Pengalaman Mengikuti Kegiatan International Youth Day 2017

oleh Kanya Pinandita, Kakak Pengajar Tetap Kelas Umum

Sebagai pengajar relawan kelas umum di Sekolah Kita Rumpin (SKR), saya sangat bersyukur telah terpilih menjadi salah satu dari 36 peserta untuk mewakili SKR dalam perayaan International Youth Day yang jatuh pada tanggal 12 Agustus 2017. Dalam rangka menyambut perayaan tersebut, pada tanggal 11 Agustus, Youth Force Indonesia bekerjasama dengan Aliansi Remaja Indonesia dan juga United Nations Indonesia mengadakan diskusi terbuka untuk menyumbangkan ide-ide kreatif anak muda yang terkait dengan isu-isu seperti kemiskinan, perubahan iklim, pariwisata, kesehatan reproduksi seksual, intoleransi, dan  pendidikan.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, panitia membagi kami ke dalam enam kelompok. Setiap kelompok mewakili isu yang menjadi fokus dari organisasi. Saya bergabung dalam kelompok pendidikan. Sebagai hasil dari diskusi yang kami lakukan selama seharian penuh, kami merancang sebuah rencana aksi (action plan) yang langsung kami presentasikan di depan Staff Kepresidenan Republik Indonesia.

Pada hari kedua kami menghadiri diskusi terbuka dengan topik “Youth Building Peace” yang dilaksanakan di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Ibu Ruby Khalifah (Asian Muslim Nerwork Indonesia), Karina Nadila (Miss Supranational Indonesia 2017), Dr. Margaretha S (Youth and ASRH UNFPA Indonesia), dan Ms. Miyeon Park (UN Volunteer Indonesia). Pada diskusi tersebut saya berkesempatan untuk mewakili kelompok saya dari tim pendidikan untuk menyampaikan rencana aksi kami kepada seluruh peserta diskusi yang hadir. Kami menyampaikan bagaimana pentingnya pendidikan yang inklusif dan berbasis lokal untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik. Selain itu, dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai  program Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut dirancang agar  Indonesia dan negara berkembang lainnya bekerjasama untuk menciptakan negara yang bebas kemiskinan, aman, dan damai.

Di usia saya yang masih muda banyak hal yang perlu saya catat dan pelajari. Menghadiri kegiatan tersebut adalah salah satu kesempatan belajar yang baik untuk saya. Terima kasih tak terhingga untuk kakak-kakak dari Sekolah Kita Rumpin yang sudah mempercayai saya untuk menghadiri acara ini. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan belajar yang sama seperti saya, dan walaupun status saya disini adalah sebagai seorang pengajar, saya justru merasa bahwa saya yang mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga setiap minggunya.

 

Pekan Gembira Rumpin 2016

PGR2016FINAL

Sekolah Kita Rumpin kembali mengadakan Pekan Gembira Rumpin!

Pekan Gembira Rumpin 2016 adalah peringatan #4tahunSKR sekaligus acara penggalangan dana bagi Sekolah Kita Rumpin. Pekan Gembira Rumpin akan diadakan Minggu, 24 April 2016 di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. Kamu bisa berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan di antaranya :

  • Kelas Fotografi bersama Muhammad Fadli @mfimages dengan tema kelas “Editorial Photography”. Pukul 13.00-15.30 WIB.
  • Kelas Prakarya bersama Kitty Manu @kittymanu_ yaitu Melukis di atas Tote Bag. Pukul 13.00-15.30 WIB.
  • Pemutaran dan diskusi film Another Trip to The Moon karya Ismail Basbeth. Pukul 16.30-18.00 WIB.
  • Stand Komunitas Lemari Buku-Buku dimana kamu bisa mendonasikan buku-buku dan mendapat 1 gambar gratis.Pukul 13.00-17.00 WIB.

Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di atas, kamu sekaligus memberikan donasi untuk berlangsungnya seluruh aktivitas Sekolah Kita Rumpin di masa depan.

  • Donasi “Kelas” Rp150.000
  • Donasi “Kelas dan Film” Rp175.000
  • Donasi Film (HTM) Rp50.000

Untuk Kelas dan Pemutaran film, kamu bisa mendaftar lewat form di bawah ini :

Informasi selengkapnya bisa hubungi : 0822 8154 2093 (Muthia). Ada pertanyaan mengenai Pekan Gembira Rumpin? Kamu bisa mention @sekolahrumpin di Twitter/Instagram.

Sampai jumpa di Pekan Gembira Rumpin!

 

Catatanku untuk Semua

20160222063318

*Sebuah catatan dari Kak Ana Agustina selepas menjadi narasumber di acara Rembug Sosial yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Seperti biasa saat pagi tiba, kubuka jendela dan kuhirup udara sejuk yang menghembus masuk ke sudut ruang kamar yang membuat tubuh ini malas beranjak. Kubaca kembali bahan presentasiku untuk seminar hari itu di UPI Bandung. Selesai siap-siap, hari itu cukup cerah dan masih pagi sehingga perjalanan menuju ke UPI cukup lancar. Kali ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI mengundang Sekolah Kita Rumpin yang diwakili olehku untuk mengisi acara tersebut sebagai narasumber yang akan berdampingan dengan narasumber lainnya. Narasumber tersebut diantaranya Guru Besar UPI, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, perwakilan dari Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (KOPPAJA), serta perwakilan dari komunitas Taman Baca Binar. Topik seminarnya yaitu menyikapi pendidikan di Indonesia : optimisme dan realitas.

Acara dimulai pada pukul 09.00 pagi dengan berbagai sambutan terlebih dahulu dan penampilan teatrikal dari mahasiswa seni UPI. Setelah rangkaian acara silih berganti, selanjutnya pembawa acara memberikan kepada moderator untuk memulai acara seminarnya. Moderator membuka acara dengan menyampaikan tentang situasi Indonesia yang menurutnya mengalami krisis yang di antaranya krisis moral dan kesenjangan social terutama pendidikan. Setelah moderator memaparkan argumennya, salah satu Guru Besar UPI yang dipersilakan untuk memberikan presentasinya terlebih dahulu, beliau menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia sudah cukup berkembang dalam bidang pendidikan. Hal ini karena pendidikan Indonesia sudah diakui dunia. Menurut Bapak tersebut, Indonesia diakui dunia dalam hal keterlibatannya untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan dunia dan menurutnya juga tak jarang Indonesia mendapatkan medali. Beliau juga memberikan opininya tentang beberapa solusi untuk memajukan kwalitas pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kwalitas guru, memberikan referensi tentang metode pembelajaran aktif, membangun akses pendidikan yang mampu memberikan kemudahan bagi setiap pendidik dan anak didik (sarana dan prasarana kegiatan sekolah, alat transportasi, dan komunikasi), serta membuat kurikulum yang sesuai dengan potensi daerah sehingga tidak disamaratakan standarnya antara satu daerah dengan daerah lain.

