Tulisan dari Adik Kita

Beberapa waktu lalu, adik-adik dari kelas SMK belajar mengenai blogging di tema besar dwibulanan Teknologi Kita. Adik-adik diajarkan cara membuat blog, namun karena keterbatasan teknologi, mereka menulis di kertas terlebih dahulu. Tulisan-tulisan berikut telah mengalami pengetikan ulang dan suntingan tanpa mengurangi esensinya. Berikut adalah hasil kurasi terhadap tulisan mereka. Selamat menyimak!

 

Cerita Annisa

Hai! Namaku Annisa. Aku kelas 11 SMK Jurusan Multimedia di SMK Bina Insani Cisauk. Aku tinggal di kampung yang bernama Malahpar, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara.

Di sekolah aku punya geng namanya “The Embers” yang terdiri dari aku, April, Atika, dan Risma. Tapi “The Embers” selalu main dengan teman-teman yang lain juga. Kenapa dinamakan “The Embers”? Awalnya Atika sedang berkumpul di kelas bersama teman-teman sekelas. Aku dan teman-teman yang lain sedang bercanda sambil ketawa-ketiwi, sementara Atika senyum-senyum sendiri melihat handphone-nya. Ternyata dia sedang smsan dengan temannya. Aku dan teman-teman yang lain curiga dan berinisiatif untuk ngerjain Atika dengan cara mengambil handphone-nya dan menunjukkan isi smsnya ke teman-teman. Saat itu juga teman-teman sekelas bilang, “Dasar emang ember kalian,” sambil tertawa. Aku dan teman-temanku berpikir, boleh juga nama Ember jadi nama geng kami.

Karena sekarang aku kelas 11 SMK, sekolah menugaskan untuk melaksaakan tugas praktekin (Praktek Kerja Indutsri) ke suatu perusahaan selama dua bulan. Bertempatlah saya di sebuah kelurahan Cisauk, meski tidak sama dengan jurusan multimedia. Di sana aku salah satunya mengerjakan buat KTP. Ternyata harus mengisi formulir (master KTP) dengan syarat:
1. Bawa surat pengantar KTP
2. Foto copy KTP lam
3. Pas foto ukuran 2×3 (2 lembar)

Selain sekolah di SMK Bna Insani Cisauk, aku juga sekolah di hari Minggu di Sekolah Kita Rumpin (SKR) yang didirikan oleh para mahasiswa. Semenjak aku sekolah di SKR, aku merasa lebih percaya diri untuk berpendapat dan jadi tahu luar dari Rumpin, seperti Jakarta dan Bandung.

Pada tanggal 13 april 2014, aku , Sari, Nuryani, Rohadi, Azapir, Risma, dan Fitri pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara KADO (Karya Anak Indonesia) di Jakarta Kota. Kami didampingi oleh Kak Lita, Kak Puspa, Kak Tiara, dan Kak Hanna. Di kereta aku bertemu dengan orang yang muka dan tubuhnya dipenuhi benjolan seperti kutil tetapi sebesar tomat. Aku memberanikan diri untuk bertanya ke Kak Puspa. “Kak, kakak lihat orang yang duduk di gerbong sana?” tanyaku.
“Ooh, mungkin orang itu tadinya memiliki penyakit kulit biasa yang menurut dia tidak berbahaya, namun lama kelamaan makin besar dan bertambah banyak.”
“Kok dia gak malu sih, kak? Apakah dia bisa sembuh lagi?”
“Ya mungkin dia malu, tapi kalau dia malu saja, kapan dia bisa maju dan sembuh. Bisa sembuh, tapi biasanya harus dioperasi terlebih dahulu.”
“Ooh, jadi begitu, Kak.”
“Iya, jadi kalian bila ada penyakit sekecil apapun jangan diabaikan, bisa-bisa jadi seperti itu lhoo,” pesan Kak Puspa.

Sesampai di tempat acara, aku terkejut dengan banyaknya teman-teman dari sekolah lainnya.

 

Kakak yang Hebat
Oleh: Eha

Mila adalah anak yang pintar di kelasnya. Tapi sayang, Mila tidak meneruskan kuliahnya karena tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah. Ayah dan ibunya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Mila mencari uang untuk adiknya dan untuk makan dengan bekerja sebagai kuli cuci. Kadang Mila dan adiknya tidak makan karena tidak punya uang untuk membeli makanan, namun Mila tidak patah semangat

Tiga tahun kemudian…

Mila ingin ke Jakarta ingin mencari pekerjaan. Tetapi sang adik tidak mengijinkannya karena dia takut kesepian. Pada akhirnya Mila nekat ke Jakarta, karena ia yakin sesampainya disana akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Sang adik pun mengijinkan Mila, walaupun dia akan kesepian.

“Kakak, jangan lupakan aku, yah. Kalau kakak sudah sukses di sana. Tolong beri aku kabar yah kak, jangan lupakan aku,“ kata adik Mila
“Iya dik, nanti kalau kakak sudah sukses di sana, kakak akan mengajak kamu ke sana tinggal bersama kakak,” kata Mila.
“Ya sudah. Hati-hati ya, Kak,” kata adik

Sesampainya Mila di sana, tiba-tiba ada ibu-ibu yang sedang kesakitan. Mila pun menolong ibu itu langsung dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mila menunggu ibu itu.
“Kondisi ibu sudah membaik,” kata dokter
Mila pun langsung masuk ke dalam ruangan.

