Catatan Kecil Dari Olimpiade Taman Baca Anak 2013

Sebelas adik-adik Sekolah Rumpin mengawali 23 Juni 2013 jauh lebih awal dari biasanya. Pukul 4 pagi mereka bangun, shalat, dan bersiap pergi ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan Olimpiade Taman Baca Anak (OTBA) 2013 yang diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, mereka didampingi oleh Bu Neneng dan Ana yang tadi malam menginap di Rumpin. Saya sampai ke lokasi lebih awal dari rombongan untuk mendaftarkan nama Adik Kita serta mengambil kaos dan tanda pengenal.

Adik-adik mengikuti 2 lomba di OTBA 2013, yaitu lomba maraton mencari harta karun dan lomba kreativitas merakit mainan. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, berlanjut dengan kata sambutan, pertunjukan angklung, dan beberapa acara lainnya. Sementara menunggu lomba dimulai, adik-adik bisa berkeliling mengunjungi stand berbagai komunitas di sekitar panggung seperti Taman Bacaan Pelangi, 1001 Buku, Goodreads Indonesia, Sahabat Anak, Historia, Indonesia Menyala, WWF, dan lain-lain.

Perlombaan dimulai pukul 10:30 WIB; untuk lomba maraton adik-adik didampingi oleh Ana dan Widya sementara di lomba kreativitas oleh Giany dan saya. Rohadi menarik perhatian saya di kelompok lomba kreativitas, dia begitu cekatan dan bisa mengarahkan teman-temannya. Secara keseluruhan mereka mampu bekerjasama dengan baik dan tetap tenang menyelesaikan labirin kelereng dalam waktu yang relatif singkat.

Adik-adik yang mengikuti lomba maraton mencari harta karun juga tidak kalah serunya. Mereka harus melewati 6 pos yang dinamai dengan nama pulau-pulau besar di Indonesia untuk mendapatkan harta karun. Di setiap pos mereka akan diberikan beberapa pertanyaan terkait daerah di Indonesia seperti membaca peta buta, menebak lagu daerah dari liriknya dan menyanyikannya. Setelah mereka berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, mereka akan melewati berbagai macam permainan yang menguji kekompakan dan kecepatan mereka : bakiak, memindahkan air menggunakan batok kelapa yang dibolongi bawahnya, dan sebagainya. Adik-adik berlari dan tidak berhenti tertawa. Seeing those happy faces was priceless.

Jeda waktu selama 5 jam antara selesai lomba dan pengumuman kami habiskan dengan makan, ngobrol, serta kembali mengunjungi stand-stand komunitas sembari menonton acara tersisa. Di stand lukis wajah, Sari membuat saya dan Giany terbahak-bahak saat dia meminta wajahnya dilukis lantas bilang, “maunya gambar ular Kobra!”

Akhirnya saat pengumuman pemenang pun tiba, dimulai dari lomba drama, kreativitas, dan maraton. Hadiahnya adalah piala dan paket buku yang diberikan oleh para sponsor acara ini. Sekolah Rumpin belum berhasil membawa pulang kedua hadiah tersebut.

Herdiansyah melempar tanda pengenal OTBAnya setelah semua pemenang diumumkan. Saya memilih tidak mencegahnya mengungkapkan kekecewaannya karena perasaan itu manusiawi. Kemudian saya tersenyum lebar di depan Herdiansyah seraya menyodorkan tangan untuk tos dengannya, sambil bilang, “tahun depan kita ikut lagi ya!” Dia pun mengiyakan dan tersenyum balik.

Meskipun Sekolah Rumpin tidak memenangkan perlombaan OTBA 2013, saya tidak kecewa dan bersedih. Sesaat sebelum pengumuman 3 besar juara lomba maraton, ada kejadian yang membuat saya tersenyum puas bahkan membuat saya tak peduli lagi dengan nama pemenang yang akan disebutkan oleh pembawa acara.

