siliwangi. Cukup senang dan membuat saya serta kakak-kakak terharu melihat keceriaan adik-adik dan orang tua yang sangat menikmati waktu mereka di sana. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada kami semua.

Pengalaman ini sungguh menegangkan dan mengagumkan. Tak lupa sebelum saya tutup tulisan ini, saya dan seluruh keluarga Sekolah Kita ingin berterima kasih kepada semua donatur dan masyarakat yang telah mendukung program ini hingga terlaksana.

Salam dari saya dan adik-adik Rumpin yang selalu memberi senyuman manis yang tulus. :)

 

IMG-20130630-WA0000

Ana Agustina
Kakak Pengelola
Sekolah Kita
Sebab setiap tempat adalah sekolah kita

Catatan Kecil Dari Olimpiade Taman Baca Anak 2013

Sebelas adik-adik Sekolah Rumpin mengawali 23 Juni 2013 jauh lebih awal dari biasanya. Pukul 4 pagi mereka bangun, shalat, dan bersiap pergi ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan Olimpiade Taman Baca Anak (OTBA) 2013 yang diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, mereka didampingi oleh Bu Neneng dan Ana yang tadi malam menginap di Rumpin. Saya sampai ke lokasi lebih awal dari rombongan untuk mendaftarkan nama Adik Kita serta mengambil kaos dan tanda pengenal.

Adik-adik mengikuti 2 lomba di OTBA 2013, yaitu lomba maraton mencari harta karun dan lomba kreativitas merakit mainan. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, berlanjut dengan kata sambutan, pertunjukan angklung, dan beberapa acara lainnya. Sementara menunggu lomba dimulai, adik-adik bisa berkeliling mengunjungi stand berbagai komunitas di sekitar panggung seperti Taman Bacaan Pelangi, 1001 Buku, Goodreads Indonesia, Sahabat Anak, Historia, Indonesia Menyala, WWF, dan lain-lain.

Perlombaan dimulai pukul 10:30 WIB; untuk lomba maraton adik-adik didampingi oleh Ana dan Widya sementara di lomba kreativitas oleh Giany dan saya. Rohadi menarik perhatian saya di kelompok lomba kreativitas, dia begitu cekatan dan bisa mengarahkan teman-temannya. Secara keseluruhan mereka mampu bekerjasama dengan baik dan tetap tenang menyelesaikan labirin kelereng dalam waktu yang relatif singkat.

Adik-adik yang mengikuti lomba maraton mencari harta karun juga tidak kalah serunya. Mereka harus melewati 6 pos yang dinamai dengan nama pulau-pulau besar di Indonesia untuk mendapatkan harta karun. Di setiap pos mereka akan diberikan beberapa pertanyaan terkait daerah di Indonesia seperti membaca peta buta, menebak lagu daerah dari liriknya dan menyanyikannya. Setelah mereka berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, mereka akan melewati berbagai macam permainan yang menguji kekompakan dan kecepatan mereka : bakiak, memindahkan air menggunakan batok kelapa yang dibolongi bawahnya, dan sebagainya. Adik-adik berlari dan tidak berhenti tertawa. Seeing those happy faces was priceless.

Jeda waktu selama 5 jam antara selesai lomba dan pengumuman kami habiskan dengan makan, ngobrol, serta kembali mengunjungi stand-stand komunitas sembari menonton acara tersisa. Di stand lukis wajah, Sari membuat saya dan Giany terbahak-bahak saat dia meminta wajahnya dilukis lantas bilang, “maunya gambar ular Kobra!”

Akhirnya saat pengumuman pemenang pun tiba, dimulai dari lomba drama, kreativitas, dan maraton. Hadiahnya adalah piala dan paket buku yang diberikan oleh para sponsor acara ini. Sekolah Rumpin belum berhasil membawa pulang kedua hadiah tersebut.

Herdiansyah melempar tanda pengenal OTBAnya setelah semua pemenang diumumkan. Saya memilih tidak mencegahnya mengungkapkan kekecewaannya karena perasaan itu manusiawi. Kemudian saya tersenyum lebar di depan Herdiansyah seraya menyodorkan tangan untuk tos dengannya, sambil bilang, “tahun depan kita ikut lagi ya!” Dia pun mengiyakan dan tersenyum balik.

