Pengalaman Mengikuti Kegiatan International Youth Day 2017

oleh Kanya Pinandita, Kakak Pengajar Tetap Kelas Umum

Sebagai pengajar relawan kelas umum di Sekolah Kita Rumpin (SKR), saya sangat bersyukur telah terpilih menjadi salah satu dari 36 peserta untuk mewakili SKR dalam perayaan International Youth Day yang jatuh pada tanggal 12 Agustus 2017. Dalam rangka menyambut perayaan tersebut, pada tanggal 11 Agustus, Youth Force Indonesia bekerjasama dengan Aliansi Remaja Indonesia dan juga United Nations Indonesia mengadakan diskusi terbuka untuk menyumbangkan ide-ide kreatif anak muda yang terkait dengan isu-isu seperti kemiskinan, perubahan iklim, pariwisata, kesehatan reproduksi seksual, intoleransi, dan  pendidikan.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, panitia membagi kami ke dalam enam kelompok. Setiap kelompok mewakili isu yang menjadi fokus dari organisasi. Saya bergabung dalam kelompok pendidikan. Sebagai hasil dari diskusi yang kami lakukan selama seharian penuh, kami merancang sebuah rencana aksi (action plan) yang langsung kami presentasikan di depan Staff Kepresidenan Republik Indonesia.

Pada hari kedua kami menghadiri diskusi terbuka dengan topik “Youth Building Peace” yang dilaksanakan di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Ibu Ruby Khalifah (Asian Muslim Nerwork Indonesia), Karina Nadila (Miss Supranational Indonesia 2017), Dr. Margaretha S (Youth and ASRH UNFPA Indonesia), dan Ms. Miyeon Park (UN Volunteer Indonesia). Pada diskusi tersebut saya berkesempatan untuk mewakili kelompok saya dari tim pendidikan untuk menyampaikan rencana aksi kami kepada seluruh peserta diskusi yang hadir. Kami menyampaikan bagaimana pentingnya pendidikan yang inklusif dan berbasis lokal untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik. Selain itu, dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai  program Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut dirancang agar  Indonesia dan negara berkembang lainnya bekerjasama untuk menciptakan negara yang bebas kemiskinan, aman, dan damai.

Di usia saya yang masih muda banyak hal yang perlu saya catat dan pelajari. Menghadiri kegiatan tersebut adalah salah satu kesempatan belajar yang baik untuk saya. Terima kasih tak terhingga untuk kakak-kakak dari Sekolah Kita Rumpin yang sudah mempercayai saya untuk menghadiri acara ini. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan belajar yang sama seperti saya, dan walaupun status saya disini adalah sebagai seorang pengajar, saya justru merasa bahwa saya yang mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga setiap minggunya.

 

Catatanku untuk Semua

20160222063318

*Sebuah catatan dari Kak Ana Agustina selepas menjadi narasumber di acara Rembug Sosial yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Seperti biasa saat pagi tiba, kubuka jendela dan kuhirup udara sejuk yang menghembus masuk ke sudut ruang kamar yang membuat tubuh ini malas beranjak. Kubaca kembali bahan presentasiku untuk seminar hari itu di UPI Bandung. Selesai siap-siap, hari itu cukup cerah dan masih pagi sehingga perjalanan menuju ke UPI cukup lancar. Kali ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI mengundang Sekolah Kita Rumpin yang diwakili olehku untuk mengisi acara tersebut sebagai narasumber yang akan berdampingan dengan narasumber lainnya. Narasumber tersebut diantaranya Guru Besar UPI, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, perwakilan dari Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (KOPPAJA), serta perwakilan dari komunitas Taman Baca Binar. Topik seminarnya yaitu menyikapi pendidikan di Indonesia : optimisme dan realitas.

Acara dimulai pada pukul 09.00 pagi dengan berbagai sambutan terlebih dahulu dan penampilan teatrikal dari mahasiswa seni UPI. Setelah rangkaian acara silih berganti, selanjutnya pembawa acara memberikan kepada moderator untuk memulai acara seminarnya. Moderator membuka acara dengan menyampaikan tentang situasi Indonesia yang menurutnya mengalami krisis yang di antaranya krisis moral dan kesenjangan social terutama pendidikan. Setelah moderator memaparkan argumennya, salah satu Guru Besar UPI yang dipersilakan untuk memberikan presentasinya terlebih dahulu, beliau menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia sudah cukup berkembang dalam bidang pendidikan. Hal ini karena pendidikan Indonesia sudah diakui dunia. Menurut Bapak tersebut, Indonesia diakui dunia dalam hal keterlibatannya untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan dunia dan menurutnya juga tak jarang Indonesia mendapatkan medali. Beliau juga memberikan opininya tentang beberapa solusi untuk memajukan kwalitas pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kwalitas guru, memberikan referensi tentang metode pembelajaran aktif, membangun akses pendidikan yang mampu memberikan kemudahan bagi setiap pendidik dan anak didik (sarana dan prasarana kegiatan sekolah, alat transportasi, dan komunikasi), serta membuat kurikulum yang sesuai dengan potensi daerah sehingga tidak disamaratakan standarnya antara satu daerah dengan daerah lain.

Berbeda dengan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, beliau menjelaskan tentang prosedur pengelolaan pendidikan, tata cara melengkapi standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta pendidikan merupakan instrument bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Menurutnya, pendidikan itu dapat membangun manusia yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Beliau juga memaparkan bahwa kurikulum berubah terus adalah keniscayaan, karena ketika berganti menteri tentunya kurikulum juga akan mengikuti perkembangan sesuai kebijakan dari menterinya. Bapak sekretaris dinas ini juga lebih banyak bercerita tentang uji kompetensi guru, perekrutan guru, dan segala hal yang berbau administrasi dan kebijakan baku pemerintah yang susah dirubah.