Saat itu, untuk mengambil perhatian anak-anak yang mulai resah karena hari sudah cukup sore, salah satu pembawa acara berseru ke arah mereka, “siapa yang mau jadi juara 3?”, lalu saya melihat ada satu adik Sekolah Rumpin yang mengangkat tangannya. Kemudian seruan itu berlanjut dengan, “Oke, sekarang siapa yang mau jadi juara 2?” Kali ini ada sekitar tiga tangan yang terangkat. “Nah, siapa yang mau jadi juara 1?”. Kesebelas adik kita mengangkat tangannya dan berteriak, “SAYA!”

Menyaksikan hal itu membuat saya tercengang. Ah.. Mereka memang tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Kilatan mata dan teriakan mereka menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi bahwa mereka pantas untuk menjadi pemenang. Seluruh tangan yang  terangkat adalah bukti bahwa mereka tidak mau merasa cukup dengan menjadi yang ketiga dan kedua. Juara, bukanlah mengenai jumlah piala dan hadiah yang kamu bawa pulang, melainkan tentang mentalitas. Buat saya, hari ini, adik-adik Sekolah Kita telah menang.

Kids, I’ve said it, and I would never get bored to say it all over again, “I’m beyond proud of you”.

 

Lani Mariyanti
Kakak Koordinator Pengajar Tetap-Relawan
Sekolah Kita
Sebab setiap tempat adalah sekolah kita

TUHAN LES TAMAN GULA!

DSC_0126Je te souhaite un joyeux anniversaire à toi, Notre Ecole!”

Begitulah ucapan yang meluncur dari lubuk hati terdalam sang kambing di samping. Sesosok makhluk yang menjadi saksi hidup paling lama akan eksistensi sekolah alternatif ini. Jangan salah, mungkin saja beliau sudah meninggali kandang tersebut saat ide Sekolah Kita Rumpin pertama sekali tercetus.

Ngomong-ngomong, saya gatal hendak mengutip petuah terkenal dari seorang tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, yang berbunyi :

“Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.”

Dan tak lupa sedikit menambah perkataan seorang kakak yang pernah mengajar di Sekolah Kita,

“Hidung kita pun adalah sekolah kita.”

***

Umumnya, setiap kali seseorang ulang tahun, ia mengenang kembali setahun ke belakang dan menyiapkan resolusi setahun ke depan. Tidak ada salahnya kalau saya juga menerapkan “ritual” serupa bagi komunitas ini.

Karena saya baru bergabung setengah tahun terakhir, jadi yang bisa saya reka ulang hanya perkembangan-perkembangan selama setengah tahun terakhir, tepatnya sejak bulan Oktober.

Waktu itu, blog ini masih berafiliasi ke blogspot dan belum seberaneka-ragam sekarang.

Belum ada kumpulan orang yang disebut “Kakak Kita”, bahkan proses penerimaannya saja baru akan dimulai.

Belum terpikir bikin Taman Baca dengan desain demikian. Perpustakaan B

 

 

 

Adik-adik belum punya kebun sendiri. Jumlah mereka bahkan masih dapat dihitung dengan jari.

IMG_0192    << Belum ada ide gokil hasil prakarya semacam ini

Atau ini >> design sekolah kita 5

 

 

 

Atau ketemu orang gila begini

Hanna

 

 

 

 

 

 

Setelah melihat seluruh tampilan di atas, apakah Sekolah Kita Rumpin telah mencapai sesuatu?

Saya bilang belum. Masih panjang dan lama perjalanan yang harus kami tempuh untuk mencapai sesuatu.

Sesuatu yang membuat adik-adik di Rumpin berani tampil beda, inovatif, penuh empati, serta berpola pikir kritis.

Sesuatu pengalaman memuaskan secara batin dan intelektual untuk seluruh Kakak Kita.

Sesuatu yang mengistimewakan kemanusiaan.

***

Terima kasih untuk segala doa, kritik, donasi, tenaga, waktu liburan, tweet, prakarya, foto-foto, video, hingga cinta monyet yang bersemi. Secara pribadi, resolusi saya gampang saja : bisa merayakan ultah lagi tahun depan, haha! Resolusi komunalnya mungkin agak-agak bijaksana dan dramatis biar berkesan oke, halah!