Berbeda dengan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, beliau menjelaskan tentang prosedur pengelolaan pendidikan, tata cara melengkapi standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta pendidikan merupakan instrument bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Menurutnya, pendidikan itu dapat membangun manusia yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Beliau juga memaparkan bahwa kurikulum berubah terus adalah keniscayaan, karena ketika berganti menteri tentunya kurikulum juga akan mengikuti perkembangan sesuai kebijakan dari menterinya. Bapak sekretaris dinas ini juga lebih banyak bercerita tentang uji kompetensi guru, perekrutan guru, dan segala hal yang berbau administrasi dan kebijakan baku pemerintah yang susah dirubah.

Lain halnya dengan narasumber yang mewakili komunitas peduli pendidikan anak jalanan yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya yang diliput oleh berbagai media yang membuat nama komunitasnya meroket bak pesawat jet. Dia bercerita bahwa komunitasnya tersebut menggunakan metode pembelajaran yang menyesuaikan situasi lingkungan anak-anak jalanan yang sedang dibinanya. Dia juga bercerita tentang kontribusinya di dunia pendidikan yaitu sudah menjadikan anak-anak jalanan untuk tetap bersekolah dengan jaminan beasiswanya.

Hal kagum aku tunjukkan kepada narasumber terakhir yang mewakili komunitas taman baca yang berada di Cipanas-Cianjur ini. Mereka adalah komunitas yang mempunyai program pojok baca, bioskop sekolah, dan buku berjalan. Komunitas yang mereka organisir adalah komunitas yang benar-benar mandiri secara finansial. Menjual merchandise seperti kaos dan totebag, juga punya kelas sablon untuk anak-anak yang ada di daerah Cipanas tersebut. Bercerita dengan penuh kesederhanaan, hanya menggunakan binder catatan kecil, tanpa power point, tanpa banyak berkata-kata, sehingga membuat suasana sendu saat itu.

Aku sendiri bercerita tentang sejarah Sekolah Kita Rumpin, sistem, dan program yang sudah dilakukan dan akan dilakukan. Kurikulum Sekolah Kita Rumpin yang mengajak seluruh keluarga besar Sekolah Kita Rumpin untuk menumbuhkan rasa empati satu sama lain antara adik dan kakak, menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri adik-adik dan kakak-kakak, sehingga mampu tampil percaya diri di mana pun berada, dan menumbuhkan kreativitas. Selain itu, Sekolah Kita Rumpin juga diharapkan mampu menjadi tempat berbagi kisah setiap individu yang ada di dalamnya dan tempat belajar satu sama lain. Sebab setiap tempat adalah sekolah kita, belajar bisa di mana saja dan dengan siapa saja.

Kegiatan seminar kemarin berakhir dengan penutup dari moderator yang mengambil simpulan dari setiap pemaparan narasumber yang kemudian ia tambahkan bahwa pendidikan akan berkembang jika semua kalangan saling mendukung satu sama lain.

Tak hanya berhenti di situ, aku dan beberapa teman dari komunitas Taman Baca Binar ngobrol lebih lanjut tentang berbagai hal yang sekiranya bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bertukar ide, program yang dilakukan masing-masing, sehingga menyepakati untuk saling mengunjungi. Komunitas Taman Baca Binar keberadaannya sudah 6 tahun, tetapi mereka sendiri masih terus berproses untuk menjadi sebuah komunitas yang stabil secara sistem, dan sumber daya. Mungkin suatu saat nanti kami bisa menjalin kerjasama, entah tahun ini atau tahun depan, yang jelas kami akan terus saling belajar.

Hari itu, banyak cerita yang didapat.

Mencerna makna yang tersirat.

Berpikir terbuka dan menelaah rasa.

Untuk satu kesamaan, demi cita-cita.

Volunteering and Its Impact on Education : A Hybrid Model

*tulisan berikut rampung pada pertengahan 2014 dan telah dimuat di Count Me In, Jakarta Globe awal tahun 2015*

 

By : Tiara Ayuwardani & Josefhine Chitra

 

Why do we volunteer? The motives may vary. There are so many reasons on why someone would voluntarily sacrifice their time and effort in doing something without being paid.It might be the thirst of experience, the need to feel useful or just pure love and total dedication ; God only knows what your reason to volunteer really is.

The act of volunteering has been an incredibly helpful source to many social movements. For short term events, the quantity of helping hands can do wonder. But for a longer commitment, such as education reform, can volunteerism still create an impact? Or to be more specific, a sustainable one?

As a citizen, a volunteer-based community opens up the opportunity to participate in mitigating the challenges in education sector. When a volunteering-community agrees to tap in the education sector, it needs to concede that the actions will bring long-term impact to the students’ life.

The thing about purely volunteer-based community is the members enroll themselves based on their conscience while acknowledging the community does not have the obligation to pay any salary. Therefore, the commitment degree of the members may vary, which might lead to a high turnover of the members, whereas social worker-based community is a volunteering model which the structure and system are usually more rigid with appropriate sanctions and incentive. The members are hired as full-time professionals with clear recruitment procedure.

To attain sustainable programs in education reform, the later is seemingly more suitable because the competency of the members has been assured. But it will also require bigger budget for salary allocation, which not many social movement can afford.

 

Sekolah Kita Rumpin : A hybrid model of communities

Every Sunday morning, the kids in Cibitung, Rumpin, wake up early and walk in approximately 30-60 minutes distance to arrive at a small mushola where they will learn in Sekolah Kita Rumpin. Sekolah Kita Rumpin or SKR, is an alternative school for children in Cibitung village who were victims of land eviction case.

At its first establishment, the founders of SKR has realized the unsustainable issue that often faced byvolunteer-based community ; therefore they agree to adopt a hybrid model of community – a fusion of the volunteer-based and the social worker-based community. There are some indications to prove the adoption of the hybrid model.

First : Clear core values as the curriculum

As any other firstly established community, things where chaotic. Teacher positions were filled by random volunteer and the teachers changed every week ; no curriculum or even objective. Having realized the importance of education for Rumpin kids’ lives, Ana Agustina consulted with Rara Sekar – who later then becomes theHead of Curriculum. After considering the necessity and the situation in Rumpin, finally they found four core values of Sekolah Kita Rumpin, which comprises of empathy, curiosity, creativity, and confidence. All teachers must adhere their teaching materials to these four core values.