“Terima kasih ya dik sudah menolong saya,” kata Ibu yang sedang terbaring di atas kasur
“Iya Bu,” kata Mila
“Kamu dari kampung yah?” kata ibu.
“Iya, saya ke Jakarta ingin mencari pekerjaan, Bu,” kata Mila.
“Oh, memang kamu lulusan apa?,” kata ibu.
“Saya lulusan SMA Bu,” kata Mila.
“Oh, kebetulan saya sedang mencari pegawai wanita lulusan SMA,” kata ibu.
“Memangnya kerja apa Bu?,” kata Mila.
“Jadi karyawan kamu mau nggak?,” kata ibu.
“Iya, saya mau Bu,” kata Mila
“Nih, kartu nama Ibu, besok kamu mulai kerja yah,” kata ibu lagi.
“Iya, Bu,” jawab Mila
“Oh ya, kamu belum punya tempat tinggal kan,” kata ibu itu
“Iya Bu,” kata Mila
“Ya sudah kamu tinggal di rumah Ibu saja ya, kebetulan di rumah Ibu ada kamar kosong,” kata ibu itu
“Ya Bu, terimakasih Bu,” kata Mila

Akhirnya Mila pun dapat pekerjaan. Hari pertama Mila kerja Mila senang sekali tiba-tiba ada yang menghampiri Mila.
“Mila, kamu kerjanya sangat bagus,” kata bapak.
“Iya, makasih Pak,” kata Mila.
“Iya, pertahankan ya prestasimu,” kata bapak.
“Iya Pak,” kata Mila
“Kalau kamu memertahankan prestasimu, kamu bisa naik pangkat,” kata bapak.
“Iya Pak,” kata Mila.

Satu tahun kemudian…

Mila naik pangkat dari yang tadinya karyawan, sekarang sudah mempunyai perusahaannya sendiri. Mila langsung menelpon adiknya yang di kampung.
“Halo, dik,” kata Mila.
“Halo,” kata adik Mila.
“Bagaimana keadaanmu? Ini kakak,” kata Mila.
“Baik kak, kakak gimana? “
“Baik, dek. Besok kakak akan pulang ke kampung,”
“Oh ya?”
“Iya, kakak sudah sukses di Jakarta. Sesuai dengan janji kakak, kakak pengen ngajak kamu tinggal di Jakarta”
“Iya kak, aku mau tinggal di Jakarta. Apalagi sama kakak,” kata adik Mila.
“Besok kakak jemput ya!” kata Mila.

Keesokan harinya, Mila pulang ke kampung halamannya dan menjemput adiknya. Sesampainya di rumah Mila, adik Mila sangat terkejut melihat rumah kakaknya yang sangat besar
“Wah, besar banget Kak,” kata adik Mila
“Iya dong. Yuk, sekarang kita masuk,” ujar Mila
Mila dan adiknya kini tidak kesusahan lagi dan akhirnya mereka pun bahagia.

 

Payung Harapan
Oleh: Eha

Kutemukan kalian
Masih berseragam
Payung mengembang
Menatap penuh harap
Kaki telanjang

Mencumu aroma kilat
Mengikat hujan lebat
Merangkai impian
Menggapai angan
Mencicipi hidup yang penuh harap

 

Permata Hati
Oleh: Eha

Tapak-tapak kaki kecil
Berlarian menyambut hangat
Luluh runtuh semua letihku
Berganti sejuta bahagia

Binar bola matamu
Indah bagai sinar pelangi senja
Celoteh riang mulut mungilmu
Bagai senandung pipit pagi hari
Bagai tetesan embun pagi
Sejuk menyirami relung hati

Tuhan Les Taman Gula ke-2!

 

vlcsnap-2014-04-15-01h43m01s114

Buat saya, ada 2 hal yang terbersit dalam benak maupun batin saat SKR genap memasuki usia 2 tahun.

Pertama, tersisa 4 tahun menuju perwujudan misi utama : kemandirian wirausaha warga Kp. Cibitung dan sekitarnya serta regenerasi internal pengajar pendatang ke adik-adik alumni SKR.

Kedua, senyum lebar. Terhadap apa atau siapa? Serta apa pula sebabnya?

Standar sistem semakin tinggi –> seleksi alam Kakak Kita –> standar individual Kakak Kita meningkat –> kualitas performa serta evaluasi naik –> ragam bahan riset bertambah –> pengarsipan berlapis dan kaya materi –> terbentuknya pengukuran dampak secara signifikan plus tahan uji, baik terhadap Adik Kita, orang tua mereka, maupun warga kampung secara umum.

Seorang pengajar angkatan III pernah bilang (walau dia ngakunya lupa-lupa ingat) begini :

Mungkin lo pengen Kakak Kita ini pada upgrade diri, dari emas ke titanium.

Saya bilang bukan mungkin, tapi memang itu tujuannya. Standar tinggi membutuhkan manusia yang tak cepat puas dan bersedia mengeksplorasi potensinya terus-menerus. Bagi mereka yang tak bersedia naik tingkat, marilah kita sepakat untuk tak sepakat.

Sebagai komunitas serius yang mengedepankan kekokohan sistem internal – disiplin komitmen dan kontribusi – kebebasan berekspresi – metode ajar terpadu – pentingnya riset dan arsip, cepat atau lambat SKR bakal butuh Kakak Kita bertipe titanium, bukan lagi emas. Hal ini bisa terjadi tahun depan, dua tahun lagi, enam bulan lagi, atau bahkan besok. Jika anda tak bersiap dari sekarang, anda pasti ketinggalan jauh di belakang.

Di lain kesempatan, seorang kakak riset angkatan III melontarkan pernyataan :

“Wahh udah umur dua.. Ayo kita ajak SKR belajar jalan…”

Saya jawab :

“Telat. SKR cuma sampe 6 tahun. Sekarang harusnya udah belajar lari.”

 

Maka, selamat ulang tahun ke-2, Sekolah Kita Rumpin!

