Annisa dan Palu Pemecah Tembok

Suatu minggu di pertengahan tahun 2013, aku berkesempatan mengajar adik-adik kelas SMP-SMK. Waktu itu SKR belum menganut sistem ajar berbasis tim (karena konsep itu baru kupresentasikan, dan diterima secara aklamasi, pada sesi terakhir Kemah Kita di tahun yang sama), sehingga pembagian jadwal ajar mingguan masih menilik status individu sang Kakak Kita : ia pengajar tetap atau seorang pengajar relawan.

Materi yang kubawakan hari itu adalah Penyelam Cartesian = perlombaan memakai medium air dalam botol mineral memanfaatkan beberapa pemberat plastik, pengait, dan tabung plasma ukuran mini. Aturan mainnya sederhana :

1. Isi tabung plasma dengan air secukupnya hingga tabung melayang dalam botol

2. Ikat pengait ke ujung tabung

3. Angkat pemberat sebanyak mungkin dari dasar tabung.

4. Pemain yang paling banyak mengangkat pemberat adalah pemenangnya.

Sepintas permainan itu terdengar gampang, padahal tidak. Dari sebelas adik yang bermain, hanya dua orang yang sukses mengangkat lebih dari satu pemberat. Salah satunya adalah Annisa.

Cerita berikutnya datang tatkala ia bersama Atika meminta diajarkan cara membuat akun surat elektronik. Kali ini latar waktunya adalah awal 2014. Mereka berdua adalah siswa kelas 2 SMK yang sedang menyiapkan segala sesuatu guna memulai praktik kerja lapangan di bidang kesekretariatan dan hari itu Angga bertepatan membawa Mac pribadinya. Di sela-sela mengajar, momen ini jadi pengalaman perdana bagiku ngobrol panjang lebar dengan Annisa. Tentang sekolah, tentang teman, tentang rumah.

Kita pindah ke Starbucks Setiabudi One di bulan November 2014, lokasi pertemuanku dengan Kak Lani dan Mbak Kika, teman lama yang jadi narasumber workshop menulis kreatif bulan Mei silam. Kami berbagi tugas penyuntingan untuk konsep buku kompilasi tulisan para Adik Kita yang mengikuti workshop tersebut. Aku sendiri kebagian tanggung jawab mengkreasi salah satu bab yang kelak memuat tulisan Annisa.

Cerita teranyar berasal dari Desember 2014. Aku sudah mundur dari posisi Kakak Promotor namun tetap sering berkunjung ke Kp. Malahpar, memantau kondisi terbaru pasca insiden pencaplokan tanah 2 bulan sebelumnya. Persentase murid SKR dari Kp. Malahpar yang menanjak terus dari tahun ke tahun membuatku merasa perlu memasukkan lingkungan sekitar mereka sebagai salah satu prioritas pengamatan. Tapi sejujurnya, walau sering berkeliling kampung dan komplek perumahan di sekitar landasan udara Atang Sandjaja, baru kali itu aku sempat menginap di rumah Annisa. Kebetulan Ana dan Rara Sekar juga memiliki niat yang sama sebab mereka ingin membahas lebih dalam prospek kelanjutan sekolah Annisa (baca http://sekolahkitarumpin.com/untuk-ani/).

Tulisan Rara itu tak pelak memicu cerita-cerita lain dari balik layar seputar Annisa. Cerita-cerita yang tak akan pernah kalian dapatkan di kelas-kelas mingguan. Cerita-cerita yang berperan sebagai palu, memecah tembok pertentangan antara kecintaan pada komunitas vs kecintaan pada sasaran komunitas. Cerita-cerita yang mungkin bakal memaksa kamu yang membaca artikel ini guna berpikir ulang : bahwa sejatinya berbagi kisah, walau cuma satu malam, sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan kedekatan. Dan kedekatan dengan mereka sesungguhnya adalah mesin penggerak terkuat komunitas.

****

Dalam beberapa kesempatan, aku berulang kali bilang bahwa menunjuk Jojo sebagai penerus adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil selama jadi Kakak Promotor. Kapabilitasnya secara profesional selalu terpercaya, maka fokusku hampir tak pernah terbagi antara “menuntun penerus” dan “hal-hal selanjutnya di Dewan Pembina”. Penyebab utama konsistensi kapabilitas ini mungkin berasal dari status “ahli waris” Kakak Promotor yang sudah jelas sejak Maret 2014 sehingga aku punya waktu bersih setengah tahun menyiapkan doi. Rancangan yang rapi membuat proses delegasi berjalan santai.

Fokus yang hampir selalu total berdampak besar terhadap efisiensi penanganan prioritas berikutnya pasca lengser. Dalam konteksku, prioritas berikutnya adalah pengamatan mendalam terhadap Kp. Malahpar (geografis, sosio-ekonomi, tarik ulur relasi kuasa antara warga dan tentara). Bantuan survei fisik dan komunikasi yang sangat baik dengan perwakilan Tim Jendela turut meringankan rencana-rencanaku saat turlap. Koordinasi rutin ini membuatku tak pernah ketinggalan info sekecil dan seremeh apapun, tak terkecuali soal Annisa.