Lain halnya dengan narasumber yang mewakili komunitas peduli pendidikan anak jalanan yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya yang diliput oleh berbagai media yang membuat nama komunitasnya meroket bak pesawat jet. Dia bercerita bahwa komunitasnya tersebut menggunakan metode pembelajaran yang menyesuaikan situasi lingkungan anak-anak jalanan yang sedang dibinanya. Dia juga bercerita tentang kontribusinya di dunia pendidikan yaitu sudah menjadikan anak-anak jalanan untuk tetap bersekolah dengan jaminan beasiswanya.

Hal kagum aku tunjukkan kepada narasumber terakhir yang mewakili komunitas taman baca yang berada di Cipanas-Cianjur ini. Mereka adalah komunitas yang mempunyai program pojok baca, bioskop sekolah, dan buku berjalan. Komunitas yang mereka organisir adalah komunitas yang benar-benar mandiri secara finansial. Menjual merchandise seperti kaos dan totebag, juga punya kelas sablon untuk anak-anak yang ada di daerah Cipanas tersebut. Bercerita dengan penuh kesederhanaan, hanya menggunakan binder catatan kecil, tanpa power point, tanpa banyak berkata-kata, sehingga membuat suasana sendu saat itu.

Aku sendiri bercerita tentang sejarah Sekolah Kita Rumpin, sistem, dan program yang sudah dilakukan dan akan dilakukan. Kurikulum Sekolah Kita Rumpin yang mengajak seluruh keluarga besar Sekolah Kita Rumpin untuk menumbuhkan rasa empati satu sama lain antara adik dan kakak, menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri adik-adik dan kakak-kakak, sehingga mampu tampil percaya diri di mana pun berada, dan menumbuhkan kreativitas. Selain itu, Sekolah Kita Rumpin juga diharapkan mampu menjadi tempat berbagi kisah setiap individu yang ada di dalamnya dan tempat belajar satu sama lain. Sebab setiap tempat adalah sekolah kita, belajar bisa di mana saja dan dengan siapa saja.

Kegiatan seminar kemarin berakhir dengan penutup dari moderator yang mengambil simpulan dari setiap pemaparan narasumber yang kemudian ia tambahkan bahwa pendidikan akan berkembang jika semua kalangan saling mendukung satu sama lain.

Tak hanya berhenti di situ, aku dan beberapa teman dari komunitas Taman Baca Binar ngobrol lebih lanjut tentang berbagai hal yang sekiranya bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bertukar ide, program yang dilakukan masing-masing, sehingga menyepakati untuk saling mengunjungi. Komunitas Taman Baca Binar keberadaannya sudah 6 tahun, tetapi mereka sendiri masih terus berproses untuk menjadi sebuah komunitas yang stabil secara sistem, dan sumber daya. Mungkin suatu saat nanti kami bisa menjalin kerjasama, entah tahun ini atau tahun depan, yang jelas kami akan terus saling belajar.

Hari itu, banyak cerita yang didapat.

Mencerna makna yang tersirat.

Berpikir terbuka dan menelaah rasa.

Untuk satu kesamaan, demi cita-cita.

Volunteering and Its Impact on Education : A Hybrid Model

*tulisan berikut rampung pada pertengahan 2014 dan telah dimuat di Count Me In, Jakarta Globe awal tahun 2015*

 

By : Tiara Ayuwardani & Josefhine Chitra

 

Why do we volunteer? The motives may vary. There are so many reasons on why someone would voluntarily sacrifice their time and effort in doing something without being paid.It might be the thirst of experience, the need to feel useful or just pure love and total dedication ; God only knows what your reason to volunteer really is.

The act of volunteering has been an incredibly helpful source to many social movements. For short term events, the quantity of helping hands can do wonder. But for a longer commitment, such as education reform, can volunteerism still create an impact? Or to be more specific, a sustainable one?

As a citizen, a volunteer-based community opens up the opportunity to participate in mitigating the challenges in education sector. When a volunteering-community agrees to tap in the education sector, it needs to concede that the actions will bring long-term impact to the students’ life.

The thing about purely volunteer-based community is the members enroll themselves based on their conscience while acknowledging the community does not have the obligation to pay any salary. Therefore, the commitment degree of the members may vary, which might lead to a high turnover of the members, whereas social worker-based community is a volunteering model which the structure and system are usually more rigid with appropriate sanctions and incentive. The members are hired as full-time professionals with clear recruitment procedure.

To attain sustainable programs in education reform, the later is seemingly more suitable because the competency of the members has been assured. But it will also require bigger budget for salary allocation, which not many social movement can afford.

 

Sekolah Kita Rumpin : A hybrid model of communities

Every Sunday morning, the kids in Cibitung, Rumpin, wake up early and walk in approximately 30-60 minutes distance to arrive at a small mushola where they will learn in Sekolah Kita Rumpin. Sekolah Kita Rumpin or SKR, is an alternative school for children in Cibitung village who were victims of land eviction case.

At its first establishment, the founders of SKR has realized the unsustainable issue that often faced byvolunteer-based community ; therefore they agree to adopt a hybrid model of community – a fusion of the volunteer-based and the social worker-based community. There are some indications to prove the adoption of the hybrid model.