Second : Clear supervision and check-and-balance on the teaching materials

Unlike other alternative schools which give lesson in school-given subjects, the teaching topics in SKR vary bimonthly, from paddy fields to history of technology. The teachers have to submit their materials to the Head of Curriculum no later than a week before the topic starts. After receiving feedbacks and approval, then they can implement the materials in their scheduled class.

They will also need to submit the online post-teaching evaluation form, to see how the class actually went and compare best practice from other classes. This system will help to ensure the teaching materials are in line with the core values and measure the objectives. In addition to that, SKR also has research team whose job task is to evaluate the impact for the kids in Rumpin as well as finding local’s relative advantage that can be developed as entrepreneurships.

Third : Clear and fair recruitment procedure

SKR does not welcome any sudden volunteer who cannot commit for minimum of one year. The reason is because they do not want to have teachers who just go to the class once and disappear without any continuity. Therefore, any applicant will be rigorously examined through written test and interview like applications for professional social workers, but without the payment.

In SKR, we need to maintain volunteerism both in quality and quantity because education is the root of everything. It will affect children forever. So, having pity or just want to add this as one of “social activity experience” in their CVis not enough. We need their ideas and commitment to achieve the sustainable impact for kids in Rumpin,” explained the Head of Curriculum.

Fourth : Empowerment of local people to be self-reliant in the future

SekolahKita aims to move out from Rumpin by 2018 after accomplishing two main targets : independent financial capability among the society and teachers regeneration from its own local people. To pave the way until 2018, SKR has 5-years plan as organization’s policy guideline. SKR also believes in entrepreneurship as a means to empower their financial capability. Stable entrepreneurship program may result to increasing the revenue of Cibitung village. To regenerate the teachers, Curriculum Division and Teachers Division will also prepare the students who have graduated from vocational or high school to be the next teachers for SKR. Through this way, the sustainable impact can be maintained.

Prinsip Ani

Saat mulai menulis artikel ini, saya merasa sedang menjabarkan Hukum Kekekalan Energi pada anak-anak SMP ataupun mempresentasikan opini pribadi seputar mengapa Interstellar (Christopher Nolan, 2014) adalah contoh karya audio-visual abad 21 yang mampu mengejawantahkan Hukum Ketiga Newton dengan sangat apik. Pada kenyataannya, tujuan penulisan artikel ini tak jauh dari situ.

Prinsip Ani (Annisa Principle) adalah sebuah metode penanganan bertahap dalam Skema Beasiswa SKR yang harus dilalui satu/beberapa Adik Kita yang telah menyatakan keinginannya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi pasca SMA/SMK. Pada fase ini, ia/mereka akan menjalani serangkaian tahapan, yakni :

1. Proses verifikasi (kemampuan akademik/musik/linguistik/naturalis/kinestetik, kemampuan ekonomi keluarga & preferensi orang tua, tingkat kemantapan pilihan, serta pertimbangan kesempatan berorganisasi/berkarya)

2. Proses pendampingan belajar secara intensif oleh kakak tertentu jelang hari H + kampanye pencarian sponsor/partner pendanaan beasiswa

3. Pembuatan kontrak/MoU antara sponsor/partner pendanaan, Kakak Pengelola, dengan orang tua Adik Kita terkait setelah sang adik resmi menyandang status baru sebagai mahasiswa/i

Prinsip ini saya beri nama mengikuti panggilan sehari-hari Annisa, murid pionir SKR yang menyatakan keinginannya melanjut ke perguruan tinggi. Ia juga adalah adik pertama yang menjalani seluruh fase metode di atas serta berpeluang besar menjadi contoh kisah sukses perdana dari antara siswa SKR selama 3 tahun terakhir.

Pada kasus Ani, penentuan potensi kemampuan dirinya berasal dari observasi rutin sepanjang setahun belakangan. Ketika ia menyatakan ingin kuliah, langkah selanjutnya adalah melobi orang tuanya. Setelah memperoleh restu orang tua, fase pendampingan belajar dimulai di bawah bimbingan Kak Lani sementara Dewan Pembina dan Kakak Pengelola berembuk mencari sponsor/partner pendanaan. Hasil negosiasi final dengan calon sponsor/partner pendanaan bakal tertuang dalam sebuah kontrak/MoU yang telah mengakomodasi kepentingan semua pihak yang terlibat. Kontrak/MoU ini akan ditandatangani begitu Ani dinyatakan lulus sebagai mahasiswi.

Dengan hadirnya Prinsip Ani, SKR tak perlu repot lagi menangani kasus sejenis di sisa 3 tahun mendatang. Metode ini dapat terus bereplikasi dan diterapkan ke adik-adik manapun sepanjang setiap tahapan fasenya benar-benar dijalankan. Perubahan minor hanya muncul pada bagian penggerak kampanye pencarian sponsor/partner pendanaan beasiswa (ke depan, penggerak utama adalah Divisi Promosi + Divisi Penggalang Dana)

Versi taktis Prinsip Ani bakal tersedia dalam rumusan akhir Skema Beasiswa SKR yang akan dipresentasikan di Kemah Kita 2015.

Rayakan ulang tahun dengan kerja bakti? Kenapa tidak?

Tepat pada 10 April yang lalu, Sekolah Kita Rumpin (SKR) genap berusia tiga tahun. Sebagai ucapan syukur atas bertambahnya usia SKR, kakak-kakak dan adik-adik SKR melakukan kerja bakti pada Minggu (12/4).
Semua kakak dan adik berkumpul di SKR. Sebelum memulai kerja bakti, Bu Neneng membawakan kue tart sebagai simbol perayaan ulang tahun dari SKR. Kak Ana, selaku pendiri dari SKR, didamping oleh semua adik dan kakak berdoa dan meniup lilin.

Setelah perayaan kecil-kecilan tersebut, Kak Ana membagi tugas bersih-bersih per kelas. Adik-adik kelas PAUD hingga 2 SD ditugasi mengelap kaca. Adik-adik kelas 3 hingga 4 SD ditugasi untuk memungut sampah plastik yang ada di sekitar SKR.

