Catatan Akhir 2014 – SKR

Tak terasa kini Sekolah Kita Rumpin sudah berdiri selama 32 bulan. Banyak sekali dinamika dan cerita yang menyertai perjalanannya, di mana sebuah kilas balik secara subjektif dari saya ini adalah sekelumit bagian dari keutuhan tersebut. Maka marilah kita melihat perjalanan setahun ke belakang terlebih dulu sebelum menyambut berbagai tantangan di 2015.

Di 2014 SKR mengalami beberapa evolusi :

1. Muncul kesadaran betapa kaya alternatif dokumentasi kegiatan via medium audio-visual

2. Dinamika pergerakan duo tim riset atas eksplorasi kelas (spesialis-umum) serta data sosio-ekonomi-kultur warga Kp. Cibitung (dan mayoritas Kp. Malahpar)

3. Inisiasi anggaran pendapatan dan belanja tahunan

4. Level seleksi yang meningkat terhadap beragam calon dukungan dari luar

5. Pelaksanaan PAT plus Panggung Kita

6. Pendekatan personal lebih lanjut pada adik-adik yang punya potensi besar

7. Antisipasi terukur guna menghadapi ancaman verbal-psikologis dari pemangku kepentingan dalam persoalan sengketa tanah

 

Pertama. Kesadaran akan kekayaan alternatif dokumentasi yang disuarakan pada rapat internal Divisi Promosi bulan Mei silam telah bermuara pada penghapusan facebook fanpage serta transisi metode dokumentasi =

visual statis (foto) à audio visual (video)

Konsep ini mampu bergerak dinamis sesuai kebutuhan sebab dalam beberapa kesempatan penggunaan foto tetap berperan penting di mana foto-foto tersebut langsung masuk ke pusat arsip.

Aktivitas akun Youtube SKR otomatis beranjak tinggi dengan akses yang jauh lebih mudah terhadap kegiatan mingguan bagi khalayak ramai.

 

Kedua. Tim Riset SKR di bawah Divisi Kurikulum terbagi menjadi 2 bagian besar :

Tim Pensil menangani seluruh bagian mengenai kelas dan proses kegiatan belajar yang ada di SKR sementara Tim Jendela merangsek ke tengah-tengah warga, mencari tahu kekurangan mereka, lalu memfasilitasi pembekalan jangka panjang.

Hasil gerakan Tim Jendela telah muncul di laporan tahunan 2014 SKR berupa profil komprehensif Kp. Cibitung + eksperimen wirausaha selama bulan puasa, sementara Tim Pensil masih terus menggodok LPAK (semacam pengganti rapor dengan alat ukur yang disesuaikan). Aksi nyata mereka terlihat saat penerapan sistem evaluasi pasca mengajar yang lebih mapan via rekaman suara sejak periode Oktober.

 

Ketiga. Inisiasi RAPBT SKR di 2014 menjadi sangat penting sebab mampu memberikan prediksi hingga proyeksi anggaran tiap rincian kegiatan-perlengkapan-program kerja sepanjang tahun. Tujuan akhirnya sangat gamblang à memastikan keseimbangan kas tetap terjaga.

Selain itu saya selalu mengibaratkan SKR sebagai negara mini yang punya dasar negara (4 nilai dasar), konstitusi (kurikulum dan struktur internal), GBHN (Realita 2014-2018), dan APBN.

Per 2015, SKR dipastikan memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahunan sendiri.

 

Keempat. Dari awal SKR berdiri, salah satu prinsip utama Divisi Promosi adalah melakukan tebang pilih terhadap semua calon dukungan/bantuan dari pihak luar. Hanya bantuan/dukungan yang paling matang, sesuai dengan kebutuhan saat bantuan/dukungan itu datang, serta berorientasi jangka panjang yang bakal diterima.

Prinsip ini memiliki turunan yang berwujud dalam konsep mitra komunitas.

Untuk 2014 sendiri di mana kesadaran kepada eksistensi SKR di ruang publik bertambah, kuantitas dukungan/bantuan yang diterima memang lebih sedikit dari yang ditolak, namun sisi kualitas mayoritas dukungan/bantuan yang lolos seleksi terbukti mampu menjadi solusi bagi masalah yang sedang dihadapi. Saya ambil contoh seperti donasi proyektor Kementerian PU maupun bantuan materiil penyelesaian bangunan Taman Baca oleh Tirto Utomo Foundation.