First : Clear core values as the curriculum

As any other firstly established community, things where chaotic. Teacher positions were filled by random volunteer and the teachers changed every week ; no curriculum or even objective. Having realized the importance of education for Rumpin kids’ lives, Ana Agustina consulted with Rara Sekar – who later then becomes theHead of Curriculum. After considering the necessity and the situation in Rumpin, finally they found four core values of Sekolah Kita Rumpin, which comprises of empathy, curiosity, creativity, and confidence. All teachers must adhere their teaching materials to these four core values.

Second : Clear supervision and check-and-balance on the teaching materials

Unlike other alternative schools which give lesson in school-given subjects, the teaching topics in SKR vary bimonthly, from paddy fields to history of technology. The teachers have to submit their materials to the Head of Curriculum no later than a week before the topic starts. After receiving feedbacks and approval, then they can implement the materials in their scheduled class.

They will also need to submit the online post-teaching evaluation form, to see how the class actually went and compare best practice from other classes. This system will help to ensure the teaching materials are in line with the core values and measure the objectives. In addition to that, SKR also has research team whose job task is to evaluate the impact for the kids in Rumpin as well as finding local’s relative advantage that can be developed as entrepreneurships.

Third : Clear and fair recruitment procedure

SKR does not welcome any sudden volunteer who cannot commit for minimum of one year. The reason is because they do not want to have teachers who just go to the class once and disappear without any continuity. Therefore, any applicant will be rigorously examined through written test and interview like applications for professional social workers, but without the payment.

In SKR, we need to maintain volunteerism both in quality and quantity because education is the root of everything. It will affect children forever. So, having pity or just want to add this as one of “social activity experience” in their CVis not enough. We need their ideas and commitment to achieve the sustainable impact for kids in Rumpin,” explained the Head of Curriculum.

Fourth : Empowerment of local people to be self-reliant in the future

SekolahKita aims to move out from Rumpin by 2018 after accomplishing two main targets : independent financial capability among the society and teachers regeneration from its own local people. To pave the way until 2018, SKR has 5-years plan as organization’s policy guideline. SKR also believes in entrepreneurship as a means to empower their financial capability. Stable entrepreneurship program may result to increasing the revenue of Cibitung village. To regenerate the teachers, Curriculum Division and Teachers Division will also prepare the students who have graduated from vocational or high school to be the next teachers for SKR. Through this way, the sustainable impact can be maintained.

Prinsip Ani

Saat mulai menulis artikel ini, saya merasa sedang menjabarkan Hukum Kekekalan Energi pada anak-anak SMP ataupun mempresentasikan opini pribadi seputar mengapa Interstellar (Christopher Nolan, 2014) adalah contoh karya audio-visual abad 21 yang mampu mengejawantahkan Hukum Ketiga Newton dengan sangat apik. Pada kenyataannya, tujuan penulisan artikel ini tak jauh dari situ.

Prinsip Ani (Annisa Principle) adalah sebuah metode penanganan bertahap dalam Skema Beasiswa SKR yang harus dilalui satu/beberapa Adik Kita yang telah menyatakan keinginannya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi pasca SMA/SMK. Pada fase ini, ia/mereka akan menjalani serangkaian tahapan, yakni :

1. Proses verifikasi (kemampuan akademik/musik/linguistik/naturalis/kinestetik, kemampuan ekonomi keluarga & preferensi orang tua, tingkat kemantapan pilihan, serta pertimbangan kesempatan berorganisasi/berkarya)

2. Proses pendampingan belajar secara intensif oleh kakak tertentu jelang hari H + kampanye pencarian sponsor/partner pendanaan beasiswa

3. Pembuatan kontrak/MoU antara sponsor/partner pendanaan, Kakak Pengelola, dengan orang tua Adik Kita terkait setelah sang adik resmi menyandang status baru sebagai mahasiswa/i

Prinsip ini saya beri nama mengikuti panggilan sehari-hari Annisa, murid pionir SKR yang menyatakan keinginannya melanjut ke perguruan tinggi. Ia juga adalah adik pertama yang menjalani seluruh fase metode di atas serta berpeluang besar menjadi contoh kisah sukses perdana dari antara siswa SKR selama 3 tahun terakhir.

Pada kasus Ani, penentuan potensi kemampuan dirinya berasal dari observasi rutin sepanjang setahun belakangan. Ketika ia menyatakan ingin kuliah, langkah selanjutnya adalah melobi orang tuanya. Setelah memperoleh restu orang tua, fase pendampingan belajar dimulai di bawah bimbingan Kak Lani sementara Dewan Pembina dan Kakak Pengelola berembuk mencari sponsor/partner pendanaan. Hasil negosiasi final dengan calon sponsor/partner pendanaan bakal tertuang dalam sebuah kontrak/MoU yang telah mengakomodasi kepentingan semua pihak yang terlibat. Kontrak/MoU ini akan ditandatangani begitu Ani dinyatakan lulus sebagai mahasiswi.

Dengan hadirnya Prinsip Ani, SKR tak perlu repot lagi menangani kasus sejenis di sisa 3 tahun mendatang. Metode ini dapat terus bereplikasi dan diterapkan ke adik-adik manapun sepanjang setiap tahapan fasenya benar-benar dijalankan. Perubahan minor hanya muncul pada bagian penggerak kampanye pencarian sponsor/partner pendanaan beasiswa (ke depan, penggerak utama adalah Divisi Promosi + Divisi Penggalang Dana)

Versi taktis Prinsip Ani bakal tersedia dalam rumusan akhir Skema Beasiswa SKR yang akan dipresentasikan di Kemah Kita 2015.