Semoga Sekolah Kita Rumpin makin tulus, makin solid, makin bertumbuh, makin kreatif. Tidak hanya menjadi fasilitator anak-anak korban sengketa, namun juga sebagai salah satu solusi nyata bagi kesenjangan pendidikan di Indonesia.

Selamat ulang tahun, Sekolah Kita! Semangatmu, dan semangat mereka, selalu jadi semangatku!

10 April 2012 – 10 April 2013

***

NB : Sekolah Kita bakal ngadain program Tur Kita buat adik-adik dengan destinasi ke berbagai tempat eksotis dan bersejarah di Bandung. Rencana pelaksanaan pada bulan Juni 2013. Untuk memenuhi kebutuhan administrasi kegiatan, kami mendaftarkan Tur Kita sebagai proyek crowdfunding di situs patungan.net

Silahkan mampir ke halaman proyek kami di sini, klik “DUKUNG” di kanan atas, log-in memakai e-mail atau facebook, kemudian transfer donasinya ke nomor rekening yang tertera di sana. Sebarkan juga pada kolega, teman-teman dekat, tetangga, hingga tukang ojek langganan, haha! Terima kasih semua!

Perjalanan “Bertema” di Sekolah Kita

Perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Selain berangkat sendiri karena kakak-kakak yang lain masih belum bisa bangun pagi, aku mengawali hari itu dengan penuh semangat. Karena di akhir bulan kemarin, aku menutup tema belajar dwi bulanan “KEBUN KITA” dengan berkarya. Ya, hari itu adalah Minggu, 24 Februari 2013. Tak terasa perjalanan naik kopaja hingga naik angkot jurusan Cicangkal sudah kulalui dan jarum jam menunjuk pada angka 9. Wah masih pagi! Hehehe. Di dalam angkot, aku sendiri.

Berawal dari iseng menanyakan kondisi banyaknya perumahan yang dibangun di sekitar jalanan menuju Rumpin kepada bapak sopir, aku mendapatkan banyak hal yang tak kusangka.

Pak Sopir : “bagi saya bukan malah menguntungkan, tetapi kami sebagai warga yang rumahnya dekat dengan komplek perumahan tersebut sekarang terancam digusur. Mereka tidak melihat bagaimana kami tinggal, bagaimana kami akan hidup berdampingan dengan mereka, karena yang penting buat para pembuat perumahan ini adalah uang.”

Tanpa disadari kami ngobrol panjang lebar perihal bagaimana para pemilik modal akan membangun berbagai rumah hunian bagi mereka yang kelas ekonominya menengah ke atas. Posisi bangunan yang timpang dengan hunian warga asli membuat warga yang sudah lebih awal tinggal di daerah itu terancam. Walaupun belum terjadi penggusuran, tapi kemungkinan pembelian tanah mereka oleh pihak kontraktor dengan harga yang sangat murah bisa terjadi.

Tak sadar aku pun sudah sampai di komplek Suradita, perumahan yang pasti aku lewati ketika melakukan perjalanan ke Rumpin. Dalam perjalanan menuju Sekolah Kita, aku berpikir bahwa apa yang dialami pak sopir tidak jauh berbeda dengan warga Rumpin yang masih terancam oleh pihak “penguasa water training”. Aku dan tim Sekolah Kita tidak bisa menjamin bahwa tanah warga Rumpin bisa lolos dari sengketa. Kami hanya bisa berupaya menyiapkan anak-anak yang percaya diri dan mampu tampil di depan umum membela keluarga serta daerahnya.