Selamat belajar berlari dan selamat melesat meninggalkan mereka yang tak mau ikut serta….jauh di belakang!

vlcsnap-2014-04-15-01h49m01s176

- Jonathan Manullang, Kakak Promotor -

 

Kepercayaan Diri dan Kreativitas Itu Ada

oleh Ana Agustina (@agustinaana8)
Kakak Pengelola Sekolah Kita Rumpin

Tanggal 16 Februari 2014, setelah sekian lama tidak mengunjungi SKR, akhirnya saya hadir kembali di sana. Saat tiba, saya bersalaman dengan adik-adik yang telah datang serta beberapa orang tua yang mengantar anaknya. Rasa bahagia itu pun tak terungkapkan lagi. Saya sangat menantikan pertemuan ini sebab sudah lama sekali rasanya tak bertemu dan bercengkerama dengan mereka.

Hari itu adalah hari seleksi peserta Kelas Spesialis Teater. Saya buka kemudian kakak-kakak pengajar teater yaitu Kak Ignas, Kak Agung, dan Kak Marsha mengambil alih. Selagi kakak-kakak mengajar kelas usia besar, saya mendampingi adik-adik kecil beraktivitas di dalam mushalla. Kegiatan yang saya adakan sangat sederhana, yaitu membaca bersama.

“Kita akan membaca tanpa suara, ya. Bagi kalian yang sanggup membaca tanpa suara dan bisa menceritakan isi buku yang ia baca kepada teman-temannya, maka kalian boleh membawa pulang satu buku untuk dibaca di rumah.”

Instruksi sederhana itu ternyata cukup menantang bagi mereka. Mengapa? Rupanya membaca tanpa suara adalah hal yang sulit dilakukan, sebab selama ini adik-adik terbiasa membaca dengan suara keras. Pada awalnya mereka masih saling mengingatkan setiap ada temannya yang bersuara. Lambat laun ruangan mulai tenang dan mereka mulai fokus membaca dalam hati.

ana02

Lima belas menit berlalu, saya tantang kembali untuk menceritakan ulang isi buku yang mereka baca. Hasilnya, tiga adik mengacungkan tangan. Selanjutnya saya minta semua anak membuat gambar berdasarkan cerita dari buku tadi tanpa melihat buku tersebut. Mereka saya ajak berimajinasi sambil menuangkan imaji tersebut dalam bentuk gambar. Saya sadar bahwa adik-adik masih butuh banyak latihan imajinasi agar mereka lebih mampu mengekspresikan dirinya masing-masing. Walau begitu, usaha dan kemauan mereka tetap muncul dan selalu membuat saya takjub.

 

ana01

 

ana04

Ini hasil karya salah satu adik tanpa melihat buku

ana03

Gambar imajinasi salah satu anak yang tadinya berkali-kali bilang “Nggak bisa, kak.” Akhirnya jadi juga dengan melihat contoh di buku.

Tidak terasa nyaris 2 tahun SKR berdiri. Usaha dan semangat Kakak Kita yang berdedikasi tinggi di sini terbukti mampu membimbing adik-adik mengalami banyak perubahan. Saya sebagai Kakak Pengelola sangat berterima kasih terhadap seluruh tim pengajar yang mendukung proses pembelajaran di SKR. Kalian adalah bagian dari keluarga besar Sekolah Kita Rumpin yang mampu memberikan kesan dan inspirasi bagi adik-adik agar menjadi anak yang percaya diri, kreatif, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi serta berempati terhadap sesama. Seraya mengabadikan semua momen itu dalam batin, saya pulang ke Bandung membawa senyum lebar.

Kami akan tetap ada, karena “semangatmu, semangat mereka, adalah semangatku.”

Tentang Mimpi, Rumpin, dan Paris

oleh: Lani Mariyanti (@LaniThong)
Kakak Koordinator Pengajar Sekolah Kita Rumpin

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!”. Seberapa sering kamu mendengar kalimat ini? Saat saya masih sekolah, saya sering sekali mendengar kalimat ini keluar dari para guru untuk mengajak murid-muridnya bermimpi besar dan membuatnya jadi kenyataan.

Apa mimpi masa kecilmu?

Mimpi saya adalah menjalani hidup dengan mudah. Tidak harus bekerja setiap hari namun tetap mampu membayar semua tagihan kartu kredit saya. Saya sadari ternyata mimpi itu terasa sangat egois dan tidak lagi menarik.

Di masa kuliah, ada satu kejadian yang mengubah drastis cara pandang dan menggeser mimpi-mimpi saya. Suatu siang, sepulang dari kampus, saya menonton televisi yang sedang memutar liputan tentang anak-anak putus sekolah. Kebanyakan dari mereka bekerja untuk membantu orang tuanya sebagai pedagang asongan di pinggir jalanan Jakarta. Beberapa relawan berinisiatif untuk mengajar mereka di bawah kolong jembatan dan mengusahakan agar anak-anak ini bisa tetap ikut Ujian Akhir Nasional (UAN). Namun, mereka masih harus membayar untuk sekadar mengikuti UAN di tengah ketidakmampuannya. Saya tertohok. Liputan itu meninggalkan perasaan sedih dan marah atas ketidakadilan yang terjadi pada anak-anak tersebut. Hal ini membuat saya bermimpi membangun sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Kenapa sekolah? Menurut saya, pendidikan adalah kunci pengubah masa depan seseorang dengan merealisasikan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya yang kemudian akan memberikan perubahan positif kepada lingkungan sekitar, bahkan negara.

Tak terasa sudah hampir dua tahun Sekolah Kita Rumpin (SKR) berupaya untuk membangun empati, rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan kreativitas di dalam diri anak-anak Kampung Cibitung dan Malahpar, Rumpin. Keempat nilai ini memang terdengar abstrak, sulit dinilai, dan tidak banyak yang menyadari bahwa mereka adalah fondasi terpenting dalam hidup manusia sehingga sering luput diajarkan di sekolah formal. SKR percaya bahwa penanaman nilai-nilai ini harus terus-menerus dilakukan. Selain itu, kami juga ingin agar adik-adik SKR berani bermimpi besar di tengah segala keterbatasannya.