Annisa dan Palu Pemecah Tembok

Suatu minggu di pertengahan tahun 2013, aku berkesempatan mengajar adik-adik kelas SMP-SMK. Waktu itu SKR belum menganut sistem ajar berbasis tim (karena konsep itu baru kupresentasikan, dan diterima secara aklamasi, pada sesi terakhir Kemah Kita di tahun yang sama), sehingga pembagian jadwal ajar mingguan masih menilik status individu sang Kakak Kita : ia pengajar tetap atau seorang pengajar relawan.

Materi yang kubawakan hari itu adalah Penyelam Cartesian = perlombaan memakai medium air dalam botol mineral memanfaatkan beberapa pemberat plastik, pengait, dan tabung plasma ukuran mini. Aturan mainnya sederhana :

1. Isi tabung plasma dengan air secukupnya hingga tabung melayang dalam botol

2. Ikat pengait ke ujung tabung

3. Angkat pemberat sebanyak mungkin dari dasar tabung.

4. Pemain yang paling banyak mengangkat pemberat adalah pemenangnya.

Sepintas permainan itu terdengar gampang, padahal tidak. Dari sebelas adik yang bermain, hanya dua orang yang sukses mengangkat lebih dari satu pemberat. Salah satunya adalah Annisa.

Cerita berikutnya datang tatkala ia bersama Atika meminta diajarkan cara membuat akun surat elektronik. Kali ini latar waktunya adalah awal 2014. Mereka berdua adalah siswa kelas 2 SMK yang sedang menyiapkan segala sesuatu guna memulai praktik kerja lapangan di bidang kesekretariatan dan hari itu Angga bertepatan membawa Mac pribadinya. Di sela-sela mengajar, momen ini jadi pengalaman perdana bagiku ngobrol panjang lebar dengan Annisa. Tentang sekolah, tentang teman, tentang rumah.

Kita pindah ke Starbucks Setiabudi One di bulan November 2014, lokasi pertemuanku dengan Kak Lani dan Mbak Kika, teman lama yang jadi narasumber workshop menulis kreatif bulan Mei silam. Kami berbagi tugas penyuntingan untuk konsep buku kompilasi tulisan para Adik Kita yang mengikuti workshop tersebut. Aku sendiri kebagian tanggung jawab mengkreasi salah satu bab yang kelak memuat tulisan Annisa.

Cerita teranyar berasal dari Desember 2014. Aku sudah mundur dari posisi Kakak Promotor namun tetap sering berkunjung ke Kp. Malahpar, memantau kondisi terbaru pasca insiden pencaplokan tanah 2 bulan sebelumnya. Persentase murid SKR dari Kp. Malahpar yang menanjak terus dari tahun ke tahun membuatku merasa perlu memasukkan lingkungan sekitar mereka sebagai salah satu prioritas pengamatan. Tapi sejujurnya, walau sering berkeliling kampung dan komplek perumahan di sekitar landasan udara Atang Sandjaja, baru kali itu aku sempat menginap di rumah Annisa. Kebetulan Ana dan Rara Sekar juga memiliki niat yang sama sebab mereka ingin membahas lebih dalam prospek kelanjutan sekolah Annisa (baca http://sekolahkitarumpin.com/untuk-ani/).

Tulisan Rara itu tak pelak memicu cerita-cerita lain dari balik layar seputar Annisa. Cerita-cerita yang tak akan pernah kalian dapatkan di kelas-kelas mingguan. Cerita-cerita yang berperan sebagai palu, memecah tembok pertentangan antara kecintaan pada komunitas vs kecintaan pada sasaran komunitas. Cerita-cerita yang mungkin bakal memaksa kamu yang membaca artikel ini guna berpikir ulang : bahwa sejatinya berbagi kisah, walau cuma satu malam, sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan kedekatan. Dan kedekatan dengan mereka sesungguhnya adalah mesin penggerak terkuat komunitas.

****

Dalam beberapa kesempatan, aku berulang kali bilang bahwa menunjuk Jojo sebagai penerus adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil selama jadi Kakak Promotor. Kapabilitasnya secara profesional selalu terpercaya, maka fokusku hampir tak pernah terbagi antara “menuntun penerus” dan “hal-hal selanjutnya di Dewan Pembina”. Penyebab utama konsistensi kapabilitas ini mungkin berasal dari status “ahli waris” Kakak Promotor yang sudah jelas sejak Maret 2014 sehingga aku punya waktu bersih setengah tahun menyiapkan doi. Rancangan yang rapi membuat proses delegasi berjalan santai.

Fokus yang hampir selalu total berdampak besar terhadap efisiensi penanganan prioritas berikutnya pasca lengser. Dalam konteksku, prioritas berikutnya adalah pengamatan mendalam terhadap Kp. Malahpar (geografis, sosio-ekonomi, tarik ulur relasi kuasa antara warga dan tentara). Bantuan survei fisik dan komunikasi yang sangat baik dengan perwakilan Tim Jendela turut meringankan rencana-rencanaku saat turlap. Koordinasi rutin ini membuatku tak pernah ketinggalan info sekecil dan seremeh apapun, tak terkecuali soal Annisa.

Pasca kunjungan bertiga pada bulan Desember 2014 itu, grup internal Dewan Pembina beserta Ana beberapa kali diisi dengan diskusi-diskusi seputar pendanaan. Puncaknya saat Yayasan Gemilang, sebuah organisasi sejenis Tunas Cendekia, menawarkan bantuan pendanaan penuh. Tawaran mereka sangat menarik : menanggung biaya kuliah, biaya tempat tinggal, serta biaya hidup Annisa sampai ia lulus asalkan Annisa bersedia bekerja dengan mereka selama liburan atau waktu-waktu luang lain yang tak mengganggu kegiatan kuliah. Tak disangka, lobi berjalan sangat mulus hingga akhirnya kesepakatan lisan tercapai dalam waktu kurang dari 2 minggu. Pada titik ini, kami praktis tinggal menunggu status baru Annisa sebagai mahasiswi serta pengesahan kontrak kerja tertulis antara SKR, orang tua Annisa, dan Yayasan Gemilang sebelum sebuah mimpi baru resmi terealisasi.

