Catatanku untuk Semua

20160222063318

*Sebuah catatan dari Kak Ana Agustina selepas menjadi narasumber di acara Rembug Sosial yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Seperti biasa saat pagi tiba, kubuka jendela dan kuhirup udara sejuk yang menghembus masuk ke sudut ruang kamar yang membuat tubuh ini malas beranjak. Kubaca kembali bahan presentasiku untuk seminar hari itu di UPI Bandung. Selesai siap-siap, hari itu cukup cerah dan masih pagi sehingga perjalanan menuju ke UPI cukup lancar. Kali ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI mengundang Sekolah Kita Rumpin yang diwakili olehku untuk mengisi acara tersebut sebagai narasumber yang akan berdampingan dengan narasumber lainnya. Narasumber tersebut diantaranya Guru Besar UPI, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, perwakilan dari Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (KOPPAJA), serta perwakilan dari komunitas Taman Baca Binar. Topik seminarnya yaitu menyikapi pendidikan di Indonesia : optimisme dan realitas.

Acara dimulai pada pukul 09.00 pagi dengan berbagai sambutan terlebih dahulu dan penampilan teatrikal dari mahasiswa seni UPI. Setelah rangkaian acara silih berganti, selanjutnya pembawa acara memberikan kepada moderator untuk memulai acara seminarnya. Moderator membuka acara dengan menyampaikan tentang situasi Indonesia yang menurutnya mengalami krisis yang di antaranya krisis moral dan kesenjangan social terutama pendidikan. Setelah moderator memaparkan argumennya, salah satu Guru Besar UPI yang dipersilakan untuk memberikan presentasinya terlebih dahulu, beliau menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia sudah cukup berkembang dalam bidang pendidikan. Hal ini karena pendidikan Indonesia sudah diakui dunia. Menurut Bapak tersebut, Indonesia diakui dunia dalam hal keterlibatannya untuk mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan dunia dan menurutnya juga tak jarang Indonesia mendapatkan medali. Beliau juga memberikan opininya tentang beberapa solusi untuk memajukan kwalitas pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kwalitas guru, memberikan referensi tentang metode pembelajaran aktif, membangun akses pendidikan yang mampu memberikan kemudahan bagi setiap pendidik dan anak didik (sarana dan prasarana kegiatan sekolah, alat transportasi, dan komunikasi), serta membuat kurikulum yang sesuai dengan potensi daerah sehingga tidak disamaratakan standarnya antara satu daerah dengan daerah lain.

Berbeda dengan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, beliau menjelaskan tentang prosedur pengelolaan pendidikan, tata cara melengkapi standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta pendidikan merupakan instrument bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Menurutnya, pendidikan itu dapat membangun manusia yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Beliau juga memaparkan bahwa kurikulum berubah terus adalah keniscayaan, karena ketika berganti menteri tentunya kurikulum juga akan mengikuti perkembangan sesuai kebijakan dari menterinya. Bapak sekretaris dinas ini juga lebih banyak bercerita tentang uji kompetensi guru, perekrutan guru, dan segala hal yang berbau administrasi dan kebijakan baku pemerintah yang susah dirubah.

Lain halnya dengan narasumber yang mewakili komunitas peduli pendidikan anak jalanan yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya yang diliput oleh berbagai media yang membuat nama komunitasnya meroket bak pesawat jet. Dia bercerita bahwa komunitasnya tersebut menggunakan metode pembelajaran yang menyesuaikan situasi lingkungan anak-anak jalanan yang sedang dibinanya. Dia juga bercerita tentang kontribusinya di dunia pendidikan yaitu sudah menjadikan anak-anak jalanan untuk tetap bersekolah dengan jaminan beasiswanya.

Hal kagum aku tunjukkan kepada narasumber terakhir yang mewakili komunitas taman baca yang berada di Cipanas-Cianjur ini. Mereka adalah komunitas yang mempunyai program pojok baca, bioskop sekolah, dan buku berjalan. Komunitas yang mereka organisir adalah komunitas yang benar-benar mandiri secara finansial. Menjual merchandise seperti kaos dan totebag, juga punya kelas sablon untuk anak-anak yang ada di daerah Cipanas tersebut. Bercerita dengan penuh kesederhanaan, hanya menggunakan binder catatan kecil, tanpa power point, tanpa banyak berkata-kata, sehingga membuat suasana sendu saat itu.

Aku sendiri bercerita tentang sejarah Sekolah Kita Rumpin, sistem, dan program yang sudah dilakukan dan akan dilakukan. Kurikulum Sekolah Kita Rumpin yang mengajak seluruh keluarga besar Sekolah Kita Rumpin untuk menumbuhkan rasa empati satu sama lain antara adik dan kakak, menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri adik-adik dan kakak-kakak, sehingga mampu tampil percaya diri di mana pun berada, dan menumbuhkan kreativitas. Selain itu, Sekolah Kita Rumpin juga diharapkan mampu menjadi tempat berbagi kisah setiap individu yang ada di dalamnya dan tempat belajar satu sama lain. Sebab setiap tempat adalah sekolah kita, belajar bisa di mana saja dan dengan siapa saja.

Kegiatan seminar kemarin berakhir dengan penutup dari moderator yang mengambil simpulan dari setiap pemaparan narasumber yang kemudian ia tambahkan bahwa pendidikan akan berkembang jika semua kalangan saling mendukung satu sama lain.

Tak hanya berhenti di situ, aku dan beberapa teman dari komunitas Taman Baca Binar ngobrol lebih lanjut tentang berbagai hal yang sekiranya bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bertukar ide, program yang dilakukan masing-masing, sehingga menyepakati untuk saling mengunjungi. Komunitas Taman Baca Binar keberadaannya sudah 6 tahun, tetapi mereka sendiri masih terus berproses untuk menjadi sebuah komunitas yang stabil secara sistem, dan sumber daya. Mungkin suatu saat nanti kami bisa menjalin kerjasama, entah tahun ini atau tahun depan, yang jelas kami akan terus saling belajar.

Hari itu, banyak cerita yang didapat.

Mencerna makna yang tersirat.

Berpikir terbuka dan menelaah rasa.

Untuk satu kesamaan, demi cita-cita.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>