Masih jelas di ingatan saya, di bulan-bulan awal kelas SKR dimulai, seorang kakak pengajar bertanya kepada adik-adik tentang cita-cita dan mimpi mereka.

“Menjadi tukang jus mangga,” tulis seorang anak.

Saya terkejut. Realita yang mereka hadapi setiap hari telah merenggut kemampuan seorang anak kecil untuk bermimpi.

Hari Minggu, 5 Mei 2013, seperti biasa, saya datang ke Sekolah Kita Rumpin untuk bermain dan berbagi ilmu dengan adik-adik. Saat itu, saya mengajarkan pentingnya menabung dengan menggunakan permainan ular tangga yang saya buat sendiri. Di akhir permainan, saya meminta mereka menuliskan pendapat tentang pentingnya menabung dan jika tabungannya sudah banyak mau digunakan untuk apa. Setelah mereka selesai, saya membaca jawaban mereka satu-persatu. Semuanya sepakat bahwa menabung itu penting, sedangkan jawaban untuk pertanyaan lainnya beragam. Banyak dari mereka menjawab tabungannya akan dipakai untuk membantu orang tua, membeli keperluan sekolah, membeli baju baru, serta mainan. Di antara semua jawaban itu, ada seorang anak yang membuat saya tersenyum lebar dan terharu. Jawaban dia, “kalau tabungannya sudah banyak, aku ingin pakai buat jalan-jalan ke Paris dan naik haji sama keluarga.”

Tentang Mimpi, Rumpin dan Paris

Bagi ukuran anak seorang petani yang seumur hidupnya dihabiskan di kampung, hanya pernah 2-3 kali ke kota, impian tadi luar biasa. Ia berani bemimpi besar, jauh mengatasi semua keterbatasan yang ada. Saya bangga.

Misi SKR sekarang adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada adik-adik untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tentu saja kalian, para pembaca tulisan ini, juga dapat membantu merealisasikan harapan mereka.

2014 : Riset Terpadu, Sistem Internal, Hirarki Pendidikan

main-banner-sekolah-kita-rumpin-1

 

Halo semuanya!

Saya sangat antusias menyambut tahun 2014. Selain karena masa memilih pemimpin baru Indonesia akhirnya tiba, pengejawantahan hal-hal rinci dari konsep sistem organisasi yang dikembangkan di Sekolah Kita Rumpin akan berlangsung pada tahun ini.

Pertama-tama, sebagai sekolah non-formal yang memfasilitasi pendidikan alternatif, saya sangat senang mengetahui bahwa SKR telah memulai program riset terpadunya. Berawal dari gagasan Kakak Kurikulum yang menekankan pentingnya pelaksanaan riset, kini telah terbentuk 2 tim Kakak Riset :
-) Tim Pensil, bertugas mengobservasi perkembangan adik, performa tiap pengajar, rekomendasi pemutakhiran materi ajar, serta mengukur dampak materi-metode ajar pada adik2.
-) Tim Jendela, bertugas melaksanakan riset jangka pendek (eksperimental-insidental) dalam aspek pendidikan-psikologi-sosial-ekonomi serta menemukan potensi lokal masyarakat lalu mengembangkan usaha bersama yang sesuai dengan potensi lokal tersebut.

Perhatikan kata pengantar yang terdapat pada Program Kerja Tim Riset berikut :

Seperti teman-teman ketahui, banyak sekali kegiatan sosial, relawan, ataupun gerakan pemuda lainnya yang ada di Indonesia. Berjamur setiap tahunnya. Namun boleh dibilang, tidak banyak yang berani melakukan kritik diri untuk terus mengembangkan performa dari organisasi atau gerakan tersebut. Seringkali semua terlena dengan pujian-pujian di permukaan yang diperoleh dari media sosial serta pengakuan di konferensi-konferensi nasional bahkan internasional.

Tetapi tidak di Sekolah Kita Rumpin. Berkecimpung langsung di dunia pendidikan, walau non-formal, kami sadari adalah peran yang begitu krusial sebab berhubungan langsung dengan masa lalu, masa kini, serta masa depan adik-adik yang kita bina. Bagaimana caranya agar semua kakak yang tergabung dalam Sekolah Kita Rumpin bisa terus memberikan yang terbaik untuk adik-adik? Tidak terbuai dengan status quo? Dengan terus mengevaluasi diri.

Di sinilah peran teman-teman yang tergabung dalam Tim Riset berperan. Teman-teman adalah bagian yang sangat penting dalam memajukan Sekolah Kita Rumpin karena teman-temanlah yang akan membantu menemukan kekuatan, mendiagnosis kelemahan, dan mencari solusi untuk perkembangan kurikulum dan metode pengajaran di Sekolah Kita Rumpin melalui laporan-laporan berkala, publikasi riset yang menarik, hingga pemutakhiran materi dan alat ajar. Selain itu, Tim Riset juga akan membantu menggali potensi masyarakat lokal Rumpin sehingga nantinya SKR tidak hanya berdampak langsung pada adik-adik, namun juga kepada masyarakat Rumpin pada umumnya.

Bersama-sama kita belajar membuat Sekolah Kita Rumpin menjadi organisasi muda yang berkembang secara dewasa.
Sekali lagi, selamat datang, dan selamat belajar bersama di Sekolah Kita Rumpin

*merinding*

Kedua, konsolidasi internal. Ini adalah tema utama Rencana 2014 SKR. Dengan sistem yang semakin teruji lewat pengalaman-pengalaman di lapangan, saya berharap Kultur Organisasi SKR (baca menu Tentang Kita) segera menapak di permukaan. Masing-masing Kakak Kita paham benar serta menjalankan bagiannya dengan sebaik-baiknya, menguatkan budaya kerjasama tim serta saling menjunjung tinggi kebebasan berpikir/berpendapat/berkreasi.

Tanpa sistem internal yang solid, citra sehebat/sekeren apapun di luar sana sia-sia saja kan?