Mimpi yang kumaksud di atas bukan hanya mimpi Annisa untuk lanjut sekolah, namun juga mimpi Ana lewat sistem sekolah alternatif yang ia dirikan. Model penanganan bertahap terhadap Annisa ini, buatku, adalah purwarupa jika di masa depan SKR menghadapi kasus serupa. Bagaimana mendalami keinginan hakiki si adik dan memantapkan pilihannya, kemudian memenangkan hati orang tuanya, naik tingkat lagi ke pembekalan material secara sistematis serta konsisten jelang ujian seleksi masuk, dan terakhir berkampanye mencari partner pendanaan yang serius berkomitmen. Bayangkan bila model penanganan tersebut mereplikasi diri ke Adik Kita lainnya yang memang bercita-cita mengenyam pendidikan setinggi yang mereka mampu. Maka lumrah saja bila tahun 2018 nanti, jelang akhir ‘hayat’nya, SKR sudah memiliki skema beasiswa yang terintegrasi dalam sistem organisasi dan terakomodasi via status badan hukumnya pasca 2018.

Berkaca dari budaya lokal Desa Sukamulya yang teramat biasa menikahkan remaja perempuan usia 14-16 tahun dan terkadang mencemooh permintaan si anak untuk terus mencari ilmu ke tempat-tempat baru, SKR jelas butuh secercah simbol elemental guna menyeimbangkan dinamika sosial itu. Silakan menikah sedini mungkin, asalkan memang si anak sendiri yang benar-benar berniat menikah alih-alih melanjutkan sekolah. Eki Jaelani adalah contoh sederhana seorang adik yang tak berminat melanjut ke SMP. Begitu lulus SD bulan Juni nanti, ia memilih bekerja sebagai kurir proyek bangunan di kampungnya maupun kampung-kampung tetangga.

Sekarang saja, di tengah-tengah persiapan Annisa, aku dan Ana sudah menemukan segelintir adik lain yang berpotensi mengikuti jejaknya. Yang pertama jelas Ismatu Soleha atau biasa disapa Eha (kelas 3 SMP), adik penyuka novel dan doyan merangkai cerpen (belakangan menulis naskah teater untuk pentas Kelas Spesialis Teater) yang ingin masuk SMA tapi ditentang sang bapak lewat alibi “kan dibiayai saudara” serta “belajar agama lebih penting” (mirip dengan dokumenter Layu Sebelum Berkembang ; beberapa kakak yang ikut nonton masih ingat dong).

Dari sisi perkembangan intrapersonal, aku sudah sering menyatakan ketidaksetujuanku pada isu Annisa/Sari-sentris. Pembiaran terhadap isu itu hanya akan merugikan hubungan antar adik lantas berimbas ke SKR. Aku sendiri sudah ngobrol langsung dengan mereka berdua, Sari terutama, mengenai pentingnya tiap kakak berlaku objektif ketika mengajar, mengisi waktu luang bersama adik-adik, maupun menghabiskan waktu menginap di rumahnya. Mereka dapat menerima argumenku termasuk solusi yang kutawarkan guna mengenyahkan isu itu : menjadikan mereka patron inklusif di rentang usianya masing-masing. Cara terdekat adalah menunjuk Sari sebagai salah satu koordinator program Ojek Baca SKR.

Kita tilik pula sudut pandang branding komunitas. Bila Annisa berhasil melangkah lebih jauh dengan meraih status baru sebagai mahasiswi, ia serta perjuangannya adalah cerita sukses nyata perjuangan SKR. Tapi buatku pribadi, terlepas lulus seleksi ataupun belum, ia sudah menjelma menjadi simbol yang SKR butuhkan. Simbol yang aku dan Ana cari selama ini.

Menutup sekelumit cerita mengenai Annisa ini, aku berharap palu pemecah tembok itu tampil gamblang di hadapan kalian yang meluangkan waktu membaca.

Tembok bernama ‘terlalu fokus pada perumusan materi-metode ajar lantas melupakan kemanusiaan sasarannya’ (bukan begitu, Kak Tiara? :)).

Tembok berjudul sense of belonging toward community-based school.

Tembok bertajuk : Dilarang menembus zona terlarang menginap di rumah adik-adik. Peringatan : ancaman kesehatan, kotoran kerbau di telapak sepatu, serta (katanya) degradasi intelektual.

Rayakan ulang tahun dengan kerja bakti? Kenapa tidak?

Tepat pada 10 April yang lalu, Sekolah Kita Rumpin (SKR) genap berusia tiga tahun. Sebagai ucapan syukur atas bertambahnya usia SKR, kakak-kakak dan adik-adik SKR melakukan kerja bakti pada Minggu (12/4).
Semua kakak dan adik berkumpul di SKR. Sebelum memulai kerja bakti, Bu Neneng membawakan kue tart sebagai simbol perayaan ulang tahun dari SKR. Kak Ana, selaku pendiri dari SKR, didamping oleh semua adik dan kakak berdoa dan meniup lilin.