Meskipun Sekolah Rumpin tidak memenangkan perlombaan OTBA 2013, saya tidak kecewa dan bersedih. Sesaat sebelum pengumuman 3 besar juara lomba maraton, ada kejadian yang membuat saya tersenyum puas bahkan membuat saya tak peduli lagi dengan nama pemenang yang akan disebutkan oleh pembawa acara.

Saat itu, untuk mengambil perhatian anak-anak yang mulai resah karena hari sudah cukup sore, salah satu pembawa acara berseru ke arah mereka, “siapa yang mau jadi juara 3?”, lalu saya melihat ada satu adik Sekolah Rumpin yang mengangkat tangannya. Kemudian seruan itu berlanjut dengan, “Oke, sekarang siapa yang mau jadi juara 2?” Kali ini ada sekitar tiga tangan yang terangkat. “Nah, siapa yang mau jadi juara 1?”. Kesebelas adik kita mengangkat tangannya dan berteriak, “SAYA!”

Menyaksikan hal itu membuat saya tercengang. Ah.. Mereka memang tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Kilatan mata dan teriakan mereka menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi bahwa mereka pantas untuk menjadi pemenang. Seluruh tangan yang  terangkat adalah bukti bahwa mereka tidak mau merasa cukup dengan menjadi yang ketiga dan kedua. Juara, bukanlah mengenai jumlah piala dan hadiah yang kamu bawa pulang, melainkan tentang mentalitas. Buat saya, hari ini, adik-adik Sekolah Kita telah menang.

Kids, I’ve said it, and I would never get bored to say it all over again, “I’m beyond proud of you”.

 

Lani Mariyanti
Kakak Koordinator Pengajar Tetap-Relawan
Sekolah Kita
Sebab setiap tempat adalah sekolah kita

“Kak, emang bener jawabannya begitu?”

oleh Lani Mariyanti

 

Hari Minggu, 3 Maret 2013, saya seperti biasa datang ke Rumpin untuk bermain dan belajar dengan adik-adik Sekolah Kita.

Kali ini saya memutuskan untuk mengajar Matematika untuk kelas 6 SD karena sebentar lagi mereka akan menempuh Ujian Nasional.

Seperti biasa pula, saya memulai kelas dengan menyapa mereka satu persatu, bertanya mengenai persiapan ujian, dan menuliskan beberapa pertanyaan Matematika di papan tulis.

Tepat di saat saya merasa semuanya akan biasa saja seperti minggu-minggu lalu, beberapa anak mengangkat tangannya bertanya lantang, “Kak Lani, yang ini gimana sih caranya?”

Mungkin bagi kalian di luar sana, hal ini sangat umum terjadi di sekolah manapun. Namun tidak di sini, tadinya.

Beberapa bulan lalu, mereka masih malu-malu, bahkan terkesan minder. Setiap kali saya melontarkan pertanyaan, mereka akan diam dan menggelengkan kepala. Lain waktu saat saya menunjuk mereka untuk menjawab pertanyaan, mereka menunduk dan bilang tidak bisa. Ini kondisi ceteris paribus anak-anak Sekolah Kita sebelumnya.

Sehingga wajarlah begitu mereka bertanya lebih dulu, serta-merta saya kaget dan senang secara bersamaan. Ada kemajuan, gumam saya dalam hati.

Ternyata kejutan belum cukup sampai di situ. Kelas ini sekali lagi berhasil membuat saya terpaku ketika seorang anak berani menantang saya dengan berkata, “Kak, emang bener jawabannya begitu?”

Untuk pertama kalinya saya tersadar bahwa anak-anak ini telah mengalami kemajuan pesat. Keberanian mereka untuk bertanya dan menyanggah membuktikan rasa ingin tahu dan percaya diri mereka telah tumbuh serta berakibat ruang belajar ini menjadi komunikatif. Hal ini merupakan salah satu momen terbaik dalam hidup saya.

Jika kalian bertanya mengenai pencapaian Sekolah Kita, maka saya ingin mengajak kalian untuk tidak mengukurnya dengan nilai rapor adik-adik di sekolah formal.

Sekolah Kita memberikan perspektif baru, di mana kami percaya bahwa seorang anak harus memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, kreatif, serta tak lupa berempati kepada sesamanya.

Hari ini, jika ada yang bertanya Sekolah Kita sudah sampai mana kemajuannya, saya akan menjawab dengan bangga, “Adik-adik Sekolah Kita sudah berani bertanya dan menantang jawaban kami.”