Terakhir, saya hendak mengutip kata-kata beberapa kakak pengajar tetap di bawah ini.

Apa yang ingin kuubah? Hirarki dalam pendidikan. Semua orang masih berpendapat bahwa IPA lebih tinggi daripada IPS dan IPS bahkan lebih tinggi daripada Bahasa dan Olahraga. Hal-hal ini, menurutku, membatasi minat sehingga tidak berani mengejar impian pribadi (misalnya ingin jadi seorang pelukis) karena orang menganggap itu sebelah mata, gak potensial lah, gak lebih bagus daripada kalau kerja sebagai insinyur.
- Tiara Ayuwardani (salah satu materi dokumenter Sekolah Kita Rumpin)

Cara pandang pasca revolusi industri yang bikin hal-hal yang sejatinya nir-hirarki menjadi terklasifikasi dalam hirarki
- Gigay Citta Acikgenc

Salam,

Kakak Promotor Sekolah Kita Rumpin

Jelajah Alam Rumpin

Oleh Harismaning Aulia

Di kelas tanggal 22 September, aku kebagian belajar bersama adik-adik kelas 2 dan 3.  Minggu itu istimewa sekali buatku karena itu kali pertama aku mengajak adik-adik jalan-jalan menjelajah sekitar! Sekitar 30 menit kami menelusuri daerah di belakang mushola. Tak ada rumah sama sekali, yang tampak cuma jalan setapak yang penuh dengan daun-daun kering yang bermuara pada tanah lapang yang luas sekali. Selama jalan-jalan, aku minta adik-adik mencatat apa saja yang mereka temukan.

Kebanyakan dari mereka mencatat jenis-jenis pohon yang ada di sepanjang jalan. Selain itu ada yang menulis kalau dia menemukan burung, ulat, semut, lalat, dan tanah yang bersuara.  Tak terpikir apapun olehku tentang tanah bersuara, apa ada yang mendengar di dalam tanah sedang bergemuruh atau bagaimana, maka kutanya saja dan mereka jawab, “Iya kak, setiap aku jalan, tanahnya ada suaranya”. Saat kulihat ke bawah, aku baru mengerti.  Kujelaskan bahwa mereka menginjak daun-daun kering ketika menapakkan kaki. Jadi adik-adikku, itu adalah suara daun kering yang kalian injak, bukan tanahnya yang bersuara. Hihihi.

Adik lain lagi menulis dalam Bahasa Sunda yang aku nggak tahu artinya, seperti pohon harendong, pepatong, pohon tangkil, pohon sengon, dan pohon manggu.  Aku cari di internet ternyata dalam Bahasa Indonesia ‘harendong’ itu ‘senggani’. Aku baru tahu tentang tanaman ini dan ternyata benar kata adik-adik bahwa harendong bermanfaat untuk menyembuhkan pendarahan dan menghilangkan rasa sakit. Mereka suka diberi harendong waktu luka karena jatuh. Waktu kutanya pepatong itu apa, nggak ada yang tahu kata Indonesia-nya, bahkan aku tetap tak punya bayangan walaupun mereka sudah susah payah mencoba mendeskripsikan. Kontan kucari di Google lalu ber-“oh” panjang. Pepatong itu ternyata capung. Aku juga mencari tentang pohon tangkil yang ternyata adalah melinjo, pohon sengon yang memang namanya sengon, dan pohon manggu yang kita kenal dengan pohon manggis.  Aku pun menertawakan diri sendiri, banyak juga yang aku tidak tahu ya.

Saat istirahat sebentar sambil menunggu sebagian yang masih mengamati, aku bertanya ke mereka apakah ada yang mau ditanyakan? Anak cowok yang berpeci mengangkat telunjuknya, “Aku, Kak!”

“Eh tunggu dulu, nama kamu siapa? Kakak lupa, hehehe,” kataku.

“Kati Galuh, Kak,” jawab adik itu.

“Oke, kamu mau nanya apa?”

“Kenapa ya kak di rumahku banyak ulatnya? Terus tiba-tiba ilang, terus tiba-tiba ada lagi”

“Oh mungkin di rumah kamu ada banyak pohon, ya?”

“Terus kenapa kalau banyak pohon?”

“Hayo kenapa coba kalau ada pohon banyak ulatnya?” aku bertanya ke adik-adik yang lain. Mereka menggeleng.

“Tahu gak ulat makannya apa?” tanyaku lagi.

“Aku tahu! Daun!” jawab salah satu adik. Kati Galuh terlihat mengangguk-angguk.

“Lalu kenapa ada, tiba-tiba nggak ada, terus ada lagi?” Kati Galuh masih penasaran.

“Eh pada tahu kan ulat bisa jadi kupu-kupu?” kulihat adik-adik. Ada yang tersenyum malu-malu, ragu-ragu menjawab, dan akhirnya menggeleng.

“Ayo sini mendekat! Kita lihat gimana caranya ulat bisa jadi kupu-kupu!” Aku mengajak mereka menonton sebuah video sambil menjelaskan bahwa perubahan ulat dan kupu-kupu biasa disebut dengan metamorfosis.

“Jadi kenapa ulatnya bisa hilang?” tanyaku.

“Mereka jadi kupu-kupu!”

“Terus kenapa bisa ada lagi?” tanya adik-adik.

“Mungkin bertelur lagi,” kataku diikuti dengan anggukan adik-adik. “Ada yang pernah lihat kepompong?”

“Tadi ada kak!” kata salah seorang adik.

“Tulis, dong. Sudah?”

“Sudah!”