Setelah perayaan kecil-kecilan tersebut, Kak Ana membagi tugas bersih-bersih per kelas. Adik-adik kelas PAUD hingga 2 SD ditugasi mengelap kaca. Adik-adik kelas 3 hingga 4 SD ditugasi untuk memungut sampah plastik yang ada di sekitar SKR.

Adik-adik kelas 5 hingga 6 SD ditugasi membersihkan bagian dalam kelas. Dan adik-adik kelas SMP – SMA kebagian tugas menyapu dan mengepel ruang kelas. Gak cuma adik-adik, tapi semua kakak juga ikut membantu membersihkan SKR.
Setelah selesai membersihkan SKR, semuanya kembali berkumpul. Setiap kakak dan adik diberikan kertas berbentuk daun untuk diisikan harapan akan SKR. Setelah kertas diisi, kemudian digantungkan di ranting pohon yang kami sebut pohon harapan.

Habis itu, kakak-kakak bikin vote kecil-kecilan. Setiap orang harus menuliskan nama-nama, baik kakak ataupun adik, sesuai dengan kriteria masing-masing. Dari hasil vote tersebut terpilih :

Adik Terajin = Annisa (SMK)

Adik Terseru = Rohadi (6 SD)

Adik Terberani = Sari (6 SD)

Adik Terkreatif = Risma (5 SD)

Kakak Terajin = Kak Josephine

Kakak Terseru = Kak Hanna

Kakak Terkreatif = Kak Giany

Kakak Terberani = Kak Ana

Dan di akhir kegiatan, semua kakak dan adik makan bersama. Adik-adik tampak antusias menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah.

Layaknya manusia yang berusia tiga tahun yang tengah belajar akan banyak hal, begitu pula SKR di usianya yang ketiga. Kegiatan belajar dan mengajar menjadi pelajaran baik bagi adik ataupun kakak yang terlibat dalam setiap kegitan.

Seperti doa kepada anak berusia tiga tahun, semoga SKR terus bertumbuh menjadi manfaat baik bagi warga Cibitung dan Malahpar ataupun Indonesia di masa yang akan datang.

Salam,

Christmastuti Destriyani (@kerisirek)

Kakak Riset dari Tim Pensil

Regenerasi Pertama Sekolah Kita Rumpin

Dalam perjalanannya menuju 3 tahun, Sekolah Kita Rumpin sudah mempersiapkan regenerasi kepengurusan tim inti sebagai bentuk nyata kedinamisan organisasi yang membutuhkan ide segar dari Kakak Kita angkatan I-IV.

Kenapa perlu regenerasi? Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi kreativitas dan empati, maka kami perlu membuat langkah-langkah yang konkret untuk mengembangkan organisasi menjadi organisasi yang benar-benar dinamis dari segi program dan sumber dayanya. Dengan adanya pergantian kepengurusan maka ruang untuk Kakak Kita dalam melibatkan dirinya akan semakin terfasilitasi dan terolah menjadi individu yang bertanggung jawab atas tugas yang diembannya.

Keterlibatan mereka untuk diberikan ruang tanggung jawab yang lebih ini, diharapkan mampu menjadikan motivasi kepada seluruh kakak yang lainnya. Tujuan lainnya dari regenerasi ini adalah ke depannya para tim inti dari Sekolah Kita Rumpin adalah adik-adik yang sudah dewasa yang mampu berkomitmen demi memajukan daerahnya.

Di bawah ini adalah daftar pergantian kepengurusan:

  1. Kakak Promotor : Kak Jonathan digantikan oleh Kak Josefhine Chitra
  2. Kakak Kurikulum : Kak Rara Sekar digantikan oleh Kak Tiara Ayuwardani
  3. Kakak Koordinator Pengajar : Kak Lani digantikan oleh Kak Hanna Masturina

Sistem regenerasi itu sendiri dilakukan dengan cara mencalonkan diri maupun mencalonkan nama kakak yang lain dengan memberikan alasan pencalonannya sebagai dasar pertimbangan para tim inti sebelumnya. Diskusi antara kandidat kakak pengganti dengan kakak sebelumnya pun sering dilakukan untuk menyeimbangkan program kerja yang sudah berjalan dan akan dijalankan di tahun selanjutnya supaya tidak terjadinya tumpang tindih.

Adapun struktur kepengurusan kami terbaru adalah adanya kakak dewan pembina pada divisi promosi, kurikulum dan pengajar. Mereka semua adalah kakak Jonathan sebagai kakak dewan pembina divisi promosi dan hubungan luar, kakak Rara Sekar Larasati sebagai kakak dewan pembina divisi kurikulum dan riset, kakak Lani Mariyanti sebagai kakak dewan pembina pengajar.

Untuk itu, kami akan tetap ada dan berkarya bersama di Rumpin. Terima kasih semua kakak yang telah berkarya bersama di Sekolah Kita Rumpin. :wink:
Salam,

Kakak Pengelola

 

Ana Agustina

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin: Tema Budaya Kita (September-Oktober 2014)

Evaluasi Proses Belajar Sekolah Kita Rumpin

Tema                           : Budaya Kita

Periode                        : Oktober 2014

 Di tahun 2014, tema ketiga dari kegiatan belajar di kelas umum Sekolah Kita Rumpin adalah ‘Budaya Kita’. Di tema ini, setiap kakak pengajar memberikan materi mengenai budaya, baik itu budaya dari dalam negeri, maupun luar negeri. Beberapa pengajar sudah mulai menerapkan penyampaian materi melalui proses bermain sambil belajar, sesuai dengan pelatihan yang baru saja diberikan kepada kakak-kakak pengajar di bulan September 2014. Berikut ini adalah kegiatan belajar yang sudah dilakukan di kelas umum:

 

  • Pengenalan budaya Indonesia melalui permainan Ular Tangga, kuis Famili 100.
  • Pengenalan permainan tradisional Indonesia dengan memainkan permainannya (permainan jaga benteng).
  • Latihan menari tari tradisional Indonesia (tari Piring-Minang, tari Yospan-Papua) dan menyanyi lagu-lagu tradisional serta lagu nasional Indonesia.
  • Pengenalan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari berbagai negara melalui kegiatan bermain peran.
  • Pengenalan tari tradisional, pakaian adat, dan rumah adat di Indonesia melalui kegiatan kuis (dibantu dengan laptop).
  • Menyelipkan kegiatan bermain kartu Uno.