Kids, I’m beyond proud of you.

Satu Tahun Sekolah Kita Rumpin

sekolah-kita-banda-neira-19

Andai sebuah perasaan bisa dengan tepat dideskripsikan dengan kata-kata, mungkin akan membutuhkan 2 halaman penuh untuk mendaftar kata-kata yang bisa menjelaskan rasa ini. Bahagia, campur haru, campur semangat, entahlah, biarkan dia menjadi suatu campuran rasa yang tidak perlu diungkapkan secara tepat.

Di atas metromini yang harus berhenti karena macetnya Puncak,  di situlah dua ide bertemu. Siapa sangka sore itu adalah pertemuan pertama antara sekolah minggu di Kampung Cibitung dengan Sekolah Kita Rumpin dan berkembang menjadi sebuah komunitas menyenangkan yang memiliki relawan sampai 30 orang. Andai manusia punya kemampuan untuk memutar waktu, ingin sekali rasanya aku berterima kasih pada semesta untuk pertemuan itu :)

Saat ini kegiatan SKR telah berjalan 1 tahun. Layaknya setiap hal yang terjadi di dalam hidup, aku percaya bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Walau masih berusia dini, aku sangat sadar bahwa dokumentasi perjalanan SKR adalah aset untuk bisa terus belajar dan berkembang. Maka, di bulan April 2013 ini, keluarga SKR ingin mengajak teman-teman, baik kakak-kakak relawan maupun simpatisan untuk bersama-sama menyelami perjalanan setahun silam yang tertera dalam sebuah laporan tahunan: Satu Tahun Sekolah Kita Rumpin.

Tentunya laporan ini masih jauh dari sempurna. Rencananya, untuk tahun ajaran berikutnya, akan ada data dan grafik kedatangan adik-adik juga para kakak relawan untuk mengetahui keaktifan kegiatan SKR secara umum. Akan lebih banyak bukti-bukti anekdotal dan cerita-cerita dari kelas. Sayangnya, ide-ide pengembangan ini baru muncul di tengah jalan, sementara Kakak Sekretaris baru saja kami rekrut. Hahaha, begitulah. Tapi inilah sebenar-benarnya perjuangan, dijalani dengan spontan dan bertahap, serta belajar dalam proses itu sendiri.

Sebelum membaca laporan tahunan, aku ingin berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh keluarga SKR yang selalu semangat untuk mendukung juga belajar bersama setiap hari Minggu di mushola kecil dan sumpek itu. Terima kasih kak, karena kalian lah maka SKR ada. Terima kasih banyak juga kepada warga Rumpin yang selalu mendukung kegiatan SKR, selalu tersenyum, dan selalu menanyakan kabar kakak-kakak ketika kami tiba di rumah Bu Neneng. Terima kasih banyak sebab kalian senantiasa membuat kami bahagia.

Terima kasih paling besar aku ingin ucapkan kepada Tuhan, alam semesta, atau apapun kata yang tepat untuk menjelaskan kebesaran-Nya, karena telah mempertemukan kita semua dan menjadikan kita sebuah keluarga. Satu tahun belum seberapa. Semangat untuk berbagi tak bisa dikungkung waktu dan jarak. Sekali lagi terima kasih, dan semangat selalu untuk kita semua.

Setahun ini kita telah membuktikan bahwa setiap tempat, baik itu mushola kecil, kebun tak terurus, ataupun bayangan di bawah pohon, adalah sekolah kita.

(Laporan Satu Tahun Sekolah Kita Rumpin tersedia di menu “Arsip”)

Salam hangat,

Kakak Kurikulum
Sekolah Kita Rumpin

Refleksi Ultah I

Tumpeng Ulang Tahun Sekolah Kita

Sabtu lalu, kak Gea, salah satu kakak pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, membagikan sebuah artikel berjudul “Gerakan Sosial Sebagai Pemimpin” buah tangan Bukik Setiawan. Artikelnya dapat kalian baca di sini, dan dimaksudkan sebagai bahan refleksi bagi seluruh elemen yang ada dan aktif dalam Sekolah Kita Rumpin, terutama bagi Kakak Kita.