Pasca kunjungan bertiga pada bulan Desember 2014 itu, grup internal Dewan Pembina beserta Ana beberapa kali diisi dengan diskusi-diskusi seputar pendanaan. Puncaknya saat Yayasan Gemilang, sebuah organisasi sejenis Tunas Cendekia, menawarkan bantuan pendanaan penuh. Tawaran mereka sangat menarik : menanggung biaya kuliah, biaya tempat tinggal, serta biaya hidup Annisa sampai ia lulus asalkan Annisa bersedia bekerja dengan mereka selama liburan atau waktu-waktu luang lain yang tak mengganggu kegiatan kuliah. Tak disangka, lobi berjalan sangat mulus hingga akhirnya kesepakatan lisan tercapai dalam waktu kurang dari 2 minggu. Pada titik ini, kami praktis tinggal menunggu status baru Annisa sebagai mahasiswi serta pengesahan kontrak kerja tertulis antara SKR, orang tua Annisa, dan Yayasan Gemilang sebelum sebuah mimpi baru resmi terealisasi.

Mimpi yang kumaksud di atas bukan hanya mimpi Annisa untuk lanjut sekolah, namun juga mimpi Ana lewat sistem sekolah alternatif yang ia dirikan. Model penanganan bertahap terhadap Annisa ini, buatku, adalah purwarupa jika di masa depan SKR menghadapi kasus serupa. Bagaimana mendalami keinginan hakiki si adik dan memantapkan pilihannya, kemudian memenangkan hati orang tuanya, naik tingkat lagi ke pembekalan material secara sistematis serta konsisten jelang ujian seleksi masuk, dan terakhir berkampanye mencari partner pendanaan yang serius berkomitmen. Bayangkan bila model penanganan tersebut mereplikasi diri ke Adik Kita lainnya yang memang bercita-cita mengenyam pendidikan setinggi yang mereka mampu. Maka lumrah saja bila tahun 2018 nanti, jelang akhir ‘hayat’nya, SKR sudah memiliki skema beasiswa yang terintegrasi dalam sistem organisasi dan terakomodasi via status badan hukumnya pasca 2018.

Berkaca dari budaya lokal Desa Sukamulya yang teramat biasa menikahkan remaja perempuan usia 14-16 tahun dan terkadang mencemooh permintaan si anak untuk terus mencari ilmu ke tempat-tempat baru, SKR jelas butuh secercah simbol elemental guna menyeimbangkan dinamika sosial itu. Silakan menikah sedini mungkin, asalkan memang si anak sendiri yang benar-benar berniat menikah alih-alih melanjutkan sekolah. Eki Jaelani adalah contoh sederhana seorang adik yang tak berminat melanjut ke SMP. Begitu lulus SD bulan Juni nanti, ia memilih bekerja sebagai kurir proyek bangunan di kampungnya maupun kampung-kampung tetangga.

Sekarang saja, di tengah-tengah persiapan Annisa, aku dan Ana sudah menemukan segelintir adik lain yang berpotensi mengikuti jejaknya. Yang pertama jelas Ismatu Soleha atau biasa disapa Eha (kelas 3 SMP), adik penyuka novel dan doyan merangkai cerpen (belakangan menulis naskah teater untuk pentas Kelas Spesialis Teater) yang ingin masuk SMA tapi ditentang sang bapak lewat alibi “kan dibiayai saudara” serta “belajar agama lebih penting” (mirip dengan dokumenter Layu Sebelum Berkembang ; beberapa kakak yang ikut nonton masih ingat dong).

Dari sisi perkembangan intrapersonal, aku sudah sering menyatakan ketidaksetujuanku pada isu Annisa/Sari-sentris. Pembiaran terhadap isu itu hanya akan merugikan hubungan antar adik lantas berimbas ke SKR. Aku sendiri sudah ngobrol langsung dengan mereka berdua, Sari terutama, mengenai pentingnya tiap kakak berlaku objektif ketika mengajar, mengisi waktu luang bersama adik-adik, maupun menghabiskan waktu menginap di rumahnya. Mereka dapat menerima argumenku termasuk solusi yang kutawarkan guna mengenyahkan isu itu : menjadikan mereka patron inklusif di rentang usianya masing-masing. Cara terdekat adalah menunjuk Sari sebagai salah satu koordinator program Ojek Baca SKR.

Kita tilik pula sudut pandang branding komunitas. Bila Annisa berhasil melangkah lebih jauh dengan meraih status baru sebagai mahasiswi, ia serta perjuangannya adalah cerita sukses nyata perjuangan SKR. Tapi buatku pribadi, terlepas lulus seleksi ataupun belum, ia sudah menjelma menjadi simbol yang SKR butuhkan. Simbol yang aku dan Ana cari selama ini.

Menutup sekelumit cerita mengenai Annisa ini, aku berharap palu pemecah tembok itu tampil gamblang di hadapan kalian yang meluangkan waktu membaca.

Tembok bernama ‘terlalu fokus pada perumusan materi-metode ajar lantas melupakan kemanusiaan sasarannya’ (bukan begitu, Kak Tiara? :)).

Tembok berjudul sense of belonging toward community-based school.

Tembok bertajuk : Dilarang menembus zona terlarang menginap di rumah adik-adik. Peringatan : ancaman kesehatan, kotoran kerbau di telapak sepatu, serta (katanya) degradasi intelektual.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>