 

Selanjutnya, berikut ini adalah kegiatan belajar yang telah dilakukan di kelas spesialis (sifatnya lebih bebas, tidak terikat dengan tema besar) :

Kelas Prakarya

  • Membuat kartu ucapan dengan teknik scrapbook.

Kelas Teater

  • Membuat film pendek.

Kelas Berani Bicara

  • Belajar mendeskripsikan suatu topik.
  • Belajar mengenai cerita wayang

 

Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat hal-hal positif yang muncul pada adik-adik SKR. Jika ditinjau dari empat landasan nilai SKR, nilai-nilai yang paling terlihat dan terasa berkembang pada adik-adik (secara berurutan) adalah percaya diri, kreativitas, rasa ingin tahu, dan empati. Berikut ini adalah hal-hal positif yang muncul ditinjau dari nilai-nilai SKR:

1. Percaya Diri

  • Adik-adik berani untuk mempraktekkan hasil belajar (contoh: berani untuk menarikan tari Yospan di hadapan kakak-kakak pengajarnya).
  • Adik-adik berani untuk berbicara di hadapan teman-temannya (contoh: saat kelas BB belajar mendeskripsikan diri).
  • Adik-adik berani menyapa kakak-kakak pengajar lebih dulu.
  • Adik-adik berani berkenalan dan berbaur dengan kakak pengajar baru.

 

2. Kreativitas

  • Adik-adik mau menyampaikan ide-idenya (contoh: saat pembuatan naskah film pendek di kelas teater).

 

3. Rasa Ingin Tahu

  • Antusiasme adik-adik meningkat (contoh: saat belajar materi baru, belajar dgn metode baru, yaitu menggunakan permainan ular tangga/menggunakan laptop).
  • Adik-adik mau bertanya lebih lanjut mengenai materi ajar (saat materi perbedaan kebiasaan di setiap negara).

 

4. Empati

  • Mendengarkan temannya yang sedang bercerita di depan kelas.

 

Selain perkembangan positif dari adik-adik, kakak-kakak pengajar pun memperoleh berbagai pembelajaran saat kegiatan belajar di SKR berlangsung,. Berdasarkan kegiatan belajar yang terlah berlangsung terdapat hal-hal yang sebaiknya dipertahankan dan ditingkatkan oleh kakak pengajar, diantaranya adalah:

Yang harus dipertahankan:

  • Menggunakan metode bermain dalam proses penyampaian materi ajar.
  • Memulai kelas dengan kegiatan yang bersifat motorik sebagai pemanasan sebelum materi inti diberikan.
  • Mengapresiasi performa adik-adik di kelas jika melakukan hal positif (berani bertanya, berani maju ke depan, bertutur kata yang baik, dll.).

 

Yang butuh ditingkatkan:

  • Eksplorasi jenis-jenis permainan yang bisa digunakan sebagai media ajar agar adik-adik tidak merasa bosan.
  • Menerapkan prinsip reward bagi adik-adik kelas PAUD-2 SD dengan menggunakan Papan Bintang Adik Kita.
  • Menyiapkan materi ajar yang tidak membutuhkan waktu lama dalam pembelajarannya (misalkan: di kelas prakarya, 1 topik untuk 2-3 pertemuan agar adik-adik tidak bosan dan lebih antusias lagi).
  • Konfirmasi kehadiran saat jadwal mengajar agar tidak ada kekurangan pengajar/pengajar yang hadir lebih mempersiapkan diri untuk mengajar dengan jumlah anak yang lebih banyak dari biasanya.

 

Pada tema ini, secara umum seluruh kakak pengajar cukup puas dengan performa mengajar dan kegiatan belajar yang sudah dilakukan. Rata-rata tingkat kepuasan proses mengajar pada tema ‘Budaya Kita’ adalah …. (kisaran 1-10). Dari hasil evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa kakak pengajar sebaiknya lebih mengeksplorasi lagi teknik mengajar dengan menggunakan metode bermain karena terlihat bahwa bermain sambil belajar dapat meningkatkan antusiasme belajar pada adik-adik. Selain itu, menyelipkan kegiatan motorik kasar sebelum, di sela-sela, atau setelah kegiatan belajar baik untuk menjaga semangat belajar adik-adik SKR.

Mini Workshop Sekolah Kita Rumpin

Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?