Paragraf pembuka artikel tersebut menyatakan bahwa gerakan sosial harus berangkat dari persoalan sosial nyata yang dialami masyarakat serta harus mampu melepaskan diri dari persoalan sosial tersebut guna melahirkan inovasi sosial plus tak terjebak lingkaran setan problematika. Gerakan sosial nihil visi akan selalu mencari musuh, selesai satu problem maka akan langsung mencari problem baru.

Menurut Mas Bukik pula, gerakan sosial umumnya memandang masyarakat dampingannya sebagai persoalan itu sendiri. Seakan-akan masyarakat tersebut sudah “nasibnya” tak bisa mandiri sehingga selalu tergantung pada “bantuan dari langit”, ibarat riwayat cerita orang Israel yang menanti-nanti datangnya roti manna dari surga ketika mereka berkelana menuju tanah Kanaan.

Salah satu solusi yang Mas Bukik tawarkan dalam artikel tersebut adalah pendekatan Appreciative Inquiry. Pendekatan ini menonjolkan sisi potensial dan karakteristik unik kesatuan masyarakat itu. Bagaimanapun juga, mereka yang mendiami wilayah tempat tinggal mereka, sehingga mereka pasti lebih mengenal sifat wilayah itu dari siapapun jua. Jika potensi individu plus karakteristik komunal mereka termaksimalkan, maka akan lahir sebuah persamaan sosial :

Pengenalan Lingkungan Menyeluruh + Visi Hidup + Kekuatan Karakter Unik Masyarakat = Inovasi Sosial

Dengan demikian, perubahan bukan lagi angan-angan, melainkan adalah budaya hidup, tradisi turun-temurun. Di akhir artikelnya, mas Bukik menekankan krusialnya transformasi gerakan sosial menjadi pemimpin sosial yang menggalang kekuatan sehingga kelemahan tak lagi relevan. Nah, mengapa artikel yang bagus sekali ini layak menjadi bahan refleksi bagi Sekolah Kita Rumpin?

***

Sekolah Kita Rumpin memiliki visi yang sangat jelas bahkan hanya dengan membaca definisinya saja (sekolah alternatif gratis yang memfasilitasi anak-anak korban sengketa tanah di Rumpin). Visi ini dilengkapi dengan empat tujuan besar : peningkatan kepercayaan diri, memicu rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan menumbuhkan rasa empati. Hal ini tak hanya berlaku bagi anak-anak murid, namun juga bagi warga Desa Cibitung di Kecamatan Rumpin. Walau saat ini perwujudannya baru sebatas skala anak, tapi dalam waktu 3-4 tahun ke depan, diharapkan visi ini sudah menjangkau tingkatan orang tua dan para pemuda.

Anak-anak dibimbing untuk menjadi generasi solutif dan kritis, mampu berkreasi demi mencapai kemandirian (finansial + pikiran + moral) secara pribadi serta peningkatan kualitas hidup sehari-hari di level keluarga. Mereka juga disiapkan menjadi generasi yang sanggup membela diri sendiri secara hukum dan diplomasi damai dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Orang tua dan para pemuda di lain sisi mendapat pembekalan wirausaha serta kemampuan mengajar. Tak lupa penanaman pentingnya bertoleransi serta pelebaran cakrawala berpikir terhadap berbagai hal, terlebih bila hal tersebut berhubungan langsung dengan masa depan anak-anak mereka. Mungkin dalam waktu 10-15 tahun mendatang, warga desa Cibitung kecamatan Rumpin, kabupaten Bogor telah mumpuni dan bangga memiliki sejarah kesatuan dan karya nyata sosial yang dapat terus mereka renungkan dan aplikasikan, lagi dan lagi.

Bisa dilihat jelas bekas jejak metode appreciative inquiry dari dua poin di atas. Faktanya, metode ini bukan barang baru bagi Sekolah Kita Rumpin. Sejak inisiasi sampai Kakak Kita Angkatan I aktif, Rara Sekar, Kakak Kurikulum, sudah seringkali mengangkat metode ini dalam obrolan-obrolannya. Begitu juga dengan kak Racil, pengajar tetap lainnya, yang bahkan telah menuliskan metode ini saat mengisi form pendaftaran online calon Kakak Kita.