 

Kelima. PAT (Proyek Akhir Tema) adalah inovasi teranyar Divisi Kurikulum ketika merilis Silabus Ajar 2014. Konsep ini mewajibkan seluruh kelas menyelenggarakan PAT unik mereka di akhir tiap tema ajar dwibulanan, yang per 8 November 2014 berkembang menjadi tiap 6 bulan.

Salah satu PAT monumental menurut saya di 2014 adalah momen Panggung Kita yang baru saja berlangsung awal Desember kemarin. Adik-adik menampilkan berbagai pertunjukan seni (musikalisasi puisi, tari, grup nyanyi, hingga MC) – tolak ukur nyata yang menunjukkan peningkatan rasa percaya diri mereka. Di sisi lain saya turut merasakan keintiman kuat antara kakak dan adik, yang merupakan hasil komunikasi intens dalam jangka waktu panjang. Sesuatu yang diraih bukan lewat proses singkat dan berbuah instan.

 

Keenam. Bahasan tentang adik yang berpotensi dan adik yang hilang sebenarnya sudah ada pasca perayaan ultah SKR ke-2 April lalu, namun penurunan tingkat kehadiran murid menurut statistik beberapa bulan terakhir membuat bahasan tersebut bertambah intens. Puncaknya ketika Kakak Pengelola dan Kakak Kurikulum melaksanakan live-in, berdiskusi secara mendalam dengan orang tua dari adik yang selama ini menunjukkan konsistensi sekaligus potensi luar biasa.

Obrolan seputar passion pribadi sang adik, dukungan total keluarga, beasiswa, sampai pemilihan jurusan adalah topik utama live-in tersebut.

 

Terakhir. Setelah sekitar 19 bulan berada dalam kondisi ‘damai’, awal Oktober kemarin TNI AU kembali beraksi secara diam-diam. Mereka menggali tanah milik salah satu warga Kp. Malahpar seluas 5000 m2 secara ilegal di waktu-waktu tertentu dan hanya setelah menemukan tanahnya berpotensi baru mereka mengajukan penawaran pembelian tanah tersebut. Secara moral, cara ini busuk. Namun bila mengingat konflik bertahun-bertahun antara warga dan tentara, wajar mereka memilih cara demikian. Sebuah upaya pragmatis yang mampu memberi hasil instan tanpa banyak perlawanan fisik.

Hasil-hasil survey selama sebulan terakhir di lapangan menunjukkan taktik pergerakan TNI AU yang ternyata sudah cukup lama menyusupi bidang-bidang penting keseharian warga. Teorinya, dengan menguasai sisi sosio-ekonomi, akan mudah bagi mereka menyerang sisi psikologis. Taktik ini juga berbiaya sangat murah dan relatif cepat, bahkan sebenarnya beberapa oknum tentara bisa saja kaya mendadak.

Aktivitas TNI AU yang meningkat pasca pencaplokan tanah di Kp. Malahpar otomatis memancing kecurigaan, tak terkecuali bagi SKR yang berpusat di Kp. Cibitung. Di sini, salah dua sifat unik SKR sontak menjadi faktor krusial yang perlu dielaborasi lebih jauh, yakni :

a. Isolasi fisik = lokasi geografis SKR yang berada diantara segitiga Water Training-barak-Perum AURI

b. Isolasi politis = salah satu kesepakatan dasar Tim Inti pertama adalah bahwa SKR akan selalu bersikap apolitis. Sesuatu yang apolitis di tengah 2 pihak yang kental dengan unsur politis.

Berkaca pada pemaparan di atas, tak ayal SKR sekarang tampil sebagai komunitas alternatif nan jarang. Mengapa? Sebab dengan segala kompleksitas ancaman teritorialnya, SKR otomatis dituntut ekstra hati-hati dalam mempersiapkan ruang netral demi melaksanakan pendidikan dan pembekalan. Memilah-milah sembari memikirkan antisipasi terbaik ke depan.

 

Akhir kata, jelang tahun 2015 yang sarat dengan kata “wirausaha” berpadu dengan isu ancaman teritorial dan wacana pengokohan sistem internal, mungkin ini adalah momen tepat bagi saya untuk menyampaikan dukungan nyata kepada Tim Inti baru hasil regenerasi yang bakal mulai bekerja per Januari 2015.

Karena kita sama-sama tahu ‘ombak’ di tahun depan akan jauh lebih kejam.

Dan karena kita sama-sama sadar bahwa semua pencapaian besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh dukungan, baik kasat mata maupun tidak.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>