***

Setelah selesai mengamati, kami kembali ke mushola untuk membahas apa saja yang mereka temukan. Kami berbagi pengetahuan satu sama lain. Adik-adik kemudian menggambar penemuan mereka. Kelas hari itu pun berakhir dengan suka cita, sebab banyak hal baru yang adik-adik dan aku dapatkan dari jalan-jalan menjelajah alam sekitar. :)

Moonrise Kingdom Pada Insiden Buah Dada

Beberapa hari yang lalu, salah satu pengajar tetap di Sekolah Kita Rumpin, Kak Tiara Ayuwardani, mengirimkan tulisan di bawah ini pada saya :

Pada suatu Minggu siang ada keributan kecil di depan mushola, tepat sesaat sebelum aku memulai kelas. Ipit, murid kelas 5 SD, sedang menangis sesenggukan. Ia tidak menjawab saat kutanya mengapa menangis. Perhatianku seketika teralih ke kumpulan anak laki-laki yang sedang saling dorong sambil cekikikan.

“Kenapa Ipit nangis?”

Setelah saling tuduh, salah satu dari mereka berceletuk dalam istilah Sunda yang intinya : tadi ada yang meremas dada Ipit. Walaupun tak bisa melihat muka sendiri, tapi aku tahu air mukaku sontak berubah. Separuh kaget, separuh keki. Tindakan apa yang seharusnya kulakukan sebagai kakak pengajar dalam kejadian seperti ini? (jeng jeng) (zoom in 3x)

Apakah aku harus memarahi mereka? Menghukum? Hukuman seperti apa? Apakah mereka tahu kenapa Ipit jadi menangis? Sungguh aku kagok. Jadi langkah yang kuambil kemudian adalah : 1) Menanyakan alasan mereka melakukan itu, 2) Menanyakan kondisi Ipit, 3) Meminta si pelaku agar minta maaf ke Ipit.

Pertanyaan pertama dijawab dengan “tidak tahu, Kak”. Pertanyaan kedua yang berbunyi, “Ipit, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?” yang hanya dijawab dengan gelengan. Mungkin sebenarnya dia ingin menjawab, “SAKIT KAK SAKIT, HARGA DIRI AKU SAKIT”. Sungguh, aku yang masih kagok ini tidak handal dalam membuat orang merasa lebih baik. Lalu saat aku meminta mereka untuk minta maaf, mereka hanya menyentuh ujung-ujung jari Ipit sekilas sambil bilang “Hiii” seolah jijik, kemudian lari menjauh.

Aku tak tahu tindakanku saat itu tepat atau tidak. Yang kutahu, ini masalah penting.

Seksualitas adalah topik yang masih tabu. Suatu hal yang sebenarnya dimiliki oleh semua manusia ini lebih sering dibicarakan sembunyi-sembunyi, disamarkan, bahkan tidak pantas dibahas. Berapa banyak dari kita yang diajarkan untuk membahasakan alat kelamin kita sebagai penis dan vagina, bukan dengan nama binatang atau istilah ‘buatan’ lainnya? Padahal, apa bedanya vagina dan tangan? Sama-sama bagian dari tubuh manusia, namun salah satunya lebih sering disebut dengan istilah samaran. Agar tidak terlalu vulgar, katanya. Sesederhana penggunaan istilah masih sering membuat jengah, apalagi pembahasannya. Tidak banyak ruang yang aman dan nyaman untuk mendiskusikan seksualitas, apalagi untuk usia kanak-kanak. Padahal pubertas kadang sudah hadir sejak masih Sekolah Dasar.

Apa yang membuat seorang anak laki-laki kelas 5 SD dengan iseng memegang dada teman perempuannya di depan umum? Timbulnya rasa penasaran. Ia melihat ada perubahan di tubuh teman perempuannya, dan ia ingin tahu benda apa itu. Di umurnya yang memang belum mengalami pubertas, perubahan lebih awal yang terjadi pada perempuan menjadi hal baru buatnya. Dan aku tak yakin gurunya di sekolah atau orangtuanya di rumah sudah membekalinya dengan pengetahuan tentang perubahan biologis-fisiologis dalam dirinya atau lawan jenis.

Saya sedang belajar ilmu Kesehatan Masyarakat, dan menyosialisasikan pendidikan mengenai seksualitas yang sehat ini cukup rumit. Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain.

Selain insiden buah dada ini, ada satu waktu dimana saat aku mengajar, aku membagi kelas menjadi dua kelompok, perempuan dan laki-laki. “Kak, nanti kalau mau main games lagi kayak gini aja ya kak, cowok sama cewek beda kelompok aja,” ujar salah satu adik. Hmm.. sepertinya yang perempuan merasa risih dengan teman-temannya yang laki-laki. Karena yang laki-laki sering berisik, atau karena insiden buah dada tak hanya sekali terjadi?

 

(KAK JONA TOLONG SOS AKU BINGUNG ENDINGNYA NGENTANG -______-)

***

Setelah membaca tulisan itu, saya teringat pada sebuah film drama komedi romantis yang menuai banyak pujian dari kritikus sepanjang 2012 : Moonrise Kingdom. Film ini bersetting waktu September-Oktober 1965 di sebuah pulau fiksi bernama New Penzance. Karakter utamanya bernama Sam Shakusky dan Suzy Bishop, keduanya berumur 12 tahun namun bersikap serta berperilaku jauh lebih dewasa dari umur mereka, sama-sama introvert, sama-sama berasal dari keluarga “yang tak sempurna”. Mereka berkenalan tahun 1964 dan tak butuh waktu lama guna menjadi sahabat pena yang intim. Menyadari satu sama lain saling memendam perasaan lebih, keduanya memutuskan kabur dari “kenyataan hidup” masing-masing, membangun hidup baru di sebuah tempat yang mereka namai Moonrise Kingdom.

Terdapat beberapa scene (yang bagi manusia tradisionalis/konvesionalis akan sangat ekstrim) dimana Sam dan Suzy mengekspresikan romantisme mereka dengan berdansa ditemani lantunan karya Francoise Hardy, french kiss, bahkan di satu kesempatan Suzy meminta Sam memegang serta merasakan pertumbuhan buah dadanya. Menjelang akhir film, anda bakal disuguhi keputusan-keputusan “ajaib” lain dari sepasang anak manusia mabuk asmara ini. Hebatnya, mereka mengambil keputusan-keputusan itu dengan penuh tanggung jawab.