Namun mayoritas teori di atas baru sebatas wacana. Inilah persoalan sesungguhnya. Jalan menuju realisasi masih sangat berliku dan panjang. Harapan terdekat bagi Kakak Kita beserta segenap elemen pendukung Sekolah Kita Rumpin adalah tetap menjaga komitmen dan konsistensi serta meningkatkan kualitas komunikasi ke dalam dan ke luar, tahun demi tahun, pelan tapi pasti.

Mungkin saat perayaan ulang tahun II di 2014, kita bisa sama-sama menikmati buah refleksi bersama ini..

TUHAN LES TAMAN GULA!

DSC_0126Je te souhaite un joyeux anniversaire à toi, Notre Ecole!”

Begitulah ucapan yang meluncur dari lubuk hati terdalam sang kambing di samping. Sesosok makhluk yang menjadi saksi hidup paling lama akan eksistensi sekolah alternatif ini. Jangan salah, mungkin saja beliau sudah meninggali kandang tersebut saat ide Sekolah Kita Rumpin pertama sekali tercetus.

Ngomong-ngomong, saya gatal hendak mengutip petuah terkenal dari seorang tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, yang berbunyi :

“Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.”

Dan tak lupa sedikit menambah perkataan seorang kakak yang pernah mengajar di Sekolah Kita,

“Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

***

Umumnya, setiap kali seseorang ulang tahun, ia mengenang kembali setahun ke belakang dan menyiapkan resolusi setahun ke depan. Tidak ada salahnya kalau saya juga menerapkan “ritual” serupa bagi komunitas ini.

Karena saya baru bergabung setengah tahun terakhir, jadi yang bisa saya reka ulang hanya perkembangan-perkembangan selama setengah tahun terakhir, tepatnya sejak bulan Oktober.

Waktu itu, blog ini masih berafiliasi ke blogspot dan belum seberaneka-ragam sekarang.

Belum ada kumpulan orang yang disebut “Kakak Kita”, bahkan proses penerimaannya saja baru akan dimulai.

Belum terpikir bikin Taman Baca dengan desain demikian. Perpustakaan B

 

 

 

Adik-adik belum punya kebun sendiri. Jumlah mereka bahkan masih dapat dihitung dengan jari.

IMG_0192    << Belum ada ide gokil hasil prakarya semacam ini

Atau ini >> design sekolah kita 5

 

 

 

Atau ketemu orang gila begini

Hanna

 

 

 

 

 

 

Setelah melihat seluruh tampilan di atas, apakah Sekolah Kita Rumpin telah mencapai sesuatu?

Saya bilang belum. Masih panjang dan lama perjalanan yang harus kami tempuh untuk mencapai sesuatu.

Sesuatu yang membuat adik-adik di Rumpin berani tampil beda, inovatif, penuh empati, serta berpola pikir kritis.

Sesuatu pengalaman memuaskan secara batin dan intelektual untuk seluruh Kakak Kita.

Sesuatu yang mengistimewakan kemanusiaan.

***

Terima kasih untuk segala doa, kritik, donasi, tenaga, waktu liburan, tweet, prakarya, foto-foto, video, hingga cinta monyet yang bersemi. Secara pribadi, resolusi saya gampang saja : bisa merayakan ultah lagi tahun depan, haha! Resolusi komunalnya mungkin agak-agak bijaksana dan dramatis biar berkesan oke, halah!

Semoga Sekolah Kita Rumpin makin tulus, makin solid, makin bertumbuh, makin kreatif. Tidak hanya menjadi fasilitator anak-anak korban sengketa, namun juga sebagai salah satu solusi nyata bagi kesenjangan pendidikan di Indonesia.

Selamat ulang tahun, Sekolah Kita! Semangatmu, dan semangat mereka, selalu jadi semangatku!

10 April 2012 – 10 April 2013

***

NB : Sekolah Kita bakal ngadain program Tur Kita buat adik-adik dengan destinasi ke berbagai tempat eksotis dan bersejarah di Bandung. Rencana pelaksanaan pada bulan Juni 2013. Untuk memenuhi kebutuhan administrasi kegiatan, kami mendaftarkan Tur Kita sebagai proyek crowdfunding di situs patungan.net

Silahkan mampir ke halaman proyek kami di sini, klik “DUKUNG” di kanan atas, log-in memakai e-mail atau facebook, kemudian transfer donasinya ke nomor rekening yang tertera di sana. Sebarkan juga pada kolega, teman-teman dekat, tetangga, hingga tukang ojek langganan, haha! Terima kasih semua!