Adik-adik kelas 5 hingga 6 SD ditugasi membersihkan bagian dalam kelas. Dan adik-adik kelas SMP – SMA kebagian tugas menyapu dan mengepel ruang kelas. Gak cuma adik-adik, tapi semua kakak juga ikut membantu membersihkan SKR.
Setelah selesai membersihkan SKR, semuanya kembali berkumpul. Setiap kakak dan adik diberikan kertas berbentuk daun untuk diisikan harapan akan SKR. Setelah kertas diisi, kemudian digantungkan di ranting pohon yang kami sebut pohon harapan.

Habis itu, kakak-kakak bikin vote kecil-kecilan. Setiap orang harus menuliskan nama-nama, baik kakak ataupun adik, sesuai dengan kriteria masing-masing. Dari hasil vote tersebut terpilih :

Adik Terajin = Annisa (SMK)

Adik Terseru = Rohadi (6 SD)

Adik Terberani = Sari (6 SD)

Adik Terkreatif = Risma (5 SD)

Kakak Terajin = Kak Josephine

Kakak Terseru = Kak Hanna

Kakak Terkreatif = Kak Giany

Kakak Terberani = Kak Ana

Dan di akhir kegiatan, semua kakak dan adik makan bersama. Adik-adik tampak antusias menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah.

Layaknya manusia yang berusia tiga tahun yang tengah belajar akan banyak hal, begitu pula SKR di usianya yang ketiga. Kegiatan belajar dan mengajar menjadi pelajaran baik bagi adik ataupun kakak yang terlibat dalam setiap kegitan.

Seperti doa kepada anak berusia tiga tahun, semoga SKR terus bertumbuh menjadi manfaat baik bagi warga Cibitung dan Malahpar ataupun Indonesia di masa yang akan datang.

Salam,

Christmastuti Destriyani (@kerisirek)

Kakak Riset dari Tim Pensil

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin: Tema Panggung Kita (November-Desember 2014)

Di Sekolah Kita Rumpin, tema keempat dari kegiatan belajar di kelas umum adalah ‘Panggung Kita’. Tema tersebut adalah penutup dari kegiatan belajar di tahun 2014. Maka dari itu, materi ajar yang diberikan oleh setiap kakak pengajar adalah persiapan untuk penampilan akhir tahun adik-adik SKR di acara ‘Panggung Akhir Tahun’. Adanya acara Panggung Akhir Tahun bertujuan untuk memberikan wadah bagi adik-adik untuk menunjukkan hasil pembelajarannya selama satu tahun ini dan menjadi ajang untuk menunjukkan bakat serta kreativitas adik-adik. Berikut ini adalah kegiatan yang dilakukan di kelas umum dan kelas spesialis sepanjang persiapan acara Panggung Akhir Tahun:

 

  • Diskusi pemilihan jenis penampilan bersama adik-adik.
  • Latihan untuk penampilan di acara Panggung Akhir Tahun.
  • Gladi kotor untuk acara Panggung Akhir Tahun

Selanjutnya puncak acara dari tema ‘Panggung Kita’ adalah terselenggaranya kegiatan Panggung Akhir Tahun pada hari Minggu, 14 Desember 2014. Persiapan acara berlangsung dari pukul 08.00 WIB. Untuka acara intinya dimulai pada pukul 10.00 – 12:00 WIB. Selain menampilkan berbagai kesenian, adik-adik dari kelas Prakarya pun membantu kakak pengajar untuk membuat dekorasi acara. Berikut ini adalah penampilan para adik-adik di Panggung Akhir Tahun:

  1. Pembawa acara: Linda (perwakilan kelas Berani Bicara)
  2. Tari Jaipong (oleh Dian & Sari, perwakilan kelas Berani Bicara)
  3. Tari Pinguin (oleh kelas SMP, SMA, SMK)
  4. Musikalisasi lagu Guruku (oleh kelas PAUD-2 SD)
  5. Tari Piring (oleh kelas 3-4 SD)
  6. Menyanyikan lagu Dari Sabang sampai Merauke (oleh kelas 3-4 SD)
  7. Qasidah (oleh ibu Neneng dan warga)
  8. Pencak Silat (oleh kelas 5-6 SD)
  9. Pembacaan puisi (oleh Annisa, perwakilan kelas SMK)
  10. Tari Semapur (oleh kelas 5-6 SD)

Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat hal-hal positif yang muncul pada adik-adik SKR. Jika ditinjau dari empat landasan nilai SKR, nilai-nilai yang paling terlihat dan terasa berkembang pada adik-adik (secara berurutan) adalah percaya diri, kreativitas, rasa ingin tahu, dan empati. Berikut ini adalah hal-hal positif yang muncul ditinjau dari nilai-nilai SKR:   1. Percaya Diri

  • Adik-adik sangat antusias memperlihatkan hasil latihannya kepada teman-teman dari kelas lain dan kakak-kakak pengajar selama proses latihan dan gladi kotor.
  • Adik-adik mau untuk latihan sendiri tanpa bimbingan dari kakak-kakak pengajar (contoh: kelas SMP-SMA-SMK,yang pengajarnya sedang berhalangan hadir hingga akhir tahun, memilih jenis penampilannya sendiri, berlatih sendiri, dan dengan percaya dirinya menampilkannya di hadapan kakak pengajar kelas lain).
  • Adik-adik berani menampilkan berbagai penampilan seni di acara Panggung Akhir Tahun dengan antusias di hadapan seluruh penonton (orangtua adik-adik, tamu dari pihak luar, dan seluruh kakak kita SKR).
  • Adik-adik tetap berani dan antusias untuk tampil, meskipun hanya berlatih dalam waktu yang singkat (2-3x pertemuan latihan bersama kakak pengajar).

2. Kreativitas

  • Adik-adik mau menyampaikan ide-idenya untuk penampilan Panggung Akhir Tahun (contoh: saat diskusi kelas untuk penentuan penampilan berlangsung di setiap kelas).
  • Adik-adik berinisiatif untuk membuat karya seni sendiri (contoh: Annisa yang membuat puisi sendiri dan mencalonkan diri sendiri untuk tampil, adik-adik kelas SMP, SMA, SMK  yang berlatih menari sendiri dengan melihat dari tayangan video di YouTube, adik-adik kelas 5-6 SD yang memilih jenis penampilannya sendiri).
  • Adik-adik berinisiatif untuk menyiapkan properti penampilannya (contoh: kelas 5-6 SD yang menyiapkan sendiri bendera semapur).

3. Rasa Ingin Tahu

  • Adik-adik mau mencari tahu jenis penampilan yang sebaiknya ditampilkan

(contoh: Ketika Annisa & Sari menawarkan diri untuk tampil menari tradisional, mereka mau melihat-lihat dulu jenis tarian tradisional yang ada untuk menentukan tarian yang akan mereka tampilkan).