Tak terasa kami melakukan kegiatan ini sudah hampir setahun. Menakjubkan! Dari mulai sendiri, bertiga, sampai akhirnya tim Sekolah Kita lebih dari 15 orang. Perjalanan ini tidak pernah mudah. Komunikasi yang terbatas antara kakak-kakak dan adik-adik dikarenakan pertemuan hanya seminggu sekali membuat proses kegiatan kita masih terhitung lambat. Tapi aku sangat senang ketika kemarin menutup tema Kebun Kita dengan membuat karya yang menurutku tidak biasa. Mereka yang awalnya terpatok pada hal-hal yang gambar atau karyanya sebatas yang mereka lihat tetapi kemarin mereka membuat lebih dari itu. Imajinatif, penuh warna, sambil memanfaatkan kertas, bahkan ada yang membuat tempat sampah dari ember miliknya bu Neneng yang sudah usang. Hehe.

Sebagai Kakak Pengelola Sekolah Kita, aku hanya berharap bahwa tidak hanya aku saja, melainkan seluruh warga Rumpin bersedia bekerja sama. Itu yang terpenting. Dengan begitu mereka mampu mandiri membangun kampungnya sendiri. Terima kasih pula kepada kakak-kakak yang masih setia terlibat. Juga pada adik-adik yang selalu menanti kedatangan kita sehingga semangat itu terus ada, walaupun aku harus berangkat dari Bandung dengan waktu yang sangat terbatas.

Minggu, 3 Maret 2013, aku dan tim kakak Sekolah Kita mengadakan rapat bersama orang tua Adik Kita di mushalla tempat belajar. Sangat mengharukan dan tersipu melihat antusiasme mereka mengikuti rapat tersebut dan mendukung kegiatan ini. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung. Sebagai penutup, kita sekarang punya kebun, karena bibit yang ditanam itu sudah tumbuh loh!

,,,,,,

 

 

 

 

 

 

Salam,
Ana Si Kakak Pengelola yang Imut

Berkebun Bersama Adik-Adik kita

_DSC0107

Sebagai penutup dari rangkaian kelas “Sawah Kita”, dan juga sebagai pengawal tema besar berikutnya yaitu “Kebun Kita”, pada tanggal 23 Desember lalu, kakak-kakak bersama adik-adik Sekolah Kita menghabiskan waktunya tidak di dalam kelas, melainkan di luar kelas! Seru sekali :)

Di belakang rumah Ibu Neneng, kebetulan ada lahan yang cukup besar yang bisa digarap menjadi kebun kecil. Bergotong-royong kita membuat kebun Sekolah Kita dari 0. Ibu Neneng, yang juga bekerja sebagai ibu tani di Rumpin, mengajari kita banyak tentang tata cara bercocoktanam yang benar. Terlihat sekali, bagaimana dalam kegiatan tersebut lebih banyak belajar kakak-kakaknya ketimbang adik-adiknya! Hahaha.

Selain menanam cabe, adik-adik juga menanam bengkoang. Saat menggali tanah, adik-adik juga bertemu dengan banyak cacing. Cacing-cacing yang menggeliat keluar dari tanah oleh adik-adik tidak dibunuh (walau sempat ada yang histeris dan langsung refleks dilempar ke langit haha), melainkan dimasukkan kembali ke dalam tanah agar tidak kepanasan. Toh, adanya cacing dalam tanah menunjukkan tingkat kesuburan tanah Rumpin. Hihi.

Ini dia foto-foto beberapa adik-adik kita bersama benih yang mereka sudah tanam. Semoga terus dirawat dan disayang, agar kelak tumbuh menjadi kebun Sekolah Kita yang indah!

Salam,
Keluarga Sekolah Kita

Sekolah Kita Rumpin di Peringatan Hari Anak Universal

“Walaupun orang kampung tapi kita keren..”

Mungkin kakak-kakak masih ingat tulisan dari Kakak Kepala Sekolah kita, Ana Agustina tentang perayaan Hari Anak Universal tanggal 25 November silam.

Tadi sore, Kak Adhito Harinugroho baru selesai mengunggah sedikit dokumentasi video dari acara tersebut. Keren sekali! Rasanya tidak sabar untuk melihat versi lengkapnya.

Terima kasih banyak ya Kak Dhito, ditunggu karya-karya tulus lainnya bersama Sekolah Kita :)

 

cropped-banner_sekolahkita_2.jpg