Perjalanan “Bertema” di Sekolah Kita

Perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Selain berangkat sendiri karena kakak-kakak yang lain masih belum bisa bangun pagi, aku mengawali hari itu dengan penuh semangat. Karena di akhir bulan kemarin, aku menutup tema belajar dwi bulanan “KEBUN KITA” dengan berkarya. Ya, hari itu adalah Minggu, 24 Februari 2013. Tak terasa perjalanan naik kopaja hingga naik angkot jurusan Cicangkal sudah kulalui dan jarum jam menunjuk pada angka 9. Wah masih pagi! Hehehe. Di dalam angkot, aku sendiri.

Berawal dari iseng menanyakan kondisi banyaknya perumahan yang dibangun di sekitar jalanan menuju Rumpin kepada bapak sopir, aku mendapatkan banyak hal yang tak kusangka.

Pak Sopir : “bagi saya bukan malah menguntungkan, tetapi kami sebagai warga yang rumahnya dekat dengan komplek perumahan tersebut sekarang terancam digusur. Mereka tidak melihat bagaimana kami tinggal, bagaimana kami akan hidup berdampingan dengan mereka, karena yang penting buat para pembuat perumahan ini adalah uang.”

Tanpa disadari kami ngobrol panjang lebar perihal bagaimana para pemilik modal akan membangun berbagai rumah hunian bagi mereka yang kelas ekonominya menengah ke atas. Posisi bangunan yang timpang dengan hunian warga asli membuat warga yang sudah lebih awal tinggal di daerah itu terancam. Walaupun belum terjadi penggusuran, tapi kemungkinan pembelian tanah mereka oleh pihak kontraktor dengan harga yang sangat murah bisa terjadi.

Tak sadar aku pun sudah sampai di komplek Suradita, perumahan yang pasti aku lewati ketika melakukan perjalanan ke Rumpin. Dalam perjalanan menuju Sekolah Kita, aku berpikir bahwa apa yang dialami pak sopir tidak jauh berbeda dengan warga Rumpin yang masih terancam oleh pihak “penguasa water training”. Aku dan tim Sekolah Kita tidak bisa menjamin bahwa tanah warga Rumpin bisa lolos dari sengketa. Kami hanya bisa berupaya menyiapkan anak-anak yang percaya diri dan mampu tampil di depan umum membela keluarga serta daerahnya.

Tak terasa kami melakukan kegiatan ini sudah hampir setahun. Menakjubkan! Dari mulai sendiri, bertiga, sampai akhirnya tim Sekolah Kita lebih dari 15 orang. Perjalanan ini tidak pernah mudah. Komunikasi yang terbatas antara kakak-kakak dan adik-adik dikarenakan pertemuan hanya seminggu sekali membuat proses kegiatan kita masih terhitung lambat. Tapi aku sangat senang ketika kemarin menutup tema Kebun Kita dengan membuat karya yang menurutku tidak biasa. Mereka yang awalnya terpatok pada hal-hal yang gambar atau karyanya sebatas yang mereka lihat tetapi kemarin mereka membuat lebih dari itu. Imajinatif, penuh warna, sambil memanfaatkan kertas, bahkan ada yang membuat tempat sampah dari ember miliknya bu Neneng yang sudah usang. Hehe.

Sebagai Kakak Pengelola Sekolah Kita, aku hanya berharap bahwa tidak hanya aku saja, melainkan seluruh warga Rumpin bersedia bekerja sama. Itu yang terpenting. Dengan begitu mereka mampu mandiri membangun kampungnya sendiri. Terima kasih pula kepada kakak-kakak yang masih setia terlibat. Juga pada adik-adik yang selalu menanti kedatangan kita sehingga semangat itu terus ada, walaupun aku harus berangkat dari Bandung dengan waktu yang sangat terbatas.

Minggu, 3 Maret 2013, aku dan tim kakak Sekolah Kita mengadakan rapat bersama orang tua Adik Kita di mushalla tempat belajar. Sangat mengharukan dan tersipu melihat antusiasme mereka mengikuti rapat tersebut dan mendukung kegiatan ini. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung. Sebagai penutup, kita sekarang punya kebun, karena bibit yang ditanam itu sudah tumbuh loh!

,,,,,,

 

 

 

 

 

 

Salam,
Ana Si Kakak Pengelola yang Imut