Anak umur 12 tahun ngelakuin itu? Di tahun 1965? Di Indonesia aja lagi rame G30S *eh*

Mengutip pernyataan Kak Tiara,

“Terbentur anggapan bahwa edukasi tentang seksualitas akan membuat orang ingin melakukan seks, serta tumpang tindih pengertian antara seksualitas dan moralitas. Padahal kombinasi antara ketertutupan dan kadang informasi yang salah dari media malah menempatkan remaja di posisi yang berisiko. Edukasi seksualitas tidak hanya tentang apa yang terjadi secara badaniah namun juga tentang bagaimana menghargai tubuh sendiri dan orang lain”,

Saya menggarisbawahi keengganan sistem sosial di Indonesia untuk secara terang-terangan menerima edukasi seksualitas. Argumen seputar anak yang sesudah belajar tentang seks langsung ingin melakukan masih butuh penelitian lebih lanjut. Banyak faktor yang melatarbelakangi (dan menghambat) itu seperti kecenderungan moralitas, norma-norma keluarga, dan pemahaman penghargaan terhadap tubuh teman yang berbeda jenis. Jangan lupa pula, keinginan tak selalu berujung pada aksi. Kalaupun aksi tetap muncul, anak tersebut sudah tahu harus bagaimana, tak lagi meraba-raba dalam kegelapan, serta lebih mampu menunjukkan sikap bertanggung jawab.

SKR sedang mengusahakan edukasi seksualitas, dengan harapan lebih banyak Suzy atau Sam baru yang muncul di tengah-tengah Adik Kita. Mungkin diantara para pembaca tulisan ini terdapat orang-orang yang berpengalaman serta bersedia bekerjasama atau malah sangat kontra dengan pendekatan ini. Anda kah yang saya maksud? Bisa jadi. Namun terlepas dari beragam pandangan subjektif yang hadir, saya rasa sebagian besar dari kita dapat sepakat bahwa edukasi seksualitas mutlak diperlukan.

Yudi Dan Kesenjangan Kualitas Pendidikan

Oleh : Gigay Citta Acikgenc

Bermula dari obrolan ringan dengan Yudi di teras rumah Bu Neneng. Yudi adalah anak laki-laki yatim umur sembilan tahun, kelas 2 di SD Negeri Mahlapar—sekolah formalnya hampir seluruh anak-anak di Sekolah Kita Rumpin. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci dan tiga saudaranya. Perawakannya kurus, namun lincah. Tidak malu-malu, meski saya adalah orang baru baginya. Kebetulan Yudi tidak berada di kelas PAUD yang saya ajar. Jadi, percakapan saat itu adalah interaksi pertama saya dengannya.

Setelah berbagi sedikit tentang latar belakang keluarganya, saya iseng bertanya, “Main tebak-tebakan, yuk! Ayo, sekarang kita lagi di pulau apa?”

Sambil memainkan matanya, ia menjawab pelan, “Cibitung, kak.”

“Yakin, sekarang kita lagi di Pulau Cibitung? Bukan di Desa Cibitung?”

Yudi hanya tersenyum.

Sisa obrolan kami seolah terjadi di kelas geografi. Setelah saya klarifikasi bahwa kita sedang berada di Desa Cibitung, bukan Pulau Cibitung, saya beranjak ke anak tangga selanjutnya : di provinsi apa kita sedang berada, apa nama ibukota provinsi tersebut, apa nama ibukota Indonesia, dan apa saja lima pulau besar di Indonesia. Jawaban Yudi? Jawa Barat, Bandung, lewat, Jawa, Sumatera dan sisanya lewat. Saya kira Yudi hanya lupa. Ternyata dia memang belum tahu bahwa Jakarta—yang memakan waktu dua jam dari desanya—adalah ibukota negara beserta informasi tentang lima pulau besar di negaranya. Setelah saya beri jawaban yang tepat, ia masih menyebut Pulau Jakarta dan Kota Jawa. Asumsi saya, karena keduanya diawali oleh suku kata yang sama, Ja-, maka jawabannya kerap terbalik.

Saya pulang dengan satu kesimpulan baru : gap of knowledge yang tertulis di berita koran, terpampang di hasil penelitian, dan terucap di diskusi pendidikan maupun di rapat segelintir pejabat Kemendikbud kini punya “nama”. Ada sekumpulan subyek nyata diantara data angka statistika yang menggambarkan kualitas pembangunan yang tidak merata. Yudi adalah salah satu subyek nyata tersebut.

Sebagai pelengkap, percakapan itu terjadi pada bulan Juni. Selama Juli – Agustus saya cuti karena sedang tidak berkegiatan di Jakarta. Minggu kedua September saya kembali ke Rumpin, bertemu Yudi dan senyum lebarnya. Benar saja, seusai kelas, ia menghampiri saya, mengulurkan tangan hendak pamit pulang.

“Ayo sebutin dulu lima pulau besar di Indonesia!”

“Jawa, Sumatera, Ka…limantan, Su…lawesi, I…rian Jaya”

“Kalau ibukota Indonesia?”

“Jakarta!”

Mungkin Yudi menonton televisi dan mendengar seseorang menyebut pulau-pulau tersebut. Mungkin Yudi bertanya ke Bu Neneng ketika ia lupa apa nama ibukota kita. Yang utama, Yudi kini tahu bahwa Indonesia bukan hanya seluas desanya.

**

Status tertulis saya di Sekolah Kita Rumpin memang seorang pengajar. Namun, setelah resmi bergabung sejak akhir Oktober setahun silam, hari ini justru saya lebih merasa sebagai pembelajar. Kata kuncinya? Interaksi.