  • Adik-adik antusias untuk mempelajari hal baru (contoh: Dian & Sari yang sangat antusias belajar tari jaipong untuk pertama kali. Meskipun waktu latihannya hanya 3x, tetapi mereka meminta terus untuk belajar berbagai gerakan jaipong).
  • Adik-adik berani untuk bertanya tips dari kakak-kakak agar penampilan mereka di Panggung Akhir Tahun semakin bagus.

4. Empati

  • Adik-adik menonton teman-temannya yang sedang tampil saat gladi kotor maupun saat acara berlangsung dengan tenang (tidak mengejek temannya yang sedang tampil).

Selain perkembangan positif dari adik-adik, kakak-kakak pengajar pun memperoleh berbagai pembelajaran saat kegiatan belajar di SKR berlangsung,. Berdasarkan kegiatan belajar yang terlah berlangsung terdapat hal-hal yang sebaiknya dipertahankan dan ditingkatkan oleh kakak pengajar, diantaranya adalah:   Yang harus dipertahankan:

  • Melibatkan adik-adik dalam pengambilan keputusan (dalam hal ini, untuk pemilihan penampilan di acara Panggung Akhir Tahun).
  • Membiarkan adik-adik untuk mengeksplorasi apa yang mereka inginkan, tetapi tetap dengan pengawasan kakak-kakak pengajar.
  • Mengarahkan dan memberikan materi untuk tampil yang disesuaikan dengan perkembangan adik-adik SKR (contoh: tari piring yang dimodifikasi dengan menggunakan piring plastik dan gerakannya sederhana)
  • Mengapresiasi performa adik-adik saat latihan dan setelah penampilan.

Yang butuh ditingkatkan:

  • Konfirmasi kehadiran saat jadwal mengajar agar tidak ada kekurangan pengajar/pengajar yang hadir lebih mempersiapkan diri untuk mengajar dengan jumlah anak yang lebih banyak dari biasanya.
  • Konsistensi kakak pengajar untuk mengingatkan adik-adik mengenai keberhasilan kelas.

  Pada tema ini, secara umum seluruh kakak pengajar sangat puas dengan performa mengajar, kegiatan belajar yang sudah dilakukan, dan penampilan adik-adik di acara Panggung Akhir Tahun. Dari hasil evaluasi ini, dapat terlihat dengan sangat konkret hasil belajar para adik-adik di SKR selama tahun 2014. Adik-adik menunjukkan tingkat percaya diri yang meningkat. Mereka dapat dengan berani dan antusias untuk tampil di hadapan para penonton Panggung Akhir Tahun. Semangat belajar mereka pun semakin meningkat, terlihat dari antusiasme adik-adik yang tinggi setiap latihan akan dimulai setiap minggunya. Semoga di tahun berikutnya, kakak pengajar dapat memberikan materi-materi ajar yang semakin menarik, beragam, dan lebih mengasah rasa ingin tahu dari adik-adik. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan rasa empati adik-adik juga bisa lebih dikembangkan.

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin: Tema Budaya Kita (September-Oktober 2014)

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin

Tema                           : Budaya Kita

Periode                        : Oktober 2014

 Di tahun 2014, tema ketiga dari kegiatan belajar di kelas umum Sekolah Kita Rumpin adalah ‘Budaya Kita’. Di tema ini, setiap kakak pengajar memberikan materi mengenai budaya, baik itu budaya dari dalam negeri, maupun luar negeri. Beberapa pengajar sudah mulai menerapkan penyampaian materi melalui proses bermain sambil belajar, sesuai dengan pelatihan yang baru saja diberikan kepada kakak-kakak pengajar di bulan September 2014. Berikut ini adalah kegiatan belajar yang sudah dilakukan di kelas umum:

 

  • Pengenalan budaya Indonesia melalui permainan Ular Tangga, kuis Famili 100.
  • Pengenalan permainan tradisional Indonesia dengan memainkan permainannya (permainan jaga benteng).
  • Latihan menari tari tradisional Indonesia (tari Piring-Minang, tari Yospan-Papua) dan menyanyi lagu-lagu tradisional serta lagu nasional Indonesia.
  • Pengenalan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari berbagai negara melalui kegiatan bermain peran.
  • Pengenalan tari tradisional, pakaian adat, dan rumah adat di Indonesia melalui kegiatan kuis (dibantu dengan laptop).
  • Menyelipkan kegiatan bermain kartu Uno.

 

Selanjutnya, berikut ini adalah kegiatan belajar yang telah dilakukan di kelas spesialis (sifatnya lebih bebas, tidak terikat dengan tema besar) :

Kelas Prakarya

  • Membuat kartu ucapan dengan teknik scrapbook.

Kelas Teater

  • Membuat film pendek.

Kelas Berani Bicara

  • Belajar mendeskripsikan suatu topik.
  • Belajar mengenai cerita wayang

 

Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat hal-hal positif yang muncul pada adik-adik SKR. Jika ditinjau dari empat landasan nilai SKR, nilai-nilai yang paling terlihat dan terasa berkembang pada adik-adik (secara berurutan) adalah percaya diri, kreativitas, rasa ingin tahu, dan empati. Berikut ini adalah hal-hal positif yang muncul ditinjau dari nilai-nilai SKR:

1. Percaya Diri

  • Adik-adik berani untuk mempraktekkan hasil belajar (contoh: berani untuk menarikan tari Yospan di hadapan kakak-kakak pengajarnya).
  • Adik-adik berani untuk berbicara di hadapan teman-temannya (contoh: saat kelas BB belajar mendeskripsikan diri).
  • Adik-adik berani menyapa kakak-kakak pengajar lebih dulu.
  • Adik-adik berani berkenalan dan berbaur dengan kakak pengajar baru.

 

2. Kreativitas

  • Adik-adik mau menyampaikan ide-idenya (contoh: saat pembuatan naskah film pendek di kelas teater).

 

3. Rasa Ingin Tahu

  • Antusiasme adik-adik meningkat (contoh: saat belajar materi baru, belajar dgn metode baru, yaitu menggunakan permainan ular tangga/menggunakan laptop).
  • Adik-adik mau bertanya lebih lanjut mengenai materi ajar (saat materi perbedaan kebiasaan di setiap negara).

 

4. Empati

  • Mendengarkan temannya yang sedang bercerita di depan kelas.