Ditulis oleh Kak Yasmine

image02

Pada hari Sabtu, 6 September 2014, tim riset dari Sekolah Kita Rumpin telah mengadakan mini workshop bertema “Metode Pengajaran Kreatif: Bagaimana Cara Penerapan yang Tepat?” yang ditujukan bagi seluruh kakak pengajar dari SKR. Mini workshop diselenggarakan di salah satu studio di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Acara ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan para kakak pengajar mengenai metode ajar yang kreatif bagi para adik-adik kita. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi 1 mengenai “Learning through Play” dan sesi 2 mengenai “Metode Mengajar Kreatif yang Efektif”

Di sesi 1, sepasang suami istri, pencetus dari adanya permainan boardgame SMAKIIN BERDETAK yaitu Ibu Julie Tane dan Bapak Philip Triatna hadir sebagai narasumber. Keduanya berbagi kepada para kakak pengajar mengenai penggunaan media permainan untuk pembelajaran karakter bagi anak bangsa. Pasangan tersebut memiliki misi untuk membangun karakter positif dengan cara yang kreatif. Ibu Julie dan Pak Philip berkata, “tidak semua orang itu sistematis, tidak semua orang pintar ngajar. Anak juga dapat informasi dari berbagai sumber seperti orang tua, guru, dan media.” Maka dari itu, sebagai pengajar, dibutuhkan metode yang kreatif dalam mengajar agar dapat menarik perhatian anak dan anak dapat lebih menangkap materi ajar. Pembelajaran melalui media permainan, salah satunya dengan board games dapat dimanfaatkan untuk membantu proses belajar pada anak.

Menurut bu Julie dan pak Philip, bermain adalah kegiatan yang dapat diterima oleh banyak kalangan. Dengan bermain, anak tidak akan merasa dicekoki untuk belajar, tetapi mereka akan menikmatinya dan secara tidak langsung mendapatkan pelajaran dari permainan yang dilakukan. Pak Philip mengutip apa yang dikatakan oleh Plato, yaitu “Kalau mau mengajarkan orang dengan kata-kata perlu bertahun-tahun, tetapi kalau dengan bermain hanya butuh beberapa jam”. Dengan menggunakan metode bermain, terutama melalui media board game, anak-anak tidak akan merasa digurui, tetapi dapat belajar bersama. Adanya kebersamaan merupakan tujuan utama dari board game sehingga anak dapat saling mengajari dan mendapatkan pelajaran dari permainan tersebut. Dari sesi tanya jawab dengan Ibu Julie dan Pak Philip, para pengajar pun mendapatkan pengetahuan bahwa dalam proses belajar, mereka dapat menggunakan adanya kekuatan alat permainan. Dengan menciptakan sebuah alat permainan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, dapat membantu pengajar untuk menyampaikan materi pengajaran.

image00

 

 Selanjutnya, sesi dua mini workshop diisi oleh salah satu pengajar di Rumah Belajar Semi Palar, Bandung, Kak Wienny Siska Rahmawati. Di sesi 2, Kak Wienny berbagi pengalaman mengenai proses pengajaran di sekolah yang metode ajarnya menggunakan metode tematik. Proses belajarnya tidak sama dengan sekolah-sekolah konvensional yang ada. Kak Wienny berbagi cara mengenai pengajaran anak dengan menggunakan tema-tema besar yang kreatif dan imajinatif. Berdasarkan pengalaman Kak Wienny, terdapat beberapa poin penting untuk menjadi pengajar yang kreatif dan efektif bagi anak-anak. Berikut ini beberapa tips dari Kak Wienny:

  • Lepaskan jati diri sebagai orang dewasa yang merasa sudah tahu segala hal. Bukalah mata hati dan pikiran bahwa kita pun bisa belajar dari anak-anak.
  • Mengajarlah dengan keadaan hati yang positif karena energi yang ada pada diri kita akan sampai pada anak-anak. Dengan begitu, anak pun dapat menjadi lebih positif.

Menjadi contoh bagi anak. Jika kita ingin mengajarkan suatu kebiasaan baik pada anak, kita pun harus menjadi seperti itu terlebih dahulu.

  • Kenali karakter anak!
  • Bangun rasa percaya anak kepada kita. Itu adalah yang utama. Dengan adanya kepercayaan, anak akan menjadi lebih terbuka dan kita pun akan lebih bisa mengenali kebutuhan anak.
  • Ketika mengajar, carilah hal-hal yang lekat dengan kehidupan anak. Itu akan mempermudah anak untuk paham.

Selain itu, Kak Wienny pun memberikan saran kepada kakak pengajar mengenai penyusunan metode ajar yang kreatif. Seperti yang kak Wienny katakan, ketika membuat materi ajar, jangan batasi pikiran kita dan berpikirlah yang luas. Eksplor pikiranmu sendiri. Jika suda menemukan tema besar yang akan digunakan, eksplor mengenai topik tersebut dan tuliskan dalam bentuk mind map. Setelah itu, pengajar bisa menentukan bagian alur manakah yang tepat diberikan oleh anak-anak di usia, PAUD, SD, dan di atas SMP.

Itulah sekiranya materi yang didapat oleh para kakak pengajar di mini workshop yang diselenggarakan oleh tim riset Sekolah Kita Rumpin. Semoga para kakak pengajar bisa menciptakan materi ajar yang semakin kreatif dan efektif dan adik-adik kita semakin terpacu untuk belajar!

image01

 

Pentas Perdana Kelas Spesialis Teater

Minggu, 4 Mei 2014, sebuah sejarah baru terjadi.

Kelas Spesialis Teater SKR mempersembahkan pentas lokal perdana mereka dengan tajuk “Bu Rini Uring-Uringan”.

Video berikut berisi pementasan secara utuh yang ditangkap oleh Kak Nuri Moeladi dengan apik :

 

Pasca pementasan, salah satu pelakon bernama Meisy Audina (6 SD) menyanyikan 2 buah lagu guna menghibur para penonton, diiringi musik seadanya oleh Kak Agung Utama :

 

Sejarah-sejarah lainnya telah menanti. Namun untuk saat ini, selamat menikmati!