Bukan, ini bukan strategi promosi. Ini sekadar sebuah refleksi. Kecil memang, tapi saya harap bisa mencubit dengan keras.

Sindrom Rini

970997_418324068280583_1535817874_n

(perhatikan adik berkaus hitam tanpa kaca mata)

Pada kelas terakhir sebelum libur Lebaran tanggal 28 Juli silam, muncul sebuah fenomena menarik dari gabungan kelas 6 SD, SMP, serta SMK/SMA yang dipegang Kak Racil.

Seorang adik berumur 11 tahun duduk sendirian di teras mushola. Ia menolak bergabung di kelas teman-teman seusianya. Adalah Manda, salah satu fotografer relawan, yang pertama kali menemukan adik tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan kameranya, Manda berinisiatif memanggil saya.

Kak, lihat anak yang itu kan? Dia gak mau gabung.

Kenapa?

Katanya dia Kristen sendiri.

Setelah memanggil Racil sebentar, kami berdua pun berusaha membujuk si adik. Namanya Rini. Pelan-pelan ia mulai cerita bahwa hari itu pertama kalinya ia ke SKR atas ajakan temannya, Tita, yang lebih tua sekitar 2-3 tahun. Bujukan saya dan Racil nyaris sia-sia (Rini sempat mengiyakan kalau dia malu jadi satu-satunya anak yang tidak memakai jilbab di kelas seusianya) hingga akhirnya Tita dan beberapa adik SMP turut serta mengajaknya bergabung.

Di kelas yang dipimpin Racil tersebut, Rini duduk di samping Tita. Saya “terpaksa” *padahal rela banget* meninggalkan pos pendamping Kak Ana mengajari adik-adik kelas 3-5 SD atas nama penasaran. Tak butuh waktu lama mendapatkan info baru bahwa Tita adalah tetangga rumah Rini sehingga wajar Rini merasa paling nyaman bersama Tita.

Belum genap 10 menit ngobrol di sela-sela memperhatikan Racil dan adik-adik SMP/SMK bermain “Teman Baik”, Rini sudah mengeluarkan pernyataan lantang.

“Aku tahu kakak Kristen. Beda soalnya.”

*alien dong gue* *brb manggil awan kington* *apeu*

Setelah merespon pernyataannya, saya mengajukan tantangan baru.

“Kalau agama Kak Racil, tahu gak apa?” *iseng kumat di sini*

Rini menggeleng. Mendapat angin segar, saya meningkatkan level tantangan.

“Berani nanya langsung gak ke Kak Racilnya?” *iseng level Kaiju kategori 7* *ter-Pacific Rim*

Tiba-tiba, bermodal semangat Jaeger ’45, Rini bertanya dengan keras.

“Kak Racil agamanya apa?”

***

Tema besar Juli-Agustus 2013 adalah “AGAMA KITA”. Pokok tema ini adalah pensyukuran + perayaan keragaman serta penanaman pentingnya toleransi beragama. Salah satu metode ajarnya adalah meminta adik-adik menyebutkan teman mereka yang ‘beda’ (SARA, fisik, IQ, kondisi ekonomi, dll) lalu mereka dituntun memahami cognitive empathy lewat ajakan untuk “membayangkan bagaimana bila mereka menjadi teman yang ‘beda’ itu”.

Tanpa terduga, Rini hadir sebagai contoh hidup dari lingkungan keseharian mereka.

Sebagai kaum minoritas, keengganan Rini berbaur di awal menjadi konsekuensi sangat logis. Mau tak mau, ia pasti tampil mencolok. Bila ia adalah warga asli Kampung Cibitung yang terpencil dan keluarganya masih menyimpan efek trauma psikologis dari sengketa tanah yang berlarut-larut, tingkat kepercayaan dirinya bisa dibilang sangat-sangat rendah.

Trauma + minder karena orang kampung + minoritas karena lahir di keluarga Kristen.

Hattrick bencana inferior.

Sekonyong-konyong, nilai Percaya Diri serta Empati di Kurikulum Kita terasa tak pernah sepenting ini.

***

Berkaitan dengan jangkauan SKR yang telah mencapai desa-desa tetangga Kampung Cibitung, secara pribadi saya yakin masih banyak kasus bertema serupa bakal muncul di waktu-waktu mendatang. Deskripsinya sangat beragam : korban bully, karakter introvert akut, lokasi geografis tempat tinggal paling jauh, dll. Hal-hal ini berpotensi membuat anak-anak yang mengalaminya merasakan keminoritasan yang juga dialami Rini, bahkan tak menutup kemungkinan respon yang mereka tunjukkan jauh lebih defensif dari apa yang telah diekspresikan Rini.

Lambat laun inferioritas tak lagi menjadi milik eksklusif dari anak-anak non-Muslim atau non-Sunda di sana. Efek negatifnya bakal menyebar cepat seperti virus, apalagi dalam pikiran anak-anak yang masih gampang sekali tercemar. Alasan-alasan meminoritaskan seseorang bakal berkembang biak, termasuk dari pengetahuan-pengetahuan baru yang diajarkan oleh Kakak Kita setiap minggu.

Pengetahuan baru selalu punya dua wajah. Terkadang wajah yang diremehkan mampu meremukkan wajah yang diagungkan.

Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi perkembangan SKR, khususnya bagi kakak-kakak pengajar. Satu lagi prioritas penting telah dibukakan demi mewujudkan kemandirian Kampung Cibitung, Rumpin, di tahun 2018. Aspek kemandirian dalam konteks kasus demikian bersifat vital sebab menyangkut kedewasaan serta kekuatan mental. Bila digugah sejak dini, aspek kemandirian tersebut bakal menjadi nilai krusial bagi peningkatan kualitas hidup oknum bersangkutan.

Mari kita sambut adik-adik penderita “Sindrom Rini” selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang. Entah di Rumpin, entah di tempat lain. Entah sekarang, entah 5 atau 10 tahun lagi.