 

Selain perkembangan positif dari adik-adik, kakak-kakak pengajar pun memperoleh berbagai pembelajaran saat kegiatan belajar di SKR berlangsung,. Berdasarkan kegiatan belajar yang terlah berlangsung terdapat hal-hal yang sebaiknya dipertahankan dan ditingkatkan oleh kakak pengajar, diantaranya adalah:

Yang harus dipertahankan:

  • Menggunakan metode bermain dalam proses penyampaian materi ajar.
  • Memulai kelas dengan kegiatan yang bersifat motorik sebagai pemanasan sebelum materi inti diberikan.
  • Mengapresiasi performa adik-adik di kelas jika melakukan hal positif (berani bertanya, berani maju ke depan, bertutur kata yang baik, dll.).

 

Yang butuh ditingkatkan:

  • Eksplorasi jenis-jenis permainan yang bisa digunakan sebagai media ajar agar adik-adik tidak merasa bosan.
  • Menerapkan prinsip reward bagi adik-adik kelas PAUD-2 SD dengan menggunakan Papan Bintang Adik Kita.
  • Menyiapkan materi ajar yang tidak membutuhkan waktu lama dalam pembelajarannya (misalkan: di kelas prakarya, 1 topik untuk 2-3 pertemuan agar adik-adik tidak bosan dan lebih antusias lagi).
  • Konfirmasi kehadiran saat jadwal mengajar agar tidak ada kekurangan pengajar/pengajar yang hadir lebih mempersiapkan diri untuk mengajar dengan jumlah anak yang lebih banyak dari biasanya.

 

Pada tema ini, secara umum seluruh kakak pengajar cukup puas dengan performa mengajar dan kegiatan belajar yang sudah dilakukan. Rata-rata tingkat kepuasan proses mengajar pada tema ‘Budaya Kita’ adalah …. (kisaran 1-10). Dari hasil evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa kakak pengajar sebaiknya lebih mengeksplorasi lagi teknik mengajar dengan menggunakan metode bermain karena terlihat bahwa bermain sambil belajar dapat meningkatkan antusiasme belajar pada adik-adik. Selain itu, menyelipkan kegiatan motorik kasar sebelum, di sela-sela, atau setelah kegiatan belajar baik untuk menjaga semangat belajar adik-adik SKR.

Catatan Akhir 2014 – SKR

Tak terasa kini Sekolah Kita Rumpin sudah berdiri selama 32 bulan. Banyak sekali dinamika dan cerita yang menyertai perjalanannya, di mana sebuah kilas balik secara subjektif dari saya ini adalah sekelumit bagian dari keutuhan tersebut. Maka marilah kita melihat perjalanan setahun ke belakang terlebih dulu sebelum menyambut berbagai tantangan di 2015.

Di 2014 SKR mengalami beberapa evolusi :

1. Muncul kesadaran betapa kaya alternatif dokumentasi kegiatan via medium audio-visual

2. Dinamika pergerakan duo tim riset atas eksplorasi kelas (spesialis-umum) serta data sosio-ekonomi-kultur warga Kp. Cibitung (dan mayoritas Kp. Malahpar)

3. Inisiasi anggaran pendapatan dan belanja tahunan

4. Level seleksi yang meningkat terhadap beragam calon dukungan dari luar

5. Pelaksanaan PAT plus Panggung Kita

6. Pendekatan personal lebih lanjut pada adik-adik yang punya potensi besar

7. Antisipasi terukur guna menghadapi ancaman verbal-psikologis dari pemangku kepentingan dalam persoalan sengketa tanah

 

Pertama. Kesadaran akan kekayaan alternatif dokumentasi yang disuarakan pada rapat internal Divisi Promosi bulan Mei silam telah bermuara pada penghapusan facebook fanpage serta transisi metode dokumentasi =

visual statis (foto) à audio visual (video)

Konsep ini mampu bergerak dinamis sesuai kebutuhan sebab dalam beberapa kesempatan penggunaan foto tetap berperan penting di mana foto-foto tersebut langsung masuk ke pusat arsip.

Aktivitas akun Youtube SKR otomatis beranjak tinggi dengan akses yang jauh lebih mudah terhadap kegiatan mingguan bagi khalayak ramai.

 

Kedua. Tim Riset SKR di bawah Divisi Kurikulum terbagi menjadi 2 bagian besar :

Tim Pensil menangani seluruh bagian mengenai kelas dan proses kegiatan belajar yang ada di SKR sementara Tim Jendela merangsek ke tengah-tengah warga, mencari tahu kekurangan mereka, lalu memfasilitasi pembekalan jangka panjang.

Hasil gerakan Tim Jendela telah muncul di laporan tahunan 2014 SKR berupa profil komprehensif Kp. Cibitung + eksperimen wirausaha selama bulan puasa, sementara Tim Pensil masih terus menggodok LPAK (semacam pengganti rapor dengan alat ukur yang disesuaikan). Aksi nyata mereka terlihat saat penerapan sistem evaluasi pasca mengajar yang lebih mapan via rekaman suara sejak periode Oktober.

 

Ketiga. Inisiasi RAPBT SKR di 2014 menjadi sangat penting sebab mampu memberikan prediksi hingga proyeksi anggaran tiap rincian kegiatan-perlengkapan-program kerja sepanjang tahun. Tujuan akhirnya sangat gamblang à memastikan keseimbangan kas tetap terjaga.

Selain itu saya selalu mengibaratkan SKR sebagai negara mini yang punya dasar negara (4 nilai dasar), konstitusi (kurikulum dan struktur internal), GBHN (Realita 2014-2018), dan APBN.

Per 2015, SKR dipastikan memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahunan sendiri.

 

Keempat. Dari awal SKR berdiri, salah satu prinsip utama Divisi Promosi adalah melakukan tebang pilih terhadap semua calon dukungan/bantuan dari pihak luar. Hanya bantuan/dukungan yang paling matang, sesuai dengan kebutuhan saat bantuan/dukungan itu datang, serta berorientasi jangka panjang yang bakal diterima.

Prinsip ini memiliki turunan yang berwujud dalam konsep mitra komunitas.

Untuk 2014 sendiri di mana kesadaran kepada eksistensi SKR di ruang publik bertambah, kuantitas dukungan/bantuan yang diterima memang lebih sedikit dari yang ditolak, namun sisi kualitas mayoritas dukungan/bantuan yang lolos seleksi terbukti mampu menjadi solusi bagi masalah yang sedang dihadapi. Saya ambil contoh seperti donasi proyektor Kementerian PU maupun bantuan materiil penyelesaian bangunan Taman Baca oleh Tirto Utomo Foundation.

 

Kelima. PAT (Proyek Akhir Tema) adalah inovasi teranyar Divisi Kurikulum ketika merilis Silabus Ajar 2014. Konsep ini mewajibkan seluruh kelas menyelenggarakan PAT unik mereka di akhir tiap tema ajar dwibulanan, yang per 8 November 2014 berkembang menjadi tiap 6 bulan.

Salah satu PAT monumental menurut saya di 2014 adalah momen Panggung Kita yang baru saja berlangsung awal Desember kemarin. Adik-adik menampilkan berbagai pertunjukan seni (musikalisasi puisi, tari, grup nyanyi, hingga MC) – tolak ukur nyata yang menunjukkan peningkatan rasa percaya diri mereka. Di sisi lain saya turut merasakan keintiman kuat antara kakak dan adik, yang merupakan hasil komunikasi intens dalam jangka waktu panjang. Sesuatu yang diraih bukan lewat proses singkat dan berbuah instan.

 

Keenam. Bahasan tentang adik yang berpotensi dan adik yang hilang sebenarnya sudah ada pasca perayaan ultah SKR ke-2 April lalu, namun penurunan tingkat kehadiran murid menurut statistik beberapa bulan terakhir membuat bahasan tersebut bertambah intens. Puncaknya ketika Kakak Pengelola dan Kakak Kurikulum melaksanakan live-in, berdiskusi secara mendalam dengan orang tua dari adik yang selama ini menunjukkan konsistensi sekaligus potensi luar biasa.

Obrolan seputar passion pribadi sang adik, dukungan total keluarga, beasiswa, sampai pemilihan jurusan adalah topik utama live-in tersebut.

 

Terakhir. Setelah sekitar 19 bulan berada dalam kondisi ‘damai’, awal Oktober kemarin TNI AU kembali beraksi secara diam-diam. Mereka menggali tanah milik salah satu warga Kp. Malahpar seluas 5000 m2 secara ilegal di waktu-waktu tertentu dan hanya setelah menemukan tanahnya berpotensi baru mereka mengajukan penawaran pembelian tanah tersebut. Secara moral, cara ini busuk. Namun bila mengingat konflik bertahun-bertahun antara warga dan tentara, wajar mereka memilih cara demikian. Sebuah upaya pragmatis yang mampu memberi hasil instan tanpa banyak perlawanan fisik.

Hasil-hasil survey selama sebulan terakhir di lapangan menunjukkan taktik pergerakan TNI AU yang ternyata sudah cukup lama menyusupi bidang-bidang penting keseharian warga. Teorinya, dengan menguasai sisi sosio-ekonomi, akan mudah bagi mereka menyerang sisi psikologis. Taktik ini juga berbiaya sangat murah dan relatif cepat, bahkan sebenarnya beberapa oknum tentara bisa saja kaya mendadak.

Aktivitas TNI AU yang meningkat pasca pencaplokan tanah di Kp. Malahpar otomatis memancing kecurigaan, tak terkecuali bagi SKR yang berpusat di Kp. Cibitung. Di sini, salah dua sifat unik SKR sontak menjadi faktor krusial yang perlu dielaborasi lebih jauh, yakni :

a. Isolasi fisik = lokasi geografis SKR yang berada diantara segitiga Water Training-barak-Perum AURI

b. Isolasi politis = salah satu kesepakatan dasar Tim Inti pertama adalah bahwa SKR akan selalu bersikap apolitis. Sesuatu yang apolitis di tengah 2 pihak yang kental dengan unsur politis.

Berkaca pada pemaparan di atas, tak ayal SKR sekarang tampil sebagai komunitas alternatif nan jarang. Mengapa? Sebab dengan segala kompleksitas ancaman teritorialnya, SKR otomatis dituntut ekstra hati-hati dalam mempersiapkan ruang netral demi melaksanakan pendidikan dan pembekalan. Memilah-milah sembari memikirkan antisipasi terbaik ke depan.

 

Akhir kata, jelang tahun 2015 yang sarat dengan kata “wirausaha” berpadu dengan isu ancaman teritorial dan wacana pengokohan sistem internal, mungkin ini adalah momen tepat bagi saya untuk menyampaikan dukungan nyata kepada Tim Inti baru hasil regenerasi yang bakal mulai bekerja per Januari 2015.

Karena kita sama-sama tahu ‘ombak’ di tahun depan akan jauh lebih kejam.

Dan karena kita sama-sama sadar bahwa semua pencapaian besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh dukungan, baik kasat mata maupun tidak.

Untuk Ani

Setiap tahun, biasanya Kak Ana dan aku menyempatkan waktu untuk live-in di Rumpin. Tahun ini, kami memiliki beberapa misi, aku sendiri ingin merapikan isi Taman Baca Kita yang hampir rampung, melihat keadaan MCK terdekat sekolah, mengumpulkan lembar evaluasi adik-adik tentang kegiatan belajar setahun ini, dan silaturahmi kepada warga dan orang tua murid. Sedangkan Kak Ana mengajakku untuk menginap di rumah salah satu adik kita yang begitu semangat belajar hingga tak terasa, tahun depan ia akan lulus SMK. Apakah yang akan menjadi langkah berikutnya?

Namanya Anisa. Biasa dipanggil oleh orang tuanya Ani. Walau sudah kelas 3 SMK, badannya tidak tinggi, tapi tidak juga mungil. Sore itu, ketika kami sedang duduk-duduk ngobrol di rumah Bu Neneng, Ani menghampiri kami bersama adiknya, Sari. Sari juga sangat menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Cita-citanya menjadi presiden atau petinju perempuan. Katanya, “Kan jarang Kak di Indonesia petinju perempuan. Sari mah kepengen jadi petinju.” Ia terangkan dengan wajah yang serius. Sari memiliki karakter yang sangat unik dan lucu, tapi mungkin aku harus dedikasikan sebuah cerita tersendiri di kesempatan berikutnya.

Setelah makan malam bersama di rumah Bu Neneng, Ani dan Sari mengantar kami ke rumahnya yang terletak sekitar 20 menit dari sekolah kita. Kami disambut dengan sangat hangat oleh orang tua Ani dan beberapa tentangga yang sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Kami duduk di ruang tamu Ani yang juga adalah warung berjualan rokok, minuman sachet, tolak angin, dan obat nyamuk.

 

“Jadi begini, Ibu. Kami sangat bangga dengan Ani dan Sari. Karena mereka berdua begitu aktif dan menonjol di Sekolah Kita Rumpin. Seperti yang Ibu tahu, Ani kan sekarang sudah kelas 3 SMK dan kami sudah ngobrol dengan Ani. Ani ingin sekali melanjutkan kuliah. Tapi kami juga ingin tahu dulu, bagaimana pendapat Ibu mengenai ini. Karena kalau nanti Ani kuliah, Ani harus pindah dan tinggal di kota lain, tidak di kampung lagi.” Kak Ana membuka pembicaraan serius dengan nada yang lembut.

Ibunya Ani menyambut baik, ia sangat mendukung Ani untuk melanjutkan sekolah. “Tapi ya Kak, semua terhambat masalah ekonomi aja. Bapanya Ani kan penghasilannya cuma Rp 300.000/minggu. Jadi ya pas-pasan buat hidup.” Kata Ibunya Ani, sambil menggendong Alisa, anak ketiganya yang begitu menggemaskan.

Kak Ana lalu memanggil Bapanya Ani yang tampak sedang duduk-duduk di luar. “Dia mah emang sok maluan Kak.” Celetuk Ibunya. Tapi akhirnya, Bapanya Ani masuk dan duduk bersama kami, bersama Ani, Sari dan Alisa juga.

Bapanya Ani memiliki rambut hitam legam yang panjang. Badannya kurus dan kulit wajahnya matang seperti tersengat matahari. Sehari-hari ia bekerja sebagai security di sebuah minimart di daerah Palmerah. Ia mengaku tidak pulang setiap hari ke rumahnya di Rumpin. “Cuma kalau Ani sms minta uang jajan aja saya pulang.” Ada kegigihan dan sebuah cinta yang tulus yang bisa kami tangkap di antara kata-kata yang terlontar dari Bapanya Ani. “Kalau pulang biasanya naik kereta. Tapi seringkali, kalau baru pulang kerja jam 12 malam, tidak ada kereta lagi. Saya harus jalan kaki, dari Stasiun Cisauk ke rumah. Atau kadang, dari Stasiun Palmerah ke rumah saya jalan kaki ikuti jalur rel. Bisa sekitar 2-3 jam baru sampai rumah. Saya selalu pakai sepatu bot saya.” Aku bisa melihat Kak Jona secara refleks menundukkan kepalanya. Perjuangan yang selama ini kami gembor-gemborkan apalah artinya ketimbang perjuangan seorang Bapa untuk menafkahi ketiga anak istrinya ini. Aku merasakan haru campur malu.

Tak heran ketika Kak Ana bertanya kepada Ani dan Sari, “Menurut kalian Bapa kalian tuh gimana sih?” “Bapa itu… pahlawan.” Aku setuju. Kami semua setuju.

Kak Ana dan Bapanya Ani akhirnya mengobrol dengan Bahasa Sunda agar lebih santai dan luwes. Pada dasarnya, Bapanya Ani pun sangat sangat mendukung Ani untuk bisa kuliah. Tapi lagi-lagi, terhambat keterbatasan dana. Aku pribadi sangat senang mendengar dukungan ini, karena berarti tidak ada hambatan kultural yang akan menghalangi Ani untuk mewujudkan mimpinya. Terkadang aku menyempatkan refleksi di tengah mendengarkan kata-kata Bapanya Ani, aku tak pernah menyangkan bisa menjadi bagian sebuah situasi yang seringkali terjadi di film-film saja: seorang anak yang pintar dengan sebuah mimpi yang kuat, keluarga yang miskin, dan anak-anak muda yang ingin membantu.

“Ya Ibu dan Bapak, Ani, kami senang sekali mendengar bahwa Ibu dan Bapa mendukung Ani untuk lanjut kuliah. Kami tidak bisa janji apa-apa, kami hanya bisa bilang bahwa kami akan berusaha sebisa kami untuk mencarikan beasiswa untuk Ani. Membantu Ani persiapan pendaftaran kuliah. Tapi yang terpenting, Ani harus semangat. Kapanpun rezeki Ani datang untuk kuliah, berarti itu memang waktu yang paling tepat untuk Ani kuliah. Ani sendiri sukanya belajar apa?”

“Aku pengennya jadi dokter atau presenter. Tapi kalau belajar, sukanya yang bikin puisi dan cerpen Kak. Bahasa.”

“Wah, iya puisi kamu itu bagus-bagus sekali loh! Bisa juga kuliahnya Sastra Indonesia. Siapa tau bisa jadi presenter juga nantinya.”

Ani tersenyum. Sari, adiknya, ikut tertawa sekali-kali melihat respon kakaknya yang sering malu-malu. “Si Ani itu cerpen-cerpennya lumayan loh Kak, aku suka baca.” Kami semua mengiyakan. Wajah Bapa dan Ibunya Ani tampak bersinar. Sesaat aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang meski sederhana, begitu membebaskan.

 

Perbincangan dengan keluarga Ani berlanjut dengan hangat. Ruang tamu yang juga adalah warung itu seperti diinjeksi dengan hawa hangat dari matahari. Tetapi malam ini, Matahari itu adalah Ani dan keluarganya.

 

Sebelum tidur, Kak Ana dan aku berdiskusi lama tentang rencana kami untuk Ani. Mungkinkah kami mendapatkan beasiswa untuk Ani? Beasiswa apa? Kampus apa? Nanti Ani tinggal di mana kalau di Jakarta? Apakah Ani akan kembali untuk membantu Sekolah Kita setelah sibuk kuliah? Apakah suatu hari Sekolah Kita Rumpin bisa memiliki skema beasiswanya sendiri? Kami menutup mata penuh harap malam itu.

 

Saat ini, tidak ada yang bisa kami janjikan. Hanya usaha dan doa yang bisa mengiringi Ani, Sari, dan semua adik-adik Sekolah Kita Rumpin agar mereka bisa mewujudkan apa yang mereka citakan. Bahkan, tak semua Kakak Kita juga sudah mencapai cita-cita mereka. Sambil terus bekerja bersama-sama, aku akan selalu mengingat puisimu Ani, sebuah mimpi yang kamu tulis,

 

“Bukalah mata.

Lihat dunia dan genggamlah harapan.

Teguhkan pada satu pohon.

Ketika ku tau itu indah.

Terbukalah fikiranku

Melayang-layang di tengah laut.

Batu terhantam tak berarti.

Darah-darah kenangan

Tertiup angin kebahagiaan.

Bagaikan Pohon berbunga,

Yang menanti sinarnya.

Salju abadi dan suci,

Mengangkat derajat.”

 

6 Desember 2014

Anisa

Adik Sekolah Kita Rumpin

 

IMG_5541

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak dan sepatu ‘bot’ kesayangan Bapanya Ani.

 

Salam hangat,

Rara Sekar

Kakak Kurikulum